NovelToon NovelToon
Hantu Magang

Hantu Magang

Status: tamat
Genre:Hantu / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".

Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?

Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelombang Kekuatan Baru

Fajar menyingsing perlahan di ufuk timur, menyebarkan warna jingga dan kemerahan yang biasanya menghangatkan hati, tapi pada pagi ini, suasana di desa jauh dari tenang. Udara terasa berat dan penuh dengan getaran yang tidak biasa – seolah setiap butiran udara membawa pesan bahwa sesuatu yang besar sedang mendekat dari arah pegunungan yang terlindungi kabut tebal. Aldi terbangun dengan tiba-tiba, keringat menetes di dahinya meskipun suhu pagi masih cukup dingin. Dia merasakan denyut jantungnya berdebar kencang, bukan karena ketakutan, tapi karena kesadaran bahwa momen yang mereka semua takuti telah tiba.

Dia segera berdiri dan mengeluarkan dirinya dari rumah kayu kecil yang ditinggalkannya bersama kakeknya sebelum wafat. Di luar, udara pagi yang biasanya segar kini terasa pekat dan sedikit menyengat. Tak butuh waktu lama, dia menemukan Dinda, Bara, dan Rian sudah berkumpul di dekat pohon beringin tua yang menjadi pusat desa, wajah mereka penuh kekhawatiran yang sama dengan yang ada di benaknya. Cahaya matahari mulai menyinari dedaunan pohon, tapi tidak memberikan kehangatan seperti biasanya.

“Kita merasakannya juga,” ujar Rian dengan suara rendah, matanya tetap terpaku ke arah hutan yang semakin tampak gelap meskipun hari mulai terang. “Energinya berbeda dari yang kita hadapi sebelumnya – lebih padat, lebih kasar, dan penuh dengan niat jahat yang jelas. Seolah mereka telah menemukan cara untuk mengkonsolidasikan kekuatan mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.”

Dinda mengangguk perlahan, tangannya secara tidak sadar menyentuh kalung batu permata hijau yang selalu dia kenakan – warisan dari ibunya yang juga pernah menjadi penjaga hutan. “Saya merasakan getarannya bahkan dari dalam rumah,” katanya dengan nada tegas. “Penghalang energi yang kita aktifkan kemarin sudah mulai menerima tekanan yang luar biasa. Beberapa titik di bagian utara hutan sudah menunjukkan tanda-tanda lemah.”

Sebelum mereka bisa berbicara lebih jauh, Kakek Jaya datang berlari dengan napas terengah-engah, tangannya erat memegang peta tua yang terbuat dari kulit pohon yang sudah warnanya memudar. Kain putih yang biasanya dia kenakan rapi kini sedikit kusut, menunjukkan bahwa dia telah bangun jauh lebih awal dan telah memeriksa kondisi hutan dengan cermat. “Mereka sudah mulai bergerak!” teriaknya dengan suara yang masih kuat meskipun usianya sudah lanjut. “Perangkat buatan mereka sedang bekerja secara maksimal untuk menembus penghalang energi kita. Saya sudah memeriksa tiga titik pertama – salah satunya sudah mulai menunjukkan gangguan besar, dan energi yang keluar darinya sudah tidak lagi murni seperti semula!”

Aldi merentangkan tangannya ke arah hutan, membiarkan dirinya terhubung dengan jaringan energi alamiah yang mereka bangun bersama-sama. Dia menutup mata sejenak, merasakan setiap cabang dari jaringan yang menghubungkan pepohonan, sungai, tanah, dan semua makhluk hidup di dalamnya. Kali ini, perasaan yang dia dapatkan jauh berbeda dari kemarin – sebagian besar bagian masih kuat dan stabil, tapi ada beberapa titik yang bergetar dengan sangat kuat, seolah akan roboh kapan saja. Di kejauhan, terlihat kilatan cahaya kebiruan yang menyilang langit pagi yang masih sebagian gelap – jelas bukan berasal dari alam, karena warnanya terlalu tajam dan tidak membawa kehangatan apapun.

“Kita harus membagi kelompok lagi – dan cepat,” kata Dinda dengan kepala yang jernih, mengambil alih situasi dengan kepercayaan yang membuat semua orang merasa tenang. “Satu kelompok akan pergi memperkuat titik-titik energi yang lemah. Mereka harus membawa ramuan pemurni yang kita siapkan kemarin dari ekstrak daun sirih merah dan getah pohon mahoni. Kelompok lain akan mengatur warga desa untuk evakuasi melalui jalur tersembunyi yang sudah kita bersihkan – khususnya anak-anak, orang tua, dan mereka yang tidak bisa bertarung. Dan sebagian dari kita akan menghadapi mereka langsung di perbatasan hutan untuk memperlambat gerakan mereka.”

Tanpa perlu banyak bicara, warga desa yang sudah siap siaga sejak malam sebelumnya mulai berkumpul di lapangan tengah desa. Mereka membawa alat-alat yang dibuat dengan cermat dari bahan alami – tombak dari kayu keras pohon trembesi yang tidak mudah patah, perisai dari kulit pohon jati yang telah diolah dengan cara khusus agar kuat namun ringan, dan beberapa ramuan khusus yang telah diasinkan dan dibungkus dengan daun pisang yang bisa memperkuat energi tubuh dan melindungi dari serangan energi negatif. Bahkan anak-anak desa pun ikut membantu dengan penuh semangat, membawa ember air dari sumur desa dan makanan yang sudah disiapkan serta siap memberikan sinyal menggunakan isyarat tangan khusus jika ada gerakan mencurigakan di sekitar jalur evakuasi.

Aldi, Dinda, Bara, dan Rian memimpin kelompok pertama yang terdiri dari sekitar dua puluh orang muda desa yang telah belajar mengendalikan energi alamiah dalam tingkat tertentu. Saat mereka memasuki hutan melalui jalur yang sudah dibersihkan kemarin, hewan-hewan mulai muncul satu per satu dengan cara yang tenang dan teratur. Seekor rusa dengan tanduk yang indah muncul dari balik semak belukar, diikuti oleh kelompok kelinci yang berlari dengan lincah. Bahkan segerombolan monyet yang biasanya suka bermain-main mulai melompat-lompat di antara dahan pohon dengan gerakan yang lebih terarah, seolah sedang membentuk formasi pelindung di sekitar kelompok manusia.

“Mereka ingin membantu kita,” bisik Bara dengan mata yang penuh kagum, sambil menatap seekor harimau belang yang muncul dengan tenang dari balik semak belukar yang lebat. Harimau itu berdiri diam di samping mereka selama beberapa saat, matanya yang besar dan coklat tua menatap setiap orang dengan tatapan yang penuh pemahaman sebelum mengeluarkan suara menggelegar yang tidak mengancam, tapi lebih seperti peringatan yang jelas bagi siapapun yang berani mengganggu kedamaian hutan yang telah menjadi rumah mereka selama berabad-abad.

Setelah berjalan sekitar setengah jam melalui jalur yang dikelilingi pepohonan tinggi, mereka akhirnya sampai di titik energi pertama yang terletak di dekat sumber mata air kecil yang menjadi salah satu pemberi kehidupan bagi bagian utara hutan. Mereka menemukan bahwa penghalang cahaya keemasan yang biasanya membentang seperti kubah di atas formasi batu kini sudah mulai memudar, warnanya menjadi lebih redup dan tidak lagi terasa hangat saat mereka mendekatinya. Di kejauhan, sekitar sepuluh meter dari formasi batu, terlihat sosok-sosok berjas hitam yang sedang sibuk mengoperasikan mesin besar berbentuk kubus yang terbuat dari logam gelap. Mesin itu memancarkan gelombang energi kebiruan terus-menerus yang menyilang udara dan mengenai formasi batu dengan kekuatan yang luar biasa, membuat batu-batu tersebut bergetar dan mengeluarkan suara berdenging yang menyakitkan telinga.

“Mesin itu sedang menyerap energi alamiah dari dalam tanah dan mengubahnya menjadi energi buatan yang kasar!” teriak Rian setelah melihat dengan cermat, tangannya mengacu ke arah bagian bawah mesin yang terbenam sebagian ke dalam tanah. “Setiap detik yang berlalu, energi alamiah yang tersimpan di sini semakin berkurang dan berubah menjadi sesuatu yang bisa merusak seluruh ekosistem hutan. Kita harus menghentikan mesin itu sebelum semua energi kita habis dan jaringan pertahanan kita roboh total!”

Aldi mengambil langkah ke depan, merasa tanggung jawab besar berada di pundaknya. Dia menutup mata sejenak, menghubungkan diri dengan semua sumber energi alamiah di sekitarnya – dari tanah yang hangat di bawah kakinya, sungai yang mengalir dengan tenang tidak jauh dari sana, pepohonan yang tinggi dan kuat yang memberikan perlindungan, hingga hewan-hewan yang dengan rela bersedia membantu mereka dalam pertempuran ini. Kali ini, dia tidak hanya menarik energi untuk dirinya sendiri, tapi juga mengalirkannya dengan sengaja ke seluruh kelompok yang ada di belakangnya, membuat setiap orang merasakan aliran kekuatan yang hangat dan penuh semangat mengalir melalui tubuh mereka. Kulit mereka sedikit bersinar dengan cahaya hijau lembut, dan wajah mereka yang tadinya penuh kekhawatiran kini mulai menunjukkan ekspresi yang penuh tekad.

“Mari kita maju!” seru Aldi dengan suara yang penuh kekuatan, membuat pepohonan di sekitarnya bergetar dan daun-daunnya bergerak seolah menyambut panggilannya.

Mereka bergerak maju bersama-sama dengan langkah yang mantap, dengan hewan-hewan mengiringi kedua sisi mereka dengan formasi yang teratur. Ketika mereka semakin dekat dengan kelompok jas hitam, beberapa anggota kelompok itu mulai menyadari keberadaan mereka dan segera menyerang dengan energi listrik yang keluar dari ujung jari mereka, membentuk kilatan putih yang menyilaukan. Tapi sebelum serangan itu bisa mengenai mereka, pepohonan di sekitar jalur yang mereka lalui mulai mengeluarkan lapisan energi hijau tipis namun kuat yang menangkap dan menyerap energi listrik tersebut, mengubahnya menjadi energi yang bermanfaat bagi tanah dan akar pohon.

“Penghalangnya masih bekerja meskipun sudah lemah!” teriak salah satu warga desa muda dengan senyum bangga, melihat bahwa serangan musuh tidak memberikan efek apa-apa bagi mereka.

Saat mereka sampai di dekat mesin besar tersebut, pemimpin kelompok jas hitam – sosok tinggi dengan wajah yang selalu tertutup topeng gelap – muncul dari balik mesin dengan langkah yang penuh keyakinan. Wajahnya yang tidak terlihat jelas tetap bisa memberikan kesan kemarahan yang luar biasa saat melihat bahwa upaya mereka untuk menembus pertahanan desa tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan.

“Kalian tidak akan menghentikan rencana kita!” jeritnya dengan suara yang menusuk telinga, seperti logam yang bersentuhan. “Kekuatan alamiah ini harus berada di tangan yang layak – orang yang bisa menggunakannya untuk kemajuan manusia, bukan dibiarkan terbuang hanya untuk menjaga sekelompok orang yang hidup kuno dan tidak mau berkembang!”

“Kemajuan yang merusak alam dan mengorbankan kehidupan jutaan makhluk bukanlah kemajuan yang benar!” jawab Aldi dengan tegas, suaranya terdengar jelas dan penuh keyakinan. “Alam memberi kita apa yang kita butuhkan untuk hidup dengan damai, tapi kita harus menjaganya dengan baik dan menghargainya sebagai bagian dari diri kita sendiri. Itu adalah pelajaran yang telah kita pelajari selama ini – pelajaran yang membuat kita kuat bukan karena kekuatan fisik semata, tapi karena kesatuan yang kita bangun dengan alam sekitar!”

Tanpa basa-basi lagi, pemimpin itu mengangkat tangannya dengan cepat dan mengumpulkan energi kebiruan yang sangat besar di telapak tangannya, membuat udara di sekitarnya menjadi bergetar dan sedikit berwarna kebiruan pekat. Dalam sekejap, gelombang energi tersebut melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Aldi dan kelompoknya, membawa suara ledakan yang mengerikan. Tapi sebelum bisa mengenai mereka, semua hewan di sekitar mereka – dari rusa hingga harimau – secara spontan berkumpul membentuk lingkaran padat di depan kelompok manusia, sementara formasi batu di belakang mereka mulai memancarkan cahaya keemasan yang lebih terang dari sebelumnya, seolah akhirnya bangkit dengan kekuatan penuhnya.

Dua kekuatan bertemu di udara dengan suara ledakan yang menggema hingga menyebar ke seluruh bagian hutan, membuat pepohonan bergoyang dan daun-daunnya berjatuhan seperti hujan. Namun yang mengejutkan, tidak seorang pun yang terluka – energi keemasan dari alam berhasil menetralkan energi kebiruan kasar dari musuh, mengubahnya menjadi energi netral yang kembali menyatu dengan tanah. Ketika debu dan asap menghilang, mesin besar milik kelompok jas hitam mulai bergetar dengan sangat kuat sebelum akhirnya mati total, sementara energi kebiruan yang dikeluarkan pemimpin itu mulai menyebar perlahan dan hilang ke udara tanpa meninggalkan jejak kerusakan apapun.

“Tidak mungkin…” gumam pemimpin itu dengan wajah yang tampak pucat bahkan di balik topengnya, menunjukkan ekspresi kekaguman dan ketidakpercayaan yang bercampur.

Namun sebelum mereka bisa merayakan kemenangan yang sementara ini, ada kilatan cahaya merah yang sangat terang menyambar dari arah pegunungan, lebih terang dari matahari yang sudah mulai tinggi. Suara gemuruh yang jauh lebih besar dari sebelumnya mengguncang tanah dengan kuat, membuat semua orang terpeleset dan harus menyandarkan diri ke pepohonan agar tidak jatuh. Di kejauhan, melalui celah pepohonan yang rimbun, terlihat sebuah bentuk besar yang sangat mengesankan sedang bergerak menuju desa dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Bentuknya tidak jelas, tapi tampak seperti kombinasi antara mesin besar dan struktur yang menyerupai tubuh makhluk raksasa, dengan mata yang menyala dengan cahaya merah menyala.

“Itu bukan mesin yang kita kenal,” bisik Dinda dengan wajah penuh kekhawatiran, matanya terpaku pada bentuk besar yang semakin dekat. “Mereka menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kita duga… sesuatu yang mungkin telah menggabungkan teknologi dengan energi alamiah yang mereka curi dari tempat lain…”

1
Ita Xiaomi
Selamat ya Bara lulus dgn Cum Laude
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Mbak Yuli bakalan viral🤣
Ita Xiaomi
Benar-benar memanfaatkan 🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Berbenah demi ndak dengar Pak Broto ngereog🤣
Ita Xiaomi
Dunia gaib seheboh dunia nyata😁
Ita Xiaomi
Salut ama Bara👍👍👍
Ita Xiaomi
Bara, aku tinggal di Kalimantan loh😁
Ita Xiaomi
Sama-sama ngejar Deadline. Dinda yg lebih mendesak Deadlinenya😁
Ita Xiaomi
Ekspresi Dinda lebih menyeramkan🤣
Putri Ayu/PqxxyZ
mari mampir dicerita ku juga ya kak 😊..
Denns: terimakasih support nya Kaka ;)
Baik Kaka Cantik ssiap.
total 2 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
wah keren nih ceritanya kak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!