Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Tersembunyi Arumi
Keesokan paginya, takdir seolah langsung menguji kesepakatan yang baru saja mereka ikrar kan semalam di ruang tengah.
Suasana subuh di rumah kayu itu masih remang-remang saat terdengar suara langkah kaki gontai menuruni anak tangga. Rangga berjalan pelan dengan penampilan yang jauh dari kata rapi. Tidak ada jas navy mewah, tidak ada jam tangan miliaran. Pria berusia 26 tahun itu hanya mengenakan celana boxer longgar, dengan rambut tebalnya yang acak-acakan berantakan ke segala arah. Tanpa mengeluarkan suara, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi meja makan, lalu melipat kedua tangannya di atas meja untuk dijadikan bantalan wajahnya yang telungkup lesu. Nyawanya seolah belum terkumpul genap separuh.
Tepat di detik yang sama, suara daun pintu depan yang terbuka memecah keheningan subuh. Arumi baru saja melangkah masuk ke dalam rumah, menenteng beberapa tas plastik besar belanjaan setelah berburu bahan pokok ke pasar tradisional sejak pukul empat pagi.
Pandangan mata Arumi langsung tertuju pada siluet singa telungkup di meja makannya. Ia meletakkan tas belanjaannya di atas konter dapur, lalu melangkah mendekat dengan senyuman jenaka yang tertahan.
"Kamu kenapa, Hoy? Pagi-pagi mukanya sudah kusut begitu. Habis mimpi buruk dikejar kuyang, ya?" canda Arumi santai, lalu dengan gerakan luwes ia menoyor pelan ubun-ubun kepala Rangga yang acak-acakan.
Rangga tidak menegakkan tubuhnya. Pria itu tetap telungkup dengan malas, membiarkan suaranya meredam terbentur permukaan meja kayu. "Kuyangnya... mukanya mirip Mbak Arumi."
Arumi langsung meledakkan tawa renyah, mencubit pelan lengan kokoh pria itu. "Kurang ajar kamu, ya! Sudah, nih, makan bubur ayamnya dulu selagi hangat!"
Sembari menyendok bubur ayam pasar dengan malas, gurat ketegangan perlahan kembali merayap di wajah Rangga. Keheningan subuh itu mendadak terusik saat Rangga akhirnya membuka suara, menceritakan beban yang sejak semalam menyumbat rongga dadanya.
Tadinya ia ragu menceritakan pekerjaannya ke Arumi, tetapi ia teringat janjinya yang sudah kadung ia ucapkan semalam. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka berdua.
"Jadi gini, Mbak... semalam asisten pribadinya Bu Pramudya Shinta menghubungi aku," aku Rangga, suaranya beralih serak menahan kesal. "Ibu tiriku itu benar-benar mau mengibarkan bendera perang pagi ini."
Pria itu memperlihatkan sebuah pesan singkat dari seseorang bernama Vina. Isinya antara lain, “Selamat malam, Pak Rangga. Menyambung titipan pesan dari Ibu Shinta. Jika besok pagi dana konsorsium investasi untuk Mega Proyek Lokasi Syuting terintegrasi belum juga terkumpul di rekening penampung, Ibu Shinta akan menarik seluruh kepemilikan sahamnya dari Red-Desmont.”
Rangga mengaduk buburnya dengan gusar, lalu mulai mengulas duduk perkara komersial yang sedang menjepit leher perusahaannya. Mega Movie Studio—sebuah mega proyek studio film terintegrasi seluas dua ribu hektar yang digadang-gadang akan mengungguli kemegahan Studio Persari milik keluarga Camelia Malik—saat ini sedang berada di titik paling krusial. Konsep studio modern berbasis teknologi layar LED raksasa tersebut sudah mengunci antrean seribu lima ratus judul film internasional.
Pesan itu adalah sebuah vonis perang. Bu Shinta tahu betul letak urat nadi finansial Rangga. Proyek studio syuting internasional ini membutuhkan suntikan modal jumbo, di mana Bu Shinta dijanjikan pengembalian modal atau ROI sebesar seratus persen—alias keuntungan dua kali lipat dari modal awal—dengan target BEP atau balik modal di tahun kelima.
Namun, Bu Shinta memanfaatkan situasi likuiditas jangka pendek Red-Desmont dengan meminta syarat dana pendamping secara sepihak. Jika sampai jam sepuluh pagi ini dana cadangan pendamping tersebut belum terkunci di rekening penampung, Bu Shinta mengancam akan menarik seluruh kepemilikan sahamnya dan memboikot rencana investasi jangka panjang tersebut secara total.
"Aku tahu dia membenciku sejak dulu, Mbak," gerutu Rangga, menumpahkan seluruh uneg-uneg dan rasa frustrasinya kepada Arumi tanpa ada lagi topeng pembatas di antara mereka. Di depan Arumi saat ini, ia benar-benar merasa aman untuk memosisikan dirinya sebagai seorang adik yang sedang mengadu. "Tapi tidak seharusnya urusan bisnis korporasi dan dendam kehidupan pribadi disatukan sekejam ini! Sesi presentasi akbar tiga bulan lalu itu batal, bukan karena aku sengaja meremehkan dia. Saat itu aku baru saja sadar dari bius para sekretaris junior, menyetir setengah sadar, dan... menabrak Mas Ary. Itu musibah yang bisa terjadi pada siapa saja! Kenapa dia tidak bisa memberikan tenggang waktu sedikit saja, sih?”
Arumi terdiam sembari mendengarkan rentetan kalimat emosional itu dengan saksama. Alih-alih merespons dengan kepanikan, sepasang matanya justru bergerak spontan, menatap lurus ke arah sebuah tas plastik hitam yang tergeletak di atas konter dapur.
Di dalam tas plastik itu, berjejer lima wadah kotak thinwall berisi Asinan Rujak Aceh segar berselimut saus cabai merah merona. Subuh tadi di pasar, Arumi terpaksa memborong porsi jumbo tersebut karena si penjual rujak langganannya sedang butuh uang tunai darurat untuk ongkos pulang kampung. Rujak Aceh itu memang terkenal luar biasa enak di lidahnya, namun biasanya Arumi hanya membeli satu porsi normal.
Melihat tumpukan bumbu rujak aceh yang asam, manis, dan pedas itu, isi kepala Arumi mendadak menyinkronkan data. Otak taktisnya mulai merancang sebuah strategi senyap. Tapi sebelumnya, ia dengarkan dulu saja curhatan si bujangan ini sambil diam-diam merancang senjata.
Sayup-sayup terdengar pagar pintu rumah mereka digeser dan bunyi halus mesin motor matic masuk ke dalam pekarangan rumah. Ryan baru saja kembali dari shift malamnya.
“Assalamualaikum.” Sapa pemuda itu ceria. “Mamaaah, aku dapat kue box nih dari si Boss. Katanya salam buat mamah. Ada rencana nikah lagi nggak?”
Sontak Arumi dan Rangga menatap Ryan dengan wajah masam.
“Duh, kompak amat ngeliatin aku segitunya.” Ryan terkekeh dengan tatapan jenaka.
“Jangan dimakan, mana tahu ada jampi-jampinya.” Sahut Rangga.
“Mama juga ngomong gitu waktu ada kiriman hampers dari Om Rangga dulu.” Timpal Ryan.
Rangga melirik Arumi sinis.
Arumi menyeringai padanya.
“Itu kan dulu, Rangga. Kamu sensi amat.” Kekeh Arumi.
“Kau kemanakan paket-paket yang sudah kubelikan dulu?”
“Kuberikan ke Pengurus Masjid.” Arumi menyendokkan bubur ke mulutnya sambil tersenyum bijak. “Lanjutkan ceritamu, sapa tahu kau lega dan bisa beraktifitas dengan normal lagi.”
Ryan juga ikut nimbrung di meja makan sambil membuka mangkok kertas berisi bubur.
Rangga melanjutkan ceritanya, “Aku tahu mbak, kalau dari segi profesional, musibah yang menimpaku juga tidak layak untuk dijadikan alasan. Pemegang saham tahunya beres karena mereka sudah menanam banyak modal. Bodo amat sama prosesnya, sama berdarah-darahnya, mereka akan menyalahkan aku juga. Salah sendiri lalai, salah sendiri malam-malam ke club, bukannya meeting di kantor saja. Namun sebagai pengelola modal, aku kan juga punya klien yang keinginannya macam-macam. Meeting di club disertai hingar bingar musik, lampu remang-remang, aku nggak suka. Membuatku kehilangan fokus. Mikir aja susah, apalagi harus dibarengi dengan minuman keras. Selama tiga bulan ini Bu Shinta tidak mengangkat telepon kami, menolak segala permintaan maaf, dia hanya diam saja tanpa maju atau mundur terkait proyek ini. Tahu-tahu DUAARR, dapat pesan begini. Duh pusing aku...”
Rangga menyuapkan sesendok demi sesendok bubur itu dengan menggerutu. Walau pun begitu tahu-tahu habis juga, malah dia minta dibuatkan teh hangat segala.
"Rangga," potong Arumi pelan, memutus omelan panjang calon suaminya. "Selama ini... kamu pernah tidak, memberikan semacam bingkisan atau buah tangan ke rumah Bu Shinta?"
Rangga memicingkan matanya tajam, menatap Arumi dengan pandangan heran bercampur sangsi. "Bingkisan? Ya pernah, beberapa kali tim Tony mengirimkan hantaran parsel premium ke rumahnya. Tapi setiap kali paketnya sampai, dia pasti langsung marah-marah besar. Dia menganggap aku sengaja mau menyuap dia. Gratifikasi, katanya. Padahal kan kami berdua murni pelaku bisnis swasta, bukan Aparatur Sipil Negara!"
“Pemegang saham Cuma dikasih bingkisan Om? Kenapa nggak kirim aja Palisade edisi baru ke rumahnya? Pake Pita yang gede gitu?” tanya Ryan.
Arumi mengacungkan jempol ke Ryan.
Rangga berdecak kesal.
Benar juga si Ryan, kenapa dia nggak kepikiran hal itu ya. Toh ini ibunya sendiri walau pun ibu tiri.
Arumi mendengus tipis, menyunggingkan senyuman mengejek yang sarat akan dominasi kecerdasan wanita. "Ya itu namanya kamu mainnya kurang 'cantik', Rangga."
"Kurang cantik bagaimana?" protes Rangga tidak terima, ego Alpha-nya terusik. "Cara negosiasi bisnis dan pendekatan klien di dunia investasi itu standarnya memang begitu, Mbak! Semuanya harus transparan, formal, hitam di atas putih pakai angka."
"Itu isi kepala laki-laki," skakmat Arumi lempeng, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menunjuk wadah Rujak Aceh di konter pakai lirikan mata. "Laki-laki kalau mendekati klien atau rekan bisnis itu selalu fokus menyerang logika pakai data triliunan di atas meja kertas. Padahal, kalau kalian sedang berhadapan dengan tipe wanita berkuasa kelas atas yang usianya sudah matang... serangan pertama itu tidak boleh lewat otak, Rangga. Serangan pertamanya harus lewat lidah dan emosi personal. Perempuan itu, se-aristokrat apa pun penampilannya di luar, dinding pertahanannya bakal jauh lebih gampang melunak kalau disodori kesegaran rasa lokal yang menggugah selera dibanding disodori tumpukan proposal tebal yang membosankan."
Rangga melongo, menatapi daster lengan buntung Arumi dan tas plastik rujak aceh itu bergantian dengan otak seorang pebisnis yang mendadak error menerima teori sosiologi konsumsi dari calon istrinya.
“Kau jangan macam-macam ya Mbak Arumi...” Rangga menunjuk Arumi dengan sedotan besinya bekas teh hangat. Iya, pria dewasa ini minum teh hangat pakai sedotan. Seketika mengikuti arah pandang Arumi, dia langsung bisa menebak apa yang akan Arumi lakukan berikutnya. Sambil melotot memperingatkan Arumi dia menggeram,
“Awas ya Mbak, Jangan kau coba-coba-“
Dan di sinilah Arumi berada.
Tiga jam kemudian.
Di Hang Tuah.
Di depan rumah Bu Pramudya Shinta.
Dengan menenteng bungkusan berisi Rujak Aceh.
“Lagian, aku kan juga harus sowan ke calon ibu mertuaku sendiri. Ya kan?” kekeh Arumi dengan rasa penuh percaya diri.