Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
******
Calista mematung seketika mendengar ucapan ayahnya barusan, seakan dadanya seperti terhantam sesuatu yang begitu keras.
Matanya membesar.
“Apa…?” suaranya nyaris tidak terdengar.
Tuan Hendra menatap putrinya sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ia tahu informasi ini tidak ringan untuk didengar, terlebih oleh Calista yang kini sudah menerima pernikahan dan suaminya.
“Arkana adalah anak hasil dari perselingkuhan ayahnya dengan wanita lain,” ulang Tuan Hendra dengan suara lebih tenang.
Calista menatap ayahnya tidak percaya.
“Jadi… mama Arkana yang sekarang itu bukan mama kandungnya?” tanya Calista pelan.
Tuan Hendra mengangguk perlahan. “Benar. Wanita yang selama ini kamu kenal sebagai mama Arkana sebenarnya bukan mama kandungnya.”
Calista terdiam.
Beberapa potongan sikap orang tua Arkana yang selama ini ia lihat tiba-tiba terasa masuk akal.
Cara mereka bersikap dingin.
Cara mereka memandang Arkana seolah-olah dia hanya beban.
Sementara Atharva selalu diperlakukan seperti anak emas.
“Tapi…” Calista menelan ludahnya. “Kenapa mereka tetap membesarkan Arkana kalau begitu dengan sikap mereka yang terang terangan membenci Arkana?”
Tuan Hendra tersenyum tipis, namun senyum itu lebih terlihat seperti kepahitan. “Karena keluarga besar dari papa Arkana tidak mengizinkan anak itu dibuang begitu saja.”
Calista mengerutkan kening.
Tuan Hendra melanjutkan ceritanya dengan pelan. “Dulu ayah Arkana berselingkuh dengan seorang wanita saat perjalanan bisnis di luar negara. Hubungan itu tidak berlangsung lama, namun wanita itu hamil.”
“Ketika keluarga mereka mengetahui hal itu, terjadi pertengkaran besar.”
“Wanita itu akhirnya melahirkan Arkana… tapi tidak lama setelah itu dia meninggal karena sakit.”
Calista menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak menyangka masa lalu Arkana seberat itu.
“Karena bayi itu tidak memiliki siapa pun lagi, keluarga besar mereka memaksa ayah Arkana untuk membawa pulang anak itu.”
“Namun mamanya Atharva… tidak pernah benar-benar menerima keberadaan Arkana.”
Suasana ruang makan menjadi sunyi.
Calista menunduk, menatap mangkuk sup di depannya yang kini sudah tidak mengepulkan uap lagi.
“Jadi selama ini…” gumamnya pelan. “Arkana hidup di rumah itu sebagai anak yang tidak diinginkan?”
Tuan Hendra mengangguk perlahan. “Kurang lebih seperti itu.”
Calista merasakan dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Ia teringat bagaimana Arkana selalu terlihat santai, selalu tersenyum, selalu bercanda seolah tidak ada beban dalam hidupnya.
Namun ternyata…
Di balik semua itu ada masa lalu yang sangat menyakitkan.
“Lalu Atharva?” tanya Calista.
“Dia adalah anak kandung dari pernikahan sah kedua orang tuanya,” jawab Tuan Hendra. “Itulah sebabnya mereka selalu memanjakan Atharva.”
"Usia Arkana dan Atharva hanya terpaut sebulan, makanya keluarga mereka membuat rumor bahwa mama mertuamu melahirkan anak kembar agar orang-orang di luar sana tidak mengetahui fakta ini."
Calista mengepalkan jemarinya di atas meja.
“Tapi Arkana juga anak mereka… dia juga mengalir darah yang sama dengan papanya! Kenapa tidak ada satupun yang membelanya, bahkan papa Arkana sekalipun? ” ucapnya sedikit emosi.
Tuan Hendra tersenyum tipis melihat reaksi putrinya.
"Karena kelakuan papa Arkana yang pernah berselingkuh dan sampai menghasilkan anak, dia merasakan begitu bersalah kepada istrinya. Makanya dia terlihat begitu patuh dan selalu mengikuti apa yang diperintahkan mama mertuamu untuk menembus rasa bersalahnya. " jelas Tuan Hendra, ia kembali menyantap makan malamnya dengan santai.
"Bahkan untuk mengacuhkan Arkana? " kesal Calista.
Sebagai sesama perempuan, Calista tau pasti bagaimana perasaan sakit dan kecewa yang di rasakan mama mertuanya. Walau ia sendiri belum pernah merasakan dan jangan sampai.
Tapi ia tidak membenarkan sikap buruk mereka pada Arkana yang tidak mengetahui apapun dan malah merasakan getahnya.
Seharusnya mama mertuanya itu menghukum suaminya sendiri karena sudah jelatan dan berselingkuh dengan perempuan lain, kalau bisa dipotong saja burungnya itu agar tidak berani melirik perempuan lain.
"Apa Arkana tau kebenaran ini ayah? "
"Ya, dia mengetahuinya. "
******
Sedangkan yang dibicarakan kini tengah duduk termenung di kursi kerja di perusahaan yang ia bangun sendiri.
Ia telah menyelesaikan pekerjaannya dalam memperbaiki kebangkrutan di perusahaan keluarganya.
Kini ia tengah duduk termenung seraya menatap bingkai foto yang ia simpan di dalam laci meja, tidak ia sentuh hanya menatapnya dalam.
"Apa kamu juga ikut senang melihat aku disini sudah mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini? " ia berucap pada bingkai foto itu, wajahnya terlihat begitu datar.
Tak ada ekspresi apapun.
Sedih.
Bahagia
Atau bahkan kecewa.
"Perbuatan mu dan si banjingan itu, kenapa jadi aku yang mendapatkan hukumannya. " wajahnya masih tetap datar, namun matanya tiba-tiba saja memerah.
"Kalian yang bersenang-senang dan aku yang mendapatkan karmanya. " ujar Arkana kembali sembari menutup kembali laci itu dengan pelan.
"Ku mohon tolong jemput orang terkasihmu itu bersamamu, aku benar-benar membencinya. Bahkan kepadamu, maa..... "
Sedangkan Farhan— papa Arkana. Pria paruh baya itu terlihat tengah termenung menatap langit malam dari balkon kamarnya.
Angin malam berhembus pelan menerpa wajahnya yang mulai dipenuhi garis-garis usia.
Lampu kota terlihat berkelip di kejauhan, namun Farhan sama sekali tidak benar-benar melihatnya.
Pikirannya sedang jauh.
Sangat jauh.
Di dalam kamar, istrinya sudah terlelap nyenyak di atas ranjang besar mereka. Wanita itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya, seolah semua hal yang terjadi hari ini tidak pernah mengguncang apa pun di dalam hatinya.
Farhan baru saja kembali dari perusahaan beberapa jam yang lalu.
Hari ini adalah hari yang cukup panjang.
Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di ruang rapat bersama para karyawan perusahaan yang bertugas penting di perusahaan dan jajaran direksi untuk membahas kondisi perusahaan yang sempat berada di ambang kebangkrutan.
Dan pada akhirnya…
Ia mengambil keputusan yang bahkan dirinya sendiri tidak pernah benar-benar berani bayangkan sebelumnya.
Mengumumkan Arkana sebagai pemilik saham terbesar sekaligus orang yang kini memegang kendali perusahaan.
Farhan menghembuskan napas panjang.
Tangannya mencengkeram pagar balkon dengan erat.
Saat ia mengumumkan hal itu di ruang rapat tadi, suasana sempat menjadi sangat sunyi.
Sebagian orang terlihat terkejut.
Sebagian lainnya bahkan terlihat tidak percaya.
Namun tidak ada yang berani menentang.
Karena semua orang di ruangan itu tahu satu hal.
Jika bukan Arkana yang turun tangan…
Perusahaan itu mungkin sudah benar-benar runtuh.
Farhan menundukkan kepalanya.
Bayangan wajah putra sulungnya muncul di benaknya.
Arkana duduk di ujung meja rapat dengan ekspresi datar seperti biasanya.
Tidak ada senyum kemenangan.
Tidak ada rasa bangga.
Bahkan tidak ada emosi apa pun yang terlihat.
Seolah semua yang ia lakukan hanyalah pekerjaan biasa.
Farhan mengusap wajahnya dengan pelan.
Ia masih ingat jelas bagaimana tatapan Arkana tadi siang.
Datar.
Dingin.
Dan… jauh.
Seperti seseorang yang tidak benar-benar merasa menjadi bagian dari tempat itu.
Hati Farhan terasa sedikit sesak.
Sudah lebih dari tiga puluhan tahun berlalu.
Namun ia masih tidak pernah benar-benar bisa memperbaiki hubungannya dengan anak itu.
Padahal…
Semua kesalahan itu berasal darinya.
Ia menutup matanya sebentar.
Kenangan lama kembali muncul tanpa ia undang.
Seorang wanita yang tersenyum lembut.
Rambut panjang yang selalu tertiup angin.
Dan seorang bayi kecil yang baru lahir dengan tangisan yang begitu keras.
Farhan mengepalkan tangannya.
Wanita itu sudah lama meninggal.
Namun bayangan wajahnya masih tersimpan jelas di dalam ingatan.
Begitu juga dengan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar hilang.
“Aku memang pengecut…” gumam Farhan pelan.
Ia tahu betul bagaimana Arkana diperlakukan selama bertahun-tahun di rumah ini.
Ia melihat semuanya.
Sikap dingin istrinya.
Cara keluarga besar memandang anak itu.
Perlakuan yang selalu berbeda dibandingkan Atharva.
Namun setiap kali ia ingin melakukan sesuatu…
Ia selalu berhenti.
Rasa bersalahnya kepada istrinya terlalu besar.
Perselingkuhan yang pernah ia lakukan di masa lalu menjadi bayangan yang terus menghantuinya.
Ia merasa tidak punya hak untuk menentang apa pun.
Akhirnya…
Arkana yang menanggung semuanya.
Farhan membuka matanya kembali. Tatapannya kembali mengarah ke langit malam.
“Aku bahkan tidak tahu… apakah dia masih menganggapku sebagai ayahnya,” gumamnya lirih.
Angin malam kembali berhembus pelan.
Di dalam kamar, istrinya bergerak sedikit di atas ranjang, namun tetap tidak terbangun.
Farhan melirik ke arah pintu kamar sebentar sebelum kembali menatap ke luar.
Hari ini, setelah rapat selesai, ia sempat menghampiri Arkana di ruang kerja sementara yang disediakan untuknya di kantor pusat.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Apa saja.
Mungkin ucapan terima kasih.
Atau sekadar…
“Kerja bagus.”
Namun ketika ia berdiri di depan pintu ruangan itu…
Kakinya justru terasa berat untuk melangkah masuk.
Melalui kaca pintu, ia melihat Arkana duduk sendirian di kursi kerjanya.
Pria muda itu sedang menatap beberapa berkas di meja.
Ekspresinya tetap sama.
Tenang.
Dingin.
Jauh.
Farhan akhirnya hanya berdiri di sana selama beberapa detik.
Lalu… pergi.
Tanpa mengatakan apa pun.
Farhan tertawa pelan, namun tawa itu terdengar pahit.
“Bahkan untuk berbicara dengan anakku sendiri aku tidak punya keberanian…” Ia mengangkat kepalanya lagi, menatap langit malam yang luas.
Entah sejak kapan hubungan mereka menjadi sejauh ini.
Mungkin sejak awal.
Sejak Arkana dibawa pulang ke rumah ini sebagai bayi kecil yang tidak pernah benar-benar diterima.
Farhan menghela napas panjang.
Namun satu hal yang ia sadari hari ini…
Arkana tidak lagi membutuhkan keluarga itu.
Anak itu sudah cukup kuat berdiri dengan kakinya sendiri.
Ia membangun perusahaan miliknya sendiri.
Ia memiliki kekuasaan.
Ia memiliki kemampuan.
Bahkan sekarang…
Ia memiliki seorang istri yang tampaknya benar-benar peduli padanya.
"Sepertinya Calista sudah melupakan Atharva dan menerima Arkana dihidupnya. " ujarnya, itu bagus.
Sebagai orangtua kandung, Farhan sebenarnya menyadari sekali bagaimana sifat buruk Atharva di luar sana. Tapi Farhan tidak bisa mengatakan dan menegurnya, ia masih takut kepada istrinya.
Takut karena sikapnya dulu yang dengan berani berpaling ke perempuan lain. Sedangkan dirumah ia sudah memiliki seorang wanita yang sudah ia peristri selama setahun, yang selalu senantiasa menunggu dan mendukungnya saat masa masa perusahaannya di ambang kehancuran.
"Aku memang brengsek, dan sifat brengsek ku turun ke anak bungsu ku. "
Inilah alasan mengapa Farhan benar-benar tidak berani menegur kelakuan Atharva, karena sifat alami anak itu turun darinya, dari darahnya.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭