NovelToon NovelToon
TA'ARUF SETELAH TALAK

TA'ARUF SETELAH TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Duyung Indahyani

Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar dari Masa Lalu

Langit mulai berubah jingga ketika Ghazi membantu Siti Maryam keluar dari ruang konsultasi.

"Pelan, Mi."

"Astaghfirullah, Ghazi."

Siti Maryam tersenyum geli.

"Ummi hanya sedikit pusing, bukan patah kaki."

Ghazi menghela napas pelan.

"Kalau Ummi sampai jatuh bagaimana?"

"Kan ada kamu."

Jawaban sederhana itu membuat Ghazi hanya mampu menggeleng sambil tersenyum kecil.

Di belakang mereka, Adzra mengantar hingga depan pintu klinik.

"Ibu, jangan lupa obat yang saya tambahkan diminum setelah makan malam."

"Baik, Dok."

"Kalau pusingnya berulang atau semakin berat, jangan menunggu jadwal kontrol. Langsung datang ke klinik atau ke IGD terdekat."

Siti Maryam mengangguk.

"Insyaallah."

Adzra kemudian menoleh kepada Ghazi.

"Pak Ghazi."

"Iya, Dok?"

"Untuk sementara, usahakan Ibu tidak terlalu banyak aktivitas selama beberapa hari."

"Saya juga menyarankan tekanan darah beliau diperiksa lagi tiga hari ke depan."

Ghazi mengangguk penuh perhatian.

"Baik."

"Saya catat."

Tidak ada kesan bahwa ia hanya mendengar sekilas.

Ia benar-benar memperhatikan setiap kalimat yang diucapkan Adzra.

"Kalau begitu kami pamit dulu."

"Silakan, Pak."

"Terima kasih atas bantuannya hari ini."

Adzra tersenyum sopan.

"Sama-sama."

Ghazi membuka pintu mobil untuk ibunya.

Setelah memastikan Siti Maryam duduk dengan nyaman dan sabuk pengaman terpasang, barulah ia menutup pintu perlahan.

Sebelum masuk ke kursi pengemudi, ia sempat menoleh ke arah pintu klinik.

Adzra masih berdiri di sana.

Bukan karena menunggu mereka.

Melainkan memastikan pasiennya benar-benar pulang dalam keadaan baik.

Ghazi menundukkan kepala sebentar sebagai salam hormat.

Adzra membalas dengan anggukan kecil.

Sesederhana itu.

Tidak ada senyum berlebihan.

Tidak ada tatapan yang terlalu lama.

Namun cukup untuk meninggalkan kesan hangat di hati masing-masing.

Mobil kemudian melaju meninggalkan halaman Klinik Arafah Medika.

***

Beberapa menit pertama perjalanan berlangsung dalam keheningan.

Ghazi sesekali melirik kaca spion tengah.

"Masih pusing, Mi?"

"Sudah jauh berkurang."

"Kalau begitu kita langsung pulang."

"Iya."

Siti Maryam memandang ke luar jendela.

Deretan pepohonan dan pertokoan berlalu perlahan.

Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Hingga akhirnya ia memecah keheningan.

"Ghazi."

"Iya, Mi?"

"Dokter Adzra itu baik."

Ghazi tidak langsung menjawab.

"Hm."

"Beliau juga sabar."

"Iya."

"Dan teliti."

Ghazi kembali mengangguk.

"Iya."

Siti Maryam tersenyum tipis.

"Jawabanmu pendek-pendek sekali."

Ghazi terkekeh pelan.

"Ummi sedang menguji Ghazi?"

"Bukan."

"Ummi hanya mengatakan apa yang Ummi lihat."

Ghazi kembali fokus ke jalan.

"Dokter Adzra memang dokter yang baik."

"Itu sebabnya Safa Amanah Tour memilih bekerja sama dengan kliniknya."

Siti Maryam mengangguk pelan.

"Itu alasan sebagai pemilik travel."

"Lalu..."

"...kalau sebagai Ghazi?"

Pertanyaan itu membuat tangan Ghazi yang menggenggam setir sedikit menegang.

Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan,

"Sebagai apa, Mi?"

"Sebagai dirimu."

Ghazi mengembuskan napas panjang.

"Menurut Ghazi..."

"...beliau tetap orang yang sama."

"Maksudmu?"

"Orang yang selalu mengutamakan orang lain."

"Orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh."

"Dan..."

Kalimat itu menggantung.

Ghazi memilih mengakhirinya dengan senyum kecil.

"Dokter yang sangat bertanggung jawab."

Siti Maryam tidak melanjutkan pertanyaan.

Ia mengenal putranya.

Kalau Ghazi mulai memilih kata-kata dengan sangat hati-hati, berarti ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

***

Sesampainya di rumah, Ghazi kembali membantu ibunya turun dari mobil.

"Ayo, Mi."

"Pelan."

"Kalau terus begini, Ummi bisa malas jalan sendiri."

"Kalau Ummi sehat, Ghazi juga yang paling senang."

Mereka masuk ke dalam rumah.

Bibi Salma, asisten rumah tangga yang sudah bekerja lebih dari lima belas tahun, segera menghampiri.

"Alhamdulillah sudah pulang."

"Bagaimana hasil kontrolnya, Bu?"

"Baik."

"Hanya sedikit kecapekan."

Ghazi menyerahkan kantong berisi obat.

"Bibi, tolong obat yang ini diminum setelah makan malam."

"Baik, Den."

"Untuk tiga hari ke depan, makanan Ummi jangan terlalu asin."

"Siap."

Siti Maryam memperhatikan putranya yang menjelaskan satu per satu aturan minum obat.

Senyumnya perlahan mengembang.

"Kenapa Ummi senyum-senyum?"

tanya Ghazi setelah menyadarinya.

"Ummi hanya berpikir..."

"Apa?"

"Dulu kamu paling susah disuruh minum obat."

Ghazi tertawa kecil.

"Itu sudah lama."

"Iya."

"Sekarang malah kamu yang cerewet soal kesehatan Ummi."

"Cerewet demi kebaikan."

Siti Maryam mengangguk pelan.

"Demi kebaikan..."

Ia mengulang kalimat itu lirih.

Lalu menatap wajah putranya lebih lama.

Di balik ketenangan yang selalu diperlihatkan Ghazi kepada semua orang...

Sebagai seorang ibu, ia masih bisa melihat sesuatu yang tidak berubah.

Tatapan itu.

Tatapan yang sama ketika Ghazi diam-diam memperhatikan Adzra di klinik tadi.

Tatapan yang hanya dimiliki seseorang...

Yang belum benar-benar selesai dengan perasaannya.

Namun Siti Maryam memilih menyimpannya sendiri.

Ia tidak ingin memaksa.

Tidak ingin membuka luka yang mungkin belum sepenuhnya sembuh.

Karena ia percaya...

Ada hal-hal yang tidak bisa dipercepat oleh manusia.

Jika Allah memang menakdirkan dua hati itu dipertemukan kembali...

Maka jalan itu akan terbuka pada waktu yang paling tepat.

Sementara itu, di tempat lain, Adzra baru saja selesai merapikan ruang konsultasinya.

Ia menghela napas panjang sambil menatap kursi yang beberapa saat lalu diduduki Siti Maryam.

Entah mengapa...

Percakapan sore itu terus terngiang di kepalanya.

Bukan tentang penyakit.

Bukan pula tentang masa lalu.

Melainkan tentang seorang ibu...

Yang begitu bangga, sekaligus begitu mengkhawatirkan putra semata wayangnya.

Dan tanpa sadar, sebuah pertanyaan kecil mulai muncul di dalam hati Adzra.

Benarkah Ghazi telah banyak berubah... atau selama ini ada sisi dirinya yang tidak pernah sempat aku pahami?

***

Malam mulai turun ketika rumah keluarga Ghazi kembali tenang.

Setelah memastikan ibunya meminum obat dan beristirahat, Ghazi keluar menuju teras belakang.

Udara malam terasa sejuk.

Sesekali terdengar suara jangkrik bersahutan dari kebun kecil di samping rumah.

Ia duduk di kursi kayu yang sudah bertahun-tahun berada di sana.

Tempat itu selalu menjadi ruang favoritnya ketika ingin berpikir.

Tidak ada suara televisi.

Tidak ada bunyi telepon.

Hanya keheningan.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki pelan terdengar mendekat.

Ja'far membawa dua cangkir teh hangat.

"Mas."

Ghazi menoleh.

"Kamu belum pulang?"

Ja'far terkekeh kecil.

"Tadi Bibi Salma bilang Mas belum makan malam."

"Jadi saya pikir... paling tidak Mas mau minum teh."

Ghazi menerima cangkir itu.

"Terima kasih."

Ja'far duduk di kursi sebelah.

Mereka menikmati teh hangat tanpa percakapan.

Hubungan mereka memang seperti itu.

Tidak harus selalu berbicara.

Diam pun tidak terasa canggung.

Beberapa saat kemudian, Ja'far membuka pembicaraan.

"Mas."

"Hm?"

"Hari ini... saya belajar satu hal."

"Apa?"

"Menjadi pemimpin ternyata tidak mudah."

Ghazi tersenyum tipis.

"Kenapa tiba-tiba bilang begitu?"

"Tadi, waktu keluarga Pak Salman marah."

Ja'far menghela napas.

"Jujur saja..."

"...saya sempat berpikir Mas akan meminta Dokter Adzra melonggarkan keputusannya."

Ghazi menggeleng pelan.

"Kalau aku melakukan itu..."

"...untuk apa kita mengadakan pemeriksaan kesehatan?"

Ja'far mengangguk.

"Iya juga."

Ghazi memandang langit malam.

"Banyak orang mempercayakan perjalanan ibadah mereka kepada kita."

"Kepercayaan itu lebih mahal daripada keuntungan."

"Kalau demi mempertahankan satu pelanggan aku mengabaikan keselamatan jemaah..."

"...berarti aku gagal menjaga amanah."

Ja'far tersenyum kagum.

"Dulu saya tidak pernah berpikir seperti itu."

Ghazi tertawa pelan.

"Dulu aku juga belum tentu berpikir seperti ini."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Namun Ja'far menangkap makna di baliknya.

"Dulu?"

Ghazi mengangguk pelan.

"Dulu aku terlalu sering mengambil keputusan berdasarkan ego."

"Bukan berdasarkan tanggung jawab."

Ja'far tidak bertanya lebih jauh.

Ia tahu masa lalu Ghazi bukan sesuatu yang mudah dibicarakan.

***

Di lantai dua, Siti Maryam berdiri di balik jendela kamarnya.

Dari sana, ia bisa melihat dua laki-laki itu berbincang di teras.

Senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Ya Allah..."

"Jagalah anakku."

"Kalau Engkau masih menyimpan kebahagiaan untuknya..."

"...maka pertemukanlah ia dengan jalan yang Engkau ridai."

Ia tidak menyebut nama siapa pun.

Namun seorang ibu selalu memiliki doa yang bahkan tidak perlu diucapkan dengan lengkap.

***

Sementara itu, di Klinik Arafah Medika, lampu ruang dokter masih menyala.

Adzra duduk sendirian di depan komputer.

Ia sedang menyelesaikan laporan kegiatan pemeriksaan kesehatan yang harus dikirimkan malam itu juga.

Rina mengetuk pintu.

"Dok."

"Masih di sini?"

"Iya."

"Sebentar lagi selesai."

Rina masuk sambil membawa dua gelas susu hangat.

"Ini."

"Kamu belum makan malam, kan?"

Adzra tersenyum kecil.

"Hari ini semua orang sibuk mengingatkanku makan."

"Syukurlah."

"Soalnya ada yang dari pagi sampai siang baru sempat makan."

Adzra terkekeh pelan.

"Sudah ketahuan, ya?"

"Semua orang tahu."

Rina duduk di depan meja.

"Dok."

"Hm?"

"Kalau boleh jujur..."

"...saya kagum sama Pak Ghazi."

Adzra menghentikan jemarinya di atas keyboard.

"Kagum?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Waktu keluarga Pak Salman marah."

"Saya kira beliau akan membela pelanggan."

"Ternyata tidak."

"Beliau malah mendukung keputusan dokter."

Adzra terdiam.

Rina melanjutkan,

"Jarang ada pemilik usaha yang berani seperti itu."

"Biasanya yang dipikirkan dulu citra perusahaan."

"Tapi beliau justru bicara soal amanah."

Adzra perlahan menutup laptopnya.

Bayangan siang tadi kembali muncul.

"Saya tidak akan meminta dokter mengubah hasil pemeriksaan."

"Karena keselamatan jemaah adalah amanah."

Kalimat itu masih terdengar jelas di telinganya.

"Dok?"

Suara Rina membuyarkan lamunannya.

"Kok diam?"

Adzra tersenyum tipis.

"Mungkin..."

"...Pak Ghazi memang sudah banyak belajar."

"Itu maksud Dokter?"

Adzra menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa."

"Sudah malam."

"Ayo kita pulang."

Ia memilih mengakhiri pembicaraan.

Bukan karena tidak ingin menjawab.

Melainkan karena ia sendiri belum memahami mengapa perkataan Ghazi terus teringat dalam benaknya.

Bukan rasa rindu.

Bukan pula harapan.

Melainkan sebuah pengakuan yang enggan ia ucapkan.

Bahwa laki-laki itu...

Tidak lagi sama seperti yang ada di dalam ingatannya.

***

Di rumahnya, sebelum memejamkan mata, Ghazi membuka ponselnya.

Ada laporan singkat dari Ja'far mengenai tindak lanjut pemeriksaan seluruh calon jemaah.

Ghazi membacanya hingga selesai.

Lalu, tanpa sengaja, pandangannya berhenti pada nama klinik yang tercantum di bagian atas laporan.

Klinik Arafah Medika.

Ia mengembuskan napas pelan.

"Alhamdulillah..."

"Dua hari ini berjalan dengan baik."

Ia mematikan layar ponselnya.

Kemudian memanjatkan doa sebelum tidur.

Di tempat yang berbeda...

Adzra juga menutup hari dengan doa yang sama.

Tidak ada yang saling menghubungi.

Tidak ada pesan singkat.

Tidak ada pertemuan.

Namun keduanya sama-sama tidak menyadari...

Bahwa takdir mulai mempertemukan mereka kembali.

Bukan melalui kenangan.

Bukan melalui rasa bersalah.

Melainkan melalui amanah yang mereka kerjakan dengan sepenuh hati.

— Bersambung —

1
RahmaYesi
Cerita yang bagus. Semangat ya ...
Duyung Indahyani: hai kak rahma, terima kasih
total 1 replies
nunu
next lanjut kak ceritanya
Duyung Indahyani: thank sudah membaca kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!