Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Fondasi di Atas Sajadah
Keheningan yang sempat menggantung di aula administrasi itu perlahan mencair ketika pintu utama kembali terbuka. Langkah kaki yang teratur memecah ketegangan romantis yang samar di antara Cassian dan Aisya.
Imam Abdulaziz masuk bersama istrinya, Khadija—yang juga merupakan kerabat dekat sekaligus sosok ibu bagi Aisya di lembaga ini. Keduanya sempat tertegun melihat keberadaan Cassian yang tampil kasual tanpa pengawalan, berdiri tidak jauh dari meja kerja Aisya.
"Aisya, Tuan Noir," sapa Imam Abdulaziz, senyum ramahnya mengembang di balik janggut putihnya yang rapi. "Masha Allah, saya tidak mengira akan mendapati Anda di sini siang ini, Tuan Noir. Saya pikir seorang pria sibuk seperti Anda akan menyerahkan seluruh urusan dokumen kepada sekretaris Anda."
Cassian menundukkan kepalanya tipis, menyesuaikan auranya menjadi jauh lebih menghormati. "Selamat siang, Imam, Nyonya Khadija. Saya rasa ada beberapa hal yang jauh lebih baik jika saya selesaikan sendiri secara langsung."
Khadija melangkah mendekati Aisya, menyadari sisa-sisa ketegangan di sepasang mata bulat keponakannya itu. Dengan kepekaan seorang wanita paruh baya, Khadija menggenggam lembut tangan Aisya yang masih terasa dingin.
"Imam," panggil Khadija, menoleh pada suaminya dengan kode mata yang penuh arti. "Tuan Noir ini adalah mualaf baru kita. Dia memiliki dunia yang sangat bising di luar sana, namun dia memilih untuk meluangkan waktu ke sini. Bukankah lebih baik jika kita menemaninya belajar? Hari Kamis sudah dekat, dan seorang muslim tentu harus mengenal dasar bacaan kitabnya."
Imam Abdulaziz terkekeh pelan, mengangguk setuju. "Khadija benar. Tuan Noir, jika Anda tidak keberatan dan memiliki waktu tiga puluh menit saja, mari duduk di ruang tengah perpustakaan. Kita tidak belajar hal yang rumit, cukup mengenal huruf-huruf dasar Al-Qur'an dan bacaan minimal untuk menyempurnakan shalat Anda nanti."
Cassian melirik Aisya sekilas. Gadis itu masih berdiri terpaku, menatapnya dari balik niqab hitamnya dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa haru sekaligus sangsi yang mulai luruh. Cassian tahu, ini adalah ujian realitas terbesar untuk membuktikan kata-katanya tadi. Di dunia bisnis, ia bisa memalsukan data. Namun di sini, di hadapan kitab suci dan seorang ulama, ia harus menurunkan seluruh arogansi intelektualnya.
"Saya memiliki waktu, Imam. Silakan pimpin jalannya," jawab Cassian tenang tanpa ragu.
Beberapa menit kemudian, mereka berempat duduk melingkar di atas karpet tebal ruang privat perpustakaan Islamic Centre. Sebuah meja kayu pendek diletakkan di tengah-tengah mereka, dengan sebuah buku Iqro dasar dan mushaf Al-Qur'an terbuka di atasnya.
Cassian Noir—pria genius yang menguasai lima bahasa asing dan sanggup menghafal puluhan lembar kontrak korporat dalam sekali baca—kini harus duduk bersila dengan canggung, menatap barisan huruf hijaiyah yang terasa begitu asing di matanya. Tubuhnya yang besar membuat meja kayu kecil itu tampak kekecilan di hadapannya.
"Kita mulai dari huruf paling dasar, Tuan Noir. Ini namanya Alif, lalu Ba, dan Ta," Imam Abdulaziz menunjuk huruf demi huruf dengan stik kayu kecil, suaranya sabar dan menenangkan. "Cobalah tirukan pelafalan saya. Alif, Ba, Ta."
Cassian menarik napas dalam, memfokuskan seluruh kapasitas otaknya yang biasa digunakan untuk menganalisis pergerakan saham global. "Alif... Ba... Ta..." Suara baritonnya terdengar kaku, berat, dan sedikit janggal saat mencoba menirukan makhraj huruf Arab yang menuntut kelenturan lidah.
Dari posisinya yang duduk agak menjaga jarak di samping Khadija, Aisya memperhatikan setiap gerak-gerik Cassian. Jantungnya berdesir aneh. Melihat seorang Cassian Noir—pria yang biasanya mendikte ruang rapat dengan kata-kata tajam bernilai jutaan dolar—kini mengeja huruf-huruf dasar dengan kening berkerut serius, memicu rasa takjub yang mendalam di hatinya. Pria itu benar-benar berusaha keras. Tidak ada raut wajah meremehkan; yang ada hanyalah konsentrasi penuh dari seorang murid yang haus akan ilmu.
"Bagus sekali, Tuan Noir. Kecerdasan Anda memang luar biasa, Anda menangkap pelafalan dengan sangat cepat," puji Imam Abdulaziz murni tanpa sanjungan palsu. "Sekarang, mari kita coba mengeja kata pendek untuk bacaan surah Al-Fatihah. Ini adalah rukun sahnya shalat Anda."
Imam Abdulaziz menunjuk kata Al-Hamdu. "Silakan dicoba, pelan-pelan saja."
Cassian memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat huruf tersebut, mencoba merangkai struktur logika baru di dalam kepalanya. "Al... ham... du..." Ia menjeda, tenggorokannya terasa kaku saat mencoba melafalkan huruf ha yang bersih. "Alhamdu... lillahi... Rabbil... 'alamin."
"Masha Allah..." Khadija berbisik lirih penuh rasa syukur.
Aisya menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyuman manis yang perlahan terukir di balik niqabnya. Air mata haru yang sempat tertahan kini benar-benar tergenang di sudut matanya. Di balik segala keganjilan lini masa tiga hari yang gila ini, Aisya akhirnya melihat secercah cahaya ketulusan yang murni dari pria di hadapannya. Cassian mungkin masuk ke dalam dunianya dengan cara yang mengejutkan, namun pria itu tidak sedang mempermainkan Tuhan. Ia benar-benar sedang menundukkan egonya yang setinggi langit di atas lembaran kitab suci.
Pujian dari Imam Abdulaziz tidak membuat Cassian tinggi hati. Pria itu justru mengusap tenggorokannya yang terasa kering, menyadari bahwa melenturkan lidah untuk mengeja kalam Tuhan jauh lebih menguras konsentrasi ketimbang memenangkan debat di meja pengadilan bisnis.
Sesi belajar itu terus berlanjut tanpa jeda privasi. Di dalam tradisi yang dijaga ketat di lingkungan tersebut, membiarkan sepasang pria dan wanita yang bukan mahram—sekalipun berstatus sebagai calon pengantin—berdua-duaan di ruang tertutup adalah hal yang tabu. Kehadiran Imam Abdulaziz, Khadija, serta Paman Hamdan dan Bibi Salma yang juga mendampingi di ruang perpustakaan itu menjadi benteng pelindung sekaligus saksi dari sebuah komitmen yang mulai tumbuh.
"Belajar agama adalah proses seumur hidup, Tuan Noir," ujar Imam Abdulaziz sembari menutup buku panduan dasar dengan gerakan takzim. "Namun untuk modal ibadah Anda hari Kamis nanti, makhraj Anda sudah lebih dari cukup untuk ukuran seorang mualaf baru. Allah melihat proses dan kesungguhan hamba-Nya, bukan kesempurnaan instan."
"Terima kasih, Imam. Saya akan terus melatihnya di rumah," sahut Cassian, suaranya kembali stabil dan berwibawa, namun keangkuhannya yang biasa telah melunak.
Bibi Salma tersenyum lega dari tempat duduknya, lalu menyenggol pelan lengan Aisya yang sejak tadi duduk tenang di sampingnya. "Aisya, bukankah ada dokumen yang perlu kau tunjukkan pada Tuan Noir mengenai agenda hari Kamis? Mumpung ada Paman Hamdan dan Imam di sini, kita bisa sekalian menyamakan persepsi agar tidak ada kesalahpahaman."
Aisya mengangguk pelan. Dengan gerakan anggun, ia merengkuh sebuah map jepit plastik sederhana yang sejak pagi sudah disiapkannya. Ia menggeser map itu di atas meja kayu pendek, tepat ke hadapan Cassian, di bawah tatapan hangat Paman Hamdan dan Imam Abdulaziz.
Cassian menurunkan pandangannya pada kertas di dalam map. Tidak ada logo korporat, tidak ada cap firma hukum mahal. Hanya tulisan tangan Aisya yang rapi dan terstruktur di atas kertas bergaris.
"Itu adalah daftar walimah yang saya inginkan, Tuan Noir," suara Aisya terdengar jernih, tidak ada lagi nada kepanikan atau getaran kemarahan seperti semalam. "Seperti yang Anda katakan, saya membatasi tamunya. Hanya keluarga inti saya—Paman Hamdan dan Bibi Salma—serta para pengurus yayasan dan beberapa anak yatim dari komunitas imigran muslim yang biasa dibina di bawah bimbingan Imam di sini. Totalnya tidak lebih dari lima puluh orang."
Cassian membalik halaman berikutnya, matanya menyisir rincian katering sederhana khas menu rumahan dan dekorasi yang hanya memanfaatkan kain putih dan bunga hidup seadanya untuk aula tengah gedung ini.
"Menu makanannya sangat sederhana," komentar Cassian datar, menatap Aisya. "Kekayaan Noir bisa menyewa katering bintang lima terbaik di Kanada untuk datang ke sini dalam waktu dua puluh empat jam jika kau mau."
"Saya tahu Anda mampu membeli seluruh restoran di Toronto ini, Tuan Noir," potong Aisya lembut namun tegas, membuat Paman Hamdan tersenyum bangga melihat keteguhan keponakannya. "Namun, esensi dari walimah adalah keberkahan dan pengumuman pernikahan secara sah, bukan ajang pamer kemewahan. Keluarga dan komunitas di sini akan lebih bahagia dengan hidangan yang akrab di lidah mereka. Saya tidak ingin kesakralan hari Kamis nanti tertutup oleh kepalsuan duniawi."
Cassian menatap lekat-lekat barisan tulisan tangan itu, lalu beralih pada sepasang mata bulat Aisya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cassian merasa tidak perlu mendikte atau mengubah sebuah draf kesepakatan. Konsep kesederhanaan yang ditawarkan Aisya justru menjadi zirah terbaik untuk menyembunyikan pernikahan kilat ini dari radar mata-mata ayahnya, Alexander Noir.
"Baik," ucap Cassian mutlak, menutup map tersebut dengan satu gerakan tangan tegapnya. "Aku menyetujui seluruh poin ini tanpa revisi. Kevin akan mengirimkan dananya ke rekening yayasan siang ini juga agar timmu bisa mulai bergerak."
Cassian kemudian menatap Paman Hamdan dan Imam Abdulaziz secara bergantian dengan raut wajah serius. "Tuan Hamdan, Imam... hari Kamis pukul sembilan pagi, saya akan datang ke sini bersama sekretaris saya sebagai saksi. Saya harap segala sesuatunya bisa berjalan lancar."
"Insya Allah, Tuan Noir. Selama niatnya murni untuk ibadah, Allah akan mudahkan," sahut Paman Hamdan mantap, merestui garis waktu gila yang diajukan sang calon menantu.
Dengan disaksikan oleh keluarga dan sosok pemuka agama yang dihormatinya, Aisya menghela napas panjang. Rasa sangsi dan ketakutannya telah menguap, digantikan oleh rasa pasrah yang indah pada takdir. Lini masa tiga hari ini tidak lagi terasa seperti jebakan korporat, melainkan sebuah jalan tak terduga yang telah digariskan untuk mengubah hidupnya dan hidup pria angkuh di hadapannya.
semangat jg buat author nya 😍
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
tegas dan bertanggung jawab
lanjut thor😍