Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 28
Kini Arras dan Hazi baru saja tiba di basement apartemen mereka, setelah drama panjang dimana Hazi yang kekeh ingin menunggu hingga Cafe sepi.
Namun bukan semakin sepi, Cafe tersebut terlihat semakin ramai dan jalan satu- satunya adalah Hazi kembali di gendong oleh suaminya dengan menutupi wajahnya menggunakan jas putih milik suaminya.
Dan meminta tolong Aminah untuk mengambilkan tas dan juga barang- barang Hazi yang masih tertinggal di ruang istirahat Dokter.
Suara ponsel Hazi berdering saat mereka hendak turun, panggilan dari mertuanya, Hazi menoleh ke arah Suaminya saat melihat nama yang tertera di ponselnya .
" Bunda " ujar Hazi.
" Angkat aja" Jawab Arras yang mengurungkan niatnya untuk turun .
" Halo Assalamualaikum bun" sapa Hazi lebih dahulu.
" Waalaikumsalam nak... nak... maaf Bunda gangu kamu, kamu udah pulang dari rumah sakit belom yaa... nak?" tanya Bunda Sofia.
" ini Hazi dan Mas Arras baru saja sampai di parkiran apartemen, ada apa yaaa bun?" sahut Hazi.
" Boleh kalian putar balik ke rumah nak?" tanya Bunda Sofia dengan nada yang begitu panik.
Hazi dengan segera menekan tombol lostpacker agar suaminya juga mendengar apa yang di sampaikan oleh mertuanya.
" Itu, Bunda baru saja cek cctv rumah ,Atthaya sedang party dengan teman- temannya, entah sejak kapan Atthaya seperti ini, Bunda juga enggak tau, tapi yang Bunda lihat dari cctv rumah, Atthaya masuk ke kamar dalam keadaan mabuk dengan teman laki- lakinya" ujar Bunda Sofia yang begitu panik.
Wajah Arras memerah, entah apa yang dilakukan oleh sang adik kali ini, ini benar - benar di luar prediksi Arras, bisa- bisanya sang adik melakukan hal dosa itu.
" Bunda tenang, Arras dan Hazi ke rumah sekarang, Arras matikan dulu bun, Assalamualaikum " jawab Arras mengambil ponsel sang istri lalu mematikan panggilan begitu saja.
" Pakai seatbelt nya" pinta Arras pada sang istri.
Hazi tidak berani mengucapkan apapun melihat suaminya yang begitu marah, wajahnya tampak tegang dan memerah.
Arras kemudian menacap gas dan mengemudikan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya, tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah ke dua orang tua Arras.
" Kamu tunggu sini,jangan kemana- mana" pinta Arras.
Hazi hanya mengangukan kepalanya, di pekarangan rumah banyak mobil milik teman Atthaya, sedangkan para pelayan menunggu di luar sambil menunuduk saat mereka datang.
" brakkk" Arras menutup pintu mobil dengan keras yang membuat Hazi terkejut.
" Astagfirullah " gumam Hazi sambil mengusap dadanya.
Arras masuk dengan langkah tegap, ia meminta semua pekerja di sana untuk mundur, para pekerja menunggu di luar rumah karena permintaan Atthaya,lalu Arras memdobrak pintu rumah dengan sekuat tenaga, semua orang yang masih sadar menoleh ke arah pintu yang di buka paksa oleh tuan rumahnya.
Salah satu teman Atthaya, seorang cowok dengan badan yang sedikit berisi dan rambut ikalnya maju dan menghampiri Arras.
Cowok tersebut terlihat dalam keadaan mabuk, cowok tersebut memegang kerahasiaan baju Arras, dengan keadaan marah Arras memukul cowok tersebut.
" loe siapa sih? berani banget loe mukul gue?" tanya cowok tersebut yang sudah tumbang akibat pukulan Arras.
" BUBAR KALIAN SEMUA" teriak Arras, namun tidak ada yang menggubris perkataan Arras.
Mereka masih diam di tempat, tanpa berbuat apapun, seperti patung hidup, Arras mengambil gucci yang cukup besar dan ia membantingnya tempat di tengah- tengah ruangan.
" Keluar kalian atau saya laporkan ke polisi karena masuk ke rumah saya tanpa izin dan menghancurkannya " teriak Arras, yang membuat semua teman Atthaya berhamburan berlari keluar.
" Kalian semua bereskan sekarang juga" pinta Arras pada para pekerja.
Sedangkan Hazi kini nekat untuk turun melihat apa yang terjadi, saat ingin masuk ke dalam rumah ia di cegah oleh salah satu pelayan dan mencengkram lengan Hazi.
" Maaf nona , anda tidak di perkenankan untuk masuk" jawab Salah satu pelayan.
Arras melihat ke arah pintu luar dimana sang istri yang di cegah oleh pelayannya, " lepaskan, jangan pernah sentuh istri saya" ujar Arras.
Pelayan tersebut melepas cengkramannya dari tangan Hazi, " Maaf tuan saya tidak tahu " ujar pelayan tersebut.
" Sini" pinta Arras yang berubah menjadi lembut kepada sang istri.
Hazi kemudian lari ke arah Suaminya yang sudah berada di tengah anak tangga, namun karena tidak hati- hati Hazi hampir saja terjatuh dan untung Arras bisa menangkap dan menahan tangan sang istri.
" Hati- hati, ada yang sakit ? lengannya sakit gak?" tanya Arras.
Hazi hanya menggelengkan kepalanya untuk memberikan jawaban, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Hazi.
Arras menggandeng tangan Hazi dengan erat, ia kemudian melangkah perlahan menyusuri anak tangga dan akhirnya mereka berhenti di depan kamar Atthaya yang sedikit terbuka.
brakk....
Arras menendang pintu kamar milik Atthaya, Sedangkan Hazi menunggu di depan ia tidak berani masuk ke kamar adik iparnya.
" ATTHAYA " terdengar suara Arras dari dalam kamar Atthaya yang membuat Hazi sedikit terpanjat mendengar teriakan suaminya.
Sedangkan di dalam Arras dengan penuh emosi, menarik tubuh lelaki yang sedang tidur dengan adiknya itu dan memukulnya habis - habisan.
buk...
bkukkk..
bkukk...
" berani- beraninya loe berbuat gitu sama adik gue" murka Arras.
Pukulan Arras membabi buta, Hazi yang mendengar itu memutuskan untuk masuk, saat dirinya masuk kamar adik iparnya sudah seperti kapal pecah bahkan lebih dari itu.
Atthaya yang melihat Axel di pukul habis- habisa oleh sang kakak dengan segera ia menghentikan apa yang di lakukan kakaknya dan berusaha untuk mencegah.
" Kak..... stop kak, kakak apa-apaan sih mukul Axel kayak gini".teriak Atthaya.
Atthaya tidak bisa menhetikan amukan kakaknya, ia melihat Hazi yang terdiam tidak berbuat apapun ,segera meminta Hazi untuk melerai mereka berdua.
"Heh.. cewek sialan, loe ngapain diem aja.. bantu dong " maki Hazi pada kakak iparnya.
Hazi segera mendekat ke arah Suaminya dan ingin menahan suaminya, Arras yang tengah membabi buta tidak sadar jika sang istri menahan dirinya .
Arras menepis Hazo dengan sangat keras hingga Hazi terpental dan keningnya terbentur ke ujung meja yang cukup tajam.
" Awwwww" pekik Hazi.
Arras masih memukuli Axel, ia tidak mendengarkan rintihan sang istri, Axel yang kini tidak mengenakan baju sama sekali sudah tidak berdaya.
Dengan sekuat tenaga Hazi kembali berdiri dan kembali mencegah suaminya untuk memukuli orang yang di depannya kini.
" Mas.... cukup, kamu mau bunuh dia" teriak Hazi.
Seketika Arras menghentikan pukulan dan melihat ke arah Axel yang sudah lemas tidak berdaya, Ia melepas jaketnya dan memberikan pada sang adik karena tubuh Atthaya yang kini hanya tertutup selimut.
" Bangun ganti baju, kakak tunggu di bawah" pinta Arras.
Arras kemudian memapah Axel yang sudah tidak berdaya untuk keluar dari kamar sang adik, bahkan Arras melepas kemejanya untuk menutupi tubuh Axel yang kini hanya menggunakan boxer.
Tangan Arras satunya dengan setia menggadeng sang istri, tanpa menoleh ke arah istrinya, hingga Arras belom menyadari luka di kening sang istri.
...****************...
Sedangkan Ayah Bram dan Bunda Sofia sedari tadi memantau dari Cctv yang terhubung dengan ponsel mereka.
Ayah Bram meraih ponsel miliknya yang berada di sampingnya dan menghubungi seseorang, " Tolong cari tau, tentang putri saya dan teman- temannya dan kegiatan di luar kampus " pinta Ayah bram pada orang di sebrang, lalu kembali mematikan panggilan tersebut.
" Aku enggak nyangka mas,Atthaya seperti ini, aku gagal mas jadi seorang ibu " tangis Bunda Sofia pecah kala melihat cctv dimana putrinya keluar dari kamar dengan langkah yang sulit.
Ayah bram memeluk sang istri dan menguatkannya, ia juga merasa gagal menjadi seorang ayah, ia gagal mendidik putrinya.
"Maafin aku sayang, ini semua juga salah aku maafin aku ya.... ini kita anggap sebagai pembelajaran untuk kedepannya " sahut Ayah Bram memeluk sang istri dengan sangat erat.
" Sudah bun.... semua sudah terjadi, mari kita siap- siap untuk pulang ke jakarta" .