Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesum!
"Memangnya ini dunia apa?" tanya gadis itu agak penasaran.
Pria tua itu tidak berniat menyembunyikannya sama sekali. "Kamu saat ini berada di Benua Changyu, Kekaisaran Chaoming. Selebihnya, kamu akan tahu sedikit demi sedikit di masa depan."
Mendengar nama yang tidak dikenalnya sama sekali, Li Yunru terlihat putus asa. "Aku tidak peduli apakah itu Benua Changli, Changye, Chang'er. Intinya aku hanya ingin pulang ke tempatku berasal."
Pria tua itu menghela napas. Ia menatapnya cukup lama sambil mengelus janggutnya, seolah sedang menimbang sesuatu.
"Tapi, Nak. Itu tidak mungkin. Kamu ditakdirkan untuk dunia ini. Lagi pula lelaki tua ini yakin kamu akan menyukai dunia ini. Di sini, kamu bisa menjadi koki."
Li Yunru tertegun. "Menjadi koki?"
Memasak memang merupakan salah satu hobinya yang paling ia kuasai setelah belajar bela diri. Tapi menjadi seorang koki tampaknya sedikit berlebihan.
Pria tua itu mengangguk ringan. "Ya, jadilah koki spiritual. Hanya kamu yang bisa melakukannya dengan sangat baik. Dunia ini juga sedang menunggumu."
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, tubuh pria tua itu perlahan memudar seperti asap. Sosoknya berubah menjadi cahaya, lalu menjelma menjadi seekor naga putih raksasa transparan yang melayang di langit ruang spiritual.
Aura agungnya langsung memenuhi seluruh ruang spiritual. Naga putih itu perlahan menoleh. Mata besarnya tertuju pada Li Yunru.
"Nak, ingatlah, namaku Bai Shenzhen. Dan lelaki tua ini benar-benar minta maaf karena menyeretmu ke dalam masalah."
Sosok naga putih transparan itu mulai berubah menjadi partikel cahaya. Sebelum menghilang, ia kembali berkata pada Li Yunru.
"Sekali lagi, tolong jagalah dia. Dengan begitu, lelaki tua ini yakin dia tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama ...."
Dalam sekejap, naga putih transparan itu lenyap dari pandangan. Li Yunru hanya bisa berdiri kaku. Apa maksud semua ini? Masih harus menjaga seseorang?
Apakah dia ... benar-benar bertransmigrasi ke dunia lain?
Li Yunru akhirnya berseru, "Tunggu! Tunggu dulu!"
Namun tidak ada jawaban. Ruang spiritual itu kembali sunyi. Li Yunru menggaruk kepalanya frustrasi, lalu mengedarkan pandangan hingga tatapannya jatuh pada rak kayu kecil yang dipenuhi buku-buku usang.
"Mungkin aku bisa mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi."
Li Yunru bergumam sambil menghampiri rak itu. Tanpa sadar, ia menyentuh dahinya. Luka lecet akibat terbentur batu tadi ternyata sudah sembuh tanpa meninggalkan bekas.
"Lalu mengapa naga tua itu membenturkan kepalaku ke batu? Untuk mengenali kepemilikan ruang?"
Melemparkan pertanyaan yang tak mungkin terjawab, Li Yunru menarik salah satu buku usang dari rak kayu tua di depannya. Begitu dibuka, huruf-huruf di atas kertas seolah hidup dan memancarkan cahaya samar.
Li Yunru mengucek matanya, merasa salah lihat. Saat menatap isi buku itu lagi, semuanya tampak normal. "Sepertinya memang salah lihat," gumamnya.
Isi buku dipenuhi tulisan yang sama sekali tidak ia pahami. Bukan bahasa yang dikenalnya, melainkan tulisan kuno. Li Yunru mengambil buku lain, tetapi hasilnya tetap sama. Dia benar-benar bisa gila! Apakah semua buku ini ditulis dengan bahasa alien?
Tiba-tiba terdengar suara benda kecil tercebur ke air. Li Yunru buru-buru mengembalikan buku itu ke rak lalu menghampiri kolam kecil di tengah ruang spiritual.
Namun permukaan kolam tetap tenang, seolah tidak ada apa pun yang jatuh. Tanpa sengaja, ia justru melihat bayangan seekor kelinci putih yang sangat lucu di permukaan air. Wujudnya mirip Ruu, tetapi lebih kurus dan tanpa pita merah di lehernya.
Li Yunru membelalakkan mata dan mencoba melihat lebih dekat. Namun sesaat kemudian, yang terlihat hanya bayangannya sendiri. Apakah tadi ia salah lihat?
"Apakah aku mulai berhalusinasi?" gumamnya.
......................
Di salah satu kamar tamu Istana Yayue, Li Yunru yang pingsan telah dibaringkan di atas tempat tidur. Bai Muzhi duduk santai di kursi kecil di samping ranjang, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sementara itu, Hei Sanfeng dan Ruu masih berdebat tanpa henti.
Hei Sanfeng, yang masih berwujud elang hitam, melebarkan sayap dan menatap tajam ke arah Ruu. "Mengapa kamu menyalahkanku?! Aku membawanya karena dia memang terlalu mencolok! Ini bukan salahku!"
"Kamu pikir dia ayam yang bisa kamu culik untuk dimakan?!" Ruu memasang kuda-kuda, tubuh gemuknya merendah, siap menerjang kapan saja.
Elang hitam itu langsung waspada. Ia buru-buru terbang rendah dan bersembunyi di dekat Bai Muzhi, seolah menjadikannya perisai. Puncak kepalanya yang botak tampak semakin mencolok di bawah cahaya ruangan.
"Itu lebih baik daripada aku menjadikanmu santapanku! Dagingmu sekecil itu, tidak mungkin mengisi celah gigiku!"
"Elang tidak punya gigi! Dasar burung bodoh!" Ruu hampir memutar bola matanya karena kesal.
"...."
Tanpa sadar, elang hitam itu menutupi paruhnya dengan kedua sayap. Ia selalu menganggap dirinya seekor harimau, jadi ucapan tadi terlontar begitu saja.
Bai Muzhi melipat kedua tangan di dada, jelas mulai jengah dengan pertengkaran itu. "Hei Sanfeng, berapa umurmu? Masih saja berdebat dengan seekor kelinci?"
"Heh! Kamu membela kelinci gendut itu karena kamu adalah tuannya!"
"Aku bukan lagi tuannya. Gadis itu tuannya sekarang," timpal Bai Muzhi datar tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
Elang hitam itu tidak percaya. "Hah? Bagaimana mungkin? Apakah karena gadis manusia itu pasanganmu, jadi kelinci gendut itu juga menjadi tawanannya?"
"...."
Ucapan itu terdengar seolah Bai Muzhi dan Li Yunru sedang mengeksploitasi seekor kelinci. Sudut mulut Bai Muzhi berkedut tipis, antara kesal dan enggan menanggapi.
Memang sulit berbicara dengan elang yang sedang kesal. Pandangannya sempat jatuh pada kepala botak Hei Sanfeng. Godaan untuk mencabut beberapa helai bulu yang tersisa sempat terlintas di benaknya.
Bai Muzhi akhirnya menghela napas. "Seriuslah. Mengapa kamu tiba-tiba membawa gadis itu ke sini?"
"Apakah kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
"Apa yang harus kutahu?"
Elang hitam jelmaan Hei Sanfeng memekik kesal, lalu berteriak hingga suaranya menggema di dalam kamar. "Dia itu pasanganmu! Bagaimana mungkin kamu tidak tahu bahwa aura spiritual hijau di tubuhnya sangat menggoda iman!"
Bai Muzhi mendengus pelan. "Kedengarannya seolah-olah kamu makhluk yang sangat taat pada dewa."
"Aku memang memuja Dewa Binatang! Huh! Dasar tidak peka, selalu saja seperti ini!" gerutunya.
Elang hitam itu mengibaskan sayapnya dengan kesal sebelum melanjutkan dengan nada bosan, "Dia memakai cincinmu, belum lagi kamu sudah menandainya sebagai pasanganmu. Kalau itu aku, pasti sudah kuikat ke istana dan kujadikan ratuku!"
Bai Muzhi sedikit mengernyit. Memang ada yang terasa aneh sejak Li Yunru muncul dari udara kosong. Tanpa sadar, tangannya terulur ke arah kerah gadis itu.
Hei Sanfeng dan Ruu langsung terkejut. Bai Muzhi benar-benar berinisiatif menyentuh lawan jenis? Bahkan sampai membuka kerah bajunya?
Bai Muzhi sama sekali tidak menyadari apa yang dipikirkan Hei Sanfeng dan Ruu. Perhatiannya tertuju pada tato kecil berbentuk naga putih di dada kiri gadis itu.
"Ini benar-benar merepotkan," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Pikirannya masih terpaku pada tanda kepemilikan itu hingga tak menyadari Li Yunru perlahan mulai siuman.
Kelopak mata gadis itu bergerak perlahan. Pandangannya masih buram, tetapi ia melihat sosok berhanfu putih di sampingnya. Tangan pria itu sedang menarik kerah bajunya.
Tunggu dulu ... kerah baju? Tuhan! Pria mesum mana yang berani memanfaatkan tubuhnya?!
Kesadaran Li Yunru langsung pulih. Tanpa berpikir panjang, ia berteriak marah. Sebagai pemegang sabuk hitam bela diri, tamparannya jelas tidak bisa dianggap remeh.
"Ahhhh!! Dasar mesum! Beraninya macam-macam denganku!"
Plakk!
Suara tamparan yang nyaring bergema di seluruh ruangan. Bai Muzhi tidak sempat menghindar. Ia hanya melihat bayangan tangan kecil melayang sebelum mendarat tepat di wajahnya. Kepalanya sedikit terdorong ke samping, disusul rasa panas yang menjalar di pipinya.
Hah! Gadis manusia itu bukan hanya jatuh menimpanya dan mencuri ciuman, sekarang bahkan berani menamparnya?
Bai Muzhi menyentuh pipinya yang sedikit memerah. Mata merah darahnya sedikit menyipit, menatap Li Yunru dengan sorot yang dalam dan sulit dibaca.
"Manusia, sekarang kamu berani memukul wajah raja ini?" Suaranya rendah, menahan amarah di balik ketenangannya.
Li Yunru segera bangkit dan duduk tanpa sedikit pun terlihat takut. Ia melotot tajam, sementara kedua tangannya refleks menutupi dada, seolah pria di depannya akan melakukan sesuatu yang tidak senonoh.
"Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan dengan menarik bajuku? Aku tahu aku cantik, tapi aku tidak suka pria narsistik!"
Ekspresi Bai Muzhi nyaris tidak berubah. "Dada sekecil itu, siapa yang menginginkannya?" tanyanya datar, seolah hanya menyampaikan fakta.
"Apa—apa katamu?!" Li Yunru langsung tersinggung. Wajahnya memerah antara marah dan malu. "Humph! Punyamu saja yang kecil!"
Kali ini Bai Muzhi benar-benar tidak bisa menahan senyum tipisnya, terlebih ketika tatapan Li Yunru tanpa sadar sempat meluncur ke arah bawah tubuhnya sebelum buru-buru dialihkan.
"Wanita, apa kamu sedang mempertanyakan kejantanan raja ini?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂