Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan—28
Gulfstream G650ER mendarat dengan mulus di landasan pacu privat Bandara London-Luton tepat saat fajar menyingsing, membelah kabut tipis Inggris yang dingin menyengat. Perjalanan panjang dari Jakarta tak membuat energi Danny maupun Aletha surut. Setelah melewati jalur imigrasi khusus tanpa hambatan, mereka langsung dijemput oleh iringan mobil Range Rover hitam menuju hotel mewah The Savoy di pusat kota London.
Sesampainya di Royal Suite tempat mereka menginap, Aletha baru saja meletakkan tas tangannya di atas meja ketika Danny yang sedang mengganti kemejanya dengan jaket taktis hitam menoleh ke arahnya.
"Tha, mau ikut gue gak sekarang? Ke markas utama gue di sini," ajak Danny, sepasang mata elangnya menatap lekat tunangannya. "Siapa tahu... lo mau denger langsung informasi dari orang-orang gue."
Aletha sempat tertegun, namun rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa lelahnya. "Gue ikut."
Mereka berdua turun menuju lobi hotel. Di depan pintu masuk, Danny langsung meraih jemari lentik Aletha, menggandengnya dengan erat dan protektif, seolah enggan membiarkan seujung kuku pun dari gadis itu terancam di daratan asing ini. Mereka masuk ke dalam mobil SUV lapis baja yang sudah menunggu, lalu melaju membelah jalanan kota London yang mulai sibuk.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit menuju pinggiran kota yang sunyi, mobil berbelok ke sebuah kawasan industri tua. Kendaraan mereka berhenti di depan sebuah gedung yang dari luar terlihat sangat biasa—hanya sebuah bangunan beton berbentuk kotak tanpa papan nama, mirip gudang penyimpanan logistik yang terbengkalai.
Namun, begitu pintu besi raksasa di depan mereka terbuka secara otomatis, mobil langsung diarahkan masuk menuju sebuah ramp turunan tajam yang mengarah ke dalam perut bumi.
"Kita turun ke bawah tanah?" tanya Aletha, matanya memperhatikan dinding beton tebal berkekuatan tinggi di sepanjang jalan.
"Gedung di atas cuma kamuflase, Tha," jawab Danny datar tanpa mengalihkan pandangan.
Mobil berhenti di sebuah basemen super luas yang diterangi lampu LED putih terang. Begitu turun dari mobil, Danny kembali menggandeng tangan Aletha, menuntunnya berjalan menyusuri koridor futuristik. Semakin mereka berjalan turun, Aletha semakin dibuat takjub sekaligus merinding. Tempat ini sangat luas. Di lantai satu bawah tanah, ia bahkan bisa melihat sebuah ruangan gym berukuran raksasa tempat beberapa pria berbadan kekar sedang melakukan latihan fisik militer.
Mereka melangkah masuk ke dalam sebuah lift khusus berteknologi pemindai retina. Danny menempelkan matanya ke sensor, dan suara mekanis berbunyi pelan sebelum lift bergerak turun dengan kecepatan tinggi menuju lantai tiga bawah tanah.
Pintu lift terbuka, menampilkan sebuah ruangan pusat komando yang dipenuhi oleh belasan layar monitor raksasa yang menampilkan grafik satelit, data intelijen global, dan enkripsi tingkat tinggi. Di sana, puluhan anak buah Danny yang mengenakan seragam hitam serasi langsung berdiri tegak dan menundukkan kepala begitu melihat kedatangan sang CEO.
Aletha mematung di tempatnya berdiri, perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Danny karena rasa syok yang menjalar. Matanya menatap sekeliling ruangan yang terasa sangat berbahaya ini.
‘Siapa sebenarnya Danny ini?’ batin Aletha berteriak histeris dalam diam. Pria kaku yang selama ini ia anggap hanya seorang CEO dan pewaris takhta Dirgantara Group, ternyata memimpin sebuah organisasi bawah tanah berskala internasional yang luar biasa masif di balik layar.
Dua orang kepercayaan Danny melangkah maju dari balik meja komando. Mereka adalah Samuel, sang kepala analis data global, dan Ody—seorang eksekutor perempuan berdarah dingin yang juga merupakan kaki tangan sekaligus tangan kanan Samuel di lapangan. Penampilan Ody yang tegas dengan rambut pendek dan tatapan mata yang tajam langsung memberikan aura intimidasi yang kuat.
"Selamat datang, Tuan Danny," buka Samuel dengan suara beratnya, lalu memberikan anggukan hormat kepada Aletha.
Danny berjalan mendekati meja hologram utama, menarik Aletha agar tetap berada di dekatnya. "Bagaimana hasil enkripsi berkas dua tahun lalu di Laut Pasifik? Buka semuanya sekarang di depan tunangan gue."
Samuel mengangguk, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik virtual. Sebuah grafik rekonstruksi tiga dimensi tentang wilayah palung laut dalam langsung terpampang di udara.
"Berdasarkan hasil peretasan pada satelit militer dan catatan hitam yang sebenarnya tidak pernah ditemukan oleh otoritas publik... tidak pernah ada ledakan kapal selam dua tahun lalu di Laut Pasifik, Mr. Danny," ujar Samuel tenang namun tegas.
Kalimat itu seketika memukul akal sehat Aletha. Ia melangkah maju, menatap hologram tersebut dengan napas yang mulai tersendat. "Maksud lo apa? Jelas-jelas hari itu berita di mana-mana bilang kalau kapal selam Mama meledak hancur tanpa sisa!"
Ody mengambil alih pembicaraan, suaranya terdengar dingin tanpa emosi. "Itu hanya sebuah bom bawah laut yang sengaja dipasang di radius beberapa kilometer dari kapal selam untuk mengelabui radar pencari dan memalsukan kematian, Nona Aletha. Tujuannya agar dunia mengira seluruh kru telah hancur dan pencarian dihentikan secara permanen."
Danny mengernyitkan alisnya tajam, aura membunuhnya perlahan keluar dari tubuh jangkungnya. "Terus gimana kalau gak ada ledakan? Mereka semua... masih ada? Masih hidup?"
"Masih, Tuan," jawab Ody tegas. "Mereka semua dibawa secara rahasia dan saat ini berada di sebuah markas laboratorium hitam terisolasi bernama Elysium Project. Tempat itu adalah fasilitas penelitian rahasia bawah laut di wilayah perbatasan internasional. Mereka semua sengaja ditawan di sana untuk dipaksa melakukan penelitian lanjutan di bawah tekanan, selama otak dan keahlian mereka masih berfungsi serta bermanfaat bagi organisasi tersebut. Jika masa fungsi mereka sudah habis atau mereka menolak... mereka akan langsung dieksekusi."
Mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Ody, seluruh dunia di sekitar Aletha mendadak kehilangan gravitasi. Kenyataan pahit yang ia telan selama dua tahun ini—bahwa ibunya telah tiada dan bersemayam di dasar palung—ternyata adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh iblis-iblis korporasi. Ibunya tidak mati. Ibunya diculik, disiksa, dan dipaksa bekerja di dalam kegelapan yang sesungguhnya.
Danny yang menyadari perubahan atmosfer tubuh Aletha langsung menatap Samuel dengan tatapan mata elang yang sangat menusuk, langsung ke inti persoalan tanpa mau bertele-tele lagi.
"Cari tahu wanita bernama Jessica Kusuma Adinata," perintah Danny, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya hingga membuat seisi ruangan menahan napas. "Pastikan di manifes tawanan Elysium Project... apakah dia masih hidup sampai detik ini."
Samuel menekan satu tombol terakhir, dan sebuah layar menampilkan deretan nama kru peneliti yang diberi status kode hijau—artinya, subjek masih bernyawa dan aktif di dalam laboratorium bawah tanah tersebut. Di urutan paling atas, sebuah foto profil dan nama terpampang nyata: Jessica Kusuma Adinata – Status: Active/Alive.
Deg.
Seluruh pasokan oksigen di paru-paru Aletha rasanya menguap habis dalam satu detik. Tubuhnya mendadak kaku, dingin membeku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada jeritan pilu seperti di tengah laut tempo hari. Rasa syok hantaman kenyataan bahwa ibunya masih hidup di suatu tempat yang mengerikan membuat seluruh syaraf di tubuhnya lumpuh seketika. Kesadarannya ditarik paksa ke dalam kegelapan.
Bruk.
Tubuh lemas Aletha ambruk begitu saja, jatuh pingsan ke arah lantai beton.
Dengan refleks kilat yang luar biasa, Danny langsung bergerak menangkap tubuh ramping Aletha sebelum kepalanya membentur lantai. Pria jangkung itu merengkuh tubuh pingsan tunangannya ke dalam pelukan kuatnya, mengangkatnya dengan gaya bridal style dengan guratan kepanikan yang akhirnya pecah di wajah tegas sang CEO.
"Samuel, siapkan tim medis di kamar atas sekarang! Ody, siapkan seluruh persenjataan tdan rute penyusupan ke Elysium Project!" teriak Danny menggelegar, memenuhi seluruh ruang komando bawah tanah.
Sambil mendekap erat tubuh Aletha yang tak sadarkan diri menuju lift, sepasang mata elang Danny memancarkan kilat amarah yang siap membakar siapa saja. Permainan kontrak ini telah resmi berakhir, berubah menjadi misi penyelamatan hidup dan mati yang tidak akan pernah Danny biarkan gagal.