Steve Lim tak pernah menyangka dirinya akan dijebak oleh oknum pemerintah yang bekerja sama dengan organisasi mafia yang dipimpinnya, mereka ingin menjebloskan Steve Lim ke penjara dengan dugaan pemerasan serta pencucian uang atas tanah di wilayah Makau yang terkenal dengan pusat industri kasino globalnya. Dimana Makau dijuluki Las Vegas dari Timur.
Pada saat dia mencoba menyelamatkan dirinya dari jebakan para oknum pemerintah, tak sengaja dia bertemu dengan seorang gadis bernama Ruolan Tan yang membantunya bersembunyi dari kejaran musuhnya.
Bagaimana kisah mereka berdua selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 KEDATANGAN TAK TEEDUGA
Steve Lim menarik Ruolan Tan untuk berlari menjauh dari kafe. "Turun, Ruolan! Aku tidak tahu siapa yang menembak," katanya dengan suara yang keras.
Ruolan Tan membungkuk dan berlari di samping Steve Lim. "Apa yang terjadi, Steve? Siapa yang menembak?" tanya Ruolan Tan, suaranya bergetar.
Steve Lim memandang sekeliling, mencari sumber tembakan. "Aku tidak tahu, tapi aku pikir kita harus pergi ke mobil. Aku akan menghubungi tim kita untuk meningkatkan keamanan," katanya dengan suara yang keras.
Mereka berdua berlari ke arah mobil, sambil terus memandang sekeliling. Saat mereka tiba di mobil, Steve Lim membuka pintu dan membantu Ruolan Tan masuk.
"Ayo, masuk!" katanya dengan suara yang keras, sambil memandang sekeliling.
Ruolan Tan masuk ke dalam mobil dan Steve Lim menutup pintu. "Apa yang terjadi, Steve? Siapa yang menembak?" tanya Ruolan Tan, suaranya masih bergetar.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku tidak tahu, tapi aku pikir kita harus pergi dari sini. Aku akan menghubungi tim kita untuk meningkatkan keamanan," katanya dengan suara yang lembut, sambil memulai mobil.
Tiba-tiba, seseorang mengetuk jendela mobil. Steve Lim memandang ke arah jendela dan matanya melebar dengan kejutan.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Steve Lim, suaranya keras.
Orang itu memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku ingin membantu kalian. Aku tahu siapa yang menembak," katanya dengan suara yang lembut.
Steve Lim memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?" tanya Steve Lim, suaranya masih keras.
Orang itu memandang Steve Lim dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku... aku adalah orang yang sama yang kamu temui di kafe. Aku ingin membantu kalian untuk mengungkap kebenaran tentang kematian Wong," katanya dengan suara yang lembut.
Ruolan Tan memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak percaya. Aku pikir kita harus pergi dari sini, Steve," katanya dengan suara yang lembut.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku setuju, Ruolan. Aku tidak percaya kita bisa mempercayai orang ini," katanya dengan suara yang lembut, sambil memulai mobil.
Tiba-tiba, orang itu menarik pistol dan menodongkannya ke arah Steve Lim. "Aku tidak akan membiarkan kalian pergi," katanya dengan suara yang keras.
Steve Lim memandang pistol yang diarahkan ke arahnya dengan mata yang penuh keseriusan. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Steve Lim, suaranya keras.
Orang itu memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku ingin kalian mendengarkan aku. Aku tahu siapa yang menembak, dan aku tahu siapa yang membunuh Wong," katanya dengan suara yang lembut.
Ruolan Tan memandang orang itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak percaya. Aku orang itu. Aku pikir kita harus pergi dari sini, Steve," katanya dengan suara yang lembut.
Steve Lim memandang pistol itu dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku tidak akan membiarkan kamu pergi," katanya dengan suara yang keras, sambil mencoba untuk mengambil pistol itu.
Orang itu memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku tidak ingin melakukan ini, Steve. Aku hanya ingin membantu kalian," katanya dengan suara yang lembut, sambil menarik pistol itu kembali.
Tiba-tiba, Ruolan Tan membuka pintu mobil dan berlari keluar. "Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Steve!" katanya dengan suara yang keras, sambil berlari menjauh dari mobil.
Orang itu memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku tidak ingin menyakiti kalian. Aku hanya ingin membantu kalian," katanya dengan suara yang lembut, sambil menurunkan pistol itu.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh kecemasan. "Ruolan, kembali ke mobil!" katanya dengan suara yang keras, sambil mencoba untuk mengejar Ruolan Tan.
Orang itu memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku tidak akan membiarkan kalian pergi. Aku akan membantu kalian, tapi kalian harus mendengarkan aku," katanya dengan suara yang lembut, sambil menembakkan pistol itu ke udara.
Steve Lim dan Ruolan Tan berlari menjauh dari mobil, sementara orang itu menembakkan pistolnya ke udara. Suara tembakan itu membuat orang-orang di sekitarnya berlari mencari perlindungan.
"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi!" orang itu berteriak, sambil mengejar Steve Lim dan Ruolan Tan.
Steve Lim dan Ruolan Tan berlari ke dalam sebuah gedung yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Mereka berdua berlari ke atas tangga, sambil terus memandang ke belakang untuk melihat apakah orang itu masih mengejar mereka.
"Apa yang terjadi, Steve?" Ruolan Tan bertanya, suaranya bergetar karena kelelatan.
"Aku tidak tahu, tapi aku pikir kita harus pergi dari sini," Steve Lim menjawab, suaranya keras.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara tembakan lagi. Mereka berdua berlari ke dalam sebuah ruangan dan menutup pintu di belakang mereka.
"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi!" orang itu berteriak, sambil mencoba membuka pintu.
Steve Lim dan Ruolan Tan memandang sekeliling ruangan, mencari cara untuk keluar. Mereka melihat sebuah jendela yang terbuka dan berlari ke arahnya.
"Ayo, Ruolan!" Steve Lim berteriak, sambil membantu Ruolan Tan keluar dari jendela.
Mereka berdua berlari ke atap gedung dan melihat ke bawah. Mereka berada di gedung yang sangat tinggi dan tidak ada cara untuk turun.
"Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan, Steve," Ruolan Tan berkata, suaranya bergetar karena ketakutan.
Steve Lim memandang sekeliling, mencari cara untuk keluar. Tiba-tiba, dia melihat sebuah helikopter yang terbang di atas mereka.
"Aku punya ide, Ruolan," Steve Lim berkata, suaranya keras, sambil menarik Ruolan Tan ke arah helikopter.
Steve Lim memandang helikopter itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak tahu, Ruolan," katanya dengan suara yang lembut. "Tapi kita harus mencoba."
Ruolan Tan memandang helikopter itu dengan mata yang penuh ketakutan. "Aku tidak tahu, Steve. Apa jika itu musuh?" tanya Ruolan Tan, suaranya bergetar.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Acu tidak tahu, Ruolan. Tapi kita harus mencoba. Aku tidak ingin kita terjebak di sini," katanya dengan suara yang keras.
Helikopter itu mulai turun ke atap gedung, dan Steve Lim serta Ruolan Tan berlari ke arahnya. Saat mereka mendekati helikopter, pintu terbuka dan seseorang melompat keluar.
"Steve Lim, aku di sini untuk membantumu," katanya dengan suara yang keras.
Steve Lim memandang orang itu dengan mata yang penuh kejutan. "Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Steve Lim, suaranya keras.
Orang itu adalah Vincent, seorang pengusaha kaya yang pernah membantu Steve Lim dalam beberapa misi. "Aku di sini untuk membantumu, Steve. Aku tahu siapa yang mengejarmu," katanya dengan suara yang lembut.
Ruolan Tan memandang Vincent dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak percaya. Apa yang kamu inginkan?" tanya Ruolan Tan, suaranya keras.
Vincent memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku ingin membantu, Ruolan. Aku tahu siapa yang membunuh Wong, dan aku tahu siapa yang mengejar Steve," katanya dengan suara yang lembut.
Steve Lim memandang Vincent dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak tahu, Vincent. Apa yang kamu inginkan sebagai imbalan?" tanya Steve Lim, suaranya keras.
Vincent memandang Steve Lim dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku ingin bergabung denganmu, Steve. Aku ingin membantu kamu menghancurkan musuh kita," katanya dengan suara yang lembut.