Dirumah sakit Camilla bertemu Tante Itoh. tantenya yang kebetulan bekerja disana. Tiba-tiba tanpa sepengetahuan Camilla, Tante Itoh merencanakan pernikahan Camilla dengan anak temannya yang merupakan seorang dokter yang bekerja di Belanda. Yang dimana pernikahan mereka harus segera terjadi secepatnya.
mengapa Tante Itoh bersikeras menikahkan Camilla dengan teman anaknya?
baca terus sampai habis jika ingin mengetahui kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Flashback – 5 Hari Sebelum Wisuda, Amsterdam
Jam 21.40, Jordaan District, Amsterdam
Raffa keluar dari RS AMC jam 9 malam. Shift selesai, tapi dia nggak langsung pulang.
Di HP ada chat dari Dira: “Camilla bilang dia pengen kalung stetoskop buat wisuda. Tapi nggak mau minta.”
Raffa diem baca chat itu 3 kali. Terus ketik: “Oke.”
Jordaan malam itu dingin. Raffa jalan kaki 15 menit ke toko perhiasan kecil langganan Adrian.
Pemiliknya, Meneer Janssen, udah hafal muka Raffa.
“Dokter Raffa. Lagi? Kemarin beli obat flu buat istri, sekarang mau apa?”
Raffa diem sebentar. “Kalung liontin Kecil.”
Meneer Janssen ngangguk, langsung keluarin kotak-kotak.
“Buat anniversary?”
“Bukan.” Raffa ngambil satu kalung, liat detailnya. “Wisuda.”
“Wah, spesial. Mau diukir?”
Raffa mikir 10 detik. “Emang bisa?”
“Bisa”
“Hmm…Gak usah deh”
Meneer Janssen senyum. “Oke…”
Raffa nggak jawab. Cuma bayangin muka Camilla pas buka kotaknya.
“Ukurannya yang S. Leher istri saya kecil” katanya pelan.
Meneer Janssen ketawa kecil. “Siap, Dokter. Besok pagi jadi.”
---
Malamnya, Apartemen Amstelveen
Raffa pulang jam 11 malam. Camilla udah tidur di sofa, masih pake daster, HP di dada.
Di TV masih nyala vlog wisuda periode 1 temannya
Raffa matiin TV, angkat Camilla pelan-pelan ke kamar.
Dia narik selimut, nutupin Camilla sampe dagu.
Di meja nakas, dia taro kotak kecil. Belum dikasih. Masih nunggu waktu yang pas.
Sambil duduk di pinggir kasur, Raffa ngelirik Camilla.
Dia bisik pelan, hampir nggak kedengeran:
“Selamat wisuda, Camilla putri wijaya S.Sos.
Mas nggak bisa ngomong langsung besok. Malu.
Jadi Mas tulis aja di surat kotak kalung.”
Camilla nggak bangun. Tapi di antara mimpi dan nyata dia senyum.
---
Kembali ke Sore di Indonesia
Camilla masih megang kalung itu, matanya berkaca.
“Mas… kok tau aku pengen yang kayak gini?”
Raffa ngelirik ke sawah. “Dira yang bilang.”
Camilla ketawa. “Jadi Mas nggak mikir sendiri?”
Raffa diem 2 detik. “Mikir. Tapi Dira yang ngomong duluan.”
Alasan klasik. Kaku.
Tapi Camilla tau, Raffa yang meng ide membelikan kalung liontin. Alesan saja dira yang ngide, biar camilla nggak ngerasa percaya diri.
Dia pasang kalungnya sendiri, terus nunjukin ke Raffa.
“Gimana? Cocok?”
Raffa ngelirik sekilas. “Cocok. Dipastikan Nggak bakal ketuker sama wanita lain.”
Camilla “Ih mas! Itu gombal versi mas ya?”
Raffa nggak jawab. Cuma narik selendang Camilla lagi, biar nggak melorot.
“Angin kencang. Masuk angin, repot.”
Camilla senyum. “Iya, Dokter. Makasih ya… buat semuanya.”
Raffa cuma angguk kecil.
“Foto yuk mas”
“Perasaan hari ini udah foto beribu beribu, masih kurang?”
“Iss, pake camera poloroid yang ini mas, sekalian mumpung lagi pake liontin ini kan”
“Oh oke lah”
Klik
“Wah bagus mas, mana dompet mas?”
Raffa menberikan dompetnya.
“Nih, buat apa?”
Camilla menaruh foto mereka berdua di slip dompet raffa
“Biar mas inget aku selalu pas buka dompet”
Raffa tidak berkata kata, hanya balasan senyuman yang diberikan.
“Oh iya, hari ini kamu ga buat vlog?”
“Niatnya sih mau buat, tp nggak jadi mas, terlalu darderdor hari ini”
“Tapi ini moment spesial loh”
“Aturan kalau mas peka, mas yang videoin. Huftt”
‘Kena lagi deh gua’ batin raffa
“Iya iya siap salah bu camilla putri wijaya s.sos”
“Mas nanti sebelum pulang ke Belanda, kita ziarah makan ibu dulu ya”
Raffa yang mendengar itu pun langsung terenyuh, wanita yang dipilihkan ibunya raffa ini benar benar ingat dengan ibu nya.
“Oke” ucap raffa tersenyum
---