Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Tempat Api Itu Pernah Hidup
Hujan turun pelan di pinggiran kota.
Bukan hujan deras.
Tapi hujan yang terasa seperti ingatan yang tidak mau hilang.
Arsen berdiri di depan sebuah bangunan tua yang sudah setengah runtuh.
Catnya mengelupas.
Besinya berkarat.
Dan papan kecil di depan gerbang masih bisa dibaca samar:
CLARISSA CHILDREN FOUNDATION
Angin malam berdesir pelan di antara puing-puing.
Seolah tempat itu masih mengingat sesuatu.
Sesuatu yang tidak ingin diulang.
Arsen melangkah masuk.
Sepatu hitamnya menginjak tanah basah bercampur abu lama.
Baskoro berdiri di belakang.
“Tuan… tempat ini sudah lama tidak digunakan.”
Arsen tidak menoleh.
“Aku tahu.”
Langkahnya tetap maju.
“Justru karena itu aku di sini.”
Di dalam bangunan.
Ruangan utama sudah hancur sebagian.
Atap bolong.
Kursi kayu berserakan.
Dan bau samar yang tidak bisa dijelaskan masih tertinggal di udara.
Arsen berhenti di tengah ruangan.
Matanya menyapu sekeliling.
“Di sini…” gumamnya pelan.
“…api itu mulai.”
Flash kecil melintas di pikirannya.
Data tadi malam.
Selisih 11 menit.
Anak-anak yang “diselamatkan”.
Dan satu nama.
Anya Clarissa.
Arsen mengangkat tangan, menyentuh dinding yang hangus.
“Kenapa kamu masih di sini…” bisiknya.
“Kalau kamu sudah diselamatkan?”
Tiba-tiba—
suara pelan terdengar dari belakang.
“Karena tidak semua yang diselamatkan benar-benar keluar dari api.”
Arsen langsung menoleh.
Cepat.
Tegas.
Dan di sana—
di pintu masuk bangunan yang terbuka lebar—
Anya berdiri.
Tidak dengan seragam sekolah.
Tidak dengan kacamata bulat.
Tidak dengan topeng cupu.
Hanya dia.
Rambut sedikit basah oleh hujan.
Tatapan mata yang tidak lagi menyembunyikan apa pun.
Arsen membeku sepersekian detik.
“Jadi kamu benar-benar datang,” katanya pelan.
Anya melangkah masuk.
Langkahnya tenang.
Terlalu tenang untuk tempat seperti ini.
“Aku tahu kamu akan ke sini,” jawabnya.
Baskoro langsung siaga.
“Tuan, ini bisa jebakan.”
Arsen mengangkat tangan, menghentikannya.
“Tidak.”
Matanya tetap pada Anya.
“Ini bukan jebakan.”
Ia berhenti.
“Ini pertemuan.”
Anya berdiri beberapa meter di depannya.
Di antara mereka:
abu.
hujan.
dan masa lalu yang belum selesai.
Arsen menatap sekeliling.
“Jadi ini tempatmu dulu tinggal.”
Anya tidak langsung menjawab.
Ia menatap bangunan itu lama.
Seolah melihat sesuatu yang tidak lagi ada.
“Dulu bukan tinggal,” katanya akhirnya.
“Dulu… bertahan.”
Hening.
Suara hujan terdengar lebih keras.
Arsen melangkah sedikit lebih dekat.
“11 menit,” katanya.
Anya tidak bereaksi.
“Aku sudah melihat catatannya,” lanjut Arsen.
“Semua anak di sini…”
Ia berhenti.
“…selamat.”
Anya tersenyum kecil.
Tapi tidak hangat.
Lebih seperti luka yang sudah tidak berdarah lagi.
“Selamat?” ulangnya pelan.
Ia mengangkat pandangan.
Dan untuk pertama kalinya—
suara Anya tidak lagi lembut.
“Tanyakan itu ke mereka yang tidak pernah keluar.”
Sunyi.
Arsen menatapnya lama.
“Jadi kamu menyembunyikan apa di sini?”
Anya menggeleng pelan.
“Bukan aku yang menyembunyikan.”
Ia berhenti.
“Dunia yang menghapusnya.”
Arsen menyipitkan mata.
“Kebakaran itu bukan kecelakaan.”
Anya diam.
Tidak membantah.
Tidak mengiyakan.
Tapi juga tidak menolak.
Dan itu cukup untuk Arsen.
Ia melangkah lagi.
Sekarang jaraknya hanya beberapa langkah.
“Aku ingin tahu kebenarannya,” kata Arsen pelan.
“Semua kebenaran.”
Anya menatapnya.
Lama.
Sangat lama.
Lalu berkata pelan:
“Kalau kamu tahu semuanya…”
“…kamu tidak akan bisa kembali ke kehidupan yang kamu kenal.”
Arsen tersenyum tipis.
“Sudah terlambat.”
Angin masuk lewat lubang atap.
Membuat debu berputar di udara.
Seperti waktu yang berhenti sebentar.
Anya menghela napas kecil.
“Arsen…”
Ini pertama kalinya dia menyebut nama itu tanpa jarak.
“Kenapa kamu begitu keras kepala?”
Arsen menatapnya langsung.
“Karena kamu juga begitu.”
Hening.
Dan untuk sepersekian detik—
tidak ada CEO.
tidak ada siswi beasiswa.
tidak ada Queen.
tidak ada dunia bawah tanah.
Hanya dua orang yang berdiri di reruntuhan yang sama.
Lalu Arsen berkata pelan:
“Kalau aku bilang aku akan berhenti mencari, kamu akan percaya?”
Anya tersenyum kecil.
“Tidak.”
Jawaban jujur.
Tanpa topeng.
Arsen mengangguk.
“Bagus.”
Ia melangkah mundur sedikit.
Bukan menyerah.
Tapi mengatur ulang posisi.
Seperti pemain catur yang baru melihat seluruh papan.
“Aku tidak akan berhenti,” katanya.
“Sekarang aku bukan hanya curiga.”
Ia menatap Anya tajam.
“Aku terlibat.”
Anya menatapnya lama.
Lalu berbisik pelan:
“Itulah masalahnya.”
Ia berbalik sedikit.
Namun sebelum pergi—
ia berkata tanpa menoleh:
“Kalau kamu terus mendekat ke api ini, Arsen…”
“…kamu akan terbakar juga.”
Arsen tidak menjawab.
Tapi matanya tidak berpaling sedikit pun.
Anya berjalan keluar dari bangunan itu.
Hujan menyambutnya lagi.
Dan untuk pertama kalinya—
punggungnya terlihat sedikit lebih berat dari biasanya.
Di dalam bangunan.
Arsen berdiri diam.
Baskoro mendekat pelan.
“Tuan… kita lanjutkan investigasi?”
Arsen menatap bekas langkah Anya di tanah basah.
Lalu berkata pelan:
“Tidak.”
Baskoro terkejut.
“Tidak?”
Arsen mengangguk kecil.
“Sekarang kita tidak lagi mencari.”
Ia berhenti.
“Kita mengikuti.”
Dan malam itu—
permainan berubah lagi.
Bukan lagi tentang siapa yang lebih cepat menemukan rahasia.
Tapi siapa yang lebih dulu kehilangan kendali atas perasaan yang mulai ikut terlibat.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏