NovelToon NovelToon
JUST KILL ME

JUST KILL ME

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Kriminal / Horor / Militer / Misteri / Cintapertama / Tunangan Sejak Bayi / Cinta Seiring Waktu / Mata-mata/Agen / Tamat
Popularitas:933.6k
Nilai: 5
Nama Author: Seul Ye

Aku sudah menggilainya sejak tingginya baru sepinggangku. Bahkan setelah lima belas tahun berlalu pun, aku masih tergila-gila padanya, pada gadis kecil berisik itu, Miya.

Tapi tiba-tiba Miya menghilang, tanpa jejak, tanpa alasan, dan tanpa pamit. Aku yang tak sudi hidup tanpanya, bertekad untuk mencarinya meski harus memorak-porandakan surga dan neraka.

Dan ketika akhirnya aku menemukannya, ia berbisik lirih padaku. "Apa yang akan kau lakukan jika Ibuku dan Ayahmu saling mencintai, Kingston?"

.
.
.

HALO, INI SEUL YE.
MOHON DUKUNGANNYA YA UNTUK KARYA RESMI PERDANA SAYA.
MOHON DIMAKLUMI JUGA JIKA BANYAK KESALAHAN PENULISAN DALAM KARYA INI.
SAYA MASIH BELAJAR DAN AKAN TERUS BELAJAR.
TERIMA KASIH. SELAMAT MEMBACA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seul Ye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 27

DORR..

Suara tembakan menggema sangat jelas di tengah hutan belantara. Baru saja aku, Jeff, Paul dan beberapa orangku yang lain menyaksikan secara langsung Hideyoshi yang menembak sendiri kepalanya. Masih terngiang di telingaku informasi terakhir yang disampaikan Hideyoshi, dia berkata jika selama di Thailand dia sengaja membiarkan Miya bertemu dengan Besse.

"Kebumikan dia dengan layak," titahku pada dua orangku yang langsung membereskan mayat Hideyoshi.

Aku meninggalkan lapangan latihan itu dan kembali ke tendaku dengan perasaan campur aduk. Ini kali pertama aku merasa menyesal dengan keputusan yang kubuat. Sejujurnya aku bisa membiarkan Hideyoshi tetap hidup jika saja dia mau bertahan untuk menyimpan rapat-rapat perasaan cintanya pada Miya, meski cepat atau lambat aku pun akan mengetahuinya.

DRRTT.. DRRTT..

"Halo?"

"Hei, cepat kembali ke dorm sebelum aku menghabisi mantan pasangan perjodohanmu ini."

"Tak perlu sungkan," jawabku pada Jess sambil memutus panggilan telepon.

...***...

Sejak Besse tinggal di dorm dengan dalih mendekatkan hubungan kami, aku tidak pernah lagi menginjakkan kakiku di sana. Aku lebih memilih menghabiskan waktu di markas rahasiaku yang ada di tengah hutan belantara sambil melakukan panggilan video dengan Miya. Sudah dua minggu aku tidak bertemu Miya, karena ia sibuk menyelesaikan ujian akhirnya di universitas, tapi tiba-tiba sore ini Miya mendatangiku.

"Hei Kingston, kurasa kau akan kesal jika mendengar ini tetapi Miya tidak datang ke sini sendirian," ujar Eli.

Aku menghentikan langkahku dan menoleh pada Eli. "Jangan katakan dengan gadis licik itu."

"Sayangnya iya."

"Sialan, kenapa mereka jadi sangat akrab," gumamku.

Saat tiba di tendaku, aku langsung bergegas masuk dan seketika itu juga kudapati pemandangan yang membuat mataku seakan diperciki air keras. Terlihat Miya terlelap di pangkuan Besse, sedangkan Besse sendiri sedang asyik memvideokan Miya dengan handycam miliknya sembari tertawa girang.

"Ah kau sudah datang. Wah, bagaimana bisa kau tetap tampan meski memakai kaos lusuh seperti itu?"

"Matikan itu," balasku pada Besse.

Besse mendecak. "Jadi selama ini kau menghindariku dan bersembunyi di tempat menyeramkan seperti ini?"

"Pindahkan kepalanya pelan-pelan dan menyingkir."

Besse menyeringai sambil mengusap kepala Miya. "Bagaimana kalau aku tidak mau?"

Baru saja aku hendak merogoh pistol dari holster di pinggangku, namun Miya sudah terbangun dari tidurnya. Dengan terburu aku memasukkan kembali pistol itu dan menghampiri Miya yang kini sedang terduduk sembari menggosok sebelah matanya.

Aku bersimpuh di depan Miya. "Apa tidurmu nyenyak?"

"Tidak. Kursi ini sangat keras. Sepertinya tulangku retak."

Aku tertawa. "Aku merindukanmu."

"Wah, kau kejam sekali mengatakan rindu pada wanita lain di depan calon istrimu." Besse tertawa sambil beranjak. "Hah, di sini sangat sesak. Aku keluar sebentar."

Aku menoleh sebentar pada Besse yang sedang berjalan keluar dari tendaku. Entah kenapa aku merasa Besse sengaja berdalih pergi demi meninggalkanku dan Miya berdua. Pertama kali bertemu Besse, aura jahatnya terasa sangat pekat. Namun anehnya kini tak lagi kurasakan aura jahat itu dari Besse. Lamunanku terhenti ketika tiba-tiba Miya menghambur memelukku.

"Ujianku berakhir dengan baik. Aku ingin memberi tahumu langsung, jadi aku ke sini diam-diam."

Aku mengecup kening Miya. "Kau sudah bekerja keras. Mau merayakannya?"

Miya mengangguk bersemangat. "Bagaimana dengan pesta barbeque lagi?"

"Itu terdengar lezat. Lakukan apapun yang membuatmu senang," balasku sambil mengecup lagi kening Miya.

...***...

Saat ini waktu menunjukkan tepat pukul dua pagi. Aku terbangun karena telepon darurat dari Susan, ia berkata sedang dalam perjalanan ke markas rahasiaku untuk menyewa beberapa agenku. Dengan segera aku pun memanggil Jeff, Paul, Eli, dan Jess ke tendaku dan meminta mereka merekomendasikan orang-orang terbaiknya untuk membantu Susan.

"Bukankah ada salah satu orangmu yang bernama Hideyoshi? Chin Mae bilang dia pernah menyewa Hideyoshi dan kagum dengan hasil kerjanya," tutur Susan.

Aku menggeser beberapa kertas. "Bawa mereka saja. Mereka juga bisa membuatmu kagum."

"Tapi Chin Mae merekomendasikan orangmu yang bernama Hide--"

"Dia sudah mati," selaku pada Susan.

Aku mengacuhkan Susan yang terus bertanya perihal Hideyoshi. Jeff yang tahu aku enggan menjelaskan kronologi kematian Hideyoshi akhirnya mengambil inisiatif. Dengan mendetail Jeff menceritakan awal mula Hideyoshi membuat masalah hingga akhirnya mendapat hukuman dengan menembak kepalanya sendiri.

Jeff menghela napas. "Intinya Hideyoshi telah melanggar aturan yang telah disepakati bersama."

"Ah, jadi begitu. Baiklah, siapkan mereka saja," jawab Susan sambil menunjuk kertas-kertas di meja Kingston.

Mendengar itu, Jeff, Paul, Eli dan Jess langsung bergegas keluar dari tendaku untuk menyiapkan orang-orangnya yang akan dibawa Susan pagi ini juga. Namun tiba-tiba langkah Jeff yang berjalan memimpin di depan itu terhenti. Telihat Miya sedang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Aku beranjak dari kursiku dan ikut menoleh ke arah mereka semua menoleh.

"Kau terbangun? Ti--"

Miya memotong ucapanku sambil memundurkan langkahnya. "Berhenti di sana."

Spontan aku menghentikan langkahku. Aku terkejut setengah mati, karena sorot mata Miya yang seperti itu baru pertama kali kulihat. Aku paham betul arti dari sorot mata itu, sorot mata yang sama persis dengan sorot mata Hideyoshi yang ditujukan padaku sesaat sebelum dia menyarangkan peluru di kepalanya. Sorot mata kesedihan karena telah kehilangan sesuatu yang amat sangat berharga.

DEG! DEG! DEG!

Jantungku berdetak tak beraturan ketika Miya kembali memerintahku untuk tetap diam di tempat. Miya lalu melangkah tergesa melewatiku tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kini Miya sudah berdiri tepat di depan Jeff. Sesaat Jeff melirik ke arahku, namun aku hanya bisa diam tak berkutik.

"Dimana makam Hideyoshi?" tanya Miya.

Jeff berdeham, "apa? Ah itu, Miya biar kujelaskan du--"

"Kalian tahu dimana makamnya?" tanya Miya lagi sambil bergantian menatap Paul, Eli dan Jess.

Tak ada yang menjawab Miya, semuanya mengatupkan kuat-kuat giginya dan hanya menoleh ke arah satu sama lain dengan wajah bingung. Suasana semakin menegang ketika Miya memutuskan keluar dari tendaku untuk menelusuri hutan dan mencari makam Hideyoshi seorang diri.

"Berhenti di sana."

"Lebih baik kau tetap diam jika tak mau memberikan jawaban yang kumau," sahut Miya padaku tanpa menghentikan langkahnya.

"Kenapa tiba-tiba kau menjadi sangat peduli pada Hideyoshi? Kau juga jatuh cinta padanya?"

"Jika aku bilang iya apa kau akan menunjukkan dimana makamnya?"

Kakiku yang semula terasa dipatri karena takut dengan sorot mata Miya yang menyuguhkan kesedihan untuk pria lain itu, mendadak menjadi ringan dan tanpa kusadari kini aku sudah berdiri di hadapan Miya. Semakin kutatap sorot mata itu semakin membuat pikiran dan hatiku berkecamuk. Aku yakin Miya tak sungguh-sungguh dengan perkataannya barusan, tapi di sisi lain aku pun cemas karena ia adalah orang yang tidak mengenal kebohongan.

"Coba ulangi yang baru saja kau katakan," perintahku pada Miya.

"Kenapa? Kau tak terima? Kurasa Hideyoshi jauh lebih baik darimu, karena dia tidak sembarangan melukai orang meski orang itu dirasanya jahat."

Aku tersenyum. "Berarti keputusan yang tepat membuatnya mati."

"Selama ini aku berusaha menyangkalnya, tapi ternyata kau benar-benar seorang tiran."

DEG! DEG! DEG! DEG!

Miya melanjutkan, "Tak masalah jika itu orang-orang jahat, karena tugasmu memang untuk melukai mereka. Tapi bagaimana bisa Ayahmu, dan Hideyoshi juga? Apa kau tidak bisa merasakan jika mereka adalah orang-orang yang baik?"

DEG! DEG! DEG! DEG! DEG!

"Kita akhiri saja. Sungguh, aku tidak mau lagi ada orang-orang baik yang terluka hanya karena alasan remeh," imbuh Miya dengan suara bergetar.

Meski tak sejalan dengan hatiku yang kini menjerit hebat, entah kenapa bibirku kembali menyunggingkan senyum. Aku tak menjawab Miya atau berusaha menyangkal, karena semua yang baru saja dikatakannya tidak ada satu pun yang salah.

Aku menoleh pada Jeff yang sedari tadi berdiri mematung di sampingku. Tanpa mengatakan apa-apa, aku menyodorkan tanganku padanya. Jeff yang seolah paham apa yang kuinginkan, hanya menggelengkan kepalanya.

Aku lalu menoleh pada Paul yang berdiri di belakang Jeff. Terlihat Paul menelan air liurnya dengan susah payah, aku tertawa kecil. Tanpa berbasa-basi aku langsung mengambil pistol yang kutahu selalu diselipkannya dibalik baju.

Aku menyodorkan pistol pada Miya. "Masih ingat apa yang kukatakan padamu? Jika kau berniat meninggalkanku lagi, kau harus membunuhku dulu."

Tampak kedua mata indah Miya mulai digenangi air mata. Aku terus menguatkan hati agar tidak goyah pada keputusanku untuk mati di tangan Miya. Kupaksa Miya untuk menggenggam pistol itu, dan perlahan menuntunnya untuk mengarahkannya tepat di jantungku.

"Tinggal tarik pelatuknya, berapa kali pun kau ingin," bisikku pada Miya.

Miya menampik pistol itu. "Kenapa tidak kau lakukan sendiri seperti saat kau menyuruh Hideyoshi?"

"Ah, ide yang bagus. Baiklah, akan kulakukan seperti itu jika kau yang memintanya," balasku sambil membelai rambut Miya.

Miya tak menjawab, ia kembali menampik tanganku dan dengan terburu keluar dari tenda. Aku tersenyum lega memandangi punggung kecil Miya dari kejauhan. Lega karena meski hanya sesaat, kedua mata indah berwarna abu-abu itu kini tak lagi menyorotkan kesedihan. Tanpa membuang waktu lagi, aku pun segera menuruti pinta Miya. Kulirik pistol yang tergeletak tak jauh dari kakiku, meraihnya, dan meletakkannya tepat di jantungku.

DORR..

1
Era Simatupang
kali ini AQ akan🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
bunga cinta
jgn jgn sodara sedarah
bunga cinta
dar der dor
bunga cinta
bagus
Era Simatupang
🤣🤣🤣🤣🤣keren Kingston
Era Simatupang
entah yg ke brapa kali ini ku baca
Else Widiawati
kereeenn kata2nya thor....love it...🥰🥰
Else Widiawati
buussyyeettt dahhh.....edan bener2 nih kingston...aduhh jangan ditiru ahh...masa ayahnya sendiri di dorrr😒😒😴
Else Widiawati
aku penasaran berapa umur kingston sekarang?? beda brp tahun dengan miya?
Else Widiawati
beneran ga sih tuh ramalannya??? sampe merinding
Else Widiawati
meleleh aku.....😇😇😇😇
Else Widiawati
kingston emang bener2 gila segitunya sampe rela ditembak....
Else Widiawati
aku baru tau kali bunga lily artinya kebencian.... padahal banyak yg suka bunga lily ketika memberi kado bunga waktu baca novel2🤔🤔
Else Widiawati
dari miya umur 5 tahun sampe miya umur 20 tahun....sedangkan miya sejak umur berapa mulai menyukai kingston?? duuhhhh apa mereka akan bertemu thor....
Else Widiawati
aku masih nyimak ceritanya thor....
Else Widiawati
mampir thor baca cerita pertamamu....kayaknya lebih suka dengan cerita ini yah.... wahh bakalan otw marathon ini
Else Widiawati: bukan , aku masih blm nyimak ceritanya... dan blm sempet buka lagi... pas baca yang ini ko lebih semangat bacanya...ceritanya tentang cinta kan lebih gimana gitu😆😆😅
total 2 replies
USWA ,
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
di platform ini aq ingin cari hiburan..bukan untuk ujaran kebencian.apapun bentuk karya2 author semua adalah hasil karya yg patut utk diapresiasi.sudah berani mencoba itu sudah lebih dari sekedar baik.semangat..semangat..jangan kasih kendor.tetap srmangat dlm berkarya semoga menjadi famous ya..
$uRa
salam .baca ahh ..
Ayoung Lely
mampir kk...😁😁
ay
>•<
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!