NovelToon NovelToon
DUNIA X KEKACAUAN

DUNIA X KEKACAUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: YT FiksiChannel

Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa depan dan kematian

Dien melepaskan tebasan angin, lalu menginjak tanah menciptakan duri-duri tanah yang menusuk dari depan kakinya. Roh jahat tanpa kepala itu menghancurkan duri-duri tanah dengan satu pukulan ringan, lalu melepaskan cakar energi spiritual yang sangat kuat dan membelah tanah. 

Dien menghindar ke samping, menghentak dan menciptakan bongkahan tanah, lalu meninjunya dengan sangat kuat. Bongkahan tanah itu langsung menyerang roh jahat tanpa kepala tersebut. 

“Berikan tubuhmu padaku, manusia!!!” Raung roh jahat memekakkan telinga dan menghancurkan bongkahan tanah hanya dengan tekanan suaranya.

“Tanpa kepala saja, dia mampu membuat sakit telinga. Bagaimana saat dia masih memiliki kepala?” Batin Dien meringis kesakitan akibat suara melengking tersebut. 

Tiba-tiba roh tanpa kepala yang beraura merah bergerak cepat dan melepaskan tusukan ke dada Dien dengan tangan tajamnya yang diselimuti energi merah darah. Dien kaget dan menangkis tusukan tersebut dengan tangan kosong, membuat tangannya terluka dan mengeluarkan banyak darah. 

“Aku lupa roh yang satu ini.” Dien meringis kesakitan. 

Roh merah itu bergerak cepat menyerang tanpa terlihat mata telanjang. 

Pukulan keras! 

Dien menghindari cakaran roh merah yang menyasar lehernya, lalu memukul balik leher roh merah hingga lehernya menyemburkan darah, seakan-akan luka tebasan di lehernya kembali terbuka. Roh buntung itu tampak sangat kesakitan. 

Roh hitam tiba-tiba sudah berada di depan Dien, lalu menyerbu masuk ke dalam tubuh roh Dien yang rentan, berusaha mengambil alih kesadaran dan melahapnya. 

“Sialan!” Dien tidak menyangka roh hitam berhasil memasuki tubuh rohnya, berusaha menekan rohnya untuk mendapatkan tubuh fisiknya di dunia nyata. 

“Keluar sialan!!!” Raung Dien berusaha melawan balik roh hitam yang berusaha menekan dan melahap rohnya. 

Dien yang berusaha keras lepas dari pengaruh roh hitam perlahan-lahan mulai kehilangan kesadaran. Rohnya perlahan-lahan dilahap roh jahat tersebut. 

Hantaman keras! 

“Dia milikku!” Raung roh merah memukul wajah Dien hingga terhempas jauh, memaksa roh hitam keluar dari tubuh roh Dien. 

Pukulan itu secara tidak langsung menyelamatkan roh Dien yang hampir dilahap dan diambil alih. Dien hanya bisa melihat dua roh jahat saling bertarung memperebutkan tubuh rohnya.

"Hancurlah!" 

Tiba-tiba aura kegelapan muncul dari kekosongan dan membakar dua roh, membuat mereka sangat kesakitan. Dua roh itu hanya bisa berteriak memohon ampun kepada seseorang yang menyerang mereka, sebelum mereka menjadi abu. 

Dien bingung melihatnya, namun dia bersyukur karena selamat dari serangan dua roh jahat tersebut. Dien mengambil nafas, lalu duduk dan beristirahat beberapa saat. 

“Kemarilah nak! Selamatkan orang tua ini.”

Dien kembali mendengar sebuah suara tua yang sangat berwibawa. 

Dien menoleh ke belakang dan melihat tebing batu karang yang curam, terlihat ombak besar terus menghantam dan mengikis batu karang tajam tersebut. 

“Masuklah ke laut. Orang tua ini ada dibawah batu karang.” 

Suara tua berwibawa itu kembali terdengar.

Dien menyipitkan mata melihat ombak yang menghantam batu karang. Dien dengan ragu melompat masuk dan menyelam di antara karang tajam. Mengandalkan panggilan suara serak, Dien semakin menyelam dan bertemu dengan seorang kakek tua yang terjepit atau mungkin disegel dalam batu karang. 

“Anak muda, kemarilah! Selamatkan orang tua ini.” Ucap kakek tua bersemangat. 

Dien berenang mendekat dengan cepat.

“Akhirnya setelah 400 tahun, aku bertemu dengan manusia kembali. Ini adalah berkah Tuhan. Ini adalah berkah Tuhan!!!” Ucap kakek tua bersyukur, tampak begitu saleh. 

Dien berhenti beberapa meter dari kakek tua karena kehabisan nafas. Tiba-tiba sebuah gelembung mengurung kepala Dien, memberi udara segar.

“Terimakasih, kakek.” Ucap Dien dengan nafas ngos-ngosan, hampir mati kehabisan nafas.

“Seharusnya aku yang berterimakasih. Karena kedatanganmu, aku memiliki harapan untuk lepas dari batu karang ini.” Ucap kakek tua dengan senyuman ramah. 

Dien tampak berpikir sejenak. 

“Anak muda, cepatlah! Orang tua ini sudah tidak sabar melihat dunia kembali.”

“Hancurkan batu karang ini dan bebaskan orang tua ini dari penyiksaan ini.” Pinta kakek tua mendesak dan terdengar seperti sebuah perintah daripada permintaan tolong. 

Dien menggunakan kemampuan melihat masa depan, lalu tersenyum dingin ketika melihat masa depannya setelah membebaskan orang tua tersebut. 

“Kenapa aku harus menolongmu?” Tanya Dien membuat kakek tua terdiam. 

“Melihat kondisimu yang dikurung dua batu karang dan tidak bisa kabur. Aku dapat menebak, batu karang ini diperkuat formasi segel agar kamu tidak bisa lepas dan melarikan diri dari tempat ini atau mungkin melarikan diri dari alam roh. Tampaknya kakek dikurung di tempat ini karena suatu alasan tertentu.” Ujar Dien mengutarakan kecurigaannya. 

“Aku tidak bisa membebaskanmu tanpa tahu siapa kamu sebenarnya. Kenapa kau bisa ada di sini? Kenapa kau disegel ditempat ini? Dan dosa apa yang telah kau lakukan di masa lalu?” Ucap Dien menatap dingin kakek tua tersebut. 

Dalam analisis Dien, kakek tua itu bisa bertahan hidup selama 400 tahun di bawah air laut alam roh, bahkan membantunya yang kesusahan saat menuju ke tempat ini. Sekali lihat saja, alasan kakek tua tidak dapat melepaskan dan melarikan diri, karena dia disegel oleh seseorang.

Alasan kakek disegel belum diketahui, namun melihat kakek tua itu langsung membunuhnya setelah dilepaskan, Dien yakin kakek tua itu adalah orang jahat bukan orang baik. 

“Kenapa kau tidak ingin membantu orang tua ini? Tolonglah orang tua ini nak!” Mohon kakek tua hampir menangis. 

“Aku hanyalah pemula di dunia praktisi yang kejam ini. Hal yang wajar jika aku sangat waspada, bahkan kepada orang tua yang tidak dikenal seperti kakek.” Jelas Dien apa adanya dan tampak menyakinkan. 

Setelah melihat kematiannya di masa depan, Dien seketika waspada dan tidak berniat membantu sama sekali. 

Meskipun tahu lawannya orang jahat, Dien tidak bodoh untuk menyinggung kakek tua tersebut apalagi memberitahu alasan penolakannya. Dia takut kakek tua adalah monster tua jahat yang melakukan kerusakan dan berbagai kejahatan. Menyinggungnya akan sangat berbahaya, melepaskannya bahkan lebih berbahaya lagi. Jadi yang terbaik adalah berpura-pura dengan alami agar tidak menimbulkan kecurigaan. 

“Jika kamu membantuku lepas dari tempat terkutuk ini. Orang tua ini akan membantumu menjadi dewa sejati. Jalanmu menjadi dewa sejati akan lebih mudah dari manusia biasa yang tidak tahu apapun tentang jalan dewa sejati. Membantuku bebas dari tempat ini sama artinya mengambil setengah langkah menjadi dewa sejati.” Balas kakek tua setelah terdiam beberapa saat. 

Dien tertegun mendengarnya, lalu menghela nafas santai dan santai. 

“Menjadi dewa sejati? Apa menurut kakek aku tidak bisa menjadi dewa sejati dengan tanganku sendiri?” Tanya Dien tersenyum merendahkan agar terlihat seperti sebuah kewaspadaan yang alami. 

 “Haha.” Kakek tua tertawa terbahak-bahak hingga suara tawanya menggema di bawah lautan alam roh tersebut. 

“Anak muda, aku tidak pernah meremehkanmu. Hanya saja orang tua ini tahu betapa tidak adilnya dunia praktisi spiritual pada praktisi bebas tanpa latar belakang yang kuat. Praktisi spiritual bebas tanpa latar belakang tidak akan pernah mampu menjadi dewa sejati, karena dia akan terbunuh sebelum menjadi dewa hanya karena beberapa orang yang iri dengan kejeniusannya.” Ucap kakek tua menatap lurus wajah Dien. 

“Anak muda kamu mungkin tidak akan pernah menginjakkan kaki di tingkat dewa. Hanya aku yang bisa membantumu, maka bebaskan aku dari tempat terkutuk ini.” Ucap kakek tua menatap jauh ke  dalam hati Dien yang agak goyah. 

Dien tersenyum tipis. 

“Maksud kakek aku akan terbunuh sebelum menjadi dewa? Sepertinya aku benar-benar diremehkan ya.” Tanya Dien dengan ekspresi suram dan sangat marah. 

Kakek tua tersenyum, menggeleng kepala tanpa daya. 

Bersambung. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!