Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Gadis Kecil di Ujung Desa
Bab 2 — Gadis Kecil di Ujung Desa
Pagi datang perlahan di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sementara sinar matahari mulai menyentuh hamparan sawah yang luas. Suara ayam berkokok dan angin pagi yang dingin membuat desa itu terasa damai.
Sangat berbeda dengan dunia gelap penuh darah yang baru saja dilewati Lorenzo Moretti semalam.
Di ujung desa kecil itu berdiri sebuah rumah kayu sederhana yang sudah tua dimakan usia.
Atapnya beberapa kali bocor saat hujan deras turun.
Dinding kayunya mulai rapuh.
Namun rumah kecil itu tetap terasa hangat.
Karena di sanalah Amelia Santoso tinggal bersama neneknya.
“Amelia… kau sudah bangun?”
Suara lemah seorang wanita tua terdengar dari dalam kamar.
Amelia yang sedang menyapu lantai segera menoleh.
“Iya, Nek. Amelia sedang membuat sarapan.”
Gadis berusia dua puluh empat tahun itu tersenyum lembut sebelum berjalan menuju dapur kecil mereka.
Rambut hitam panjangnya diikat sederhana, sementara pakaian yang ia kenakan terlihat sangat biasa.
Namun wajahnya memiliki kecantikan alami yang sulit dijelaskan.
Bukan kecantikan mencolok seperti wanita kota.
Melainkan kehangatan yang membuat siapa pun merasa tenang saat melihatnya.
Amelia membuka panci kecil di atas tungku.
Hanya ada sedikit bubur dan telur.
Persediaan makanan mereka hampir habis lagi.
Ia diam sejenak sambil menggigit bibir bawahnya pelan.
Uang yang tersisa di dalam kaleng tabungan bahkan tidak cukup untuk membeli obat minggu depan.
Namun seperti biasa…
Amelia memilih tersenyum.
Ia tidak ingin neneknya khawatir.
“Nenek harus makan banyak hari ini,” katanya sambil membawa mangkuk ke kamar.
Di atas ranjang tua, Nenek Hana tersenyum lemah.
Wajah wanita tua itu terlihat pucat.
Tubuhnya semakin kurus setiap hari.
Amelia tahu kondisi neneknya semakin memburuk.
Tetapi biaya rumah sakit terlalu mahal untuk mereka.
“Nenek tidak lapar,” ucap Nenek Hana pelan.
Amelia langsung menggeleng.
“Tidak boleh begitu. Amelia sudah masak dari pagi.”
Wanita tua itu menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca.
Sejak kecil, Amelia selalu hidup susah.
Kedua orang tuanya meninggal saat Amelia masih bayi.
Dan sejak itu, hanya mereka berdua yang saling menjaga.
Nenek Hana terkadang merasa bersalah.
Karena ia tidak mampu memberikan kehidupan yang layak untuk cucunya.
Padahal Amelia adalah gadis yang sangat baik.
Terlalu baik bahkan.
“Kau harus lebih memikirkan dirimu sendiri,” gumam Nenek Hana pelan.
Amelia tersenyum kecil.
“Selama Nenek sehat, Amelia bahagia.”
Jawaban sederhana itu justru membuat hati wanita tua tersebut terasa sesak.
Setelah memastikan neneknya minum obat, Amelia berjalan menuju pasar desa.
Keranjang bunga berada di tangannya.
Setiap pagi ia menjual bunga dan roti buatan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Meskipun penghasilannya kecil…
ia tetap bekerja keras tanpa mengeluh.
“Pagi Amelia!”
Seorang ibu penjual sayur melambaikan tangan.
Amelia tersenyum ramah.
“Pagi, Bibi.”
Semua orang di desa mengenal Amelia sebagai gadis baik hati.
Ia sering membantu orang lain meski dirinya sendiri kekurangan.
Namun tidak semua orang memperlakukannya baik.
Saat Amelia sedang menata bunga di kios kecilnya, beberapa wanita desa mulai berbisik pelan.
“Itu Amelia, kan?”
“Kasihan sekali hidupnya.”
“Katanya neneknya makin sakit.”
“Mana mungkin dia mampu bayar rumah sakit?”
“Tch… hidup miskin memang menyedihkan.”
Suara-suara itu terdengar jelas.
Namun Amelia pura-pura tidak mendengar.
Ia sudah terbiasa.
Sejak kecil orang-orang selalu memandang rendah mereka.
Karena miskin.
Karena tidak punya keluarga besar.
Karena hanya hidup berdua di rumah tua.
Amelia menarik napas pelan lalu kembali tersenyum kepada pelanggan.
Ia tidak ingin membenci siapa pun.
Menjelang siang, matahari mulai terasa panas.
Amelia menghitung uang hasil jualannya.
Senyumnya perlahan memudar.
Tidak cukup.
Lagi-lagi tidak cukup.
Bahkan untuk membeli obat saja masih kurang.
Ia menatap langit sebentar.
Dadanya terasa sesak.
Belakangan ini kondisi Nenek Hana semakin memburuk.
Batuknya semakin parah.
Tubuhnya sering gemetar di malam hari.
Dan Amelia takut…
sangat takut kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
“Amelia.”
Suara seorang pria membuatnya tersadar.
Ia menoleh dan melihat Raka Pradipta berjalan mendekat sambil membawa kantong makanan.
Pria itu adalah teman masa kecil Amelia.
“Ini untukmu dan Nenek Hana,” katanya sambil menyerahkan kantong tersebut.
Amelia langsung menggeleng cepat.
“Aku tidak bisa terus menerima bantuanmu.”
Raka menghela napas.
“Kenapa kau selalu keras kepala?”
“Aku hanya tidak ingin merepotkanmu.”
“Amelia,” suara Raka melembut, “aku membantu karena aku peduli.”
Tatapan pria itu begitu hangat.
Sudah sejak lama Raka menyukai Amelia.
Seluruh desa sebenarnya tahu tentang itu.
Namun Amelia selalu menganggapnya hanya sebagai sahabat.
“Aku akan mencari pekerjaan tambahan,” gumam Amelia pelan.
Raka langsung terlihat khawatir.
“Di mana?”
“Aku belum tahu…”
“Aku tidak suka ide itu.”
Amelia tertawa kecil.
“Aku tidak akan pergi jauh.”
Entah kenapa, hati Raka terasa tidak tenang mendengar itu.
Seolah sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sore hari.
Amelia berjalan pulang membawa sisa bunga yang tidak terjual.
Langit mulai berubah jingga.
Angin sore bertiup lembut menerbangkan rambutnya.
Namun langkah Amelia terhenti saat melihat beberapa pria asing berdiri dekat rumahnya.
Ia langsung panik.
“Nenek?”
Amelia berlari cepat masuk ke rumah.
Di dalam, Nenek Hana sedang batuk hebat di atas kursi.
Sementara dua pria berpakaian rapi duduk di ruang tamu sempit mereka.
“Siapa kalian?” tanya Amelia waspada.
Salah satu pria tersenyum tipis.
“Kami datang membawa tawaran pekerjaan.”
Amelia mengernyit.
“Pekerjaan?”
Pria itu mengangguk.
“Kami mencari wanita muda untuk bekerja di kota.”
“Kami mendengar kau membutuhkan uang.” Lanjut salah satu pria itu.
Tatapan Amelia berubah ragu.
“Aku tidak punya pengalaman.”
“Tidak masalah,” jawab pria itu cepat. “Gajinya besar.”
Sangat besar.
Jumlah yang mereka sebutkan membuat Amelia terdiam.
Uang sebanyak itu bahkan cukup untuk biaya rumah sakit neneknya.
Namun entah kenapa…
Amelia merasa ada sesuatu yang aneh.
Tatapan kedua pria itu terlalu tajam.
Dan senyum mereka terasa tidak tulus.
“Aku harus memikirkannya dulu,” jawab Amelia hati-hati.
Pria itu berdiri perlahan.
“Tentu.”
Ia lalu menyerahkan sebuah kartu nama.
“Kalau berubah pikiran, datanglah besok malam.”
Setelah mereka pergi…
rumah kecil itu kembali sunyi.
Nenek Hana tiba-tiba terlihat sangat gelisah.
“Jangan pergi,” katanya pelan.
Amelia menoleh kaget.
“Nek?”
“Orang-orang itu… bukan orang baik.” Sambil mengatakan suara wanita tua itu bergetar, mungkin saja dia sudah memiliki firasat tidak enak tentang mereka.
Amelia menggenggam tangan neneknya lembut.
“Aku tidak akan melakukan apa pun yang berbahaya.”
Namun malam itu…
untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Amelia mulai mempertimbangkan pergi meninggalkan desa demi menyelamatkan neneknya.
Tanpa ia sadari—
keputusan itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Dan mungkin membawanya menuju dunia gelap yang dipenuhi banyak kejahatan.
Namun pilihan itu sangat sulit untuk dirinya tolak, masah depannya masih panjang dan neneknya yang harus dia hidupin.