NovelToon NovelToon
Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Gadis Amnesia / Orang Disabilitas
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Joy Jasmine

"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"

"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."

"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."

Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.

Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.

Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.

Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.

Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.

Namun harapan itu datang bersama ketakutan.

Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.

Dan saat hari itu tiba...

Akankah wanita itu tetap memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 ~ Ini Kamar Kita

Juan menatap dengan kening berkerut. Tidak menjawab pertanyaan sang istri, justru memasang pandangan penuh tanya.

"Kata Lili, saat dia minta maaf, Kakak akan memaafkan sambil memeluknya." Ailin mengusap air matanya, membalas pandangan sang suami yang terlihat bingung itu.

Sementara Juan terpaku sejenak, Ailin benar-benar jadi sangat berbeda, juga sedikit kekanakan. Ia lalu menghela napas dan mendongak untuk menatap sang istri yang air matanya masih mengalir. "Lili masih kecil. Memangnya kamu masih kecil?"

"Aku memang sudah dewasa... tapi kalau sudah dewasa memangnya saat maaf-maafan tidak boleh saling memeluk lagi, ya?"

Ailin mengerucutkan sedikit bibirnya, memasang tampang sedih yang membuat Juan merasa bersalah.

Pria itu menarik napas panjang sebelum membuka mulutnya. "Kemarilah!"

Mendengar satu kata itu membuat kedua mata Ailin mendelik, namun ia berusaha tidak menunjukkan kebahagiaan. Jadi dengan mengatur napasnya, ia juga merendahkan pandangan.

"Kalau Kakak terpaksa memelukku, enggak perlu saja! Aku juga bukan anak kecil yang mempermasalahkan hal seperti ini."

"Baiklah." Juan membalas dengan acuh tak acuh. Pria itu memutar tuas kursi rodanya, berniat ke kamar mandi.

Sementara Ailin yang tidak mendapat reaksi yang diinginkan menggigit bibir kesal. Wanita itu tanpa berpikir lagi segera melangkah. Berjalan cepat dan menyerbu sang suami yang duduk di atas kursi roda.

Juan yang kaget membulatkan kedua matanya. Pria itu menahan napas saat merasakan pelukan hangat yang melingkari tubuhnya.

"Kakak sangat enggak peka." Suara Ailin yang terpendam dalam pelukan itu samar di telinga Juan. Pria itu menghembuskan napas yang sempat tertahan, sebelum mengangkat tangannya dengan ragu. Hingga tangan kanannya itu mendarat di kepala sang istri, ia mengelus pelan. Menanti reaksi Ailin yang ternyata tidak menolak.

"Kamu sendiri yang bilang enggak perlu." Pria itu tersenyum samar, tangannya terus bergerak untuk mengelus kepala sang istri.

"Aku kan malu kalau langsung setuju."

"Kamu lari-lari dan memelukku, enggak malu?"

"Maluuu, buktinya wajahku aku sembunyikan di dada Kakak." Ailin merapatkan tangannya, memeluk tubuh sang suami semakin erat.

Sementara Juan membiarkan meski cukup canggung. Hingga beberapa menit kemudian wanita itu melepas pelukannya sendiri.

Namun ia tak langsung beranjak, melainkan dengan pelan menaruh kepalanya sendiri di atas bahu Juan. "Aku baru sadar."

"Sadar apa?"

"Kalau dilihat dari samping, Kakak jadi makin ganteng."

Juan yang mendengar pujian itu membeku. Ini benar-benar pertama kalinya Ailin memuji dirinya. Jadi tanpa sadar ia sedikit salah tingkah. Ia mendorong pelan kepala sang istri. "Sudah malam, pergi mandi sana!"

"Sebentar lagi."

"Kamu nggak capek membungkuk terus begitu?"

Ailin mengikuti arah pandangan Juan yang tertuju pada kedua kakinya. "Oh."

Ia baru sadar sejak tadi berdiri setengah membungkuk agar kepalanya bisa bersandar di bahu sang suami. Dengan canggung wanita itu segera kembali berdiri tegak.

"Baiklah," balas Ailin patuh. Wanita itu memutar kedua matanya, hingga pandangannya jatuh pada sebuah pintu berwarna cokelat.

"Itu kamar mandinya, kan?" tanya wanita itu pada Juan yang bingung sejenak. Ia mengikuti pandangan sang istri, melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat.

"Kamu... mau mandi di sini?"

Ailin mengerutkan kening. "Iya, memangnya mau mandi di mana? Di kamar ada, kenapa harus keluar?"

"Aa, i-iya."

Ailin mengangguk. "Kalau begitu aku akan ambil pakaian terlebih dahulu."

"Pakaian?"

"He'em ... pakaian, kenapa Kakak terlihat linglung? Apa pakaianku enggak ada di sini? Aku enggak tidur di kamar ini?"

Juan hendak mengangguk, kepalanya sudah bergerak sedikit sebelum sebuah pikiran gila muncul di otaknya.

"Bukan! Kamu ... memang tidur di sini. Ini kamar kita." Pria itu menelan ludah setelah mengucapkan kebohongan. Ia menatap Ailin, berusaha mencari perubahan ekspresi pada wanita itu.

Namun yang tampak justru wajah kebingungan gadis itu. "Kalau begitu kenapa Kakak terlihat linglung?"

"Aa? ... pekerjaan. Ya, pekerjaan. Akhir-akhir ini pekerjaan cukup berat. Jadi pikiranku agak terganggu."

Ailin mengembalikan wajah sedihnya. "Maaf, pasti karena Kakak menjagaku di rumah sakit. Jadi pekerjaan Kakak banyak yang tertunda."

"Bukan seperti itu. Memang pekerjaannya saja yang lebih berat. Kamu, kamu mandilah lebih dulu!"

Pria itu mendorong pelan tubuh sang istri. Lalu berusaha menarik senyum saat Ailin mengangguk.

"Kamu mau ke mana? Kamar mandi di sana?" tanyanya saat melihat sang istri justru berjalan ke arah lain.

"Ambil pakaian."

Juan cepat-cepat menekan tuas, bergerak menuju sang istri dan mendorongnya kembali ke arah kamar mandi.

"Mandi saja dulu! Di dalam ada kimono yang bisa digunakan."

"Tapi ...."

"Tidak ada tapi! Kamu bau karena menangis."

"Hah? Bau? Karena menangis?"

"Sudah! Mandi saja dulu! Nanti baru ambil pakaian!" Pria itu mendorong lengan sang istri, memberi kode ke arah kamar mandi di depan sana. Sementara Ailin yang bingung itu akhirnya patuh, ia masuk ke kamar mandi sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

.

.

.

1
falea sezi
🤣🤣 ngakak
Manda
🤣🤣🤣
falea sezi
g lanjut kah
Joey: Lanjut dong😁
Bentar lagi update kok ✨
total 1 replies
falea sezi
baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!