NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jiwa yang terganti

BAB 28 - Jiwa yang Terganti

Tak lama setelah bayangan nenek tua itu menghilang, pintu mobil terbuka dari luar. Rahmat masuk sambil membawa beberapa kantong belanjaan dan sebuah keranjang anyaman tertutup rapat — di dalamnya seekor ayam cemani jantan yang bulunya hitam legam sempurna, sesuai permintaan dalam petunjuk ritual. Begitu duduk dan menoleh ke samping, ia langsung mengernyitkan dahi.

"Ibu kenapa? Wajahnya pucat sekali, keringat dingin juga menetes di pelipis," tanyanya dengan nada heran, meletakkan barang belanjaan di jok belakang.

Ratna menelan ludah, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. "T-tidak apa-apa, Mas... Mungkin cuma masuk angin atau kecapekan menunggu terlalu lama," jawabnya terbata-bata, memalingkan wajah agar tidak terlihat ketakutannya.

Ia memilih bungkam, padahal di dalam benaknya kata-kata peringatan nenek tua terus berputar berulang-ulang: "Jangan lanjutkan ritual... Gugurkan kandungan itu... Anak iblis..." Rasanya kepalanya penuh, bercampur antara takut, bingung, dan sedikit rasa tidak percaya — bagaimana bisa orang asing tahu hal yang seharusnya hanya diketahui oleh dirinya dan Rahmat?

Sepanjang perjalanan menuju kios bakso milik mereka, keheningan menyelimuti. Rahmat menyetir dengan pikiran yang sudah terfokus sepenuhnya pada ritual malam ini, membayangkan rezeki yang akan mengalir makin deras. Sementara Ratna hanya bisa menatap kosong ke luar jendela, sesekali tanpa sadar mengelus perutnya yang mulai membesar, hatinya dipenuhi pertanyaan yang tak terjawab.

Sesampainya di lokasi, suasana terasa berbeda dari biasanya. Toko sudah ditutup rapat, lampu-lampu jalan di sekitarnya tampak redup, dan hembusan angin malam terasa lebih dingin dari biasanya. Rahmat langsung berjalan menuju pintu kecil di bagian paling belakang — ruangan khusus yang hanya diketahui olehnya dan tidak pernah diizinkan dimasuki siapa pun, bahkan karyawannya sekalipun.

Di dalam ruangan yang sempit dan agak pengap itu, Rahmat mulai menyiapkan segala sesuatunya dengan tertib. Ia menaburkan bunga setaman di sudut-sudut ruangan, meletakkan telur ayam kampung segar, mangkuk berisi air kelapa hijau yang baru dipetik, segelas kopi pahit tanpa gula, lalu menyalakan dua batang dupa kemenyan yang segera mengeluarkan asap putih beraroma tajam yang memenuhi seluruh ruangan. Ayam cemani yang dibelinya sengaja ia simpan dulu di dalam kotak kedap udara di sudut ruangan — sesuai aturan, hewan itu baru akan dijadikan sesajen utama pada pagi hari pasca-ritual selesai.

Jam dinding tua di sudut ruangan perlahan bergerak menunjuk angka dua belas malam — waktu yang dianggap paling tepat dan sakral untuk melaksanakan upacara. Tiba-tiba, hawa di dalam ruangan terasa berubah; udara yang tadinya biasa saja mendadak terasa berat dan dingin, membuat kulit meremang.

"Sudah waktunya, Bu. Ayo berbaring di sini," panggil Rahmat lembut, menunjuk ke alas tikar pandan yang sudah disiapkan di tengah ruangan.

Ratna melangkah mendekat dengan langkah yang berat dan ragu. Tubuhnya terasa lemas, namun ada perasaan ingin lari yang terus muncul di hatinya. Namun melihat tatapan tajam dan penuh harap suaminya, ia hanya bisa mengangguk pasrah dan berbaring sesuai perintah.

Begitu Rahmat mulai membacakan mantra pembuka dengan suara rendah dan berirama, ketegangan yang sudah menumpuk di hati Ratna sejak sore hari akhirnya mencapai puncaknya. Rasa takut yang luar biasa, ditambah kelelahan fisik dan batin, membuat pandangannya perlahan menjadi kabur. Seolah ada tarikan tak terlihat, kesadarannya perlahan terlepas dari tubuhnya, melayang ke tempat yang gelap dan sunyi.

Di detik yang sama, angin dingin tiba-tiba berhembus kencang di dalam ruangan yang tertutup rapat, membuat asap dupa berputar liar sejenak. Tubuh Ratna yang tadinya terlihat lemas mendadak menegang kaku. Saat matanya perlahan terbuka kembali, ada perubahan yang tak terlihat oleh Rahmat yang sedang fokus membaca mantra. Sorot matanya yang tadinya lembut dan penuh ketakutan kini berubah menjadi tajam, dingin, dan seolah menyimpan senyum yang penuh teka-teki — senyum yang tidak pernah dimiliki oleh Ratna asli.

Tanpa Rahmat sadari, jiwa istrinya telah terlepas sementara, dan tubuhnya kini ditempati oleh sosok lain — sosok wanita berkebaya merah darah yang dulu sering muncul dalam mimpi buruk Ratna, sosok yang menjadi penengah dalam pesugihan yang mereka ikuti.

Ritual pun berjalan sesuai rencana. Rahmat yang sepenuhnya dibutakan oleh ambisi dan harapan akan kekayaan tidak menyadari sedikit pun ada yang berbeda. Baginya, malam ini berjalan lancar dan sempurna. Ia tidak tahu bahwa yang ada di hadapannya bukan lagi istrinya yang ia kenal, melainkan wadah yang kini dipakai untuk menanam benih kegelapan — benih yang kelak akan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan.

Begitu ritual itu mencapai puncaknya, Rahmat tidak membuang waktu sedikit pun. Dengan napas yang masih terengah-engah dan mata yang berbinar penuh harapan serta ketamakan, ia segera meraih sepotong kapas steril yang sudah disiapkan. Dengan gerakan yang sangat teliti dan hati-hati sesuai petunjuk yang ia terima, ia mengumpulkan cairan tersebut, lalu menyimpannya rapat di dalam wadah kecil khusus yang terbuat dari tanah liat.

Sepanjang proses itu, Rahmat sama sekali tidak menghiraukan kondisi wanita yang terbaring di hadapannya. Ia tidak memedulikan tubuh yang masih kaku, maupun tatapan mata yang terlihat kosong namun memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Ia tak menyadari bahwa hingga detik itu, kesadaran asli Ratna belum juga kembali; tubuh dan pikiran wanita itu masih sepenuhnya dikendalikan oleh sosok berkebaya merah, yang tersenyum penuh kemenangan di balik wajah Ratna.

Bagi Rahmat, keberhasilannya mengamankan benda keramat itu menandakan bahwa inti ritual malam Kliwon telah usai dengan sempurna. Sambil memegang wadah itu dengan kedua tangan yang gemetar karena campuran rasa gembira dan hormat, ia kembali berkomat-kamit. Dengan suara rendah dan serak di tengah sisa asap kemenyan yang mulai menipis, ia membacakan mantra penutup — rapalan yang diajarkan langsung oleh Mbah Cahyo untuk mengunci hasil upacara agar kekuatan pesugihan makin kuat dan rezeki terus mengalir tanpa henti.

Bersambung

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!