Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlindung di Balik 'Anda' dan 'Tuan'
"Kenapa Anda begitu takut dia akan menghancurkan segalanya?" tanya Lia pada Ren. Ren menatap Lia dengan tatapan dipenuhi kebingungan.
"Entah. Rasanya... Arka yang aku lihat di kolam renang waktu itu, Arka yang berbeda," kata Ren sambil tertunduk.
Lia melihat kesedihan dan kebingungan bercampur di wajah Ren yang tertunduk.
"Tuan tak perlu takut," kata Lia. Ren masih tertunduk.
"Saya akan melindungi Tuan," lanjut Lia. Ren mendongak seketika, menatap Lia yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Melindungi?"
"Ah! Bukan. Maksud saya, berjuang bersama. Demi Damaris Digital Group dan Lavendra Hotel and Resort," kata Lia, semangat.
Ren menatap Lia lalu tersenyum tipis sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Lia mengerjapkan matanya melihat senyum tipis Ren.
"Aku heran, darimana perasaan positif yang selalu ada pada dirimu itu berasal?" tanya Ren, membuat Lia salah tingkah.
"Saya rasa, selalu berpikiran negatif itu sangat melelahkan," kata Lia.
"Daripada terus memikirkan kemungkinan terburuk, alangkah lebih baik kita memikirkan cara agar kemungkinan terburuk itu tidak terjadi, atau mencari opsi solusi untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi," lanjut Lia. Ren tertegun.
"Saya memang belum pernah menjalin hubungan asmara sebelumnya," kata Lia.
"Tapi, saya rasa, kalau Tuan Arka begitu membenci Anda, bukankah akan lebih mudah menghancurkan Anda dengan membongkar hubungan kalian pada publik?" tanya Lia. Ren terdiam.
Ren merasa kata-kata Lia benar. Membongkar hubungan Ren dengan Arka akan memberikan efek besar, tak hanya pada Ren, tapi juga pada Damaris Digital Group.
"Mari kita berpikir positif, bahwa proposal kerjasama itu, murni sebuah kerjasama antar perusahaan," kata Lia.
"Dan jika terjadi sesuatu nantinya, kita hadapi bersama. Bukankah kita teman?" kata Lia sambil tersenyum ke arah Ren. Ren menatap Lia, lalu mengangguk perlahan.
'Mungkin aku akan mencoba mempercayainya,'
***
Arka berdiri, menatap dingin pada gemerlap cahaya kota dari rooftop apartemennya. Dia masih di kota itu, masih menjalankan misi Tuan Damaris untuk puteranya. Meskipun hati Arka sendiri tak ingin menyakiti Ren lebih dari apa yang dia katakan terakhir kalinya pada Ren, Arka tetap disana.
Beberapa hari yang lalu Arka mendapat pesan singkat dari Tuan Damaris yang memintanya untuk kembali mendekati Ren. Tuan Damaris ingin menguji pernikahan Ren. Arka masih ingat dengan jelas permintaan Tuan Damaris.
Saya ingin kamu melakukan apa saja untuk melihat bagaimana reaksi Ren tentang hal itu.
Arka tersenyum kecut, menyadari dirinya kini telah diperbudak oleh uang. Namun, dia tak peduli. Dia memang membutuhkan banyak uang untuk biaya perawatan adiknya.
Arka menatap ponselnya. Dia membaca pesan singkat yang dikirimkannya pada Ren. Hanya dibaca tanpa dibalas oleh Ren.
"Mungkin rencana Ayahmu akan gagal kali ini," gumam Arka sambil menyimpan kembali ponselnya dan berjalan meninggalkan ruang kerjanya.
'Mari istirahat. Besok akan jadi hari yang panjang,'
***
Pagi Ren kali ini kembali disambut dengan alunan musik rock ballad berbahasa Jepang yang bernuansa gelap dan berat. Ren mengernyitkan dahinya sambil berjalan menuju dapur yang menguarkan aroma nasi goreng yang harum.
"Forbidden lover... Awai kioku... Tsuyoku daitemo kasanari aenu shikisai... Iki wo hisome chikau... Amai koi no hate wa yokisenu toki no itazura..."
Alunan lagu mengiringi Lia yang sedang mengaduk-aduk nasi goreng di penggorengan sambil bersenandung lirih mengikuti alunan lagu.
"Forbidden lover?" tanya Ren yang menangkap sedikit penggalan lirik lagu yang diputar Lia.
"Eh?" Lia menoleh, terkejut. Tangannya segera meraih ponselnya hendak menghentikan lagu yang tengah diputarnya. Namun, tangan Ren dengan cepat menghentikannya.
"Biarkan. Kamu lanjutkan saja," kata Ren pada Lia. Lia menatap Ren sesaat sebelum akhirnya kembali memasak.
Ren berdiri diam di dekat kitchen island dimana Lia meletakkan ponselnya yang sedang memutar musik. Ren mendengarkan alunan musik yang menyayat itu.
"Kamu suka jenis musik seperti ini?" tanya Ren pada Lia yang menuangkan nasi goreng ke atas piring. Lia mengangguk.
"Bagaimana dengan Tuan? Tuan suka jenis musik apa?" tanya Lia sambil berjalan menuju meja makan dengan membawa dua piring nasi goreng di tangannya. Ren menggelengkan kepalanya. Lia menatap Ren tak percaya.
"Tuan tidak mendengarkan musik? Wow! Tuan harus lebih sering mendengarkan musik agar Tu..." kalimat Lia terhenti karena tiba-tiba Ren menarik tangannya saat dia hendak mengambil air putih, membuat Lia kini berdiri sangat dekat dengan Ren.
"Panggil namaku," kata Ren dingin.
"Eh? I-itu agak sulit..."
"Tapi, kamu bisa dengan mudah melakukannya saat berpura-pura," kata Ren cepat.
"I-itu..."
"Panggil namaku," paksa Ren.
"Eh?"
"Sekarang," Ren menarik Lia lebih dekat.
Jantung Lia berdegup kencang. Lia bahkan menarik napas dalam-dalam, karena entah mengapa, tiba-tiba sulit baginya untuk bernapas.
"R-Ren?" panggil Lia lirih. Ren melepaskan tangannya perlahan.
"Mulai sekarang, jangan lupa gunakan nama itu," kata Ren lalu berjalan menuju meja makan, menarik kursi lalu duduk.
Lia menghela napas panjang, mengatur detak jantungnya, lalu mengambil dua gelas air putih. Tak lupa Lia mematikan music playernya sebelum berjalan kembali ke meja makan.
"Silakan, Tu-, ah! Maksud saya, R-Ren," kata Lia segera mengganti panggilan Ren dengan kikuk setelah melihat Ren menatapnya dengan sangat tajam.
Ren segera menyantap nasi goreng daging sapi yang aromanya sudah menggoda Ren sedari tadi. Lia tersenyum menatap Ren makan dengan lahap.
"Saya kira Tu-, ah, Anda, tidak suka makan nasi pagi hari," kata Lia lalu memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
"Aku bisa makan apa saja. Asal tidak terlalu banyak," kata Ren sambil terus mengunyah nasi gorengnya. Lia manggut-manggut.
"Hari ini, kamu berangkat bareng aku. Kita langsung menuju ke tempat meeting," kata Ren.
"Eh? Tapi, setelah meeting saya harus kembali ke hotel..."
"Aku anter,"
"Tapi,"
"Pulang aku jemput,"
"Eh?"
"Kenapa?"
"Itu merepotkan Tu-, ah, Anda,"
"Berhenti menggunakan kata 'Anda',"
"Eh?"
"Bukankah kita teman?"
Hening.
Lia menatap Ren yang terlihat kacau. Ada gurat kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah Ren. Lia menghela napas perlahan.
"Ren," panggil Lia lembut, membuat tatapan Ren sedikit melunak.
"Maaf. Saya hanya sudah terbiasa menggunakan kata itu," kata Lia.
"Saya masih butuh waktu untuk beradaptasi. Anda tahu, menggunakannya saat sedang berpura-pura jauh lebih mudah," lanjut Lia. Ren mengerutkan kedua alisnya.
"Kenapa?" tanya Ren dingin.
Lia terdiam. Lia sendiri tak tahu mengapa bisa seperti itu. Dirinya tidak bisa dengan mudah mengikis jarak dengan Ren melalui panggilan dan kata sapaan akrab. Padahal dirinya sendiri yang menawarkan diri untuk berteman. Lia menatap Ren yang masih menatapnya dingin.
'Aku hanya melindungi diriku. Aku hanya tak mau terluka lagi. Sama seperti waktu itu... bersama Kak Radit,'
***