Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang Tertulis Di Kotak Pohon Keluarga
Keesokan harinya berjalan seperti biasanya, Alena tetap bekerja meskipun hatinya masih diliputi rasa khawatir akan pertanyaan Kai tadi malam, begitu juga dengan Senna dan Anne.
Akan tetapi mereka bertiga saling menguatkan seolah tidak terjadi apa-apa, dan pertanyaan Kai itu hanya sekedar seorang anak yang mulai sadar dengan posisi ayahnya.
"Percaya sama aku, Kai itu anak yang pengertian. Dia mungkin penasaran, tapi dia juga gak akan sengaja menyakiti hati mamanya sendiri," pungkas Senna.
"Bener banget, semoga saja Kai tidak keterusan mencari tahu siapa ayahnya," timpal Anne.
Sementara Alena hanya terdiam, entah kenapa untuk sekarang hatinya masih belum benar-benar tenang.
"Aku gak tahu Mbak, karena anak kecil seperti Kai, akan terus mencari tahu," ucap Alena bingung.
"Sudah percaya deh sama aku Kai gak mungkin seperti itu," pungkas Senna.
Percakapan mereka terhenti karena harus melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
Sementara di sekolah Kai hanya terdiam memandangi tugasnya yang masih belum terisi jawaban, anak itu sengaja tidak mengumpulkan, guru yang ada di kelaspun tidak menanyakan seolah memahami dengan keadaan anak itu.
Saat Kai sedang melamun tiba-tiba saja ia berpikir tentang perubahan yang dirasa oleh ibunya beberapa hari terakhir, sejak festival itu ada yang berubah dari ibunya. Namun Kai masih belum tahu apa sebabnya anak itu hanya bisa merasakan saja.
"Apa Mama menyembunyikan sesuatu dari Kai," pikir anak itu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sore itu angin pantai bertiup cukup kencang.
Langit berwarna jingga. Kai sedang memainkan layang-layangnya seorang diri. Sesekali anak itu berlari mengikuti arah angin.
Namun tatapannya jatuh, pada seseorang yang sudah beberapa Minggu ini melihat dirinya secara diam-diam.
Pria itu seperti biasa selalu duduk di bawa pohon kelapa seolah tempat itu menjadi tempat ternyaman saat dirinya melihat Kai dari kejauhan.
Seketika senyumnya melebar, seolah kagum dengan kepiawaian Kai yang begitu mahir memainkan layang-layang.
"Dia memang hebat," gumam Kael lirih.
Tatapannya mengikuti gerakan Kai yang begitu lincah memainkan layang-layang.
"Good job, Kai."
Entah kenapa perasaan kagum itu terus menerus memenuhi pikirannya.
Sementara Kai terdiam cukup lama, tanpa disadari anak itu mencuri-curi pandang ke arah Kael yang memandangnya penuh kagum. Biasanya ia akan pura-pura tidak melihat. Namun kali ini berbeda.
Perlahan bocah itu menggulung benang layang-layangnya. Lalu berjalan mendekat. Dari kejauhan Kael yang sedang melamun langsung menegang saat melihat Kai menghampirinya.
Jantung pria itu berdetak lebih cepat, bahkan saat ia dihadapan dengan puluhan musuh pun tidak seperti ini.
"Kai..."
Anak itu berhenti di depannya. Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Lalu Kai membuka suara.
"Om."
"Iya?"
"Boleh Kai tanya sesuatu?"
Entah kenapa tenggorokan Kael mendadak terasa kering, serasa sulit untuk mengeluarkan kata-kata berikutnya.
"Tentu."
Kai terlihat berpikir sejenak. Lalu bertanya dengan polos.
"Om kenapa sering lihat Kai?"
Deg.
Kael langsung membeku, semua jawaban yang ada di kepalanya mendadak menghilang. Mana mungkin ia menjawab, karena jawaban yang benar tidak mungkin ia katakan.
Karena aku ayahmu.
Bahkan jawaban itu hanya tertahan di dalam hatinya saja, mana mungkin ia berani mengungkapkan hal itu pada anak yang tidak bersalah.
"Aku cuma... kagum saja dengan kepiawaian kamu, karena jarang sekali ada anak kecil semahir kamu Nak," ucapnya akhirnya.
"Bukannya Om pernah mengatakan itu pada waktu kita pertama bertemu," sahut anak itu.
"Ya maka dari itu aku selalu melihatmu setiap hari," ungkap Kael.
"Tapi... suka bukan berarti harus terus mengikuti Kai ke mana-mana, kan Om?" ujar Kai polos.
Kael menelan ludahnya kasar. Tenggorokannya terasa tercekat, sementara tatapan bening anak kecil di hadapannya seolah mampu menembus semua alasan yang selama ini ia susun.
"Om tidak hanya sekedar suka kan?" tanya anak itu kembali.
Kael terdiam beberapa detik hingga akhirnya. "Menurut mu?"
Kai mulai terlihat semakin curiga, karena menurutnya jawaban itu sungguh tidak masuk akal.
Namun Kai tidak memaksa anak itu justru duduk di samping Kael sambil menatap laut yang mulai berubah warna keemasan.
"Om," panggilnya pelan.
"Hem?"
"Kalau Om punya anak?"
Entah kenapa pertanyaan itu membuat tubuh Kael menegang seketika, anak kecil itu seolah ingin menguji mentalnya.
"Apakah Om akan menjaga anak itu? Apakah Om akan menemani hari-harinya?"
Tubuh Kael semakin kaku mulutnya seolah keluh untuk sekedar menjawab semua pertanyaan kecil itu.
"Jangan seperti Kai ya Om. Bahkan Kai sendiri tidak pernah tahu bagaimana wajah ayah Kai, bahkan ada tugas dari sekolah pun Kai tidak tahu harus menyebut nama ayah Kai seperti apa? Karena Kai memang tidak tahu," ujar anak itu mencoba untuk kuat meskipun dalam hatinya ingin menangis seperti anak-anak yang lain.
Melihat pengakuan terdalam dari anaknya, rasanya Kael ingin memeluk erat tubuh Kai, ingin mengatakan pada dunia kalau dia anaknya, tapi sayangnya ia tidak bisa mengucapkan itu, dan rasa itu lebih menyakitkan dari pada pengkhianatan apapun yang pernah Kael alami.
Rahang Kael mengeras. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah laut.
Untuk beberapa detik pria itu tidak mampu menjawab. Bukan karena tidak punya jawaban.Tetapi karena semua jawaban yang ingin ia berikan tidak berhak ia ucapkan saat ini.
"Ya, pastinya Om akan menjaga anak itu," jawab Kael terdengar ragu.
Kai mengangguk kecil sambil menatap pria itu, cara bicaranya bahkan ekspresi wajahnya seolah bisa ia simpulkan.
"Baiklah, kalau begitu Kai pulang dulu ya Om," ucap anak itu tegas.
"Iya," sahut Kael cepat. Biasanya pria itu ingin berlama-lama dengan Kai namun untuk hari ini, kenapa ia justru takut, bukan dengan orangnya melainkan dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak mampu ia ungkapkan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Malam harinya.
Kai duduk sendirian di kamarnya. Tugas pohon keluarga masih terbuka di atas meja kecil. Kotak bertuliskan "Ayah" masih kosong.
Kosong sejak kemarin ia diberikan tugas oleh gurunya. Anak itu menggigit ujung pensilnya pelan.
Pikirannya melayang pada banyak hal. Pada pertanyaan yang belum terjawab oleh Alena. Pada wajah Kael yang begitu mirip dengannya. Bahkan percakapannya di pantai sore tadi, seolah menyimpulkan semuanya.
Semua potongan itu berputar-putar di kepalanya, bahkan mamanya selalu bersikap aneh setiap kali Kael muncul, hal itu seolah menjadi jawaban tersendiri untuk anak kecil itu.
"Tidak mungkin Om itu hanya sekedar suka denganku," gumam Kai lirih, entah kenapa pikirannya berucap seperti itu.
Lalu perlahan... Kai menurunkan pensilnya.
Dengan ragu, bahkan sangat hati-hati. Ia mulai menulis satu nama kecil di kotak kosong tersebut.
Kael.
Bukan karena ia memiliki bukti juga bukan karena seseorang memberitahunya tapi semakin banyak hal yang ia perhatikan, semakin sulit baginya mengabaikan nama itu.
Nama yang selalu muncul di kepalanya setiap kali memikirkan sosok ayah yang tidak pernah ia kenal.
Dan tepat saat itu suara Alena memanggil.
"Kai?"
Suara ibunya terdengar di ambang pintu. Anak itu spontan menoleh. Sedangkan Alena yang baru masuk ke kamar mendadak membeku.
Tatapannya jatuh pada lembar tugas di atas meja yang selama ini kosong akan tetapi kotak itu sekarang tidak kosong lagi dan sudah terisi dengan sebuah nama yang ia hindari.
Perlahan wajah Alena langsung pucat. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Sedangkan Kai hanya menatap ibunya polos.
Tanpa tahu bahwa satu nama yang ia tulis dengan pensil itu... baru saja mengguncang dunia Alena.
Bersambung ...
Selamat Pagi semoga suka ya.