NovelToon NovelToon
Transmigation "Save The Male Lead"

Transmigation "Save The Male Lead"

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lyn_11

Kianara Shernon Abraham

Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.

Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.

Update 2-3 kali dalam seminggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Langit telah berubah sepenuhnya jingga keemasan ketika kereta keluarga Everhart akhirnya meninggalkan kediaman Anwealda.

Suara roda kereta yang bergesekan dengan batu-batu kecil di halaman perlahan menjauh, melewati gerbang utama dan menghilang di balik deretan pepohonan cemara yang berdiri di sepanjang jalan. Beberapa pelayan masih berdiri di teras depan untuk mengantar kepergian mereka, sementara angin sore berembus lembut, membawa aroma tanah yang mulai mendingin setelah seharian diterpa matahari.

Di taman belakang, suasana perlahan kembali tenang.

Anak-anak yang sejak tadi bermain di halaman satu per satu mulai dibawa masuk oleh para pelayan. Ada yang masih memegang balok kayu, ada yang sibuk memperlihatkan gambar buatannya kepada pelayan, ada pula yang terus menoleh ke belakang karena merasa waktu bermain mereka berakhir terlalu cepat. Roseline tadi sempat berulang kali melambai pada Sean sampai Lucien harus mengangkat putrinya sendiri ke dalam kereta karena anak itu menolak berhenti mengucapkan selamat tinggal.

Kini yang tersisa di taman hanya suara dedaunan yang saling bergesekan, denting kecil lonceng angin di gazebo, dan langkah kaki para pelayan yang sibuk merapikan meja teh sore.

Arcellio berjalan berdampingan dengan Sean menuju aula belakang.

Keduanya tidak benar-benar diam. Arcellio, dengan keseriusan khas anak kecil yang sedang berusaha terlihat dewasa, sibuk menjelaskan bahwa kolam ikan di kediaman Anwealda memiliki dua ikan koi yang “paling cantik dan paling pintar” karena selalu muncul paling cepat saat diberi makan. Sean mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk meski jelas ia belum tahu bagaimana ikan bisa dianggap pintar.

“Besok aku tunjukkan,” kata Arcellio sambil menggenggam tangan Sean tanpa ragu, langkah kecilnya terdengar ringan di atas lantai koridor yang menghubungkan taman dengan aula samping. “Yang warna putih namanya Snow.”

Sean menoleh. “Kalau yang satunya?”

Arcellio tampak berpikir beberapa saat, lalu menjawab dengan sangat mantap, “Yang satunya belum punya nama.”

“Kenapa?”

“Aku belum menemukan nama yang bagus.”

“Kalau begitu beri nama saja Besar.”

Arcellio berhenti berjalan. Ia menoleh dengan ekspresi sangat serius, seolah baru saja mendengar usulan yang menyangkut urusan negara.

“Besar?”

Sean mengangguk pelan. “Karena ikannya besar.”

“Itu bukan nama.”

“Kenapa bukan?”

“Karena...” Arcellio mengerutkan kening, berusaha menyusun alasan yang terdengar meyakinkan. “Karena kalau dipanggil ‘Besar’, nanti semua yang besar ikut menoleh.”

Sean menatapnya selama dua detik sebelum tertawa kecil. “Ikan tidak akan menoleh.”

“Bisa saja.”

“Tidak bisa.”

“Bisa.”

Sean menggeleng. “Tidak.”

Arcellio membuka mulut, siap membantah lagi, tetapi salah satu pelayan yang berjalan di belakang mereka menutup bibirnya rapat-rapat menahan senyum. Pemandangan dua anak kecil berdebat tentang nama ikan dengan keseriusan setinggi langit itu terlalu menggelikan untuk diabaikan.

Dari kejauhan, Kianara yang masih berdiri di dekat teras taman memperhatikan punggung keduanya.

Sean sudah tidak sekaku pagi tadi.

Langkahnya memang masih hati-hati, dan sesekali ia masih tampak menoleh lebih dulu sebelum berbicara, seolah menunggu izin untuk sekadar tertawa atau mengajukan pendapat. Namun perubahannya cukup terlihat. Setidaknya di dekat Arcellio, anak itu mulai bisa menjawab dengan lebih spontan. Tidak lagi sekadar mengangguk atau menunduk.

“Itu pertanda baik.”

Suara Lucien yang tadi sempat tertahan di benak Kianara seolah kembali terngiang. Anak seperti Sean tidak akan langsung percaya bahwa dunia bisa menjadi tempat yang aman. Ia akan menguji sekelilingnya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya memutuskan apakah ia boleh menurunkan pertahanan.

Kianara menghela napas pelan.

Ia baru saja berbalik untuk masuk ketika kepala pelayan mendekat dan membungkuk hormat.

“Yang Mulia, Kapten Rivalt telah datang. Beliau mengatakan ada laporan penting untuk Grand Duke.”

“Di mana Yang Mulia Grand Duke sekarang?”

“Masih di ruang kerja, Yang Mulia.”

Kianara mengangguk pelan. “Baik. Minta dapur menyiapkan makan malam anak-anak lebih awal. Sean juga.”

“Baik, Yang Mulia.”

Ia sempat melangkah dua langkah sebelum berhenti, lalu menoleh kembali. “Dan... pastikan pakaian tidur Sean diganti yang ukurannya pas. Yang kemarin masih terlalu besar.”

Kepala pelayan tersenyum tipis. “Sudah saya minta dijahit ulang siang tadi, Yang Mulia.”

Kianara membalas dengan anggukan singkat, lalu melanjutkan langkahnya ke dalam kediaman.

---

Di lantai dua, suasana jauh lebih sunyi.

Lorong menuju ruang kerja Grand Duke selalu terasa berbeda dibanding bagian rumah lainnya. Tidak ada suara tawa anak-anak. Tidak ada aroma kue dari dapur atau langkah para pelayan yang saling bersahutan. Hanya cahaya lampu dinding yang tenang, karpet tebal yang meredam langkah kaki, dan udara dingin yang menyusup dari jendela-jendela tinggi di ujung koridor.

Di balik pintu kayu besar ruang kerja, Agerald berdiri di depan jendela dengan satu tangan bertumpu di ambang kusen.

Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat sebagian taman belakang yang kini mulai sepi. Pelayan-pelayan sibuk membereskan meja teh, seorang penjaga berjalan melewati kolam ikan, dan dari kejauhan tampak dua sosok kecil—Arcellio dan Sean—baru saja menghilang ke dalam aula.

Pandangannya bertahan di sana beberapa saat lebih lama daripada yang ia sadari.

“Yang Mulia.”

Suara Kapten Rivalt membuatnya menoleh.

Pria itu berdiri di tengah ruangan sambil membawa dua gulungan laporan dan sebuah kotak kayu kecil yang tampak tua. Wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya, menandakan bahwa apa pun yang ia bawa bukan kabar sepele.

“Ada perkembangan?” tanya Agerald sambil berbalik penuh.

Rivalt melangkah maju dan menyerahkan gulungan pertama. “Penyelidikan terhadap jalur perdagangan manusia di distrik timur telah menghasilkan beberapa temuan baru. Kami berhasil menggeledah dua gudang tambahan yang sebelumnya digunakan sebagai tempat singgah.”

“Berapa banyak orang di sana?”

“Tidak ada siapa pun, Yang Mulia. Tempat itu sudah dikosongkan sebelum pasukan tiba.”

“Dibersihkan lagi.”

“Ya.”

Agerald menerima laporan itu lalu membukanya cepat. Matanya menyapu baris-baris tulisan dengan kecepatan yang telah terbiasa menilai informasi perang dan politik. Wajahnya tetap datar, tetapi semakin lama alisnya mengerut.

“Gudang pertama terbakar sebagian. Gudang kedua...” ia mengangkat pandangan, “mengapa hanya tersisa dinding luar?”

Rivalt menarik napas sebelum menjawab. “Karena bagian dalamnya sengaja diruntuhkan.”

“Dari dalam?”

“Ya, Yang Mulia. Seolah ada sesuatu yang ingin dihancurkan sebelum kami sempat menemukannya.”

Keheningan singkat turun.

Agerald menutup laporan pertama dan mengulurkan tangan. “Yang kedua.”

Rivalt segera menyerahkannya.

“Beberapa saksi di sekitar pelabuhan memberi keterangan yang serupa,” ujarnya sambil menunggu Agerald membaca. “Mereka melihat gerobak-gerobak tertutup keluar masuk gudang selama berbulan-bulan, tetapi tidak pernah melihat barang dagangan biasa. Hanya peti-peti sempit, selalu diangkut malam hari, dan dijaga orang yang sama.”

“Ciri-cirinya?”

“Bertubuh besar, tidak banyak bicara, lengan kiri mereka mengenakan semacam pelindung kulit.” Rivalt berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah. “Salah satu saksi mengaku sempat melihat ukiran aneh pada pergelangan tangan salah seorang dari mereka. Bentuknya menyerupai rantai.”

Agerald mengangkat wajah perlahan.

Tatapan kedua pria itu bertemu.

Mereka tidak perlu menyebutkan simbol yang sama-sama terlintas di kepala masing-masing.

Lingkaran.

Rantai.

Lambang yang muncul di ruang bawah tanah tempat anak-anak itu disekap. Lambang yang juga terukir pada lengan pria berjubah yang sempat melarikan diri malam itu.

“Bukan hanya jaringan perdagangan biasa,” ucap Agerald akhirnya, suaranya turun satu nada. “Aku sudah menduganya.”

Rivalt mengangguk. “Ada lagi, Yang Mulia.”

Ia meletakkan kotak kayu kecil yang dibawanya di atas meja.

Kotak itu tampak biasa saja pada pandangan pertama—kayu tua, engsel besi, tanpa ukiran mewah—tetapi bekas terbakar di sisi kanan dan bercak hitam di sudut-sudutnya membuatnya terlihat janggal.

“Ditemukan di gudang kedua,” jelas Rivalt. “Tersembunyi di balik dinding palsu. Kami hampir melewatkannya karena tertutup puing.”

Agerald mendekat. “Isinya?”

“Silakan lihat sendiri, Yang Mulia.”

Agerald membuka kotak itu perlahan.

Di dalamnya tidak ada emas, tidak ada surat perjanjian, tidak ada catatan nama bangsawan atau daftar transaksi seperti yang semula ia duga. Hanya sepotong kain hitam yang dilipat rapi, sebuah gelang logam berkarat, dan secarik perkamen tua yang permukaannya dipenuhi garis-garis tipis menyerupai pola lingkaran.

Begitu matanya jatuh pada perkamen itu, udara di sekelilingnya terasa berubah.

Sangat singkat.

Sangat halus.

Tetapi cukup membuat napasnya tertahan.

“Apa tabib istana sudah memeriksa ini?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.

“Sudah. Mereka mengatakan itu bukan peta, bukan juga sandi perdagangan biasa. Lebih mirip...”

“Lingkaran ritual.”

Rivalt terdiam, lalu menjawab hati-hati, “Ya. Dugaan mereka sama.”

Jemari Agerald bergerak ke arah perkamen. Ujung jarinya baru saja menyentuh permukaannya ketika rasa nyeri yang tajam kembali menusuk pelipisnya.

Seketika.

Begitu cepat hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan.

Ruangan luas di depannya mengabur.

Suara Rivalt lenyap.

Lampu dinding, meja kerja, jendela-jendela tinggi—semuanya seperti ditelan kabut hitam.

Yang tersisa hanyalah sebuah taman.

Bukan taman asing.

Ia mengenalnya.

Halaman belakang kediaman Anwealda.

Namun bukan seperti yang barusan ia lihat dari jendela.

Taman itu lebih terang. Lebih hidup. Dipenuhi bunga-bunga putih yang bermekaran di sepanjang jalan setapak. Udara musim semi terasa hangat. Di gazebo, tirai tipis berkibar tertiup angin, dan di bawah pohon besar dekat kolam ikan, seorang perempuan sedang duduk sambil tertawa kecil.

Rambutnya panjang.

Gaunnya berwarna terang.

Wajahnya tertutup cahaya sore yang terlalu silau untuk dilihat jelas.

Di sampingnya, seorang anak kecil berlari sambil membawa untaian bunga liar di kedua tangannya.

“Ibu!”

Suara itu begitu jernih, begitu dekat, hingga dada Agerald menegang.

“Ayah bilang mahkota yang Ibu buat jelek.”

Perempuan itu menoleh, tampak hendak menahan tawa. “Benarkah?”

“Iya!”

“Kalau begitu kita buat yang lebih jelek untuk Ayah.”

Anak kecil itu terkikik, lalu berlari ke arah lain.

Tak lama kemudian seorang pria masuk ke dalam pandangan.

Tinggi.

Berambut hitam.

Seragam kebangsawanan gelap.

Sosoknya... dirinya sendiri.

Agerald membeku.

Dalam kilasan itu, dirinya yang lain berdiri beberapa langkah dari perempuan dan anak itu, menatap mereka dengan wajah yang jauh lebih lembut daripada yang pernah ia lihat di cermin mana pun. Bukan tatapan seorang Grand Duke kepada keluarganya demi kewajiban. Bukan tatapan formal yang dingin dan terukur.

Itu tatapan seseorang yang benar-benar... bahagia.

“Ayah!”

Anak kecil itu berlari memeluk kaki pria tersebut.

“Lihat, Ibu bilang akan membuatkan mahkota bunga untuk Ayah.”

Sosok dirinya di dalam kilasan itu menunduk. Ada senyum samar di bibirnya. Sangat tipis, tetapi nyata.

“Mahkota bunga?” suara itu rendah dan tenang. “Apa aku terlihat cocok memakainya?”

“Cocok!” sahut si anak cepat. “Ayah harus memakainya.”

“Kalau begitu kau juga harus memakai satu.”

“Aku mau dua.”

“Rakus.”

“Ayah yang rakus. Kemarin Ayah mengambil dua kue.”

Perempuan di bawah pohon tertawa. Suara itu lembut, hangat, dan entah mengapa membuat dada Agerald sesak.

Ia berusaha melangkah lebih dekat.

Berusaha melihat wajah perempuan itu.

Berusaha melihat wajah anak itu.

Tetapi tepat ketika angin bertiup lebih kencang dan perempuan tersebut mulai menoleh ke arahnya—

semuanya pecah.

Kilasan itu buyar seperti kaca yang dihantam batu.

Agerald tersentak mundur dengan napas memburu.

Satu tangannya mencengkeram sisi meja. Yang lain masih menggenggam perkamen tua itu terlalu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

“Yang Mulia!”

Rivalt bergerak cepat, tetapi berhenti ketika Agerald mengangkat tangan memberi isyarat agar ia tidak mendekat.

“Jangan.”

Suara Agerald terdengar lebih kasar daripada biasanya. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menahan denyut tajam di kepalanya.

“Apakah saya perlu memanggil tabib?”

“Tidak.”

“Wajah Anda pucat.”

“Aku bilang tidak perlu.”

Rivalt langsung menunduk. “Maaf.”

Keheningan memenuhi ruangan selama beberapa saat.

Hanya suara napas Agerald yang masih sedikit berat dan bunyi kayu perapian yang sesekali berderak pelan. Ia menatap perkamen di tangannya seolah benda itu baru saja menusuk bagian paling dalam dari benaknya dan menyeret keluar sesuatu yang seharusnya terkubur.

Mahkota bunga.

Tawa seorang perempuan.

Suara seorang anak yang memanggil “Ayah” dengan begitu akrab.

Semuanya terasa terlalu nyata untuk disebut ilusi. Terlalu rinci untuk dianggap sekadar gangguan akibat kelelahan.

“Ada apa sebenarnya...” gumamnya sangat pelan, nyaris tak terdengar.

Rivalt, yang berdiri tidak jauh, jelas mendengarnya tetapi memilih tetap diam.

Agerald menegakkan tubuh perlahan. “Benda ini dibawa ke mana sebelum sampai ke tanganmu?”

“Dari gudang ke pos penjagaan sementara, lalu langsung ke sini.”

“Siapa saja yang menyentuhnya?”

“Dua prajurit, satu penyelidik, dan saya.”

“Apakah mereka mengalami sesuatu yang aneh?”

Rivalt tampak berpikir sejenak. “Tidak ada yang melaporkan apa pun. Namun salah satu penyelidik sempat mengeluh pusing setelah memeriksa kotak itu terlalu lama.”

“Namanya.”

“Derrick.”

“Suruh dia diperiksa diam-diam. Jangan buat keributan.”

“Baik, Yang Mulia.”

Agerald meletakkan perkamen itu kembali ke dalam kotak, lalu menutupnya pelan. “Kita hadapi sesuatu yang lebih besar dari sekadar perdagangan manusia.”

“Saya juga berpendapat demikian.”

“Jaringan ini rapi. Terlalu rapi.” Tatapan Agerald turun pada permukaan kotak yang hangus. “Mereka membersihkan jejak, membakar gudang, memindahkan orang-orangnya, bahkan menyembunyikan benda ini di balik dinding palsu. Itu bukan tindakan pedagang gelap biasa. Itu tindakan seseorang yang tahu betul apa yang harus disembunyikan.”

Rivalt mengangguk tegas. “Apakah saya perlu memperluas penyelidikan ke wilayah bangsawan lain?”

“Ya. Mulai dari rumah-rumah yang memiliki akses ke pelabuhan timur dan jalur distribusi budak di masa lalu. Periksa juga catatan transaksi obat penenang, rantai kecil, dan kereta kargo tertutup selama setahun terakhir.”

“Baik.”

“Dan satu hal lagi.” Nada suara Agerald menurun, lebih dingin dari sebelumnya. “Cari tahu segala hal tentang simbol lingkaran-rantai itu. Dari mana asalnya, pernah muncul di mana, dan siapa yang pernah menggunakannya. Jangan hanya bertanya pada ksatria atau pejabat. Datangi perpustakaan gereja tua, catatan penyihir kerajaan, arsip keluarga lama—apa pun.”

Rivalt menatapnya sejenak, lalu membungkuk. “Saya mengerti.”

Ketika kapten itu hendak mundur, ketukan kecil terdengar dari balik pintu.

Tidak seperti ketukan pelayan atau ksatria.

Terlalu ringan.

Terlalu ragu-ragu.

Agerald mengangkat pandangan.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Yang muncul di baliknya adalah Arcellio.

Anak kecil itu berdiri di ambang pintu dengan pakaian rumah berwarna krem, rambutnya sedikit berantakan seolah baru saja selesai mandi. Di tangannya ada seekor boneka kayu kecil berbentuk kuda yang salah satu rodanya tampak miring.

Begitu melihat Rivalt ada di dalam ruangan, Arcellio langsung berhenti.

“Ah.”

Ia memeluk boneka kudanya sedikit lebih erat, lalu menatap ayahnya. “Ayah sedang sibuk?”

Rivalt spontan melangkah mundur dan membungkuk. “Tuan Muda.”

Arcellio mengangguk kecil membalas sapaan itu, tetapi matanya tetap tertuju pada Agerald. Tatapannya jernih, namun ada kehati-hatian khas anak yang belum sepenuhnya yakin apakah ia datang di waktu yang tepat.

Agerald sendiri terdiam sesaat.

Jika ini beberapa bulan lalu, Arcellio hampir tidak pernah datang ke ruang kerjanya kecuali dipanggil. Bahkan saat datang pun, anak itu akan berdiri sangat lurus, bicara seperlunya, lalu pergi secepat mungkin. Sekarang, meski masih ada sisa-sisa kewaspadaan, setidaknya Arcellio sudah berani mengetuk pintu sendiri.

“Masuk,” ucap Agerald akhirnya.

Arcellio melangkah pelan ke dalam ruangan. Setelah pintu tertutup di belakangnya, ia menoleh pada Rivalt, lalu kembali menatap ayahnya.

“Aku mengganggu?”

“Tidak.”

Jawaban itu membuat bahu kecil Arcellio tampak sedikit lebih rileks.

“Ada apa?” tanya Agerald.

Arcellio mengangkat boneka kuda di tangannya. “Rodanya lepas.”

Agerald menatap benda itu beberapa detik. “Lalu?”

“Aku ingin memperlihatkannya.”

“Kepada pelayan?”

Arcellio menggeleng.

“Kepada Ayah.”

Keheningan jatuh selama satu tarikan napas.

Rivalt, yang masih berada di ruangan itu, menunduk lebih dalam agar wajahnya tidak terlihat. Bahkan ia sendiri tahu bahwa kalimat polos itu terlalu berbahaya bagi jantung siapa pun yang mendengarnya dalam suasana setenang ini.

Agerald memandang putranya tanpa berkedip.

Entah mengapa, bayangan dalam kilasan tadi—seorang anak kecil yang berlari sambil membawa bunga liar dan memanggilnya Ayah—muncul kembali sekejap, bertumpuk dengan sosok Arcellio yang kini berdiri di hadapannya sambil memegang boneka rusak.

“Ayah?” panggil Arcellio lagi, kali ini lebih pelan. “Boleh?”

Suara itu memutus lamunan Agerald.

Ia mengulurkan tangan. “Kemari.”

Arcellio mendekat dan menyerahkan boneka kayu itu.

Agerald membaliknya, memeriksa roda yang longgar dan poros kecil yang bergeser. Kerusakannya ringan. Seharusnya bisa diperbaiki tukang kayu, tetapi entah kenapa Arcellio datang membawanya ke sini.

“Kenapa tidak meminta kepala pelayan memanggil pengrajin?” tanyanya sambil tetap memeriksa mainan itu.

Arcellio tampak ragu beberapa saat sebelum menjawab, “Karena... Sean bilang ayahnya dulu sering memperbaiki mainan sendiri.”

Ruangan terasa hening seketika.

Agerald mengangkat mata.

Arcellio berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan perut, kebiasaan kecil yang muncul setiap kali ia merasa gugup. “Dia bilang kalau mainannya rusak, ayahnya dulu akan memperbaikinya. Jadi...” anak itu menunduk sedikit, “aku ingin tahu apakah Ayah juga bisa.”

Rivalt menahan napas.

Agerald tidak segera menjawab.

Bukan karena tidak bisa.

Melainkan karena dadanya tiba-tiba terasa aneh. Ada sesuatu yang menekan dari dalam, pelan namun nyata. Sean. Lagi-lagi anak itu muncul sebagai simpul kecil yang tanpa sengaja menggerakkan banyak hal—mendekatkan Arcellio pada anak lain, membuat Kianara sibuk memikirkan masa depan seorang anak yatim, dan sekarang... mendorong putranya datang ke ruang kerja hanya untuk meminta mainan diperbaiki.

Agerald menurunkan pandangannya pada boneka kayu di tangan.

“Aku tidak pandai memperbaiki mainan,” katanya jujur.

Wajah Arcellio sedikit turun.

“Tapi,” lanjut Agerald sebelum anak itu sempat kecewa terlalu lama, “aku tahu cara memasang roda yang lepas.”

Mata Arcellio langsung terangkat lagi.

“Duduk.”

Arcellio segera duduk di kursi kecil dekat meja kerja, punggungnya lurus, mata bulatnya tak lepas dari tangan ayahnya. Rivalt yang menyadari keberadaannya mulai tak lagi diperlukan langsung membungkuk.

“Kalau begitu saya permisi, Yang Mulia.”

Agerald mengangguk tanpa menoleh. “Lanjutkan semua perintahku.”

“Baik.”

Setelah pintu tertutup dan ruangan hanya menyisakan mereka berdua, suasananya berubah menjadi jauh lebih tenang.

Agerald membuka laci meja, mengambil alat kecil dari perak untuk mendorong poros kayu kembali ke tempatnya, lalu mulai bekerja. Tangannya yang biasa memegang pedang dan pena tanda tangan perjanjian perang kini memegang mainan anak dengan kehati-hatian yang hampir canggung.

Arcellio memperhatikan dengan sangat serius.

“Kalau rusaknya besar, apakah bisa diperbaiki juga?” tanyanya tiba-tiba.

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Seberapa parah kerusakannya.”

“Kalau patah?”

“Bisa disambung.”

“Kalau hilang satu bagian?”

“Bisa dibuat ulang.”

Arcellio terdiam sebentar, lalu bertanya lagi dengan polos, “Kalau sesuatu hilang banyak sekali, masih bisa balik seperti semula?”

Jari Agerald berhenti sesaat di atas boneka itu.

Pertanyaan itu sederhana.

Sangat sederhana.

Tetapi entah kenapa terasa seperti menghantam tempat yang baru saja retak di dalam dirinya.

Ia menurunkan pandangan, memastikan suaranya tetap tenang ketika menjawab, “Tidak selalu seperti semula.”

Arcellio menunggu.

“Tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki.”

“Jadi tetap bisa bagus?”

“Kalau orang yang memperbaikinya sabar, ya.”

Anak kecil itu tampak mencerna jawaban tersebut dengan sungguh-sungguh. “Berarti kalau Sean sedih terus, nanti bisa bagus juga?”

Agerald menatapnya.

“Sean?”

“Iya.” Arcellio mengangguk mantap. “Kadang dia kelihatan seperti ingin bicara, tapi tidak jadi. Kalau dia rusak karena sering sedih... nanti bisa bagus lagi, kan?”

Agerald tidak langsung menjawab.

Dari mulut seorang anak berusia tiga tahun lebih, pertanyaan itu terdengar begitu polos hingga nyaris menyakitkan. Arcellio jelas belum mengerti bagaimana cara menjelaskan trauma, kehilangan, atau luka yang tumbuh bertahun-tahun. Dalam kepalanya, semua itu mungkin memang sesederhana mainan yang rusak—kalau diperbaiki dengan sabar, suatu hari akan baik lagi.

Namun justru karena itulah, jawaban sembarangan terasa tidak pantas.

“Bisa,” jawab Agerald akhirnya, lebih pelan dari sebelumnya. “Tapi butuh waktu.”

“Lama?”

“Mungkin.”

“Kalau begitu aku akan menunggu.” Arcellio mengayunkan kaki kecilnya pelan di kursi. “Ibu juga menunggu.”

Agerald kembali terdiam.

“Ibu bilang Sean tidak perlu buru-buru,” lanjut Arcellio, seolah sedang membagikan rahasia besar. “Ibu bilang kalau takut, boleh pelan-pelan.”

Kalimat itu membuat pandangan Agerald tanpa sadar turun pada jari-jarinya sendiri yang masih memegang boneka kayu.

Kianara.

Perempuan itu lagi.

Dalam beberapa bulan terakhir, hampir setiap perubahan kecil di rumah ini selalu berujung pada satu nama yang sama. Pelayan-pelayan mulai tersenyum lebih sering karena Kianara. Arcellio berani mendekat dan berbicara lebih banyak karena Kianara. Bahkan kini rumah yang dulunya terlalu sunyi perlahan dipenuhi suara tawa anak-anak... juga karena Kianara.

Ia menekan poros kayu ke tempat semula. Roda kecil itu kembali terpasang dengan bunyi klik lembut.

“Sudah,” katanya sambil menyerahkan boneka kuda itu kembali.

Arcellio menerimanya dengan kedua tangan. Matanya langsung berbinar ketika melihat roda itu kembali lurus.

“Benar-benar bisa.”

“Kau meragukanku?”

Arcellio menggeleng cepat. “Tidak.”

“Barusan kau jelas meragukanku.”

“Aku hanya... sedikit.”

Agerald mengangkat satu alis. “Sedikit?”

“Sedikit sekali.”

Sudut bibir Agerald bergerak tipis. Sangat tipis. Namun kali ini cukup jelas untuk dilihat.

Arcellio membeku sepersekian detik.

Lalu matanya membulat.

“Ayah tersenyum.”

Agerald langsung kembali datar. “Tidak.”

“Tersenyum.”

“Tidak.”

“Aku lihat.”

“Itu bukan senyum.”

Arcellio memeluk boneka kudanya sambil menatap ayahnya lekat-lekat, seolah sedang berusaha menghafal pemandangan langka. “Kalau begitu nanti aku akan tanya Ibu. Ibu pasti tahu.”

“Jangan menanyakan hal tidak penting seperti itu pada ibumu.”

“Ini penting.”

“Tidak.”

“Penting.”

“Tidak.”

Arcellio tampak hendak membantah lagi, tetapi ketukan di pintu menyelamatkan Agerald dari perdebatan konyol yang entah kenapa terasa asing sekaligus... tidak buruk.

Pelayan masuk sambil membungkuk hormat. “Yang Mulia, makan malam anak-anak sudah siap.”

Arcellio langsung berdiri. “Aku harus pergi.”

Agerald mengangguk singkat.

Anak itu sudah berbalik menuju pintu ketika langkahnya mendadak berhenti. Ia menoleh lagi, memandang ayahnya sejenak, lalu berkata pelan namun jelas, “Terima kasih, Ayah.”

Tidak menunggu jawaban, Arcellio segera berlari kecil keluar ruangan, mungkin takut kalau ia terlalu lama berdiri di sana maka keberaniannya akan menguap.

Pintu tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Namun kesunyian kali ini terasa berbeda.

Agerald tetap berdiri di tempatnya, memandang pintu yang sudah tertutup rapat. Di atas meja, kotak kayu berisi perkamen ritual masih menunggu seperti ancaman yang belum selesai. Laporan-laporan penyelidikan masih terbuka. Nama-nama, gudang, jalur perdagangan, simbol, ritual, dan kilasan-kilasan aneh yang menyerang kepalanya belum memberikan jawaban apa pun.

Tetapi di sela semua itu, ada satu hal kecil yang justru tertinggal paling lama di benaknya—

“Aku ingin memperlihatkannya kepada Ayah.”

Suara Arcellio tadi terngiang pelan.

Sederhana.

Polos.

Namun entah mengapa, cukup untuk membuat dada Agerald terasa sesak dengan cara yang tidak menyakitkan.

Ia menutup mata sejenak.

Lalu, sangat pelan, nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri, ia berbisik ke ruangan yang kosong—

“Sean...”

Nama itu keluar begitu saja.

Karena tanpa disadari, anak kecil kurus yang baru datang ke kediaman mereka itu telah menjadi titik kecil yang mulai mengubah banyak hal.

Dan Agerald, yang selama ini mengira hidupnya hanya bergerak di antara perang, tanggung jawab, dan kewajiban, baru mulai menyadari bahwa perubahan paling berbahaya sering kali tidak datang dengan dentuman besar.

Kadang, perubahan itu datang dalam wujud seorang anak yang memegang roti dengan tangan gemetar.

Seorang putra kecil yang mengetuk pintu ruang kerja hanya untuk memperlihatkan roda mainannya yang lepas.

Dan seorang perempuan yang seharusnya tetap menjadi boneka tak bernyawa dalam skenario orang lain...

namun justru perlahan menghidupkan kembali seluruh rumah yang telah lama mati.

Malam turun sepenuhnya di kediaman Anwealda.

Di aula makan anak-anak, suara Arcellio dan beberapa anak lain mulai terdengar samar dari kejauhan, bercampur dengan teguran halus pelayan yang menyuruh mereka duduk rapi. Dari arah sayap timur, lampu-lampu dinding dinyalakan satu per satu. Angin malam mulai membawa hawa yang lebih dingin, menggoyangkan tirai tinggi di lorong-lorong panjang kediaman.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Agerald akhirnya membuka mata.

Tatapannya kembali jatuh pada kotak kayu tua di atas meja.

Rasa hangat singkat yang ditinggalkan Arcellio belum benar-benar menghilang, tetapi naluri seorang panglima dan kepala keluarga jauh lebih kuat daripada kenyamanan sesaat. Ia menarik kursinya, duduk, lalu membuka kembali laporan Rivalt satu per satu.

Kalau semua yang terjadi memang saling terhubung—

perdagangan anak.

simbol rantai.

ritual yang disembunyikan.

kilasan-kilasan ingatan yang tidak seharusnya ada.

dan perubahan Kianara—

maka ia tidak punya banyak waktu untuk berdiri diam.

Di luar sana, seseorang sedang menggerakkan bidak-bidaknya dengan sabar.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Agerald mulai merasa bahwa musuh yang sedang mereka hadapi mungkin bukan hanya orang yang ingin menjatuhkan keluarga Anwealda—

melainkan seseorang yang sudah mengetahui takdir mereka jauh sebelum mereka sendiri menyadarinya

1
Siska Sutartini
wowo. penuh misteri. kira2 siapa nihbpara pelaku yg terlibat dalam jaringan tersebut ya? 🤔
Siska Sutartini
hah, untunglag arcelio cepat ditemukan dan belum disiksa. pelakunya mesti dijerat pasal. berlapis ini. jahat sekali
Siska Sutartini
ini yg satu countess bibinya agerald ya, satu lagi siapa ya?. asli tegang baca part ini, penuh misteri 😱
Siska Sutartini
intrik antar sesama bangsawan, wah sungguh melelahkan 😁😁
rose lilian
lanjut
waw jadi tegang banget baca nya ih🤭🤣
janggal Thor,bukan ganjil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,tapi ga papa malah lucu kok semngt thorrr😍😍
Lia.nara: thks ya /Smile/
total 1 replies
Wahyuningsih
thor buat duke menyesal d buat segan matipun tk mau enak aja
Wahyuningsih
thor buat kianara badaz abiz bla prlu dot bonus ruang dimendi biar mkin sru n buat duke menyesal d buat segan mtipun tk mau biar nyakho dia
Lia.nara: teeimakasih atas sarannya, ikuti alurnya saja...akan banyak kejutan di depan
total 1 replies
Wahyuningsih
mampir q thor.....
Intan Aprilia Rahmawati
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!