Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Sang Pemenang
Suara deru baling-baling helikopter militer milik keluarga Barrett memecah keheningan fajar di pulau pribadi. Christian dan Tim Alpha mendarat tepat ketika matahari baru saja memunculkan semburat cahaya keemasan di ufuk timur, menyinari sisa-sisa pertempuran semalam. Karpet merah darah di atas pasir putih dan puing kapal Moreno yang terapung menjadi saksi bisu atas pembantaian yang dilakukan oleh satu orang.
Christian melangkah terburu-buru melewati koridor pondok batu yang berantakan, menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu beranda luar. Dia membungkuk hormat, menyembunyikan rasa keterkejutannya melihat kondisi bosnya.
"Mr. Barrett, helikopter medis dan tim pembersih sudah siap. Saya memohon maaf atas keterlambatan kami menembus badai," ucap Christian dengan nada penuh penyesalan.
Nicholas yang sedang duduk di kursi rotan dengan Elena yang bersandar di dada bidangnya hanya mengangkat tangan kirinya sekilas. Wajah Nicholas tampak lelah, guratan rahangnya yang tegas diselimuti noda jelaga, dan perban di bahu kanannya telah diganti secara darurat oleh lilitan kain kaos pink milik Elena yang robek, gadis itu bersikeras merawatnya begitu pertempuran usai.
"Moreno sudah berakhir, Christian. Bersihkan tempat ini tanpa sisa," perintah Nicholas, suaranya rendah, serak, namun tetap memiliki ketajaman yang mutlak.
"Kita kembali sekarang."
"Baik, Tuan."
Nicholas perlahan bangkit, menopang tubuh Elena yang juga tampak kelelahan dengan lengan kirinya yang kokoh. Mereka berjalan melewati jajaran pasukan Tim Alpha yang berdiri tegap, memberikan penghormatan tertinggi tidak hanya kepada Nicholas, melainkan juga kepada Elena. Mereka tahu, wanita di samping bos mereka bukan lagi sekadar tawanan atau pengantin pengganti, melainkan Nyonya besar yang sah dari kekaisaran Barrett.
---
Dua minggu setelah insiden di pulau pribadi, New York kembali bertekuk lutut di bawah kendali Nicholas Barrett. Berita tentang hilangnya Marcus Moreno secara misterius di laut lepas menyebar seperti api liar di kalangan dunia bawah tanah pantai timur.
Faksi-faksi kecil yang dulunya sempat mempertanyakan kekuatan Nicholas kini merayap kembali, mengirimkan upeti dan menyatakan kesetiaan mutlak mereka. Tidak ada lagi yang berani mengusik wilayah Barrett.
Siang itu, suasana di mansion utama New York tampak begitu tenang dan elegan. Sinar matahari menembus jendela kaca besar ruang kerja baru Elena di sayap timur, memantulkan cahaya di atas meja kerja kayu ek putih yang bersih dari debu.
Elena duduk di kursi kerjanya, mengenakan kemeja rajut berkerah berwarna merah muda pastel yang dipadukan dengan celana kulot putih yang anggun. Jemari lenturnya dengan cekatan memeriksa lembar-lembar dokumen proposal kerja sama dari beberapa galeri seni di Eropa yang ingin mengadakan pameran bersama Barrett Grand Gallery.
Sejak kepulangan mereka, Elena sepenuhnya mengambil alih kendali atas seluruh sektor bisnis legal keluarga Barrett. Kemampuan administrasinya yang tajam dan ketenangannya yang luar biasa membuat semua manajer perusahaan tunduk dan kagum. Dia bukan lagi bayangan Alana; dunia kini mengenalnya sebagai Elena Barrett, wanita cerdas berdarah dingin dalam bisnis, namun memiliki kelembutan hati yang murni.
*Klik.*
Pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Nicholas melangkah masuk dengan setelan kemeja hitam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, tanpa jas formal. Luka di bahunya kini telah sembuh total, hanya menyisakan bekas luka samar yang menjadi simbol pelindung bagi istrinya.
Nicholas berjalan mendekat, mengabaikan tumpukan berkas di meja, lalu langsung menarik kursi Elena berputar menghadapnya. Pria itu menundukkan tubuh besarnya, mengurung pinggang kecil Elena di antara kedua lengannya, dan menatap istrinya dengan sepasang mata abu-abu yang kini sepenuhnya dipenuhi oleh binar kepemilikan dan kehangatan yang masif.
"Kau terlalu sibuk dengan seniman-seniman Prancis itu, Elena," gumam Nicholas rendah, suara beratnya bergetar tepat di depan wajah Elena.
"Suamimu baru saja pulang dari pelabuhan, dan kau bahkan tidak menoleh."
Elena tersenyum manis, sebuah senyuman tulus yang selalu berhasil mencairkan gunung es di dada Nicholas. Dia menaikkan kedua tangannya, merapikan kerah kemeja hitam Nicholas dengan lembut.
"Aku sedang menyelesaikan audit bulanan, Nicholas. Jika aku tidak merestrukturisasi anggaran ini, perusahaan logistik barumu akan kehilangan efisiensi administrasinya."
Nicholas tertawa rendah, sebuah suara tawa yang begitu seksi dan rileks. Dia menangkap jemari lembut Elena, mengecup telapak tangannya dengan penuh pengabdian sebelum menarik gadis itu bangkit ke dalam pelukannya.
"Biarkan angka-angka itu menunggu," bisik Nicholas, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elena, menghirup aroma manis buah yang selalu menjadi candu baginya.
"Christian baru saja menyelesaikan dokumen formal yang kau minta kemarin."
Elena menarik kepalanya sedikit, menatap Nicholas dengan binar penasaran. "Dokumen tentang Arthur dan Alana?"
Nicholas mengangguk, matanya menyipit dingin sejenak sebelum kembali melembut menatap Elena. "Arthur Vance dan Alana telah resmi dideportasi secara permanen dari seluruh wilayah Amerika Serikat atas pelanggaran keimigrasian dan pencucian uang dari sisa aset mereka yang disita Christian. Mereka dikirim ke sebuah kota kecil di pedalaman, tanpa paspor, tanpa uang, dan tanpa nama besar Vance lagi. Mereka harus bekerja sebagai buruh pabrik tekstil untuk bertahan hidup seumur hidup mereka."
Elena mengembuskan napas panjang. Tidak ada rasa dendam atau benci di matanya, hanya sebuah kelegaan yang luar biasa. Masa lalunya yang kelam, penderitaannya di bawah bayang-bayang kembarannya yang serakah, dan kekejaman ayahnya kini telah terkubur dalam-dalam di bawah hukum keadilan yang diciptakan oleh suaminya.
"Terima kasih, Nicholas. Untuk semuanya," bisik Elena, menyandarkan keningnya di dada bidang Nicholas, mendengarkan detak jantung pria itu yang beritme tenang dan kuat khusus untuk dirinya.
"Jangan berterima kasih padaku" balas Nicholas, lengan kekarnya merengkuh pinggang Elena semakin posesif, seolah sedang menegaskan pada seluruh dunia bahwa wanita ini adalah miliknya yang paling berharga. "Kau yang menyelamatkanku dari kegelapan duniaku sendiri. Menikahimu meskipun kau adalah pengantin pengganti malam itu adalah takdir terbaik yang pernah tertulis dalam hidupku."
Nicholas mengangkat dagu Elena lembut, mendongakkan wajah cantik istrinya yang kini merona merah muda alami, lalu mengunci bibir Elena dalam sebuah ciuman yang mendalam, lambat, dan penuh dengan janji masa depan yang cerah. Di dalam rumah mewah yang dulunya terasa seperti sangkar emas beraroma mesiu ini, sang pengantin pengganti kini telah duduk tegak di singgasana hitamnya, memimpin di samping sang penguasa kegelapan pantai timur dengan cinta mutlak yang tak akan pernah lagi terusik oleh siapa pun.