Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Berbicara
Kilau lampu kristal gantung raksasa di dalam *ballroom* hotel bintang lima malam itu tampak menyilaukan. Alunan musik klasik yang dibawakan oleh orkestra mini di sudut ruangan mengalir lembut, mencoba memberikan atmosfer keanggunan bagi ratusan tamu undangan dari kalangan elite, pejabat, dan pengusaha papan atas Jakarta. Namun, bagi Kirana Larasati, kemewahan ini terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan dada.
Kirana melangkah perlahan di atas karpet beludru merah. Ia mengenakan gaun malam berbahan satin sutra berwarna merah menyala, persis seperti yang diperintahkan suaminya semalam. Potongan gaun itu sangat pas di tubuh rampingnya, memamerkan lekuk tubuhnya yang indah namun tetap sopan dengan kerah tinggi yang menutupi seluruh lehernya. Pilihan kerah tinggi itu bukan tanpa alasan—itu adalah taktik Rendy untuk menyembunyikan memar kecil di pangkal leher Kirana akibat cengkeraman kasarnya dua hari lalu.
Di sampingnya, Rendy Baskoro berjalan dengan penuh wibawa. Setelan tuksedo hitamnya melekat sempurna, membuat ketampanannya semakin menonjol. Senyuman ramah yang begitu hangat terus tersungging di bibir tipis pria itu setiap kali mereka berpapasan dengan kolega bisnis. Tangan kanan Rendy melingkar kokoh di pinggang Kirana, mencengkeramnya dengan kehangatan yang semu. Bagi orang luar, mereka adalah visualisasi sempurna dari pasangan suami istri yang baru menikah dan sedang hangat-hangatnya. Namun, Kirana tahu betul, cengkeraman di pinggangnya adalah sebuah kekang tak kasat mata.
"Tersenyumlah yang manis, Sayang," bisik Rendy lembut, nyaris tanpa menggerakkan bibirnya saat mereka berhenti di dekat meja bar. Matanya yang teduh menatap Kirana, namun ada kilatan dingin yang memperingatkan di baliknya. "Semua orang sedang menatap kita. Jangan tunjukkan wajah layu itu jika kamu tidak ingin kita membahasnya lagi di rumah nanti."
Tubuh Kirana meremang mendengar ancaman terselubung itu. Ia segera memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya, meski matanya tetap menyiratkan kekosongan yang mendalam. "Baik, Mas," sahutnya lirih.
Tiba-tiba, suasana di sekitar pintu masuk utama *ballroom* mendadak riuh. Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar di antara para sosialita dan pengusaha. Kirana merasakan cengkeraman tangan Rendy di pinggangnya mendadak mengencang, bahkan cenderung kasar hingga membuatnya sedikit meringis. Kirana mengikuti arah pandang suaminya menuju pintu masuk.
Jantung Kirana rasanya berhenti berdetak detik itu juga.
Di sana, melangkah masuk dengan keangkuhan dan kharisma yang sanggup mengintimidasi siapa saja, adalah Adrian Dirgantara. Mantan suaminya. Pria itu mengenakan setelan jas tiga potong berwarna hitam legam dengan kemeja putih bersih di dalamnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, mempertegas rahangnya yang kokoh dan garis wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Adrian melangkah didampingi oleh Rendra yang berjalan setengah langkah di belakangnya. Kehadiran Adrian bak magnet yang menyerap seluruh perhatian di dalam ruangan. Bagaimanapun, dia adalah pemimpin Dirgantara Group, raksasa bisnis yang kekuasaannya sulit digoyahkan.
Kirana merasa dunianya berputar. Dua tahun tidak melihat pria itu, Adrian sama sekali tidak berubah. Masih dingin, masih berkuasa, dan masih memiliki tatapan mata elang yang tajam. Tanpa sadar, napas Kirana menjadi memburu. Kenangan masa lalu saat ia masih menjadi istri Adrian berputar cepat di kepalanya.
Seolah memiliki ikatan batin yang belum sepenuhnya terputus, Adrian menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Sepasang mata tajamnya menyapu seisi *ballroom*, mencari satu fokus yang telah mengacaukan pikirannya sejak kemarin. Dan hanya butuh beberapa detik bagi Adrian untuk menemukan sosok wanita bergaun merah menyala itu.
Mata mereka bertemu di antara kerumunan orang.
Adrian terpaku. Waktu seolah melambat di sekitar mereka. Di matanya, Kirana tampak jauh lebih dewasa, namun ada sesuatu yang langsung menyentak naluri terdalam Adrian. Ia melihat ketakutan. Saat Kirana menatapnya, ada binar kepanikan dan permohonan tolong yang tersirat di mata sayu itu sebelum wanita itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke lantai. Adrian juga menyadari posisi tangan pria di samping Kirana yang mencengkeram pinggang mantan istrinya terlalu erat—bukan seperti pelukan hangat, melainkan seperti klaim kepemilikan yang memaksa.
*Bajingan,* umpat Adrian dalam hati. Rahangnya mengeras.
Rendy, yang menyadari interaksi visual singkat tersebut, menyipitkan matanya. Sebagai seorang psikopat manipulatif, ia memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap ancaman. Ia mengenali siapa Adrian Dirgantara—sang mantan suami yang sering disebut-sebut dalam dokumen latar belakang Kirana yang pernah ia selidiki secara rahasia sebelum menikahi wanita itu.
"Oh, lihat siapa yang datang, Sayang," ujar Rendy, nadanya berubah menjadi agak berat dan sinis, meski senyumnya masih terkembang. "Mantan suamimu yang terhormat. Sepertinya kita harus menyapanya secara sopan, bukan?"
"Mas... tolong, jangan," bisik Kirana, memegang lengan Rendy dengan tangan bergetar. Ia tahu watak Rendy. Pria ini senang bermain dengan korbannya, dan Kirana takut Rendy akan melakukan sesuatu yang berbahaya atau mempermalukan Adrian.
Namun, permohonan Kirana justru memicu api cemburu kegelapan di dalam diri Rendy. "Kenapa? Kamu takut aku menyakitinya? Atau kamu masih belum melupakannya, Kirana?" Rendy berbisik tepat di telinga Kirana, jarinya menekan sisi pinggang Kirana hingga wanita itu menahan napas menahan sakit. "Ingat posisimu sekarang. Kamu adalah istriku. Milikku seutuhnya."
Tanpa memedulikan ketakutan istrinya, Rendy menuntun langkah Kirana berjalan memotong ruangan, langsung menuju ke arah tempat Adrian berdiri.
Adrian yang melihat kedatangan mereka tidak bergeser satu inci pun. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu dengan ekspresi sedingin es. Rendra di sampingnya sudah mulai bersiaga, merasakan ketegangan yang mendadak meningkat di sekitar mereka.
"Selamat malam, Pak Adrian Dirgantara," sapa Rendy dengan suara baritonnya yang terdengar sangat ramah dan penuh percaya diri saat mereka tiba di depan Adrian. Rendy mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman. "Sebuah kehormatan luar biasa bisa bertemu dengan Anda di acara malam ini. Saya Rendy Baskoro, dari Baskoro Logistics."
Adrian tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Ia menatap tangan Rendy selama beberapa detik dengan tatapan merendahkan, sengaja membiarkan pria itu menggantung tangannya di udara untuk meruntuhkan egonya di depan publik. Setelah beberapa saat yang canggung, Adrian akhirnya mengulurkan tangannya, menjabat tangan Rendy dengan remasan yang sangat kuat, menyalurkan ancaman tersembunyi.
"Adrian Dirgantara," jawab Adrian pendek dan dingin. Matanya kemudian beralih, mengabaikan Rendy sepenuhnya, dan mengunci pandangannya pada wanita yang berdiri di samping pria itu. "Dan... siapa wanita anggun di sebelahmu ini, Pak Rendy?"
Adrian sengaja memancing. Ia ingin mendengar bagaimana pria ini memperkenalkan Kirana.
Rendy menarik tangannya kembali, senyumnya semakin lebar namun matanya menatap Adrian dengan kebencian yang samar. Ia menarik tubuh Kirana lebih merapat ke dadanya. "Ah, perkenalkan, ini Kirana Larasati. Istri saya tercinta. Kami baru saja menikah empat bulan yang lalu." Rendy menatap Kirana. "Sayang, beri salam pada Pak Adrian."
Kirana mendongak perlahan, memberanikan diri menatap wajah pria yang dulu pernah berbagi ranjang dan hidup dengannya. Lidahnya terasa kelu. "S-selamat malam, Pak Adrian," ucapnya formal, suaranya bergetar halus yang hampir tidak terdengar oleh orang lain, namun sangat jelas tertangkap oleh pendengaran tajam Adrian.
Mendengar Kirana memanggilnya dengan sebutan 'Pak' membuat hati Adrian seperti diiris sembilu. Namun, ia menahan emosinya dengan rapat. Adrian memperhatikan bagaimana jemari Kirana meremas ujung gaun merahnya sendiri dengan sangat erat—sebuah kebiasaan lama Kirana jika ia sedang berada dalam kondisi sangat tertekan atau ketakutan.
"Selamat malam, Ibu Kirana," sahut Adrian, menekankan kata 'Ibu' dengan nada yang menyindir realitas mereka saat ini. "Nama yang indah. Dan gaun yang Anda kenakan malam ini... sangat mencolok. Warna merah. Seingat saya, merah bukanlah warna favorit Anda, bukan?"
Pertanyaan Adrian yang terlalu personal itu membuat Rendy tersentak kecil. Suasana di antara ketiga orang itu mendadak menjadi sangat kaku.
Rendy segera mengambil alih percakapan sebelum Kirana sempat menjawab. "Ah, Anda benar, Pak Adrian. Ini adalah gaun pilihan saya. Saya rasa Kirana terlihat sangat sensual dan cantik dengan warna ini. Sebagai suaminya, saya tentu ingin yang terbaik untuknya. Kirana selalu menuruti apa pun yang saya sukai, bukan begitu, Sayang?" Rendy menatap Kirana dengan pandangan menuntut.
Kirana hanya bisa mengangguk pasrah. "Iya, Mas."
Adrian mengepalkan tangannya di dalam saku celana jasnya. Ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Kirana selalu melirik ke arah Rendy sebelum berbicara atau bertindak, seolah-olah ia adalah seorang tahanan yang membutuhkan izin sipir penjara bahkan hanya untuk bernapas. Kilasan insting bisnis dan naluri pelindung Adrian berteriak kencang: *Wanita ini sedang disiksa secara mental.*
"Begitukah?" Adrian menaikkan sebelah alisnya, menatap Rendy dengan pandangan menantang. "Terkadang, memaksakan selera kita pada orang lain bisa menjadi sebuah bentuk pengekangan, Pak Rendy. Wanita yang lembut terkadang lebih menyukai warna-warna pastel yang menenangkan, bukan warna yang... membakar seperti ini."
Mata Rendy berkilat tajam mendengarnya. Topeng keramahannya hampir retak. "Saya rasa, sebagai suaminya yang sekarang, saya jauh lebih tahu apa yang terbaik dan apa yang membuat istri saya bahagia, Pak Adrian. Hubungan kami didasarkan pada cinta dan kepatuhan mutlak. Sesuatu yang mungkin... tidak dipahami oleh orang luar." Rendy sengaja menekankan kata 'orang luar' untuk menyerang balik status Adrian yang hanya seorang mantan.
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengerikan. "Tentu saja. Kita lihat saja nanti seberapa lama kebahagiaan itu akan bertahan."
Sebelum ketegangan itu meledak menjadi keributan yang disadari oleh tamu lain, Rendra segera melangkah maju, memecah konfrontasi. "Maaf mengganggu, Pak Adrian. Pak Menteri Perdagangan sudah tiba di meja utama dan ingin berdiskusi dengan Anda mengenai proyek pelabuhan baru."
Adrian mengangguk perlahan. Ia memberikan satu tatapan dalam terakhir kepada Kirana, tatapan yang seolah berjanji: *Aku tidak akan membiarkanmu terluka lebih lama lagi.*
"Saya permisi dulu, Pak Rendy. Ibu Kirana... nikmati malam Anda," ucap Adrian dingin sebelum berbalik dan melangkah pergi bersama Rendra, meninggalkan aura ketegangan yang masih pekat di udara.
Setelah Adrian menjauh, Rendy langsung menarik Kirana dengan kasar menuju sudut ruangan yang agak sepi, dekat pilar besar. Senyuman di wajah Rendy lenyap sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi gelap penuh amarah yang menakutkan.
"Kamu menikmati reuni singkat tadi, hah?!" desis Rendy, mencengkeram lengan atas Kirana dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya menembus kain satin gaun Kirana. "Kamu pikir aku tidak lihat bagaimana cara kamu menatap bajingan itu tadi? Kamu merindukannya, Kirana?!"
"Tidak, Mas! Demi Allah tidak!" air mata Kirana mulai menggenang di pelupuk matanya, menahan sakit fisik di lengannya dan ketakutan mental yang luar biasa. "Aku tidak tahu dia akan datang. Aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya, Mas. Tolong lepaskan, ini sakit..."
"Jangan berbohong padaku!" bentak Rendy dengan suara tertahan agar tidak menarik perhatian orang lain. "Jika aku melihatmu menatapnya lagi seperti itu, aku bersumpah, malam ini di rumah, kamu tidak akan bisa tidur sampai pagi karena menerima hukumanmu. Mengerti?!"
Kirana hanya bisa menangis tanpa suara, mengangguk cepat dalam kepasrahan. Di seberang ruangan, di balik kerumunan tamu, Adrian berdiri dengan segelas minuman baru di tangan kanannya. Matanya tidak pernah lepas mengawasi sudut pilar tempat Kirana berada. Ia melihat pundak Kirana yang bergetar dan bagaimana Rendy mengintimidasi wanita itu.
Adrian menenggak minumannya hingga tandas. Amarahnya sudah berada di puncak. Ia menoleh ke arah Rendra yang berdiri di sampingnya.
"Rendra," panggil Adrian, suaranya sedingin malaikat maut.
"Ya, Adrian?"
"Percepat semua investigasi tentang Rendy Baskoro. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Mulai besok, awasi rumah mereka secara rahasia dua puluh empat jam penuh. Dan cari cara agar aku bisa menemui Kirana secara empat mata tanpa sepengetahuan suaminya yang gila itu."
Adrian meremukkan gelas kosong di tangannya hingga kristalnya retak. "Pria itu bukan hanya posesif, Rendra. Dia adalah monster. Dan aku bersumpah akan menyeret Kirana keluar dari neraka yang dibuat oleh bajingan itu."
---
Bersambung ke Episode 3