JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Malam semakin larut, memayungi pelataran Mansion Widjaja dengan kesunyian yang mencekam. Angin malam berembus lebih kencang, menggoyang dedaunan pohon palem di sekitar teras. Di sudut teras, di atas bangku taman besi tempa yang tersembunyi dari pandangan pintu utama, Haura duduk merapat dengan Marco. Kedua lengan Marco yang semula mengurung pinggang Haura kini perlahan mengendur, namun pemuda itu masih menumpu keningnya di atas pundak Haura, seolah enggan menjauh dari satu-satunya sumber kehangatan yang ia miliki malam ini.
"Kamu kenapa? Marco, jawab aku..." bisik Haura, suaranya bergetar penuh kecemasan. Telapak tangan halusnya bergerak lembut, mengusap tengkuk Marco yang masih terasa tegang dan panas.
Marco perlahan menegakkan tubuh jangkungnya. Di bawah temaram lampu teras yang kekuningan, wajah tampannya kini terlihat jelas. Pipi kirinya membengkak kemerahan dengan rona keunguan yang mulai samar terbentuk, sementara sudut bibir bawahnya yang pecah masih menyisakan rembesan darah segar yang kontras dengan warna kulitnya.
Marco mengembuskan napas berat dari hidungnya, seulas senyum miring yang dipaksakan terukir di bibirnya, meski sedetik kemudian ia meringis menahan perih. "Gue gak apa-apa, Ra. Cuma dapet hadiah kecil dari rumah."
"Hadiah kecil kamu bilang?!" Haura menatap tidak percaya, kedua matanya berkilat marah sekaligus perih melihat kerusakan di wajah rupawan asisten magangnya. "Jadi... papa kamu mukul kamu? Cuma gara-gara perdebatan semalam, atau ada hal lain?"
Marco membuang pandangannya ke arah halaman depan yang sepi, rahangnya mengetat mengingat makian Anggun dan ayahnya. "Si Anggun... dia ngehina ruko lo. Dia bilang kerjaan gue di ruko itu pekerjaan murah, cuma jadi babu murahan buat perempuan tua. Gue gak terima, Ra. Gue bentak dia di depan muka bokap gue. Dan... ya, lo bisa liat sendiri hasilnya. Bokap langsung melayangin tangan."
Mendengar penuturan itu, dada Haura bergemuruh hebat. Rasa sesak dan amarah yang luar biasa instan langsung membakar benaknya.
"Ini gak bener, Marco! Itu termasuk KDRT loh!" seru Haura, suaranya meninggi akibat emosi yang tak terbendung, membuat Marco kembali menoleh menatapnya. "Papa aku aja... kamu tahu sendiri kan gimana kerasnya sifat Papa? Mulutnya emang pedes banget kayak cabe giling, semalam aja dia habis-habisan nyudutin aku sampai aku nangis. Tapi dia... dia nggak pernah sekalipun berani mukul badan aku! Gak pernah ada kekerasan fisik di rumah ini!"
Haura mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan, napasnya memburu naik-turun menahan luapan amarah yang ditujukan untuk keluarga Permana. "Aku rasa papa kamu udah dibutakan matanya sama Anggun itu. Wanita itu bener-bener wanita ular! Bisa-bisanya dia memprovokasi suami sendiri buat mukul anak kandungnya sendiri hanya karena urusan ruko jastip?!"
"Udah, Ra... gak usah emosi begitu. Sudut bibir gue yang pecah, tapi kenapa lo yang kelihatan kayak mau ngajak perang satu komando?" gumam Marco rendah, sebuah kekehan kecil lolos dari tenggorokannya, merasa tersentuh melihat bagaimana seorang Boss Lady berumur 38 tahun yang biasanya jaim dan jengkel padanya, kini menjelma menjadi singa betina yang siap melindunginya.
"Kamu masih bisa bercanda ya dalam keadaan kayak begini?!" omel Haura, melotot tajam namun matanya berkaca-kaca karena rasa khawatir yang mendalam.
Haura kemudian berdiri dari bangku teras, membalikkan badannya ke arah pos penjagaan gerbang depan mansion. Ia melambaikan tangannya dengan gerakan taktis ke arah seorang satpam paruh baya yang sedang bertugas malam itu.
"Pak! Tolong ambilin kotak P3K di ruang depan, ya? Sama sekalian ambilin kasa steril sama betadine, Pak. Tolong agak cepat, ya," seru Haura dengan volume suara yang dijaga agar tidak menggema masuk ke dalam rumah utama.
"Baik, Non Haura. Sebentar saya ambilkan," sahut pak satpam sigap, langsung berlari kecil masuk melalui pintu samping dapur.
Haura kembali mendudukkan dirinya di samping Marco. Ia meraih dagu tegas Marco dengan ujung jarinya secara perlahan, memutar wajah pemuda itu agar menghadap lurus ke arahnya di bawah sorotan lampu. "Kamu diem dulu. Jangan banyak gerak, jangan banyak omong. Aku obatin ini sekarang biar nggak infeksi. Mengerti?"
Marco menatap lekat sepasang mata indah Haura yang berada hanya beberapa senti di depan wajahnya. Jarak yang begitu dekat ini membuat Marco bisa mencium aroma manis parfum herbal yang menenangkan dari tubuh Haura. "Iya, Tante Sayang. Gue diem. Terserah lo mau apain gue malam ini," bisik Marco, suaranya kembali berubah menjadi serak dan berat, sengaja menggoda Haura meski sudut bibirnya berdenyut nyeri.
"Marco, stop! Kondisinya lagi nggak tepat buat kamu ngegombal!" ketus Haura, meskipun rona merah tipis tidak bisa berbohong mulai terbit di pipinya yang sembab.
Tak lama kemudian, pak satpam kembali dengan membawa sebuah kotak plastik putih berlogo palang merah dan sebotol cairan antiseptik. "Ini, Non Haura, kotak P3K-nya."
"Terima kasih banyak ya, Pak. Tolong jangan bilang Papa kalau ada Marco di sini," pesan Haura pelan.
"Siap, Non. Aman," jawab pak satpam sebelum kembali ke pos jaga dengan sopan.
Haura membuka kotak P3K tersebut dengan cekatan. Ia mengambil selembar kasa steril, membuka tutup botol betadine, lalu meneteskan cairan pencuci luka itu hingga membasahi permukaan kasa. Gerakan tangannya tampak sangat telaten, meski sesekali jarinya sedikit bergetar karena rasa tidak tega.
"Agak perih dikit ya, tahan," gumam Haura lembut.
Ia perlahan menempelkan kasa basah itu ke sudut bibir bawah Marco yang pecah.
"Sshh..." Marco refleks mendesis pelan, matanya sedikit terpejam saat rasa perih yang menggigit dari cairan antiseptik itu membakar lukanya. Secara tidak sadar, tangan kiri Marco bergerak naik, mencengkeram erat pinggang Haura di balik kardigan rajutnya untuk menyalurkan rasa sakit.
"Tuh kan, makanya diem. Tadi katanya jagoan, ditetesin betadine aja langsung meringis," ledek Haura, namun tangannya bergerak makin lembut, menepuk-nepuk pelan kasa tersebut untuk membersihkan sisa darah kering di dagu Marco.
Marco membuka matanya kembali, mengunci pandangan matanya pada bibir ranum Haura yang sedang mengerucut fokus mengobati lukanya. "Perihnya ilang kok, Ra. Apalagi kalau setelah diobatin... dapet bonus ciuman penyembuh kayak semalam."
CIIIT. Haura sengaja menekan sedikit agak keras kasa itu ke luka Marco, membuat pemuda itu langsung mengaduh kencang. "Awh! Sakit, Ra!"
"Itu hukuman karena mulut kamu bener-bener gak ada remnya, Marco Permana!" ketus Haura, menaruh kembali kasa kotor ke dalam kotak, lalu mengambil salep khusus memar untuk dioleskan ke pipi kiri Marco yang membengkak. Dengan ujung jari telunjuknya, Haura mengusap salep dingin itu ke kulit pipi Marco dengan gerakan memutar yang teramat lembut. "Malam ini... kamu gak usah pulang ke rumah Permana. Kamu tidur di kamar tamu lantai bawah ruko aja, kunci cadangannya ada di aku. Biar besok pagi kamu gak usah repot-repot jalan jauh ke ruko."
Marco menatap tangan Haura yang masih setia mengusap pipinya, lalu beralih menatap mata sayu wanita itu. Rasa hangat yang menjalar di hatinya malam ini bener-bener meruntuhkan seluruh rasa dingin dan kehampaan yang ia rasakan di rumah Permana tadi.
"Makasih ya, Haura," ucap Marco, kali ini suaranya terdengar sangat tulus, dalam, dan tanpa ada nada bercanda sedikit pun. Ia meraih pergelangan tangan Haura, menghentikan gerakan mengusapnya, lalu mengecup telapak tangan halus Haura dengan lembut. "Gue bener-bener gak tahu harus ke mana lagi malam ini kalau gak ada lo."
Haura tertegun, merasakan kecupan hangat di telapak tangannya yang membuat dadanya berdesir hebat. Ia menarik napas panjang, melunakkan tatapan matanya, lalu menggenggam balik jemari besar berondong nekatnya itu. "Udah, jangan dipikirin lagi. Sekarang, ayo ikut aku ke ruko. Aku anterin kamu pake mobil, motor kamu biar diparkir di sini dulu biar aman."
semangattt