NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Kakak yang Hilang

“Hyren…”

Nama itu jatuh begitu saja dari bibir Zavian.

Namun dampaknya langsung terasa di seluruh ruangan parkir kosong.

Sunyi.

Mencekam.

Dan tiba-tiba udara terasa jauh lebih dingin.

“Apa maksudmu diserang?”

Suara Nayra terdengar lebih pelan dari biasanya.

Karena ia sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Hanya saja—

ia tidak mau mendengarnya.

Arsen menatap layar ponselnya lagi.

Seolah berharap informasi itu berubah.

Namun tidak.

Tetap sama.

“Sekitar empat puluh menit lalu.”

Deg.

“Sekelompok orang bersenjata nyerbu fasilitas penahanan.”

Tatapannya berpindah ke Zavian.

“Mereka nyari tahanan tertentu.”

Tak perlu dijelaskan lagi.

Semua sudah mengerti.

“Hyren.”

Reina mengucapkannya pelan.

Dan ekspresi Zavian langsung mengeras.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Tapi sesuatu yang lebih berbahaya.

Keputusan.

“Kita ke sana.”

Kalimat itu keluar tanpa ragu.

“Zavian.”

Arsen langsung berdiri.

“Kita baru aja lolos dari satu penyergapan.”

“Aku nggak peduli.”

“Dan itu masalahnya.”

Hening.

Nayra menatap Zavian beberapa detik.

Lalu menghela napas kecil.

“Aku ikut.”

Cowok itu langsung menoleh.

“Tidak.”

“Hah?”

“Kamu target utama mereka sekarang.”

“Oke, aku capek dengar kalimat itu.”

“Aku serius.”

“Aku juga serius.”

Nayra menyilangkan tangan.

“Kalau Hyren kenapa-kenapa…”

Kalimatnya menggantung.

Karena ia tidak sanggup melanjutkan.

Hyren memang pernah melakukan kesalahan.

Banyak sekali.

Namun di balik semua itu—

ia tetap seseorang yang sudah berusaha memperbaiki semuanya.

Dan Nayra tahu satu hal.

Jika mereka terlambat sekarang—

mereka mungkin akan menyesal seumur hidup.

“Kita pergi bersama.”

Suara Reina memotong perdebatan.

Tatapannya tenang.

“Tapi dengan rencana.”

Ia melirik Arsen.

“Yang berarti jangan biarkan dua orang keras kepala ini memimpin sendiri.”

Arsen langsung menunjuk dirinya.

“Akhirnya ada orang normal di sini.”

Satu jam kemudian.

Mereka berada di dalam mobil tua milik salah satu kenalan Arsen.

Mobilnya jelek.

Sangat jelek.

Namun masih bisa jalan.

Dan saat ini itu sudah cukup.

Perjalanan berlangsung dalam keheningan.

Hujan masih turun.

Lampu kota lewat seperti bayangan di balik kaca.

Dan Nayra terus memandangi jalan.

Memikirkan Hyren.

Entah sejak kapan.

Pria itu mulai terasa seperti keluarga.

Mungkin sejak ia rela mempertaruhkan nyawanya.

Mungkin sejak ia meminta maaf.

Atau mungkin—

sejak Nayra melihat kesedihan di matanya.

Kesedihan seseorang yang sudah kehilangan terlalu banyak.

“Jangan mikir yang aneh-aneh.”

Suara Zavian muncul dari samping.

Nayra menoleh.

Cowok itu sedang menyetir.

Tatapannya tetap lurus ke depan.

Namun jelas ia sedang memperhatikannya.

“Kalau dia terluka gimana?”

“Terluka itu biasa.”

“Hah?”

“Dia keras kepala.”

Deg.

Nayra hampir tertawa.

Karena memang benar.

“Dulu waktu kecil dia pernah jatuh dari pohon.”

Zavian tiba-tiba bicara lagi.

“Aku pikir tangannya patah.”

“Terus?”

“Dia malah nyuruh aku jangan bilang siapa-siapa.”

Nayra mengernyit.

“Kenapa?”

“Karena dia takut dimarahin.”

Sunyi dua detik.

Lalu Arsen tertawa dari kursi belakang.

“Jadi Hyren ternyata bodoh sejak kecil.”

“Sedikit.”

“Banyak.”

Bahkan Reina ikut tersenyum tipis.

Dan untuk beberapa saat—

ketegangan berkurang sedikit.

Namun hanya sedikit.

Karena tujuan mereka tetap sama.

Menemukan Hyren.

Sebelum terlambat.

Satu jam kemudian.

Mereka sampai.

Atau lebih tepatnya—

sampai di sisa-sisanya.

Fasilitas penahanan itu rusak parah.

Beberapa bagian dinding hancur.

Kaca pecah berserakan.

Lampu darurat berkedip merah.

Dan kendaraan militer memenuhi area luar.

Deg.

Jantung Nayra langsung tenggelam.

“Parah banget…”

gumamnya.

Mereka keluar dari mobil.

Udara berbau asap.

Dan suasana di sekitar penuh orang yang sibuk berlari ke sana kemari.

Petugas.

Tentara.

Tim medis.

Kekacauan total.

Arsen langsung menunjukkan identitas khusus yang entah dari mana ia dapat.

Dan entah kenapa—

itu berhasil.

Nayra memutuskan lagi untuk tidak bertanya demi kesehatan mentalnya.

Beberapa menit kemudian.

Mereka berhasil masuk ke area utama.

Dan langsung bertemu seseorang yang mereka kenal.

Dokter Han.

Salah satu dokter yang dulu menangani Nayra.

Pria paruh baya itu terlihat jauh lebih tua malam ini.

Wajahnya pucat.

Dan matanya penuh kelelahan.

“Syukurlah kalian hidup.”

Tatapannya langsung jatuh ke Nayra.

Lalu ke Zavian.

“Situasi buruk.”

Deg.

“Hyren di mana?”

Zavian langsung memotong.

Tak ada basa-basi.

Tak ada sapaan.

Langsung ke inti masalah.

Dokter Han diam beberapa detik.

Dan itu saja sudah membuat semuanya takut.

“Dia hilang.”

Sunyi.

“…apa?”

Suara Nayra hampir tidak terdengar.

“Beberapa tahanan dipindahkan saat serangan terjadi.”

Dokter Han mengusap wajahnya.

“Kami menemukan sebagian besar dari mereka.”

Tatapannya turun.

“Tapi tidak Hyren.”

Deg.

Dunia terasa berhenti lagi.

“Diculik?”

tanya Reina.

“Kemungkinan besar.”

Dokter Han mengangguk pelan.

“Kami menemukan ini.”

Ia menyerahkan sebuah benda kecil.

Sebuah kalung.

Rantai perak sederhana.

Dengan liontin kecil berbentuk lingkaran.

Zavian langsung membeku.

Nayra bisa melihatnya.

Karena tangannya sedikit gemetar saat menerima benda itu.

“Aku kenal ini.”

Suara cowok itu sangat pelan sekarang.

“Ini milik ibu.”

Deg.

Tak ada yang bicara.

Karena semua tahu.

Hyren tidak akan melepaskan benda itu secara sukarela.

Tidak mungkin.

“Dia ninggalin petunjuk.”

Arsen akhirnya berkata.

Tatapannya tajam.

“Dia tahu seseorang bakal nemuin ini.”

Zavian menggenggam kalung itu erat.

Terlalu erat.

Sampai buku-buku jarinya memutih.

Dan Nayra tiba-tiba sadar sesuatu.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya—

Zavian terlihat benar-benar takut.

Bukan takut untuk dirinya sendiri.

Takut kehilangan kakaknya.

Deg.

Dadanya langsung sesak.

“Nemu sesuatu lagi?”

tanya Arsen.

Dokter Han mengangguk.

“Sedikit.”

Ia membuka tablet digital.

Lalu menunjukkan rekaman kamera keamanan.

Video itu rusak.

Banyak gangguan.

Namun masih cukup jelas.

Hyren terlihat sedang dipindahkan melalui koridor bawah tanah.

Tangan terikat.

Dikawal beberapa orang.

Lalu tiba-tiba—

serangan terjadi.

Lampu mati.

Orang-orang berlari.

Tembakan terdengar.

Dan sebelum video berakhir—

Hyren sempat menoleh ke kamera.

Hanya satu detik.

Namun cukup untuk membuat semua orang membeku.

Karena ia melakukan sesuatu.

Ia mengangkat dua jari.

Lalu menunjuk ke bawah.

Video berhenti.

Sunyi.

“Apa itu?”

tanya Nayra.

Namun Arsen sudah langsung mengerti.

Begitu juga Reina.

Dan beberapa detik kemudian—

Zavian juga.

“Koridor bawah.”

Suara Arsen rendah.

“Sistem lama fasilitas ini.”

Dokter Han langsung menoleh.

“Kalian tahu itu?”

“Aku pernah lihat denah lama gedung ini.”

Arsen mengambil tablet.

Matanya bergerak cepat.

“Mereka nutup jalur itu bertahun-tahun lalu.”

“Karena?”

tanya Nayra.

“Karena jalurnya terhubung ke luar kota.”

Deg.

Hening.

Lalu semua orang menatap satu sama lain.

Karena kalau tebakan mereka benar—

Hyren sedang meninggalkan petunjuk.

Dan itu berarti—

ia masih hidup.

Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi—

alarm darurat tiba-tiba berbunyi keras di seluruh gedung.

WIIIIIIIING!

Semua orang langsung menoleh.

Seorang petugas berlari masuk.

Wajahnya pucat.

Napasnya terengah.

“Sir!”

teriaknya ke Dokter Han.

“Kami menemukan siaran masuk!”

“Apa?”

“Dari mereka!”

Deg.

Ruangan langsung sunyi.

Petugas itu segera menghubungkan layar besar di ruangan.

Beberapa detik hanya ada gangguan.

Lalu—

sebuah gambar muncul.

Seorang pria bertudung hitam.

Simbol tiga garis terlihat jelas di lehernya.

Pria yang sama.

Yang mengepung Nayra malam tadi.

Dan di sampingnya—

seseorang sedang duduk terikat di kursi.

Wajah lebam.

Pakaian penuh darah.

Namun tetap menatap kamera dengan tenang.

Hyren.

“Brengsek…”

gumam Arsen.

Nayra langsung mengepal tangan.

Sementara Zavian membeku total.

Pria bertudung itu tersenyum ke kamera.

“Selamat malam.”

Senyumnya melebar.

“Kami tahu kalian sedang mencari dia.”

Tangannya menepuk bahu Hyren pelan.

“Dan karena kami orang baik…”

Ia tertawa kecil.

“…kami ingin memberi kesempatan.”

Deg.

“Bawa Nayra.”

Tatapannya lurus ke kamera.

Seolah bisa melihat mereka dari jauh.

“Datang sendiri.”

Senyumnya berubah dingin.

“Atau lain kali…”

Tangannya menarik rambut Hyren ke belakang.

“…kami kirim mayatnya.”

Layar langsung mati.

Sunyi.

Tak ada yang bicara.

Tak ada yang bergerak.

Karena ancaman itu terlalu jelas.

Terlalu nyata.

Dan perlahan—

Zavian berdiri.

Tatapannya dingin.

Kosong.

Berbahaya.

“Kalau mereka menyentuh dia…”

Suara cowok itu sangat pelan.

Namun justru itu yang membuat semua orang merinding.

“…aku bakal hancurin mereka semua.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!