Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Belum Usai
Mobil hitam itu masih di sana. Saat Naura dan Kaelith mempercepat langkah menuju stasiun kereta terdekat, mobil tersebut perlahan bergerak, mengikuti irama kaki mereka dari kejauhan. Jalanan sore yang ramai mendadak terasa mencekam. Setiap dentuman klakson terdengar seperti peringatan, dan setiap bayangan yang memanjang di trotoar tampak seperti ancaman yang nyata.
"Itu mobil yang sama, Kael," bisik Naura, suaranya nyaris tak terdengar di balik kebisingan lalu lintas. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Kaelith. "Gue yakin banget. Mobil itu sudah ngikutin kita sejak dari depan kafe tadi."
Kaelith menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menyapu suasana sekitar. "Gue tahu. Jangan terlihat panik. Kalau mereka mau nyulik kita lagi, mereka sudah melakukannya sejak tadi saat kita keluar dari kafe yang ramai."
"Terus kenapa mereka ngikutin?"
"Intimidasi," jawab Kaelith dingin. "Bokap gue mungkin sudah di tangan polisi, tapi kroni-kroninya—orang-orang yang namanya belum sempat gue bongkar—masih berkeliaran bebas. Mereka ingin kita tahu kalau kita belum benar-benar aman."
Naura merasakan tengkuknya meremang. Perasaan menang yang sempat menghangatkan hatinya beberapa menit lalu kini menguap, digantikan oleh kewaspadaan lama yang mulai kembali. Mereka sampai di pintu masuk stasiun kereta api yang padat oleh pekerja yang pulang kantor. Kaelith segera menarik Naura masuk ke dalam gerombolan manusia, mencoba membaur agar tidak terlihat mencolok.
Di dalam stasiun yang penuh sesak, mereka sempat berdiri di balik pilar besar, mengintip ke arah pintu masuk. Mobil hitam itu berhenti di depan gerbang stasiun, namun tidak ada yang turun. Hanya kaca gelap yang tertutup rapat, seolah-olah sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari balik sana.
"Kita nggak bisa pulang ke Apartemen," ujar Kaelith dengan nada tegas. "Itu tempat pertama yang bakal mereka cari kalau mereka mau main kasar."
"Terus kita ke mana? Ke rumah Rania?"
Kaelith menggeleng. "Jangan libatin dia lagi. Dia sudah cukup trauma dengan apa yang terjadi kemarin." Ia terdiam sejenak, memikirkan berbagai opsi di kepalanya. "Kita pergi ke tempat yang nggak bakal kepikiran sama mereka. Ke rumah kakek gue di pinggiran kota."
"Kakek lo?" Naura mengerutkan kening. Selama berminggu-minggu mereka bersama, Kaelith tidak pernah sekalipun menyebut soal kakeknya.
"Dia mantan dosen sosiologi yang sudah pensiun. Dia tinggal sendiri di rumah tua dekat perbukitan. Tempat itu nggak ada dalam catatan properti bokap gue, karena itu tanah warisan dari nenek. Mereka nggak akan bisa melacak kita ke sana."
Naura mengangguk setuju. Ia percaya pada insting Kaelith. Begitu kereta komuter datang, mereka segera masuk ke gerbong yang paling belakang, memastikan tidak ada orang yang mencurigakan yang mengikuti mereka ke dalam. Kereta mulai bergerak, meninggalkan pusat kota dan segala kekacauan yang ada di sana.
Sepanjang perjalanan, Naura menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi perlahan tergantikan oleh deretan rumah penduduk yang semakin jarang dan area persawahan yang mulai gelap. Ia merenung tentang betapa ironisnya hidup ini. Baru saja mereka merasa telah memenangkan pertempuran besar, kini mereka harus kembali ke dalam mode pelarian.
"Kael," Naura memanggil pelan, memastikan pria di sampingnya itu masih terjaga. "Menurut lo, apa ini bakal berakhir suatu saat nanti? Maksud gue, apakah kita bisa hidup normal lagi?"
Kaelith menatap lurus ke depan, ke arah pantulan wajah mereka sendiri di kaca jendela kereta. "Definisi normal kita sudah berubah, Naura. Setelah semua yang kita tahu, setelah semua bukti yang kita lihat, kita nggak akan pernah bisa balik jadi orang yang sama seperti waktu pertama kali kita ketemu di demo kampus itu."
"Gue rasa lo bener."
"Tapi," Kaelith menoleh dan menatap Naura dengan lembut, "mungkin itu bukan hal yang buruk. Kita punya satu sama lain sekarang. Dan itu lebih dari cukup untuk menghadapi apa pun yang datang."
Naura tersenyum tipis. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Kaelith. Kelelahan yang luar biasa kembali menyerang, namun ada kedamaian aneh yang menyelimutinya. Mereka berdua terlelap sejenak di tengah perjalanan, meninggalkan segala kecemasan di belakang mereka.
Saat mereka tiba di stasiun tujuan—sebuah stasiun kecil yang sepi di pinggiran kota—langit sudah benar-benar gelap. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju bukit. Angin malam berhembus kencang, membawa aroma tanah basah dan pinus.
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, mereka sampai di sebuah rumah kayu tua yang dikelilingi pagar tanaman liar. Rumah itu terlihat sunyi, hanya ada satu lampu redup yang menyala di teras depan.
"Ini dia," bisik Kaelith.
Mereka menaiki anak tangga kayu yang berderit. Sebelum Kaelith sempat mengetuk, pintu sudah terbuka dari dalam. Seorang pria tua dengan rambut putih lebat dan kacamata tebal berdiri di sana. Ia tidak tampak terkejut, seolah-olah sudah menunggu kehadiran mereka sejak lama.
"Kaelith," suara pria tua itu serak namun hangat. "Aku sudah dengar berita soal ayahmu di TV. Kau pasti lelah."
Kakek itu menatap Naura sejenak, memberikan senyuman ramah yang menenangkan. "Masuklah. Jangan berdiri di luar, udara malam ini tidak bersahabat untuk orang-orang yang sedang dikejar bayang-bayang."
Naura merasa jantungnya berdegup lebih tenang. Di dalam rumah itu, suasana sangat kontras dengan kehidupan keras yang baru saja mereka jalani. Ada bau buku-buku tua dan kayu bakar yang sedang menyala di tungku perapian.
"Kakek tahu?" tanya Kaelith kaget saat mereka duduk di ruang tamu.
"Kakekmu ini punya banyak kenalan di universitas, Kael. Mereka membicarakanmu dengan bangga, bukan sebagai penjahat, tapi sebagai orang yang berani memutus rantai ketidakadilan," kakek itu memberikan dua cangkir teh hangat. "Sekarang, istirahatlah. Di sini, tidak ada yang bisa menyentuh kalian."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Naura tidur di tempat yang benar-benar terasa aman. Namun, di tengah tidurnya, ia terbangun karena mendengar suara gesekan di luar rumah.
Ia mengendap-endap ke arah jendela. Di kegelapan hutan di belakang rumah kakek Kaelith, ia melihat sekelebat bayangan manusia yang sedang bergerak. Insting jurnalisnya berteriak kencang. Mereka ditemukan.
Naura segera mengguncang bahu Kaelith. "Kael... bangun. Kita nggak sendiri."
Kaelith membuka matanya seketika, kewaspadaannya kembali tajam. Ia mengintip ke luar jendela, melihat bayangan-bayangan itu semakin mendekat ke arah rumah.
"Mereka bukan polisi," bisik Kaelith dengan wajah pucat. "Itu orang-orang bayaran dari pihak lain yang masih berkepentingan dengan data itu. Kita harus pergi, sekarang!"
Mereka tidak membuang waktu. Kaelith membantu kakeknya keluar lewat pintu rahasia di dapur yang tembus ke gudang bawah tanah. Namun, saat mereka akan melangkah keluar, suara tembakan peringatan memecah kesunyian malam, membuat mereka membeku di tempat.
"Jangan bergerak!" sebuah suara menggema dari balik pepohonan.
Naura memegang erat tangan Kaelith. Pertarungan yang mereka kira sudah berakhir, ternyata baru saja mencapai tahap yang paling mematikan. Mereka bukan lagi hanya berurusan dengan korupsi, tapi dengan kekuatan yang jauh lebih gelap yang tidak akan membiarkan kebenaran itu tetap hidup.