Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Kabar Bao Hu
Gu Tian mengusap permukaan logam yang kasar itu dengan pandangan melankolis. "Dulu guruku mengatakannya saat memberikan senjata ini padaku. Pedang ini ditempa dari sisa-sisa pecahan bilah Pedang Iblis Surgawi kuno yang ia temukan di sebuah reruntuhan terlarang. Tapi yah, seperti yang kau lihat... setelah pertarungan melawan Yan Shou, pedang ini sudah mencapai batasnya. Retakannya terlalu parah, mungkin sudah tidak layak lagi untuk digunakan dalam pertarungan sungguhan."
Gu Tian membalikkan badannya, mulai berjalan menjauh menyusuri jalan setapak. "Oh, iya, satu hal lagi. Teman berbadan besarmu... siapa namanya? Bao Hu. Kudengar dari tabib dia sudah sadarkan diri hari ini. Aku pergi dulu, jenguklah dia."
Mendengar kabar tentang Bao Hu, Xiao Chen tidak membuang waktu. Ia segera melangkah cepat menuju ke ruang perawatan tabib di bagian belakang sekte.
Namun, begitu ia menggeser pintu kayu ruang perawatan, atmosfer di dalam ruangan itu terasa begitu berat, dingin, dan sunyi.
Tabib yang berjaga di sana menarik Xiao Chen sedikit menjauh, memberikan penjelasan dengan suara yang sangat pelan dan nada yang sarat akan rasa prihatin.
Kedua lengan Bao Hu mengalami kerusakan struktural yang teramat serius. Yang lebih mengerikan, seluruh jalur meridian di kedua tangannya telah retak dan hancur berantakan akibat dipaksa menahan hantaman frontal dari belati Yan Shou berkali-kali sepanjang malam.
Kesimpulan dari tabib itu bagai petir di siang bolong bagi Xiao Chen: Ada kemungkinan yang sangat besar bahwa Bao Hu tidak akan pernah bisa mengalirkan Qi atau bertarung secara normal lagi seumur hidupnya. Bagi seorang kultivator, ini adalah hukuman yang lebih kejam daripada kematian.
Xiao Chen berjalan pelan mendekati ranjang tidur Bao Hu. Pemuda bertubuh besar itu sedang bersandar pada dinding, menatap lurus ke arah jendela yang basah oleh hujan.
"Hahaha! Xiao Chen, kau sudah datang?" Bao Hu tiba-tiba tertawa keras begitu melihat kehadiran sahabatnya. Namun, tawa itu terdengar begitu hambar, kosong, dan dipaksakan. "Kau tahu? Selama ini aku selalu berpikir... dengan tubuh yang besar, otot yang tebal, dan modal keberanian saja sudah lebih dari cukup untuk membuatku menjadi pendekar yang kuat... tapi ternyata tidak, ya? Di hadapan monster sungguhan, aku tidak lebih dari sekadar karung pasir yang tidak berguna."
Xiao Chen membeku di tempatnya berdiri. Pada detik itu, ia menyadari sebuah kenyataan yang teramat pahit: tidak semua luka di dunia ini bisa disembuhkan oleh pil mujarab atau keahlian seorang tabib.
Beberapa luka luar mungkin bisa menutup, namun luka yang merobek jalur meridian dan menghancurkan harga diri serta masa depan seseorang... akan membekas selamanya di dalam jiwa.
Bao Hu mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap ke arah langit-langit dengan mata yang berkaca-kaca, mencoba menahan emosinya agar tidak tumpah di depan Xiao Chen.
"Bisakah... bisakah kau memberiku sedikit ruang untuk sendiri saat ini, Xiao Chen?" suara Bao Hu bergetar, kepalan tangannya yang terbalut kain kasa tampak gemetar hebat di atas selimut.
"Baiklah... istirahatlah yang cukup, Bao Hu. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu," ucap Xiao Chen dengan suara parau. Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan sedih dan sesak yang teramat sangat, menggeser pintu kayu itu hingga tertutup rapat.
Namun, Xiao Chen tidak benar-benar pergi. Melalui celah kecil di pintu kayu yang tidak tertutup sempurna, ia menoleh ke dalam.
Begitu mengira dirinya benar-benar sendirian, pertahanan mental Bao Hu runtuh sepenuhnya.
Pemuda berbadan besar yang biasanya selalu tertawa paling keras itu kini menutupi wajahnya dengan sebelah tangan, menangis sesenggukan dalam diam tanpa suara.
Tubuh besarnya bergetar hebat saat ia mati-matian mencoba mengangkat lengan kirinya yang terasa teramat berat, kaku, dan sama sekali tidak bisa digerakkan lagi.
Kreeet...