NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 - Ustaz Farrel

Keesokan harinya, pesantren sedang dalam suasana sibuk.

Naura mendengar dari Ibu Jamilah bahwa pengurus pesantren akan mengadakan rapat besar di aula utama. Semua ustaz, pengurus, dan santri senior diwajibkan hadir. Topiknya: persiapan Maulid Nabi yang akan datang dan evaluasi program dakwah selama setahun terakhir.

Azzam sudah pergi sejak subuh, lebih awal dari biasanya. Ia memberitahu Naura bahwa rapat akan berlangsung seharian, dan menyuruh istrinya beristirahat di rumah.

Tapi Naura bukan tipe orang yang bisa diam.

Siang harinya, setelah yakin rapat sudah berjalan setengah jalan, Naura memutuskan untuk pergi ke perpustakaan pesantren. Ia ingin mencari buku tentang taman dan botani, jika ia harus tinggal di pesantren, setidaknya ia bisa memperbaiki taman belakang rumah yang terbengkalai itu.

Perpustakaan Pesantren Al-Farizi terletak di gedung dua lantai di samping masjid. Koleksinya lengkap ribuan kitab kuning, buku-buku islami, hingga ensiklopedia umum. Udara di dalam berbau kayu tua dan kertas, sebuah aroma yang menyejukkan.

Naura berjalan melewati rak-rak buku, jari-jarinya menyentuh punggung buku satu per satu. Ia tersenyum saat menemukan bagian botani di sudut paling belakang, buku-buku tentang tanaman tropis, cara merawat bunga, dan desain taman.

Ia sedang sibuk memilih buku saat suara laki-laki terdengar dari balik rak buku.

"Kamu pasti istri Gus Azzam."

Naura terkejut, hampir menjatuhkan buku yang dipegangnya. Ia menoleh dan melihat seorang pria muda berdiri di ujung rak, bersandar di dinding dengan senyum yang ramah namun ada sesuatu yang aneh di baliknya.

Pria itu mengenakan koko cokelat muda dan celana hitam, dengan peci hitam yang diletakkan miring sedikit di kepalanya. Wajahnya cukup tampanrahang tegas, hidung mancung, bibir tipis yang selalu tersenyum. Tapi matanya... matanya berwarna cokelat terang yang tajam, seperti elang yang sedang mengintai mangsanya.

"Iya," jawab Naura hati-hati, memeluk buku di dadanya seperti perisai. "Aku Naura."

"Naura Aleesha Mahendra," pria itu mengulang nama Naura dengan nada yang terlalu akrab. Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan. "Ustaz Farrel. Aku baru pindah ke pesantren ini enam bulan lalu. Sebelumnya aku mengajar di pesantren csbsng lain."

Naura ragu sejenak, lalu berjabat tangan dengan pria itu. Kulit Farrel terasa dingin, berbeda jauh dengan kehangatan Azzam. "Senang bertemu dengan Ustaz Farrel."

"Panggil saja Farrel," pria itu tersenyum, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Aku dengar banyak tentangmu. Putri pengusaha yang dijodohkan dengan Gus Azzam. Tapi aku kagum, kamu terlihat... berbeda dari yang kubayangkan."

"Berbeda bagaimana?" Naura mengerutkan dahi.

"Kamu terlihat seperti... Gadis Ceria," Farrel mengambil langkah mendekat lagi, mengurangi jarak di antara mereka. Suaranya turun, hampir seperti berbisik. "Bukan tipe istri Gus yang biasa kubayangkan. Kamu punya api di matamu. Api yang membuatku penasaran... apa yang terjadi jika api itu membumi di lingkungan yang penuh air ini."

Naura merinding. Bukan karena terpesona, tapi karena ada sesuatu dalam kata-kata Farrel yang terasa...Seperti racun yang dibungkus gula.

"Aku masih beradaptasi," jawab Naura singkat, mengambil langkah mundur. "Dan aku harus kembali ke sekarang."

"Tunggu sebentar," Farrel menghalangi jalan Naura, tersenyum lebar. "Aku cuma ingin bertanya. Kamu suka tinggal di sini? Kamu merasa... diterima atau...?"

Pertanyaan itu mengena. Tepat di titik rawan yang masih terluka.

"Itu urusanku," Naura mempertahankan nada netralnya.

"Bukan urusanmu saja," Farrel mengangkat bahunya, menatap Naura dengan mata yang menyelidik. "Gus Azzam adalah pemimpin masa depan pesantren ini. Jika istrinya tidak diterima, itu juga mencerminkan kepemimpinannya. Dan percayalah, banyak orang di sini yang... mempertanyakan pilihan Gus Azzam."

Naura menegang. "Apa maksudmu?"

Farrel tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya. "Maksudku, mungkin kamu butuh seseorang yang bisa membantumu beradaptasi. Seseorang yang tidak memihak. Seseorang yang bisa melihatmu... bukan sebagai istri Gus Azzam, tapi sebagai Naura."

Naura merasa tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. Setiap kata yang keluar dari mulut Farrel terasa seperti jaring yang dicoba dilemparkan padanya.

"Terima kasih atas tawarannya," Naura menunduk sedikit, berusaha sopan meski instingnya berteriak untuk pergi, "tapi suamiku sudah cukup membantuku. Assalamu'alaikum."

Ia berjalan melewati Farrel dengan cepat, membelah lorong perpustakaan tanpa menoleh. Tapi sebelum ia sampai di pintu keluar, suara Farrel mengikutinya.

"Kamu tahu, Naura, Gus Azzam itu hebat. Tapi dia juga manusia. Dan manusia... punya kelemahan. Salah satu kelemahannya adalah dia terlalu memegang teguh tradisi. Termasuk tradisi yang mungkin... tidak menguntungkanmu."

Naura berhenti di ambang pintu, menoleh separuh badan. "Apa yang kau coba katakan, Ustaz Farrel?"

Farrel bersandar di rak buku, menyilangkan kaki, dan tersenyum tipis. "Hanya saja, jika kamu butuh teman berbicara, pintuku selalu terbuka. Kadang, orang asing lebih mudah diajak bicara daripada orang terdekat."

Ia mengedipkan sebelah mata sebuah gestur yang terasa terlalu akrab dan tidak pantas dari seorang ustaz pada istri orang, lalu berjalan pergi ke arah yang berlawanan.

Naura berdiri membeku di pintu perpustakaan, jantungnya berdebar cepat. Bukan karena tergoda, tapi karena ia merasa baru saja bertemu dengan ular yang menyamar menjadi burung merak.

"Ada yang salah dengan orang itu," batin Naura, berjalan cepat meninggalkan gedung perpustakaan. "Sangat salah."

.

.

.

Malam harinya, saat Azzam pulang dari rapat, Naura sudah menunggu di ruang tengah.

Ia duduk di sofa dengan kaki dilipat, memegang secangkir teh hangat, dan menatap Azzam dengan intensitas yang membuat pria itu berhenti di tengah langkah.

"Kenapa?" tanya Azzam, meletakkan tasnya di meja. "Kamu menatapku seperti aku baru saja melakukan kejahatan."

"Azzam," Naura meletakkan cangkirnya, suaranya serius. "Siapa Ustaz Farrel?"

Mata Azzam berubah. Ketenangan yang biasa melekat di wajahnya menguap seketika, digantikan oleh sesuatu yang lebih gelap. Rahangnya mengeras, dan Naura bisa melihat otot-otot di lehernya menegang.

"Farrel?" ulang Azzam, nadanya berubah lebih rendah. "Kenapa kamu bertanya tentang dia?"

"Kamu bertemu dengannya hari ini?" Azzam melangkah mendekat, matanya menyapu seluruh tubuh Naura seolah mencari tanda-tanda bahwa istrinya disakiti. "Dia mengganggumu?"

"Nggak, nggak," Naura menggeleng cepat, menyadari reaksi Azzam mungkin terlalu berlebihan. "Aku ketemu dia di perpustakaan. Dia ngomong sama aku, dan... ada yang aneh dari dia, terlalu... saya nggak tahu, smooth? Terlalu akrab. Dan dia ngomong hal-hal yang aneh soal kamu."

Azzam duduk di sofa di samping Naura, posisinya kaku. Ia menarik napas panjang, seolah berusaha menenangkan diri, lalu menatap Naura.

"Farrel adalah ustaz muda yang direkomendasikan oleh salah satu pengurus pesantren enam bulan lalu," jelas Azzam, suaranya terkontrol. "Dia pintar. Fasih berbicara. Punya latar belakang pendidikan yang baik. Tapi..."

"Tapi?"

Azzam menunduk, meremas jari-jarinya. "Tapi aku tidak sepenuhnya percaya padanya. Dia terlalu ambisius. Dia ingin posisi yang lebih tinggi di pesantren, dan dia tidak suka jika ada orang yang menghalangi jalannya. Termasuk saya."

Naura mengingat kata-kata Farrel di perpustakaan. "Gus Azzam punya kelemahan. Dia terlalu memegang teguh tradisi."

"Dia bilang kamu terlalu memegang tradisi," lapor Naura. "Dan dia bilang dia bisa jadi 'teman berbicara' untukku karena orang asing kadang lebih mudah diajak bicara."

Mata Azzam menyipit. Api berkedip di balik mata hitam itu, bukan marah pada Naura, tapi marah pada Farrel yang berani mendekati istrinya.

"Dengarkan saua, Naura," Azzam meraih tangan Naura, menggenggamnya erat. Jari-jarinya hangat, kokoh, dan sangat protektif. "Farrel bukan teman. Dia bukan orang yang bisa kamu percaya. Apapun yang dia katakan, apapun yang dia tawarkan, jangan terima. Jangan pergi ke dekatnya sendirian."

Naura menatap Azzam, terkejut dengan intensitas reaksi suaminya. Ia belum pernah melihat Azzam seperti ini begitu waspada, begitu protektif, begitu... posesif.

"Azzam, aku nggak tertarik padanya," Naura meyakinkan. "Dia bikin aku geli. Tapi aku cuma ingin tahu, kenapa kamu sangat tidak suka padanya?"

Azzam menunduk, menatap tangan Naura yang tergenggam di tangannya. Ia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya, gerakan yang biasa menenangkan Naura, seolah Azzam sedang berjuang dengan sesuatu yang berat di dalam pikirannya.

"Karena saya tidak ingin kamu terluka," jawab Azzam akhirnya, suaranya bergetar pelan. "Farrel pandai memanipulasi kata-kata. Dia bisa membuatmu merasa bahwa saya adalah musuhmu, bahwa pesantren ini adalah penjaramu, dan bahwa dia adalah penyelamatmu. Tapi itu semua dusta. Satu-satunya orang yang ingin melihatmu tetap aman di sini...  saya."

Naura menelan ludah, dadanya sesak. Kata-kata Azzam itu bukan sekadar peringatan, itu adalah pengakuan. Pengakuan bahwa pria ini peduli padanya lebih dari yang ia tunjukkan.

"Aku tahu," bisik Naura, membalas genggaman Azzam. "Aku nggak bodoh, Azzam. Aku mungkin keras kepala, tapi aku tahu siapa yang bisa kupercaya. Dan Farrel bukan orangnya satunya."

Azzam menatap Naura, dan perlahan, ketegangan di wajahnya mengendur. Ia menghela napas lega, lalu mengangkat tangan Naura ke bibirnya, kebiasaan baru yang membuat jantung Naura selalu berdebar tak teratur dan menciumkan punggung tangan itu.

"Terima kasih sudah memberitahuku," ucap Azzam pelan. "Dan Naura..."

"Iya?"

"Mulai sekarang, jika kamu pergi ke perpustakaan atau tempat lain, beritahu saya. Bukan karena ingin melarangmu, tapi karena aku ingin memastikan kamu aman." Azzam menatap mata Naura dengan intensitas yang membuat gadis itu sulit bernapas. "Kamu istriku. Dan menjagamu adalah tanggung jawab terbesarku."

Naura mengangguk pelan, tidak mampu bersuara karena perasaan di dadanya sangat berbunga-bunga.

Malam itu, Naura terbaring di tempat tidur, memikirkan dua pria yang hari ini berada di pikirannya. Satu suaminya yang kehadirannya membuatnya merasa aman, hangat, dan dilindungi. Satu lagi Farrel yang kehadirannya membuatnya merasa waspada, tidak nyaman, dan sedikit takut.

Ia mengingat kata-kata Azzam. "Satu-satunya orang yang ingin melihatmu aman di sini... saya."

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Naura membiarkan dirinya percaya pada kata-kata itu.

Tapi di luar sana, di suatu tempat di kompleks pesantren, Ustaz Farrel duduk di kamarnya, memutar pulpen di jarinya dengan senyum yang menyimpang.

Ia sudah menemukan titik lemah Gus Azzam.

Bukan di kitab-kitabnya. Bukan di kepemimpinannya. Bukan di kekuasaannya. Titik lemah Gus Azzam ada pada matahari yang baru saja masuk ke dalam hidupnya... Naura Aleesha.

Dan Farrel sudah siap untuk memanfaatkannya.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!