NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C029: Pengalaman Gerald Dan Perusahaannya

...Selamat Baca...

Pagi itu pada tanggal 11 September, sinar matahari menyelinap lewat celah jendela kayu ruang kerja Gerald, menaburkan cahaya keemasan yang lembut di atas meja besar yang tertata rapi.

Ruangan itu tidak mewah secara berlebihan, tapi terasa berwibawa—dindingnya dilapisi panel kayu yang masih kokoh, dihiasi beberapa pigura foto dan dokumen perizinan usaha yang tergantung rapi.

Bau kertas dan kayu harum menyelimuti seluruh ruangan, menciptakan suasana tenang yang mendukung untuk berbicara hal‑hal penting.

Alexander sudah duduk di kursi tamu, menunggu dengan sikap sopan namun tenang. Setelah beberapa saat,

Gerald masuk membawa dua cangkir teh hangat, meletakkannya perlahan di atas meja sebelum duduk berhadapan dengan pemuda itu.

“Kamu meminta saya untuk bertemu secara khusus pagi ini. Apakah ada hal penting yang ingin dibicarakan?” tanya Gerald sambil menyesap tehnya sedikit,

Matanya menatap tajam namun ramah ke arah Alexander. Alexander mengangguk, lalu duduk lebih tegak seolah mempersiapkan kata‑katanya dengan matang.

“Benar, Tuan Gerald. Sejak kita membahas rencana membuka kantor dan studio di sini, saya terus memikirkan satu hal lagi yang terasa sangat penting dan belum terpenuhi,” jawabnya dengan nada tegas namun sopan.

“Selama ini Liana berkarya sebagai penyanyi dan pembuat konten, tapi semuanya masih dikelola secara mandiri atau dibantu tim kecilnya."

"Ia belum memiliki payung resmi yang kuat untuk melindungi nama baiknya, mengurus hak cipta,"

"Hingga mengembangkan karier ke tahap yang lebih tinggi—terutama sekarang ketika ia berniat merambah dunia akting juga.”

Gerald menyimak dengan saksama, tidak menyela, hanya memberi isyarat agar Alexander melanjutkan.

“Saya ingin membuka cabang usaha baru yang bergerak di bidang industri hiburan dan manajemen bakat,” lanjut Alexander.

“Bukan hanya untuk mencari keuntungan semata. Tujuan utamanya adalah menjaga nama besar Putri Bangsawan Virlan—nama yang mulai dikenal luas publik."

"Saya ingin memastikan setiap langkah karier Liana terencana dengan baik, tidak terjebak kontrak yang merugikan, dan bisa berkembang sesuai bakatnya tanpa tekanan yang tidak perlu."

"Karena ini bidang yang sama sekali baru bagi saya, saya tidak ingin melangkah sembarangan.”

Gerald tersenyum tipis, lalu meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja. Tatapannya kini berubah menjadi lebih hangat dan penuh pengertian.

“Kamu tahu, kebetulan sekali hal yang kamu bicarakan ini adalah ranah yang sudah saya geluti selama lima tahun terakhir,” ujarnya pelan namun mantap.

“Tepat di tahun yang sama saat Liana memulai hidupnya dalam ikatan pernikahan, dan bantuanmu saat itu, dan sekarang pun uangnya masih tersisa."

"Saya pun memulai lembaran baru dan membangun usaha ini dari nol. Namanya Varella Entertainment Group—sebuah perusahaan agensi menengah yang kini telah membina puluhan bakat."

"Aktor, aktris, penyanyi, idola remaja, hingga grup musik lokal yang cukup dikenal di wilayah ini.”

Ia menunjuk ke arah deretan dokumen dan papan informasi di sudut ruangan.

“Meski baru berjalan lima tahun, saya mengurus semuanya dengan ketat—mulai dari pencarian bakat, pelatihan dasar, negosiasi kontrak,"

"Jadwal kerja, promosi, hingga menjaga hubungan baik dengan stasiun televisi, studio rekaman, dan rumah produksi."

"Dunia ini terlihat gemerlap dari luar, tapi di baliknya penuh aturan, persaingan ketat, dan jebakan yang bisa merusak nama baik dalam sekejap jika tidak dikelola dengan benar.”

Alexander mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya tidak lepas dari wajah Gerald.

“Karena kamu sudah menganggap saya sebagai calon Ayah Mertua, dan niatmu ini tulus untuk melindungi dan memajukan masa depan putriku,” lanjut Gerald dengan nada semakin hangat,

“Maka saya tidak akan ragu. Saya menyetujui rencanamu itu sepenuhnya. Bahkan saya bersedia mengajari dan membimbingmu selangkah demi selangkah."

"Meskipun usaha saya baru berdiri lima tahun, saya sudah memahami seluk‑beluknya dengan baik."

"Mulai dari dasar pengelolaan agensi, cara membaca kontrak, memilih tim yang dapat dipercaya, hingga memahami seluk‑beluk pasar hiburan yang ada di Virlan dan sekitarnya.”

“Terima kasih banyak, Tuan Gerald,” jawab Alexander segera dengan rasa syukur yang terlihat jelas di wajahnya.

“Ini berarti banyak sekali bagi saya. Saya berharap nanti cabang baru ini bisa bersinergi dengan Varella Entertainment Grop milik anda, sehingga perkembangannya bisa lebih terarah dan aman.”

“Ya, tentu saja. Tapi jangan memanggil saya tuan lagi, panggil saja sebagai Ayah, sebagaimana Nyonya Viviane meminta putriku memanggilnya Ibu.” sahut Gerald sambil tersenyum lebar.

"Baiklah, saya mengerti... Ayah." ia tersenyum tipis, Gerald juga tersenyum tipis lalu melanjutkan perkataannya.

“Kita akan atur semuanya. Mulai hari ini, luangkan waktumu sebentar setiap hari untuk belajar. Saya akan tunjukkan catatan‑catatan saya,"

"Perjanjian kerja sama yang sudah ada, hingga memperkenalkanmu pada orang‑orang kunci di bidang ini."

"Ini bukan hanya bisnis, tapi juga cara kita memastikan Liana bisa berkarya dengan tenang tanpa harus memikirkan urusan administrasi yang rumit.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara percakapan itu berlangsung di ruang kerja, di lahan yang sudah ditetapkan sebagai lokasi pembangunan, suasana sudah mulai terasa sibuk namun teratur.

Beberapa tiang kayu penanda batas lahan sudah tertancap rapi, benang pengukur membentuk garis‑garis lurus yang menandakan tata letak bangunan,

Dan sejumlah peralatan serta bahan bangunan sudah mulai diangkut dan disusun di sudut aman.

Liana tiba ditemani Viviane, mengenakan pakaian yang nyaman namun tetap rapi, siap memantau langsung rencana pembangunan tempat yang nantinya akan menjadi pusat usahanya.

Tak lama kemudian, kepala arsitek beserta dua orang asistennya menyambut kedatangan mereka dengan sikap hormat.

“Selamat pagi, Nyonya Liana, Nyonya Viviane,” sapa arsitek itu sambil sedikit membungkuk.

“Kami sudah melakukan pengukuran awal sesuai luas lahan yang ditentukan. Sekarang kami ingin mendengar langsung keinginan Nyonya mengenai bentuk dan karakter bangunan ini, agar kami bisa menyusun desain yang paling pas.”

Liana melangkah mendekat ke peta sketsa kasar yang sudah dibentangkan di atas meja lipat yang disiapkan di tempat teduh.

Ia menatapnya sejenak, membayangkan wujud bangunan itu berdiri megah di tengah tanah ini, sebelum mulai berbicara dengan suara yang tenang namun penuh kepastian.

“Terima kasih atas kerjanya. Aku ingin bangunan ini nantinya setinggi sepuluh lantai, cukup menjulang namun tetap proporsional dengan lingkungan sekitar,” ujarnya perlahan namun jelas.

“Untuk gayanya, aku menginginkan perpaduan yang seimbang: mengusung kesan klasik khas Virlan yang anggun,"

"Bernilai sejarah, dan tidak lekang oleh waktu, namun tetap memiliki fungsi serta tampilan yang modern, praktis, dan mengikuti perkembangan zaman.”

Arsitek mencatat setiap kata dengan teliti, sesekali mengangguk tanda mengerti.

“Bisa Nyonya jelaskan sedikit lebih rinci mengenai bagian‑bagian utamanya?” tanyanya kembali.

“Lantai paling dasar harus memiliki parkiran bawah tanah, parkiran luar bawah tanah. Lalu lobi yang sangat luas dan megah, cukup tinggi langit‑langitnya agar terasa lapang dan nyaman."

"Di sana nanti akan ada ruang tunggu, meja resepsionis, dan area pameran kecil untuk menampilkan karya atau pencapaian yang kami miliki."

"Pencahayaannya harus cukup banyak memanfaatkan cahaya matahari alami,” jelas Liana sambil menunjuk bagian bawah sketsa.

“Lantai di atasnya akan dibagi menjadi ruang kantor manajemen, ruang pertemuan, ruang latihan seni,"

"Ruang rekaman tambahan, hingga ruang penyimpanan dokumen dan peralatan. Setiap sudutnya harus didesain agar mendukung aktivitas kerja dan berkarya dengan tenang.”

Viviane yang sejak tadi hanya mendengarkan, kini turut menyampaikan pendapatnya dengan nada lembut namun berwawasan luas.

“Selain itu, usahakan memilih bahan bangunan yang awet dan berkualitas, namun tetap terlihat hangat,” tambahnya.

“Kita bisa menambahkan sentuhan ukiran halus khas Virlan di bagian pilar dan hiasan luarnya, agar kesan klasiknya semakin terasa."

"Jangan lupa sisakan ruang terbuka dan taman mini di bagian tengah atau samping gedung, sehingga penghuni di dalamnya tetap bisa melihat pepohonan dan menghirup udara segar tanpa harus keluar dari gedung sepenuhnya."

"Itu akan membuat suasana kerja menjadi lebih nyaman dan tidak terasa kaku.”

“Nasihat yang sangat baik, Nyonya Viviane,” puji arsitek itu sambil terus mencatat.

“Kombinasi gaya klasik dan modern ini bisa diwujudkan dengan baik jika kami mengatur proporsi setiap elemennya."

"Bangunan setinggi sepuluh lantai di tanah yang kokoh ini sangat memungkinkan, struktur pondasinya pun akan kami sesuaikan agar aman dan kuat menopang seluruh beban di atasnya.”

Ia menoleh kembali ke arah Liana.

“Kalau begitu, apakah ada hal lain lagi yang ingin Nyonya sampaikan sebelum kami mulai menggambar desain lengkapnya?”

Liana menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibirnya.

“Untuk saat ini sudah cukup. Yang paling penting adalah bangunan ini kuat, indah, "

"Dan bisa menampung semua kebutuhan usaha kami ke depannya. Aku percaya pada keahlian tim Bapak.”

“Baiklah, Nyonya. Kami akan segera menyusun gambar desain dan perhitungan teknisnya, lalu menyampaikannya kembali untuk disetujui sebelum proses pembangunan benar‑benar dimulai,” jawab arsitek itu dengan yakin.

Setelah tim arsitek pamit dan melanjutkan pekerjaannya, Liana dan Viviane berjalan perlahan mengelilingi batas lahan itu.

Angin pagi yang sejuk berhembus menerpa wajah mereka, membawa aroma tanah yang baru dibalik dan semak liar yang tumbuh subur.

“Kau punya visi yang sangat jelas, Liana,” kata Viviane tiba‑tiba sambil menatap hamparan tanah luas di hadapan mereka.

“Bangunan ini nantinya tidak hanya menjadi tempat bekerja, tapi juga lambang bahwa kau kini mampu membangun duniamu sendiri, dengan kekuatan dan dukungan yang utuh.”

Liana menoleh, matanya berbinar penuh harapan.

“Iya, Ibu. Rasanya baru kemarin aku hanya bisa bermimpi, tapi sekarang semua perlahan mulai terwujud."

"Bersama Ayah, Alex, dan Ibu Via—aku merasa tidak ada yang mustahil untuk dicapai,” jawabnya tulus.

Tak lama kemudian, mereka melihat Gerald dan Alexander berjalan mendekat dari arah jalan utama,

Wajah mereka terlihat santai namun membawa kesan bahwa pembicaraan penting sudah selesai dengan baik.

“Bagaimana hasil pengamatannya?” tanya Gerald sambil tersenyum melihat putrinya.

“Apakah semuanya sudah sesuai dengan keinginanmu?”

“Sudah, Ayah. Kami sudah menyampaikan semua rencana kepada arsitek,” jawab Liana dengan senyum lebar.

“Mereka akan segera menyusun gambar desainnya.”

Alexander berdiri di sampingnya, tangannya secara alami menggenggam jemari Liana.

“Dan di sisi lain, rencana soal agensi hiburan juga sudah mendapatkan jalan yang jelas,” tambahnya.

“Ayah Gerald sudah setuju untuk membimbing aku, jadi kita bisa melangkah dengan lebih percaya diri.”

Gerald menatap mereka berdua, lalu mengangguk puas.

“Bagus sekali. Semua hal berjalan beriringan—tempatnya sudah disiapkan, ilmunya dipelajari, tujuannya sudah jelas."

"Kita hanya perlu melangkah satu per satu, tidak terburu‑buru tapi juga tidak lambat. Gedung sepuluh lantai itu nantinya akan berdiri megah,"

"Bukan hanya sebagai bangunan batu dan semen, tapi sebagai tempat di mana bakatmu bisa berkembang sepenuhnya, dan nama baikmu selalu terjaga.”

Di bawah langit Virlan yang cerah itu, keempatnya berdiri bersama menatap lahan kosong yang akan segera berubah menjadi gedung megah.

Setiap langkah yang mereka ambil hari ini adalah fondasi kuat untuk masa depan yang baru—di mana karier, usaha, dan kebahagiaan keluarga tumbuh berdampingan dengan kokoh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!