Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menjebak Zhou wen
Di sofa ruang tamu yang luas itu, tampak seorang Taois tua duduk dengan sikap santai—terlalu santai.
Punggungnya bersandar ringan, satu kaki disilangkan, jemarinya mengetuk-ngetuk tongkat kayu di lantai marmer seolah sedang menunggu waktu yang tepat.
Tatapan matanya menyapu ruangan dengan tenang, namun di balik ketenangan itu tersembunyi ketajaman seekor ular tua.
“Tuan Zhou,”
ujar Luoli sambil berlari kecil menghampiri.
Langkahnya cepat namun terkontrol, napasnya sedikit tersengal.
Ia berhenti tepat di hadapan pria itu, lalu membungkuk sopan.
“Maaf membuat Anda menunggu lama,”
lanjutnya dengan suara lembut.
“Kondisi ayah belum juga membaik, jadi saya harus merawatnya terlebih dahulu.”
Luoli mengulurkan tangannya.
Telapak tangannya terasa dingin, namun tetap stabil.
Zhou Wen menyambut jabatan tangan itu dengan wajah berseri—terlalu ramah untuk ukuran orang asing.
Jarinya mencengkeram sedikit lebih lama dari seharusnya, seolah sedang menguji sesuatu.
“Saya paham, Nona Lin,”
ujarnya sambil tersenyum hangat.
“Tidak perlu sungkan.”
“Kita ini keluarga.”
Bibir Luoli melengkung tipis.
Senyum itu terasa dipaksakan, namun berhasil ia poles hingga tampak anggun dan sempurna.
Sebuah senyum indah pun akhirnya terbit di wajahnya.
“Terima kasih, Tuan Zhou,”
ujar Luoli.
“Mari saya antar. Ayah ada di ruangan tersendiri.”
Setiap kata diucapkannya dengan hati-hati.
Nada suaranya diatur sehalus mungkin, tanpa celah untuk kecurigaan.
Namun Zhou Wen berhenti tersenyum.
“Ruangan tersendiri?”
ulangnya perlahan.
“Ruangan khusus?”
“Kenapa?”
Sorot matanya berubah.
Tajam. Menyelidik.
Tatapannya menyapu setiap sudut rumah besar itu—dinding, langit-langit, lantai, bahkan udara di antara mereka.
‘Apa wanita yang membebaskan Meiren ada di sini?’
batin Zhou Wen bergemuruh.
Ia merentangkan kesadarannya.
Menelisik aura yang berlapis-lapis di rumah itu.
Dahinya sedikit berkerut.
‘Ada yang berubah…’
‘Apa yang dilakukan keluarga ini di belakangku?’
Kecurigaan mulai merayap, dingin dan perlahan.
“Tuan Zhou?”
Suara Luoli memecah konsentrasinya.
“Oh…”
Zhou Wen terkekeh kecil.
“Maaf, aku sempat melamun.”
Ia tersenyum lagi, namun kini senyumnya terasa lebih tipis.
“Entah kenapa rumah ini terasa sedikit berbeda.”
Ia sengaja melempar umpan.
“Maksud Anda?”
Luoli menjawab cepat, nadanya ringan, wajahnya tetap tenang.
“Tidak ada yang berubah, Tuan.”
Ia melangkah setengah langkah ke depan.
“Mari, saya antar.”
Luoli berjalan terlebih dahulu, memimpin jalan menuju ruangan ayahnya.
Punggungnya tetap tegak, langkahnya mantap.
Namun di dalam dadanya—jantungnya berdegup keras.
‘Sial…’
batinnya mengumpat.
‘Hampir saja ketahuan.’
_________
Di dalam ruangan tersembunyi itu, seluruh persiapan Xinyao telah rampung.
Mantra-mantra kuno berpendar samar di udara, nyaris tak terlihat oleh mata biasa, namun terasa jelas di kulit—dingin, sunyi, menekan.
Segel-segel spiritual berlapis rapi, menyatu dengan lantai dan dinding, seolah ruangan itu sendiri telah berubah menjadi kurungan raksasa.
Sementara itu, di lorong gelap, Luoli dan Zhou Wen melangkah mendekat.
Tak… tak… tak…
Suara sol sepatu Zhou Wen beradu dengan lantai marmer, bergema panjang, memantul di dinding-dinding sempit, menyatukan diri dengan udara yang perlahan menegang.
Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya.
‘Aura ini…’
Batin Zhou Wen bergetar.
Matanya menyapu lorong dengan cepat namun teliti.
‘Terlalu bersih.’
‘Gu yang kutanam… sudah lenyap.’
‘Bagaimana bisa?’
Jantungnya berdegup tidak beraturan.
“Tuan Zhou?”
Suara Luoli kembali memecah konsentrasinya.
“Hah?”
Zhou Wen sedikit tersentak, wajahnya sempat menegang sebelum kembali tenang.
“Ada apa, Tuan? Apa ada yang salah?” tanya Luoli dengan nada datar, wajahnya terkendali sempurna.
Zhou Wen menarik napas dalam-dalam.
Ia menekan kecurigaan yang mulai menggerogoti dadanya, memaksa bibirnya tersenyum.
“Tidak ada,” ujarnya lembut.
“Mari… tunjukkan jalannya.”
Ia berjalan di belakang Luoli, setiap langkahnya kini penuh kewaspadaan, hingga akhirnya mereka tiba di depan ruangan tempat Tuan Lin berada.
Ceklak!
Luoli memutar gagang pintu perlahan.
“Silakan, Tuan,” ujarnya.
Luoli masuk lebih dulu.
Zhou Wen menyusul.
Begitu Zhou Wen melangkah ke dalam—
BRAK!
Seorang bodyguard besar berlari cepat dan mengunci pintu dari dalam.
“Protokol, Tuan,” ujar Luoli singkat.
Dengan gerakan cepat, ia menjauh dari Zhou Wen, beralih ke sisi ayah dan adiknya, menciptakan jarak yang jelas.
Zhou Wen menyipitkan mata.
“Nona, saya akan memeriksa Tuan Besar terlebih dahulu,” ujarnya sambil berjongkok kecil dan meletakkan tas ritualnya di atas nakas.
Tangannya bergerak pelan mengusap matanya.
“Buka."
Zhou wen
" Lakukan "
Xinyao
Dua suara berbicara secara bersamaan.
Suara Xinyao menggema di sebalik sofa ia berjongkok menyembunyikan diri nya.
WUSSSSS—
Angin dingin berhembus pelan namun menusuk.
Lampu ruangan berkedip samar.
Mata Zhou Wen mendadak berkilat merah.
“Apa—?!”
Ia tersentak.
‘Ke mana perginya Gu itu?!’
Batin nya, Panik mulai merayap.
WUSSS—
Angin kini berputar lebih kencang.
KRAKK!
Kalung giok di leher Zhou Wen retak memanjang, memancarkan suara patahan yang memekakkan telinga.
“ADA APA INI?!”
Zhou Wen berteriak.
Tubuhnya mendadak lemas, lututnya gemetar.
Keringat dingin bercucuran deras di pelipisnya.
WUSSSSSS—
Sebuah bayangan muncul dari udara kosong.
Liu Meiren.
Tubuh arwah itu melayang, gaun pengantin merahnya berkibar pelan, rambut hitamnya menjuntai panjang, wajahnya pucat namun senyum dendam terpatri jelas.
“AAAAAA— HANTU!!”
“SETAN!!”
BRAK! BRAK! BRAK!
Serentak, para bodyguard berbadan besar ambruk pingsan, tubuh mereka menghantam lantai tanpa sisa kesadaran.
Luoli dan Mingyu spontan saling berpelukan, napas mereka memburu, mata membelalak.
Tuan Lin—
karena terlalu kaget—
mendadak meloncat turun dari tempat tidur, tubuhnya terasa ringan seolah penyakitnya menguap begitu saja.
Fengyun terpaku.
Benar-benar seperti patung fengshui.
Qinglan refleks mengangkat ponselnya, berusaha mendokumentasikan kejadian itu—
Klik.
Layar ponselnya langsung mati.
Padahal baterai masih penuh.
Ruangan itu pun tenggelam dalam keheningan mencekam, hanya suara napas panik dan dengusan amarah Zhou Wen yang tersisa.
Dan di udara—
tawa pelan Liu Meiren mulai bergema.
“HAHAHAHAH—!”
Tawa jahat Liu Meiren meledak menggelegar, mengguncang seluruh ruangan seolah dinding-dindingnya ikut bergetar.
Udara yang semula dingin kini terasa menekan dada, membuat napas setiap orang menjadi berat.
“Ha—hantu… jiejie…”
Suara Mingyu terdengar terbata-bata, nyaris tidak membentuk kata.
Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak menatap sosok Meiren yang melayang anggun namun mengerikan di udara.
Tuan Lin berdiri kaku, tubuhnya tegak namun kedua kakinya gemetar hebat.
Tangannya terangkat setengah, seolah ingin melindungi anak-anaknya.
“A—anak… anak…”
Suaranya bergetar parah.
“Ka—kalian… jangan bergerak… dari tempat kalian…”
Kalimat itu belum sempat selesai—
BRUK!
Tuan Lin ambruk terduduk di lantai, bukan karena penyakit, melainkan ketakutan murni.
Tubuhnya gemetar hebat, napasnya terengah, keringat dingin mengalir deras di wajah tuanya.
Di sudut lain ruangan, Fengyun masih membeku total.
Pupil matanya bergetar kecil, bibirnya terbuka sedikit.
“Melayang…”
Sebuah gumaman keluar pelan dari mulutnya, nyaris seperti bisikan.
“Dia… benar-benar melayang…”
Berbeda jauh dengan Fengyun—
“Gege, pinjam ponselmu.”
Qinglan justru bergerak gesit, refleks jurnalisnya muncul.
Ia meraih ponsel Fengyun, lalu ponsel bodyguard, lalu ponsel siapa pun yang bisa dijangkau.
Klik.
Layar mati.
Klik.
Mati lagi.
Setiap ponsel yang mencoba merekam langsung padam seketika, seolah ditolak oleh kekuatan gaib.
“Qinglan.”
Suara Xinyao terdengar tenang namun penuh tekanan.
Ia keluar dari balik sofa, matanya tajam, tangannya memberi kode tegas agar Qinglan kembali ke tempatnya.
Qinglan meringis kecil dan mundur.
Saat itulah—
“KAU?!”
Zhou Wen berteriak panik, wajahnya memucat drastis.
Matanya menatap Xinyao seakan baru menyadari keberadaannya.
“Siapa lagi gadis kecil ini?!”
Namun keterkejutannya belum berakhir.
Tiba-tiba matanya membelalak, napasnya tersendat.
“In—inti jiwaku…”
Suaranya bergetar hebat.
“Bagaimana… bagaimana bisa ada padamu, gadis kecil?!”
Kini ia benar-benar berteriak, suaranya pecah oleh kepanikan dan amarah.
Wajahnya dipenuhi keringat, tubuhnya gemetar tak terkendali.
“KALIAN—!”
Zhou Wen menggeram, tangannya bergerak cepat, mulai merapal mantra terlarang.
Udara di sekelilingnya berputar kacau.
Namun sebelum mantra itu sempurna—
“Cukup.”
Suara Xinyao menyela, dingin dan penuh otoritas.
“Kau sudah terlalu lama hidup, Zhou Wen.”
Matanya berkilat tajam.
“Anggota Klan Bayangan. Sudah waktunya kau beristirahat.”
Xinyao mengangkat kedua tangannya.
Mantra balasan mulai mengalir dari bibirnya.
“Tarik!”
Zhou Wen berteriak histeris.
“Buka!”
Xinyao membalas dengan suara menggelegar.
WUSSSSS—!
Segel-segel yang tertanam di seluruh ruangan aktif bersamaan.
Kertas-kertas mantra beterbangan, menyala dengan cahaya keemasan.
Rantai-rantai gaib muncul dari udara kosong, langsung melilit tubuh Zhou Wen.
“AKKHHH—! KURANG AJAR!”
Zhou Wen meronta liar, bibirnya kembali bergerak, berusaha merapal mantra untuk menarik kembali inti jiwanya.
“Tidak akan aku biarkan.”
Dengan gerakan cepat, Xinyao melemparkan jimat tepat ke mulut Zhou Wen.
PLAK!
Mantra terhenti.
Rantai-rantai gaib menegang semakin keras, mengunci tubuh Zhou Wen tanpa ampun.
Tiba-tiba—
KRAK!
Kalung giok di leher Zhou Wen retak lalu pecah berkeping-keping.
Mata Zhou Wen terbelalak sempurna.
‘TIDAK—!’
WUSSSSS—
Puluhan arwah keluar dari pecahan giok itu.
Wajah-wajah penuh luka, dendam, dan kesedihan.
“Kami bebas!”
“Akhirnya bebas!”
“HAHAHAHA!”
Suara tawa, tangis, dan jeritan bercampur menjadi satu.
Itulah arwah-arwah para korban
pemilik tubuh yang telah dirampas Zhou Wen selama ratusan tahun.
“Jiejie, aku”
Mingyu belum sempat menyelesaikan kalimatnya
BRUK!
Ia pingsan seketika.
“Eh—tunggu”
BRUK!
Luoli ikut ambruk.
“Anak… anakku…”
Suara Tuan Lin melemah
BRUK!
Tubuhnya pun tergeletak tak sadarkan diri.
PLAK.
Xinyao menepuk jidatnya pelan.
“Lemah sekali manusia zaman sekarang,” gumamnya datar.
Ia kembali menatap Zhou Wen
dan para arwah yang kini melayang bebas.
Salah satu arwah, seorang pria, mendekati Xinyao.
Wajahnya penuh kelelahan namun matanya jernih.
“Tao kecil…”
Ia membungkuk dalam-dalam.
“Terima kasih telah membebaskan kami.”
Wajahnya meredup sedih.
“Pria ini sangat jahat. Ia membunuh banyak orang demi mencuri tubuh dan kedudukan sempurna.”
Ia menatap Zhou Wen dengan penuh kebencian.
“Kami berharap… setelah ini, tidak ada korban lagi.”
Arwah itu tersenyum tipis, lalu perlahan menjauh.
Satu per satu, para arwah yang bebas menghilang, menuju tempat peristirahatan mereka.
Ruangan itu kembali sunyi
menyisakan Zhou Wen yang terbelenggu,
dan Xinyao yang berdiri tegak,
menggenggam inti jiwa sang monster.
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...
lbh kasihan hauron, uangnya sia2 😜