NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Hening kembali menyelimuti beranda rumah setelah pembahasan mengenai surat dari Pengadilan Agama selesai. Di tengah suasana yang masih terasa berat namun mulai diredam oleh ketegaran hati Ani, tiba-tiba ponsel sederhana di saku bajunya bergetar pelan, disusul nada dering lembut yang memecah keheningan.

Ani mengangkat ponsel itu dengan santai, namun seketika tangannya terhenti di udara, matanya membelalak sedikit saat membaca nama yang terpampang jelas di layar: Damar.

Jantungnya berdebar kencang, bukan karena rasa takut, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa. Nama itu membawa serta ribuan kenangan yang sudah lama tersimpan rapi di sudut ingatannya, kenangan masa-masa indah saat masih duduk di bangku kuliah, saat hidup terasa sederhana, cerah, dan belum ternoda oleh kepahitan rumah tangga.

Damar adalah sahabat karibnya sejak tahun pertama kuliah. Laki-laki itu selalu ada, setia menemani, menjadi tempat berbagi cerita, tawa, dan keluh kesah. Damar adalah sosok yang cerdas, tekun, dan kini telah menjadi pemimpin perusahaan yang cukup sukses di kota besar. Dulu, tepat sebelum Ani menikah, Damar pernah datang padanya dengan tawaran besar tawaran bekerja di perusahaannya dengan posisi dan gaji yang sangat menjanjikan. Saat itu, Damar percaya betul pada kemampuan dan kecerdasan Ani.

Namun, Ani menolak tawaran itu. Alasannya sederhana namun penuh pengorbanan: ia akan segera menikah dengan Dimas, dan ia berniat sepenuh hati menjadi istri yang mengurus rumah tangga. Tapi ada satu hal lagi yang teringat jelas di benak Ani saat ini, sebuah peristiwa yang menjadi awal mula jejak langkah Dimas: saat itu, Dimas masih mengangguran, belum punya pekerjaan tetap, dan bingung mencari nafkah. Karena rasa cinta dan ingin membantu, Ani pun memberanikan diri memohon kepada Damar. Ia meminta Damar menerima Dimas bekerja di sana.

"Damar, tolonglah terima Mas Dimas ya... Dia sedang belum ada pekerjaan, dan aku ingin sekali kami bisa mandiri. Kamu kan sahabatku, aku percaya sama kamu," begitu katanya dulu.

Damar yang tidak pernah bisa menolak permintaan Ani sahabat yang sangat ia hargai . akhirnya mengangguk setuju. Meski Damar tahu betul sifat Dimas yang sedikit sombong dan kurang teliti, ia tetap menerimanya demi kebahagiaan Ani. Di sanalah Dimas kemudian bekerja, perlahan naik jabatan, mapan, dan akhirnya... menjadi laki-laki yang lupa diri seperti sekarang.

Semua kenangan itu berputar cepat di kepala Ani hanya dalam hitungan detik. Ibu yang melihat wajah anaknya berubah bingung, bertanya pelan, "Siapa yang menelepon, Nak?"

"Damar, Bu... Sahabat Ani waktu kuliah. Dulu Mas Dimas bisa kerja di kantornya karena Ani yang minta sama dia," jawab Ani lirih. Ia menghela napas panjang, lalu menatap layar yang masih berkedip itu. Rasa bersalah yang selama ini tersembunyi kini kembali menyeruak. Kalau saja dulu aku tidak memintanya, mungkin Mas Dimas tidak akan bertemu Rina di kantor itu... Mungkin semuanya akan berbeda, batin Ani bergumam sedih.

Namun panggilan itu terus berdering. Ani sadar, ia tidak mungkin lari selamanya dari semua hal yang berkaitan dengan masa lalu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.

"Halo... Assalamu'alaikum," ucap Ani pelan, suaranya terdengar agak kaku.

Dari seberang sana, terdengar suara berat dan akrab yang langsung menyapa, suara yang sama persis seperti dulu, namun kini terdengar lebih dewasa dan penuh perhatian.

"Wa'alaikumsalam, Ani... Alhamdulillah, akhirnya kamu angkat juga. Apa kabar kamu, Ni?"

Suara Damar terdengar lembut, namun ada nada cemas yang terselip di dalamnya. Ani menelan ludah, berusaha menenangkan diri.

"Alhamdulillah... saya baik, Damar. Kamu sendiri apa kabar? Kok tiba-tiba telepon? Sudah lama sekali kita tidak saling kabari," jawab Ani, berusaha terdengar biasa saja, meski hatinya bergemuruh hebat.

Ada jeda sejenak di seberang sana, sebelum suara Damar terdengar lagi, kali ini lebih pelan dan serius.

"Ani... Saya sudah tahu semuanya. Maaf kalau saya mengganggu, tapi saya harus menghubungimu. Saya tidak tega diam saja setelah mengetahui apa yang terjadi."

Dada Ani terasa sesak. Ia tahu persis apa yang dimaksud Damar.

"Kamu tahu soal apa, Damar?" tanyanya pura-pura tidak tahu, meski ia sudah menduga jawabannya.

"Tentang Dimas, Ni... Tentang kepergianmu, tentang perceraian ini... tentang wanita itu, Rina," jawab Damar terus terang, tanpa basa-basi. " sebelum aku tau tentang hubungan mereka . Aku sudah menaikkan jabatan di , aku dekat dengan menaikkan jabatan Dimas kamu akan hidup berkecukupan . Maaf Ani . aku benar - benar gak tau , kalau aku tahu kamu dalam proses perceraian aku tidak akan menaikkan jabatan Dimas ."

Suara Damar terdengar berat dan penuh penyesalan.

"Kalau saja dulu saya tidak menerima dia bekerja di sini... Kalau saja dulu saya lebih tegas menolak permintaanmu, mungkin dia tidak akan punya kesempatan dan kemapanan untuk berbuat macam-macam. Semua ini terjadi karena saya juga ikut andil. Saya yang memberinya tempat, saya yang memberinya jabatan, dan akhirnya dia justru menggunakan semua itu untuk menyakitimu. Ani, saya merasa bersalah sekali..."

Air mata Ani kembali menggenang, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa haru. Di saat hampir semua orang memandangnya sebelah mata, atau sekadar menggunjingkan nasibnya, ada Damar—sahabat lamanya—yang justru menyalahkan dirinya sendiri, yang merasa bersalah meski sama sekali tidak bersalah.

"Jangan bicara begitu, Damar..." potong Ani pelan, suaranya bergetar namun tegas. "Kamu tidak salah sama sekali. Justru aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Dulu aku memaksamu menerima orang yang tidak berharga seperti dia. Kamu sudah sangat baik sama kami, kamu sudah bantu kami banyak hal. Kalau Mas Dimas berbuat salah, itu sepenuhnya kesalahan dia, kesalahan sifat dan hatinya yang buruk. Jangan pernah kamu merasa bersalah ya... Kamu tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua penderitaanku."

Damar terdiam sejenak, lalu terdengar helaan napas panjang dari seberang sana.

"Ani, kamu memang selalu begitu... Selalu memaafkan orang lain, selalu menyalahkan diri sendiri atau menerima keadaan dengan ikhlas. Tapi saya tahu betul seberapa sakitnya hatimu sekarang. Saya tahu betapa besar pengorbananmu dulu buat dia."

Suara Damar berubah menjadi lebih serius dan penuh tekad.

"Dengar saya, Ni. Saya meneleponmu bukan cuma untuk minta maaf atau sekadar menanyakan kabar. Saya tahu kamu sekarang sedang di kampung halaman orang tuamu. Saya juga dengar kamu sedang bekerja di toko roti... Ani, saya tidak mau melihatmu berjuang sendirian seperti itu, bekerja keras di bawah terik matahari padahal kamu punya kemampuan jauh lebih hebat dari itu."

Ani hendak menyela, tapi Damar melanjutkan ucapannya.

"Dulu saya pernah menawari kamu bekerja di sini, kan? Dulu kamu tolak karena mau mengurus rumah tangga dan mendukung karir Dimas. Sekarang... tawaran itu masih berlaku, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Perusahaan saya sedang berkembang pesat, dan saya butuh orang yang bisa dipercaya, orang yang cerdas, jujur, dan bertanggung jawab. Saya butuh kamu, Ani. Datanglah kembali ke sini. Bekerjalah sama saya. Kamu berhak mendapatkan tempat yang lebih pantas, penghasilan yang layak, dan masa depan yang cerah. Jangan buang bakat dan kemampuanmu hanya karena nasib buruk menimpamu."

Kalimat itu menghantam hati Ani dengan kuat. Tawaran yang sama persis seperti bertahun-tahun lalu, namun dalam situasi yang berbeda, di saat yang paling kelam dalam hidupnya. Dulu ia menolak demi Dimas, dan Dimas lah yang menikmati hasilnya. Sekarang, tawaran itu kembali datang, ditujukan khusus untuk dirinya, untuk membangun masa depannya sendiri.

"Pikirkan baik-baik ya, Ani. Kamu sahabat terbaik yang pernah saya punya. Kebahagiaan dan kesuksesanmu itu penting buat saya. Jangan merasa berhutang budi atau apa pun. Ini murni karena saya tahu kemampuanmu. Pintu saya selalu terbuka lebar buat kamu, kapan pun kamu mau datang. Dan ingat satu hal... Dimas yang rugi sudah melepaskanmu. Dia tidak tahu apa yang dia buang. Tapi saya tahu, saya selalu tahu betapa berharganya kamu."

Panggilan itu berakhir dengan pesan Damar yang menenangkan, memintanya berhati-hati dan berjanji akan selalu ada jika Ani butuh bantuan apa pun.

Ani menurunkan ponselnya perlahan, menatap ke depan dengan pandangan kosong namun pikirannya berputar kencang. Ibu yang mendengar sebagian percakapan itu, menggenggam tangan anaknya erat.

"Dia menawarimu kerja lagi ya, Nak? Di perusahaannya yang dulu?" tanya Ibu lembut.

Ani mengangguk pelan, lalu menatap Ibu dengan mata yang mulai berbinar bercampur ragu.

"Iya, Bu... Damar bilang dia butuh saya. Dia bilang saya berhak dapat yang lebih baik. Tapi Bu... Dulu saya tolak tawaran itu demi Dimas, dan malah saya yang minta Dimas diterima. Sekarang rasanya... aneh saja kalau saya datang ke sana, ke tempat di mana Dimas pernah bekerja dan bersenang-senang."

Ibu tersenyum bijak, mengelus punggung tangan Ani.

"Kenapa harus merasa begitu, Nak? Tempat itu bukan milik Dimas, bukan milik masa lalumu. Tempat itu milik Damar, dan tawaran itu ditujukan buat Ani, buat anak Ibu yang cerdas dan hebat. Dulu kamu korbankan dirimu buat dia, tapi apa balasannya? Dia malah menyia-nyiakanmu. Sekarang saatnya kamu pikirkan dirimu sendiri. Kamu punya kemampuan, Nak. Kamu tidak harus selamanya berada di sini hanya karena takut sama bayang-bayang masa lalu. Kamu berhak terbang tinggi, jauh lebih tinggi daripada Dimas yang sombong itu."

Kata-kata Ibu menembus jauh ke dalam hati Ani. Di satu sisi, ia merasa damai dan bahagia bekerja di toko roti Bu Ratna. Namun di sisi lain, suara hatinya berbisik bahwa mungkin... ini adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan untuk mengangkat derajatnya kembali, untuk membuktikan kepada semua orang, dan terutama kepada dirinya sendiri, bahwa ia bisa jauh lebih hebat dan sukses tanpa Dimas di sisinya.

Di hadapannya kini terbentang dua pilihan: tetap tinggal di tempat yang aman dan damai ini, atau kembali ke kota besar, menantang diri sendiri, dan meraih kesuksesan yang sesungguhnya layak ia dapatkan. Dan di tengah kebimbangannya itu, Ani sadar satu hal yang pasti: Damar, sahabat setianya itu, telah menjadi malaikat tak bersayap yang datang di saat yang tepat, mengulurkan tangan dan membuktikan bahwa meski ia kehilangan cinta suaminya, ia tidak kehilangan segalanya. Masih ada orang yang percaya, menghargai, dan mendukungnya sepenuh hati.

bersambung,,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!