NovelToon NovelToon
The Masquerades

The Masquerades

Status: sedang berlangsung
Genre:Robot AI / Dunia Masa Depan
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Fredyanto Wijaya

Capella Starheart!

Seorang Gadis Remaja Cantik 16 Tahun baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.

Gadis itu tahu tidak akan ada banyak yang berubah di sana.

Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.

Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.

Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?



(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6: "Theft Mystery"

Previous Episode:

Shocking! Galactic yang selama ini bersamanya ternyata adalah sosok yang sering dilihatnya di kabar berita. Dan juga yang satunya lagi_ Leslie!

Mereka bagian dari Anggota Masquerades.

Dan seakan memang sudah ditakdirkan oleh alam semesta, Capella, menjadi bagian dari mereka sekarang.

Tentunya sulit diterima baginya.

Apalagi setelah mengetahui sebagian dari fakta mengenai masa lalu yang menjadi awal dibalik semua serangan para makhluk Underground sampai saat itu.

Sekarang, Capella memiliki dua dari dirinya sendiri_ Berperan sebagai pelajar dan berperan sebagai sosok pewaris kekuatan dari masa lalu.

Identitasnya yang baru kini harus dirahasiakan.

Yang jadi pertanyaan adalah... Apakah dia mampu?

_________

[BAB 1: Menikmati Libur Pagi]

Capella menggigit keripik kentang dengan gigi depannya, kaki terlipat di bawah tubuhnya yang masih mengenakan pakaian rumahan bertabur motif konstelasi.

Wajahnya mendongak.

Di layar TV, karakter salah satu kartun sedang melontarkan lelucon konyol yang membuatnya tersenyum kecil.

Tangan kanannya sesekali sibuk mengais sisa keripik di mangkuk plastik yang ada pada pangkuannya.

Di lehernya, Liontin aquamarine tergantung normal layaknya liontin biasa.

Satu dari dua hari libur yang paling ditunggu bagi anak-anak sekolah akhirnya tiba. Tidak ada yang boleh merusaknya.

Capella menikmati pagi bersantainya.

Di lantai karpet, Tim tertawa terbahak-bahak saat Zero mengeluarkan suara "BZZT!" khas robot setiap kali kartu tebakannya salah.

"Ayo lagi!" seru adiknya, mengocok ulang setumpuk kartu bergambar dinosaurus. Lengan mekanik Zero berputar 360 derajat dengan lucunya sebelum mengambil satu kartu lagi.

Di balik wilayah dapur, Margaret mengaduk saus tomat buatan Romi dengan sendok kayu. Aromanya menyebar ke mana-mana.

Sekarang lantai dasar mereka terasa seperti ruang penyelamat setelah hari yang panjang.

"Kurang sedikit gula merah lagi," bisiknya setelah menyicip sedikit, sambil menyipitkan mata ke panci stainless steel yang menggelegak pelan.

Romi berdiri di sampingnya, tangan-tangannya bergerak presisi mengaduk bahan lainnya_ mengikuti instruksi yang sudah tertanam pada Chip di isi kepalanya.

Capella menoleh sebentar, menyaksikan kesibukan Tim yang sedang tertawa terbahak-bahak saat Zero yang salah menebak kartu dinosaurus untuk kelima kalinya, dan beralih lagi ke Ibunya yang masih sibuk di dapur bersama Robot Maid mereka.

Bau saus tomat lebih tercium saat matanya memperhatikan arah dapur.

Gadis itu lalu mengalihkan perhatian kembali ke layar TV.

Jari jempolnya menekan tombol dengan dengan cepat, melewati berbagai channel lainnya.

"Tidak," Melewati berita tempat wisata yang aslinya hanya video rekaman lama,

"Tidak," Melewati program kartun anak-anak,

"Membosankan," Melewati aksi trik sulap,

"Um.. Tidak," Mempertimbangkan bentar lalu memutuskan untuk kembali mengganti channel.

Terusnya_ jari jempolnya menekan tombol next dengan cepat. Melewati konser musik, dan lainnya.

"Alergi..," Juga melewati serial drakor.

Hampir saja dia memencet next lagi saat satu channel membuatnya berhenti.

"...kasus pencurian misterius kesebelas dalam tiga hari terakhir~," suara reporter.

Capella mencondongkan tubuh ke depan tanpa sadar, liontin aquamarine di lehernya menggantung dan bergoyang pelan.

Matanya fokus memperhatikan pengalihan lokasi tempat bekas pencurian, dan telinganya benar-benar menyimak setiap apa yang dikatakan oleh si reporter.

Yang di wilayah dapur, Margaret langsung mengangkat kepalanya. Tangannya berhenti mengaduk saus tomat ketika telinganya tanpa sengaja mendengar suara reporter mulai melaporkan kasus pencurian misterius itu.

Matanya yang tadi tenang kini menyipit memperhatikan layar TV

"Yang anehnya~," lanjut reporter. Dia bilang kalau tak ada petunjuk sampai sekarang mengenai identitas pelakunya. Semua CCTV pada masing-masing lokasi tidak ada yang berhasil menangkap jejaknya.

Tapi salah satu orang saksi mata mengatakan kalau itu hantu.

"Capella," panggilnya dengan suara datar namun tegas, "Kamu akan lebih berhati-hati di luar, bukan?"

Capella menoleh, melihat ibunya berdiri melalui dapur terbuka itu. "Iya, Mah," jawabnya singkat, lalu kembali menatap layar di depannya.

Margaret menggeleng pelan, bibirnya berkomat-kamit seperti sedang menghitung sesuatu. "Hantu katanya..." gumamnya dengan nada tidak percaya, tangannya kembali mengaduk sambil memutar badan dan menaruh pancinya di atas kompor listrik.

Di ruang keluarga, Tim tiba-tiba berteriak gembira saat Zero akhirnya berhasil menebak kartu triceratops dengan benar. Robot kecil itu mengeluarkan suara kemenangan "BING-BONG!" yang keras, disertai suara efek petasan perayaan.

Kedua tangan capitnya membuat gerakan bertepuk tangan terlalu kaku.

Pandangan Capella sejenak memandang arah pintu kaca rumah mereka. Matanya menembus pada pemandangan halaman depan.

Entah kenapa seperti ada tarikan keinginan.

Capella menaruh mangkuk keripik dengan perlahan ke atas meja di depannya, "Bu, aku mau keluar sebentar," ujarnya tiba-tiba sambil bangkit dari sofa, tanpa sadar memegang liontinnya.

"Cuma jalan-jalan di sekitar Harmonia."

"Jangan terlalu lama ya," Suara Margaret menyahut dari dapur.

Capella mengangguk tanpa menoleh, tangannya sudah menggenggam gagang pintu.

Margaret menghela napas panjang saat pintu depan tertutup perlahan. Matanya kembali tertuju pada layar TV yang sekarang menampilkan iklan biasa, seolah rekaman pencurian misterius tadi hanyalah mimpi buruk.

Yang sudah di luar, Capella berjalan cepat menyusuri jalan setapak halamannya. Kakinya membawanya berbelok keluar dari wilayah rumahnya.

Pikirannya masih dipenuhi gambar-gambar dari berita_ toko-toko yang dirampok tanpa jejak.

Capella melintasi jalan setapak yang melengkung di antara rumah-rumah telur Harmonia.

Beberapa rumah tampak sepi dengan jendela gelap, sementara dari beberapa lainnya terdengar suara keluarga bercengkerama dari suatu tempat.

Di salah satu halaman luas, sebuah keluarga bermain bersama_ ayah dengan rambut ikal sedikit abu-abu sedang melempar piringan plastik _atau disebut Frisbee_ ke arah anak lelakinya yang berusia sekitar delapan tahun.

"Tangan lebih lebar, Nico!" teriak sang ayah sambil melemparkan piringan itu dengan sedikit terlalu bersemangat. Anak itu melompat tetapi gagal, wajahnya menyeringai ketika piring meluncur melewati tangannya yang masih kikuk.

Dan dengan kebetulan piringannya terlempar dekat dengan arah Capella.

Tanpa berpikir, Capella melangkah cepat ke samping dan melompat. Tangan kanannya menjangkau tepat saat piring itu hampir melintas di halaman depan rumah telur di seberang jalan.

"Whoa!" Anak kecil itu berteriak gembira sambil berlari mendekat. Capella memutar piring di antara jarinya, sebelum menyerahkannya kembali.

"Keren banget!" ujar bocah itu dengan mata berbinar, mengambil piring dengan kedua tangan seperti menerima harta karun.

Sang ayah mendekat dengan langkah cepat tapi berbobot dengan senyumnya lebar. "Terima kasih, Nak," ujarnya sambil mengacak-acak rambut Nico yang sudah berantakan.

Matanya yang cokelat tua mengamati Capella dengan penasaran. "Kamu baru di Harmonia, ya? Tidak sering melihat remaja dengan refleks secepat itu."

Capella menggeser berat badannya, "A Aku juga tidak yakin tadi... Aku Capella," katanya, tidak jadi menjawab pertanyaan terakhir dari si Ayah. Senyumnya muncul lebih pada yang lebih kecil. "Baru pindah seminggu lalu."

"Oh! Kalau gitu selamat datang di Harmonia," sahutnya dengan suara hangat sebelum berbalik mengikuti Nico yang sudah berlari kembali ke halaman rumah mereka.

Capella mengangguk kecil, menyaksikan mereka berdua melanjutkan permainan dengan tawa riang yang semakin menjauh.

...----------------...

Dia melanjutkan jalan paginya, kali ini lebih pelan.

Udara Harmonia yang selalu segar terasa berbeda hari ini_ lebih berat, seperti membawa petunjuk yang belum terbaca.

Capella mengusap lehernya tanpa sadar, merasakan rasa menggelitik yang samar-samar tapi dia tahu itu hanya perasaanya saja.

Capella menarik napas lebih dalam lagi, merasakan udara Harmonia yang selalu bersih dan terisi penuh di paru-parunya.

Dia terus berjalan santai di antara dua baris rumah telur raksasa, menyaksikan seorang nenek dengan topi jerami lebar sedang mencabuti rumput liar di halaman depan rumahnya. Tangan-tangan keriputnya bergerak sedikit kaku di antara bunga-bunga yang tidak pernah layu, sementara mata birunya yang keruh sesekali melirik ke langit kubah seperti menunggu sesuatu.

Sedikit lebih jauh lagi...

Capella bertemu seorang ibu muda yang sedang mendorong kereta bayi di jalur pejalan kaki yang sama. Ibu itu tersenyum kepada Capella sambil lalu.

"Selamat pagi," sapa Ibu itu dengan suara terlalu merdu untuk percakapan santai yang singkat, sambil terus mendorong kereta bayi berwarna perak itu menjauh.

Capella mengangguk kecil.

Matanya sekilas memperhatikan bayinya yang terbaring tenang di dalam sana.

...----------------...

Pagi yang tenang apalagi bertemu mereka yang terlihat ramah.

Tapi mungkin dia harus menyudahkan untuk pagi itu.

Dirasa sudah cukup menikmati jalan paginya... Capella pun berbalik arah.

Melangkah kembali ke rumah dengan langkah lebih pelan dari saat berangkat tadi.

Di sepanjang jalan, rumah-rumah telur putih Harmonia tampak sama sempurnanya seperti biasa, tetapi hari ini Capella menyadari betapa anehnya bentuk mereka jika dipikir-pikir. Seperti kapsul raksasa yang siap meluncur ke angkasa suatu hari nanti.

Dia berhenti sebentar di depan rumah keluarga yang tadi melihatnya menangkap piringan.

Sekarang halaman mereka sudah sepi, hanya tersisa bayangan panjang dari pohon buatan yang daun-daunnya bergerak teratur seperti sedang menari mengikuti program tertentu.

Sudah kembali di rumahnya, Capella berjalan melewati kesibukan yang lain dan langsng naik ke lantai dua.

Suhu AC ruangan kamarnya otomatis menyesuaikan, meniupkan udara sejuk ke wajahnya yang masih sedikit memerah setelah berjalan dari luar.

Di layar, Lulu. sedang menunjukan animasi wajah dengan mulut menghembus-hembus seperti sedang berlari pagi. Ditambah... animasi pixel Tetesan keringat menggantung di sebelah wajahnya.

Tapi dia tiba-tiba berganti ke wajah normalnya saat harus menyampaikan pesan kepada Capella yang baru saja masuk.

"Ada pesan masuk!" Ucapnya singkat, sebelum dia kembali ke animasi wajah lari pagi.

Capella mengernyitkan hidung, melangkah ke tempat tidur berantakan dimana tabletnya tergeletak di atas selimut yang kali ini bergambar pemandangan langit galaksi.

"Plaza. Sekarang"

Capella menatap pesan Galactic dengan kening berkerut.

Tidak ada penjelasan apa maksud tujuan di balik undangannya. Tapi Capella tahu itu pasti sesuatu yang penting.

1
7 ANGEL KNIGHT
Pengumuman:
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
7 ANGEL KNIGHT
/Casual//Casual//Casual/
7 ANGEL KNIGHT
Terimakasih yang udah mau mampir dan baca, Mudah-mudahan suka dengan dunia yang aku buat di sini! Dan silahkan semisal ada yang mau ditanya, atau semisal ada "Anomali" di novel aku silahkan kasih tau aja nanti aku cek ya, Thankyou📝
T28J
lanjutannya kak
7 ANGEL KNIGHT: Iya👍 Ini lagi ada sedikit rapihin yang udah ada dulu ya. Otw bab barunya. Episode 1= 6 Bab semua udah dirapihin dan siap baca. Untuk Episode 2 sama 3 tunggu ya masih dirapihin soalnya👍
total 1 replies
T28J
Thor, ini masih narasi semua, ceritanya kapan dimulai? 🤔
T28J: oke gak papa Thor, saya juga maklum karena ini fantasi
total 2 replies
T28J
masih sedikit bingung dengan kata-kata dari penjelasannya...
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥
7 ANGEL KNIGHT: Chapter selanjutnya juga jangan lupa di baca ya😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!