Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Malam semakin larut.
Satu per satu penghuni Wijaya Mansion mulai meninggalkan ruang makan. Alan dan Rieke lebih dulu menuju kamar mereka, sementara Leon berpamitan singkat sebelum menaiki tangga.
"Selamat malam."
"Selamat malam, Nak," jawab Rieke lembut.
Nathan memperhatikan punggung putranya yang perlahan menghilang di lantai dua, kejadian tadi pagi benar-benar membuka hatinya, bahwa anak yang selalu di cap bandel tidak selamanya akan bandel.
"Ya sudah Ma, kalah gitu aku masuk ke kamar dulu," pamit Nathan yang diangguki ibunya.
☘️☘️☘️☘️
Di dalam kamar, suasana kembali diselimuti keheningan. Lampu tidur di sudut ruangan memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, membuat kamar utama Wijaya Mansion terasa jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya.
Naomi baru saja selesai merapikan tempat tidur. Jemarinya melipat ujung selimut dengan rapi, lalu pandangannya beralih ke sudut kamar tempat bantal dan selimut tipis yang semalam ia gunakan masih tersusun.
Tanpa berpikir panjang, ia berjalan ke sana.Punggungnya masih terasa sedikit pegal akibat tidur di lantai marmer semalaman. Sesekali rasa ngilu menjalar hingga ke bahunya. Namun, tak sekalipun terlintas di benaknya untuk mengeluh.
Baginya, hukuman tetaplah hukuman. Selama Nathan belum mencabutnya, ia tidak memiliki alasan untuk melanggarnya. Perlahan Naomi mengangkat bantal itu, lalu menggulung selimut tipis yang akan kembali ia gelar di lantai.
Saat itulah terdengar suara.
Klik.
Suara pintu kamar terbuka. Nathan masuk dengan langkah pelan. Jas kerjanya masih melekat di tubuh, sementara dasi yang melingkar di leher mulai ia longgarkan.
Wajahnya tetap tenang. Tak lagi dipenuhi kemarahan seperti semalam. Namun juga belum cukup hangat untuk disebut ramah.
Naomi segera menghentikan kegiatannya. "Selamat malam, Tuan."
Nathan hanya membalas dengan anggukan singkat sebelum berjalan menuju lemari pakaian. Tak ada percakapan pria itu mengambil pakaian tidur, lalu menghilang di balik pintu kamar mandi.
Beberapa saat kemudian terdengar suara air mengalir memenuhi ruangan. Naomi kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia membentangkan selimut tipis itu di lantai dengan hati-hati. Tangannya merapikan setiap sudutnya agar tidak berkerut.
Sesederhana apa pun tempat tidurnya, ia tetap terbiasa merapikannya terlebih dahulu dan tak lama kemudian pintu kamar mandi kembali terbuka.
Nathan keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Kaus tidur berwarna gelap membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya. Langkahnya terhenti ketika melihat Naomi sedang membungkuk di lantai.
"Kau sedang apa?"
Naomi menoleh. "Menyiapkan tempat tidur."
Nathan mengernyit pelan. "Di lantai?"
Naomi menganggukkan kepala. "Bukankah semalam Tuan yang meminta saya tidur di sini?"
Jawaban itu membuat Nathan terdiam. Tatapannya perlahan jatuh pada selimut tipis yang terbentang di atas marmer dingin.
tidak tahu kenapa pemandangan itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Ia teringat kembali semua yang terjadi semalam. Bentakannya. Kemarahannya. Dan perempuan itu sama sekali tidak membantah hukuman yang ia berikan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Nathan akhirnya mengembuskan napas pelan. "Tidak usah."
Naomi tampak bingung. "Tuan?"
Nathan mengalihkan pandangannya ke arah sofa panjang yang berada tak jauh dari jendela.
"Mulai malam ini..." Ia berhenti sejenak. "Kau tidur di sofa."
Naomi berkedip pelan, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.
"Lalu... Tuan?"
"Aku di tempat tidur."
Naomi mengangguk pelan.
"Baik."
Tak ada pertanyaan.
Tak ada protes.
Ia segera mengambil bantal dan membawa selimut menuju sofa.
Nathan diam-diam memperhatikan perempuan itu.
Entah kenapa, perempuan ini selalu menerima segala sesuatu dengan begitu tenang, tidak banyak bertanya ataupun menuntut. Tidak pula berusaha mencari belas kasihan, sikap itu justru membuat Nathan semakin sulit memahami isi pikirannya.
Naomi mulai membentangkan selimut di atas sofa. Namun tanpa disadari, salah satu ujung kain tersangkut pada kaki meja kecil di samping sofa. Ia mencoba menariknya perlahan.
"Sebentar..."
Tarikannya justru membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Astaga!"
Tubuh Naomi oleng ke depan hampir saja wajahnya membentur meja aksntetapi sebelum itu terjadi sebuah tangan bergerak lebih cepat. Nathan refleks meraih pergelangan tangannya.
Brak!
Tubuh Naomi tertarik ke belakang. Karena tarikan itu cukup kuat, jarak mereka mendadak menjadi sangat dekat.
Naomi membelalak kaget begitu pula Nathan selama beberapa detik keduanya hanya terdiam tidak ada yang bergerak sama sekali.
Mereka hanya saling memandang dalam diam.
Naomi bahkan bisa merasakan embusan napas Nathan yang masih sedikit hangat seusai mandi.
Sementara Nathan baru menyadari bahwa tangannya masih menggenggam pergelangan perempuan itu yang terasa hangat dan lembut. Berbeda jauh dari saat semalam ia mencengkeramnya dengan penuh amarah.
Kesadaran itu membuat Nathan buru-buru melepaskan tangannya.
"Ehm..." Ia berdeham pelan. "Hati-hati."
Hanya dua kata. Namun entah mengapa, kalimat sederhana itu terdengar jauh berbeda dibanding nada bicaranya selama ini.
Naomi mengusap pelan pergelangan tangannya yang tadi digenggam. Lalu tersenyum kecil.
"Terima kasih, Tuan."
Nathan mengalihkan pandangan dengan canggung. "Lain kali lihat ke bawah kalau berjalan."
"Baik."
Jawaban itu kembali singkat dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di mansion ini, Naomi melihat sisi lain dari pria yang selama ini selalu memasang wajah dingin.
Nathan memang tidak meminta maaf. Tidak pula mengucapkan kata-kata yang lembut. Akan tetapi, refleksnya menangkap Naomi sebelum terjatuh sudah cukup membuktikan bahwa kemarahan di hatinya perlahan mulai mereda.
Nathan berjalan menuju tempat tidur. Sebelum merebahkan tubuhnya, tanpa sadar ia kembali melirik ke arah sofa. Dilihatnya Naomi sedang merapikan selimut sambil tersenyum tipis seorang diri. Pemandangan sederhana itu membuat sudut bibir Nathan ikut mengendur, meski hanya sesaat.
Ia sendiri tidak menyadari perubahan kecil tersebut. Sementara di sisi lain, Naomi memejamkan mata perlahan.
Malam ini kamar itu masih sama. Orangnya pun masih sama tapi suasananya terasa berbeda. Seolah dinding yang semalam begitu dingin... kini mulai memperlihatkan celah-celah kecil yang perlahan ditembus kehangatan.
Bersambung ... .