“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Cemburu Tanpa Sadar
Mata Ryu tertuju pada ponsel Seroja yang masih berdering, lalu berpindah ke pintu kamar mandi.
"Aku suaminya. Wajar 'kan kalau aku angkat telepon istriku?"
Tangan Ryu terulur ingin meraih ponsel itu, tapi berhenti di udara.
"Ini termasuk barang pribadi." Ryu menarik tangannya menjauh. Matanya tak lepas dari nama di layar. "Tapi 'kan milik istriku."
Tangan Ryu kembali terulur. Namun kala jarinya tinggal beberapa senti dari ponsel itu--
KLEK!
Pintu kamar mandi terbuka. Refleks Ryu menoleh bersamaan dengan nada dering yang mati.
Seroja menatap Ryu, kemudian ke ponsel yang tadi ia dengar berdering.
"Ada yang menelpon," kata Ryu.
Matanya melirik ke ponsel Seroja yang kembali berdering. Nama Tony muncul lagi di layar.
"Iya," kata Seroja seraya melangkah mendekat.
Ryu masih diam di tempatnya, seolah enggan menjauh dari ponsel itu. Namun tiba-tiba ponselnya ikut berdering. Nama Jordi yang muncul di layar membuatnya mau tak mau melangkah menjauh menuju balkon.
Ia tak bisa mengabaikan telepon Jordi, karena asistennya itu tidak akan menelpon jika tak ada yang penting.
Pembicaraan soal bisnis mengalir begitu saja. Tapi mata Ryu tak lepas dari istrinya.
Dari pintu balkon yang terbuka, ia bisa melihat Seroja berbincang dalam sambungan telepon sambil tersenyum. Dan entah kenapa ia tak suka kala mengingat nama Tony di layar ponsel istrinya.
"Jordi," kata Ryu setelah mereka selesai membahas soal pekerjaan.
"Siapa pria yang bertemu istriku di restoran tadi siang?" tanyanya datar.
"Eh, kenapa tiba-tiba nanya soal itu, Bos? Jangan-jangan cemburu nih."
"Aku nanya, kenapa kamu malah balik nanya?" ketus Ryu.
"Sabar, Bos. Sabar," sahut Jordi.
"Cepet bilang!" desak Ryu.
"Kayaknya sih dia temen kakak ipar," kata Jordi akhirnya. "Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Ryu tak sabar.
"Kayaknya dia suka sama kakak ipar, Bos."
Ryu terdiam. Tanpa sadar tangannya menggenggam ponselnya lebih erat dari seharusnya.
"Dari penampilannya sih jelas orang kota, Bos. Orang berada," lanjut Jordi. "Tampangnya juga bening. Dan..."
"Apa?" tanya Ryu cepat. "Kalau ngomong jangan setengah-setengah. Apa kau mau gajimu dipotong setengah," ancam Ryu geram.
Jordi berdecak. "Jangan emosian dong, Bos. Kalau darah tinggi 'kan repot."
"Jordiii..." desis Ryu. Kesabarannya benar-benar sudah menipis. "Cepat katakan." Suara Ryu turun dengan nada berat.
"Dia kayaknya suka sama kakak ipar, Bos," kata Jordi dari seberang cepat.
Ryu terdiam. Ia mengingatnya. Pria itu mengedipkan mata dan tersenyum genit pada istrinya.
"Siapa namanya?" tanya Ryu rendah, memastikan.
"Namanya Evan, Bos."
"Evan?" gumam Ryu.
"Iya, Bos," jawab Jordi mantap. "Aku masih ingat jelas."
Ryu kembali menatap ke dalam kamar. Seroja masih bicara dalam sambungan telepon. Dan nama yang ia lihat tadi adalah Tony. Bukan Evan.
"Ada berapa banyak pria di sekitarnya?" pikir Ryu.
Agus, Evan dan sekarang Tony. Baru dua hari ia bersama istrinya, tapi sudah ada tiga nama pria. Dan dua di antaranya, satu jelas menyukai istrinya, satu lagi jelas menggoda istrinya. Dan satu lagi belum jelas.
"Bos?"
Suara Jordi menyentakkan Ryu yang tenggelam dalam pikirannya tentang para pria yang ada di sekeliling Seroja.
"Bos masih di sana?" tanya Jordi lagi. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang menatap ponselnya. "Masih nyambung," gumamnya pelan.
"Kapan jadwal penerbanganku ke Singapura?" tanya Ryu akhirnya.
"Bos, kamu yakin mau ke Singapura nemui cewek matre itu?" Nada suara Jordi jelas tidak setuju. "Ingat istri di rumah, Bos."
"Kamu cerewet sekali sih," kesal Ryu. "Katakan, kapan jadwalnya?"
"Bos, please. Kakak ipar itu jelas lebih baik dari pacar matre Bos itu." Jordi berusaha meyakinkan. "Jangan tertipu sama cover--"
"Diam!" sergah Ryu. "Aku ke sana untuk mengakhiri hubunganku dengan dia."
"Beneran, Bos?" tanya Jordi antusias.
"Kapan jadwalnya?" tanya Ryu untuk yang ketiga kalinya.
"Besok sore, Bos," jawab Jordi akhirnya. "Habis pulang kan--"
Tut... Tut... Tut...
Jordi belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat Ryu mengakhiri panggilan. Ia menatap layar ponselnya yang kini menampilkan durasi panggilan.
“Yah… diputus lagi. Dasar Bos nyebelin. Kebiasaan banget deh." Ia menghela napas panjang. “Bos satu itu kalau nutup telepon kayak emak-emak bokek nutup pintu pas lihat rentenir mau nagih cicilan. Mendadak. Tanpa aba-aba.”
Ia menjatuhkan diri di atas kasur. "Aku bakal jadi orang pertama yang paling bahagia di dunia kalau bos mutusin tuh cewek."
Jordi tidak pernah lupa. Jika Clara minta sesuatu, dia akan meminta yang paling mahal dan limited edition. Dan Ryu selalu mengabulkan. Tapi yang repot selalu dirinya. Karena ia yang harus mencari apa yang diinginkan Clara.
Belum lagi wanita itu banyak maunya. Pilih-pilih soal makanan. Ada yang viral ia disuruh nyari. Kalau gak suka suruh cari yang lain lagi, membuat Jordi harus memupuk kesabarannya agar tidak mati karena wanita satu itu.
"Kakak ipar orang yang sederhana. Kayaknya dia gak bakal ngerepotin aku," gumamnya sambil mengingat bagaimana selama ia berinteraksi dengan Seroja.
"Bahkan menurutku dia lebih cantik dari cewek matre itu. Cantiknya natural."
Ia mengingat wajah cantik Seroja tanpa riasan. Dan bagaimana senyum manisnya.
Lalu tiba-tiba ia tersadar dari pikirannya yang melantur.
"Astaga... apa yang aku pikirkan?" Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Istri orang Jordi. Istri orang." Ia mengingatkan dirinya sendiri.
"Kalau bukan istri orang, masih single, pasti bakal aku kejar. Bos beneran bakal nyesel kalau lepasin dia."
Sementara itu, Ryu akhirnya masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu balkon pelan. Ia melihatnya, Seroja sudah tak lagi bicara melalui sambungan telepon, tapi gadis itu tampak fokus pada layar ponselnya.
Ryu akhirnya masuk ke kamar mandi. Ia mencuci wajahnya lalu berdiri di depan cermin. Ia ingat wajah Agus. Pemuda itu lumayan tampan, tapi ia merasa lebih tampan dirinya.
Tapi Evan...
Pemuda itu tak kalah tampan darinya. Bisa dibilang hampir sepadan dengannya.
Lalu Tony?
Ia belum tahu seperti apa pria itu, dan bagaimana perasaannya pada istrinya.
"Apa Seroja menyukai salah satu di antara mereka?"
...🔸🔸🔸...
...“Kadang rasa cemburu muncul lebih dulu sebelum hati sadar bahwa ia mulai mencintai.”...
...“Seseorang mulai terasa berharga saat kita tak suka melihat orang lain mendekatinya.”...
...“Hati sering kali menyadari perasaannya lebih cepat daripada logika.”...
...“Semakin seseorang mengganggu pikiranmu, semakin besar tempatnya di hatimu.”...
...“Rasa cemburu sering datang sebelum seseorang sadar bahwa hatinya mulai memilih.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Seroja mengganti celanya dengan celana jins dan mengenakan jaket kulit.
Seroja beneran naik motor sport, Muji berdecak kagum melihatnya.
Itu Nenek tahu kalau Seroja bukan gadis sesederhana yang mereka lihat atau pikirkan. Dan harus bersiap dengan kejutan-kejutan dari Seroja.
Jordi mendapat tugas penting dari Ryu - untuk menyelidiki istrinya.
Dipikirannya bebas menafsirkan bagaimana Tony yang sedang mengajari Seroja naik motor sport.
Nenek melihat reaksi Ryu setelah mendengar itu.
Seroja menjawab pertanyaan dari Nenek. Tony, temannya.
Tony bisa dibilang teman dekat. Begitu penuturan Seroja.
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏