NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: PEMBERSIHAN AKAR ULAR

PEMBERSIHAN AKAR ULAR

​Ancaman boikot dari Pak Baskoro dan para direksi lama yang baru saja dipecat ternyata bukan sekadar gertakan sambal. Tepat pukul delapan malam, suasana di lantai dasar kantor pusat Snack Pratama mendadak riuh oleh aksi mogok kerja massal. Puluhan manajer divisi, staf logistik, hingga tim administrasi finansial—yang semuanya merupakan antek-antek bentukan Lista dan Aris—berkumpul di lobi utama.

​Mereka dengan sengaja mematikan sebagian komputer kerja, menolak memproses dokumen pengiriman barang ke vendor, dan memblokir akses komunikasi internal.

​"Biar wanita amatiran di atas itu tahu rasa! Kalau kita tidak bergerak, operasional pabrik dan distribusi barang akan lumpuh total dalam waktu dua puluh empat jam!" seru Doni, salah satu kepala logistik yang paling vokal, sambil bersedekah di depan barisan karyawan yang terhasut.

​Sementara itu, di dalam ruang kerja Direktur Utama di lantai paling atas, suasana justru berbanding terbalik. Keheningan yang dingin menyelimuti ruangan bernuansa minimalis tersebut. Amira berdiri tegap di balik jendela kaca besar, menatap ke arah halaman parkir di bawah dengan segelas air putih hangat di tangan kirinya. Riasan tegas dengan lipstik merah menyala yang dipakainya siang tadi masih terpoles sempurna, memancarkan aura ketegaran yang tak tergoyahkan.

​"Ibu Amira, laporan dari lantai bawah semakin memburuk," Pak Sanusi melangkah masuk dengan wajah yang sedikit tegang, memegang sebuah komputer jinjing. "Tim IT lama yang setia pada Lista baru saja mengganti seluruh kata sandi enkripsi server pusat (master server password). Mereka mengancam akan menghapus seluruh basis data pelanggan dan vendor jika Ibu tidak membatalkan surat pemecatan jajaran direksi."

​Amira tidak membalikkan badannya. Ia hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin—sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa para pengkhianat itu baru saja melompat masuk ke dalam perangkap yang sudah ia siapkan.

​"Mereka pikir mereka sedang memegang kendali, Pak Sanusi?" Amira berbalik perlahan, meletakkan gelasnya ke atas meja kerja. Ia meraba perutnya yang mulai berisikan kehidupan baru dengan kelembutan seorang ibu, namun tatapan matanya tetap setajam silet. "Mereka lupa, sebelum Lista menduduki divisi administrasi, almarhum Ayah saya adalah orang yang merancang seluruh arsitektur jaringan digital perusahaan ini bersama tim ahli dari Surabaya."

​Amira berjalan mendekati meja kerjanya, lalu menekan sebuah tombol interkom di sudut meja. "Masuk, Tim."

​Klek.

​Pintu samping ruang kerja terbuka. Lima orang pemuda berpakaian kasual dengan jaket hitam melangkah masuk dengan langkah yang sigap. Mereka adalah tim ahli forensik digital dan keamanan siber independen yang sengaja disewa Amira dari luar kota sejak tiga hari lalu, dipimpin oleh seorang ahli sistem informasi senior.

​"Bagaimana, sistemnya sudah siap?" tanya Amira langsung tanpa basa-basi.

​"Sudah seratus persen siap, Ibu Amira," jawab sang ketua tim IT baru sambil membuka komputer jinjing khusus miliknya yang langsung terhubung ke satelit penyedia jaringan cadangan kantor. "Sistem back-up bayangan (shadow server) yang kami pasang secara rahasia kemarin malam telah menyalin seluruh data penting perusahaan. Jadi, silakan tim IT lama menghapus server utama mereka, karena menit ini juga kita bisa melakukan migrasi total tanpa kehilangan satu bita data pun."

​Amira mengangguk puas. "Bagus. Lakukan hard reset sekarang juga. Putus seluruh hak akses, akun e-mail, hingga pengenal digital milik setiap karyawan yang terlibat dalam aksi boikot di bawah. Bersihkan akar-akar ular itu sampai ke dasar."

​"Baik, Ibu!"

​Jemari tim IT baru itu bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik. Dalam hitungan detik, layar monitor besar di ruang kerja Amira menampilkan grafik perubahan sistem. Satu per satu lampu indikator berwarna merah menyala, menandakan pemutusan akses massal bagi puluhan komputer di lantai bawah.

​Di lobi lantai dasar, suasana riuh mendadak berubah menjadi kepanikan yang mencekam.

​Bzzz... Klik!

​Seluruh layar ponsel genggam milik para karyawan yang sedang melakukan aksi boikot tiba-tiba menampilkan notifikasi pemutusan hubungan kerja resmi secara massal dari sistem HRD pusat yang telah diambil alih Amira. Di saat yang sama, layar komputer kerja di ruangan administrasi berubah menjadi hitam, menampilkan satu baris kalimat tegas dengan logo baru Shinta Group:

​"AKSES ANDA TELAH DICABUT SECARA PERMANEN ATAS TINDAKAN SABOTASE KORPORASI. SILAKAN KELUAR DARI GEDUNG INI DALAM WAKTU SEPULUH MENIT, ATAU PETUGAS KEAMANAN AKAN MENYERET ANDA ATAS TUDUHAN TINDAK PIDANA."

​Doni dan para manajer lama ternganga, wajah mereka seketika pucat pasi bagai ditampar kenyataan pahit. Rencana boikot yang mereka gadang-gadang akan membuat Amira berlutut memohon, justru dihancurkan total dalam waktu kurang dari lima menit oleh strategi satu malam sang Ratu baru.

​Pintu lobi utama mendadak terbuka kasar. Dua puluh orang petugas keamanan berseragam lengkap didampingi oleh aparat kepolisian sektor setempat melangkah masuk dengan barisan barikade yang ketat, langsung mengurung dan menggiring paksa para pengunjuk rasa keluar dari dalam gedung menuju pintu gerbang.

​Dari atas balkon lantai dua, Amira berdiri dengan anggun, menyaksikan pembersihan massal para antek pelakor itu dengan tatapan mata yang penuh kemenangan mutlak.

​Skenario Penasaran Akhir Bab:

Keesokan paginya, kantor pusat Shinta Group sudah kembali beroperasi dengan normal di bawah kendali tim baru yang jauh lebih bersih dan profesional. Namun, saat Amira baru saja duduk di kursi kerjanya untuk menandatangani dokumen ekspansi, Pak Sanusi masuk dengan membawa selembar surat panggilan resmi dari pengadilan negeri: mengabarkan bahwa sidang putusan pidana untuk Lista atas kasus pemalsuan dokumen perbankan raksasa akan digelar besok pagi.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!