Ini season ke 2 dari novel Putra Sang Letnan Kolonel. Dengan Genre Yang berbeda kisah Triple Z (Zayda, Zayden, dan Zafran)
Tawa Semua siswa seketika mencekam, sesaat serangan brutal terjadi di tempat itu.
Panik, Takut semua menjadi satu dalam kericuhan. Hanya dalam hitungan jam puluhan siswa dan guru mati di tempat.
Semua siswa mencari ruangan aman untuk berlindung, tetapi tidak ada satupun ruangan yang bisa menjamin.
Kecuali satu area rooftop. Namun, apakah mereka bisa naik ke atas?
Adakah para siswa ada yang selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 ( Peta )
Ruang Guru
"Bagaimana dengan lukamu?" Farhan bertanya kepada Zayden yang hendak bangun dari meja. Selama dua jam Zayden terserang demam tinggi karena lukanya, mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain memberi obat demam yang masih tersedia dalam kotak P3K.
"Sudah mendingan," jawab Zayden masih dengan nada lemas.
Zayden melirik semua orang yang ada di ruangan. Semua tampak lemas. Bayangkan saja, sudah 7 jam lamanya mereka berada di ruangan itu tanpa air dan makanan, tubuh mereka pasti lemas.
"Kita tidak bisa hanya diam di sini. Kita harus keluar, mereka pasti lemas karena tidak minum juga makan," ujar Zayden menatap iba pada mereka. Farhan mengikuti arah tatapan Zayden yang hanya bisa menghela nafas tanpa membantu apapun.
"Bagaimanapun jangan gegabah," ucap Raya yang tiba-tiba datang menghampiri mereka. "
Beberapa jam yang lalu pak Marwan dan guru yang lain keluar dari sini tapi ... belum sempat 15 menit mereka tertembak." Raya terlihat tak kuasa menceritakan semua itu. Dadanya kembali sesak mengingat kesalahannya yang membiarkan teman-temannya pergi.
"Tapi ...." Raya teringat sesuatu. "Kata pak Juanda di sekolah kita ada jalan rahasia yang bisa membawa kita keluar dari tempat ini."
"Maksud ... ruangan rahasia?" tanya Zayden yang saling menatap dengan Farhan.
"Ya, ruangan bawah tanah. Tapi ruangan itu ada di dalam perpustakaan. Pak Juanda bilang dia sering melihat pak Samuel masuk lewat ruangan itu, dan keluar dari ujung taman cendekia."
"Berarti terowongannya cukup panjang?" tanya Farhan mengingat keluarnya dari taman cendekia.
"Mungkin," balas Raya. "Tapi yang sulit ... Kita harus keluar dan berjalan ke perpustakaan. Kita akan melewati jalan yang sama dan lorong kelas yang mungkin pasti diawasi oleh para pemberontak. Aku tidak yakin bisa selamat jika keluar dari sini."
Rencana yang penuh perhitungan. Ada jalan keluar tapi tetap dalam lingkaran bahaya, tidak ada jalan lain menuju perpustakaan kecuali melewati lorong kelas yang sudah dikuasai pemberontak. Mereka ada di mana-mana setiap sudut sekolah sudah di kuasai.
"Untuk sementara ... Sambil memikirkan jalan menuju perpustakaan yang harus kita pikirkan saat ini ... Mencari makanan. Jangan sampai ada yang mati kelaparan," usul Farhan.
"Hmmm ....," gumam Raya dengan anggukan. Raya berpikir sejenak lantas berkata, "Kantin, jarak kantin lumayan dekat dari ruangan guru. Tapi aku juga nggak tahu kalau di kantin aman atau nggak."
"Iya, betul," ujar Farhan. "Kita harus kesana untuk melihat. "Tapi kita harus lewat jalan lain, tidak bisa jalan depan karena mereka pasti berjaga di sana. Zayden di tembak di lorong 1."
"Kita bisa lihat peta biar lebih mudah," tutur Bu Mira. "Aku akan ambilkan petanya." Bu Mira, sekaligus pengurus semua arsip dan data-data sekolah lainnya. Dia yang selalu berada di ruangan guru yang pasti tahu letak semua barang termasuk peta sekolah.
Bu Mira berjalan ke arah laci di bawah rak buku. Mengambil satu gulungan kertas panjang yang terdapat denah di dalamnya. Bu Mira membawa peta itu kehadapan Zayden, Farhan dan Bu Raya. Di atas meja persegi ia buka lebar kertas peta itu sampai terlihat jelas denahnya.
Raya, mengangkat ponselnya untuk menerangi peta agar terlihat.
"Ini lobi utama," ujar Bu Mira menunjuk peta lobi. "Kita hanya lurus ke belakang belok kanan masuk lorong sejauh lima meter, belok kiri ... Ini kantin yang berada di ujung lorong lantai satu. Keberadaan uang tersembunyi, mungkin mereka tidak tahu area kantin, atau mungkin belum ada yang datang ke sana. Tapi ... untuk ke sana kita harus melewati lobi utama yang sudah pasti akan sulit, karena mereka ada di sana."
Mereka semua fokus.
"Itu masalahnya. Kita tidak mungkin melewati lobi, dan kita pun tidak tahu sampai kapan kita bertahan di sini. Mereka pasti tidak akan diam, setelah melihat aku hilang tadi, mereka pasti menyusuri tempat ini dan pasti akan tiba di sini. Cepat atau lambat," ujar Zayden mampu mengguncang jantung mereka.
Mereka menjadi cemas, setelah mendengar perkataan Zayden.
"Apa ada jalan lain menuju kantin?" tanya Bu Raya.
Farhan mengambil alih peta itu. Dia penjaga keamanan di LAC School yang pasti tahu jalan dari setiap ruangan termasuk ruangan yang tersembunyi. Farhan terus mengamati peta itu sampai akhirnya ia menemukan jalan keluar.
"Aku tahu," katanya mengejutkan semua orang.
"Di sini." Tunjuk Farhan pada satu kotak denah. "Ini ruang guru yang kita tempati sekarang. Setiap ruangan pasti ada ventilasi." Farhan menatap mereka semua.
"Di sini ... Kita akan naik lewat ventilasi ini." Tunjuk Farhan pada lubang udara yang tertutup besi di atas meja Bu Raya. Kita semua harus naik ke sini ... Sepanjang 25 meter kita akan sampai ke luar lewat ducting AC sentral — area dapur kantin."
"What!" ucap satu siswa yang terkejut. Dia tidak bisa bayangkan akan keluar dari lubang yang sangat kotor dan debu, belum aroma minyak yang menyengat. Belum nanti, jika keluar ... Di bawah ventilasi harus dihadapkan dengan sebuah kompor. Bagaimana untuk melompat.
"Itu pasti sangat bau!" kata siswa itu lagi.
"Daripada kita mati di sini? Jika mau silakan lewat depan, tapi aku pastikan sebelum kamu tiba di lorong utama mungkin kamu sudah mati ditembak," tegur siswa lainnya. Siswa itu pun terdiam.
"Berhenti bertengkar! Kita di sini untuk mencari jalan keluar," tegur Zayden. Mereka pun terdiam. "Lanjutkan," titah Zayden pada Farhan.
Farhan melanjutkan.
"Baik kita lanjutkan." Farhan membuka lebar-lebar petanya. "Kita sudah sepakat akan melewati ventilasi ini tapi harus hati-hati, karena ruangan yang sempit, pijakan yang mungkin tidak begitu kuat yang harus dengan pelan. Jangan sampai kita terjatuh di ruangan yang salah."
Mereka semua mengangguk.
"Dan setelah 10 meter kita akan melihat tiga lorong ventilasi. Menuju ruang keamanan, gudang dan yang lurus ke depan. Kita ambil lorong lurus ... Ya, ingat lorong lurus ... setelah itu ikuti lorong itu belok kiri, lalu kanan, kita sudah sampai. Jadi jangan salah pilih jalan."
Semua mengangguk.
"Siapa yang akan memimpin?" tanya Farhan.
"Sebaiknya pak Farhan, yang memimpin karena yang tahu jalan. Aku akan berada di tengah, memimpin barisan tengah dan yang paling akhir ... Pak Juanda." Tatap Zayden pada guru PJOK.
Pak Juanda pun mengangguk. Karena tidak mungkin para wanita yang harus berada di barisan belakang.
"Ok aku siap."
"Tunggu!" Farhan memejamkan mata. "Sebaiknya kamu Zayden lebih dulu, kamu yang terluka aku tidak mau terjadi hal buruk pada mu. Kamu pimpin teman-teman mu, kalian naik lebih dulu setelah itu lanjut Bu Raya, dan guru yang lain ... Dahulukan wanita. Setelah itu pak Juanda berada di barisan belakang wanita memimpin barisan lelaki. Aku yang paling belakang karena aku harus memastikan kalian aman. Jangan ada yang melihat kita masuk ke ventilasi ini. Aku akan berjaga jika nanti ada yang datang ke sini."
Mereka semua sepakat. Semua berberes untuk bersiap-siap. Juanda mencari alat obeng, untuk membuka penutup ventilasi.