Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu di Atas Darah
Lantai gudang di dermaga East End itu baru saja selesai dipel. Baunya segar—campuran lemon dan karbol murah—sebuah anomali di tengah lingkungan yang biasanya berbau amis ikan busuk dan karat yang menusuk hidung.
Sloane Sterling menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang masih terbungkus sarung tangan karet kuning. Ia menatap pantulan cahaya lampu pijar yang remang-remang di atas lantai beton yang kini mengkilap.
"Sempurna," gumamnya bangga. Ia berkacak pinggang, mengabaikan fakta bahwa di luar gedung, suara tembakan baru saja mereda.
Sloane tidak peduli dengan apa yang sedang diperebutkan para pria berjas hitam di luar sana. Baginya, pekerjaan adalah pekerjaan. Ia dibayar untuk membersihkan gudang ini sebelum jam dua pagi, ia juga dipersilahkan untuk tinggal di salah satu gudang itu. dan ia punya harga diri yang tinggi terhadap kebersihan lantai.
BRAKK!
Pintu besi gudang itu terbuka dan terlempar. Seorang pria dengan setelan jas charcoal yang sangat rapi melangkah masuk. Di tangan kanannya, sebuah pistol Sig Sauer masih mengeluarkan asap tipis. Wajahnya datar, seolah-olah baru saja keluar dari rapat dewan direksi daripada baru saja menghabisi selusin musuh.Tatapannya begitu tajam, mampu membuat orang bergidik ngeri ketika menatap nya.
Dia adalah Alistair Thorne. Pria yang jika kau sebut namanya di jalanan London, maka kebisingan kota akan mendadak sunyi karena ketakutan.
Alistair berhenti tepat tiga langkah dari pintu. Matanya yang dingin seperti es biru menatap sosok gadis kecil di depannya yang sedang memegang ember plastik. Namun, pandangannya kemudian turun ke lantai.
Sepatu oxford buatan tangan desainer. Alistair yang mahal baru saja meninggalkan jejak lumpur hitam yang sangat nyata di atas beton lemon Sloane yang suci.
Sloane Sterling membeku. Bukan karena pistol itu, tapi karena jejak kaki itu.
"Apa yang... kau..." Sloane mulai bicara, suaranya gemetar.
Alistair sedikit mengernyit. Biasanya, saat orang melihatnya dalam kondisi ini, mereka akan memohon ampun, melarikan diri, atau memohon untuk melakukan apa saja untuk nyaman mereka. Gadis ini tidak melakukan ketiganya. Alistair ingin bicara, ingin menyuruh gadis itu menyingkir demi keselamatannya, tapi lidahnya terasa kaku. Berbicara dengan wanita adalah variabel yang tidak pernah bisa ia hitung dengan logis.
"Kau," Alistair akhirnya bersuara, nada bicaranya formal, berat, dan sangat kaku. "Keberadaanmu di sini... tidak sesuai dengan parameter keamanan."
Sloane tidak mendengar "parameter keamanan". Yang ia dengar hanyalah suara sepatu yang kembali bergeser, menciptakan noda lumpur baru yang lebih lebar.
"HEI! TUAN JAS RAPI!" teriak Sloane tiba-tiba.
Alistair tersentak. Benar-benar tersentak. Tak pernah ada orang yang meneriakinya seperti itu dalam sepuluh tahun terakhir.wanita di hadapannya itu sungguh berani menatap dan meninggikan suara padanya.
"Kau punya mata tidak?!" Sloane melangkah maju, menudingkan jari telunjuknya yang terbungkus karet kuning tepat ke hidung Alistair. "Aku menghabiskan waktu tiga jam! Tiga jam untuk menggosok lantai ini! Dan kau masuk begitu saja dengan sepatu berlumpur itu seolah-olah kau pemilik dunia ini?!"
Alistair Thorne, pemimpin The Obsidian Order, tertegun. Ia menatap jari kuning di depan hidungnya, lalu menatap gadis kecil yang wajahnya merah padam karena marah. Gadis ini manis, dengan mata cokelat yang besar dan beberapa noda debu di pipinya, tapi mulutnya... luar biasa tajam.
"Lantai ini... kotor," Alistair mencoba membela diri dengan kalimat yang sangat tidak efisien. "Ada... peluru di sana."
"Persetan dengan pelurumu! Ambil kembali sampah-sampah besi itu dan keluar!" Sloane kembali berteriak. Ia benar-benar ceroboh. Ia tidak menyadari ada bercak darah di lengan jas Alistair. "Dan kau! Jangan bergerak satu inci pun! Kau akan memperparah nodanya!"Ah sial!. Lihat apa yang sudah kau lakukan pada lantai ini.
Tepat saat itu, tiga orang pria bersenjata muncul di pintu di belakang Alistair. Mereka adalah sisa-sisa kelompok lawan yang mencoba melakukan serangan balik.
Alistair bereaksi dalam sepersekian detik. Tanpa menoleh, ia menarik pelatuk pistolnya dua kali. Dua pria jatuh. Namun, pria ketiga berhasil mengarahkan laras senjatanya ke arah Sloane yang berdiri membeku.
Alistair bergerak lebih cepat. Ia merengkuh pinggang Sloane, menarik gadis itu ke belakang tubuhnya yang tegap. Suara tembakan terakhir bergema di ruangan itu, dan pria ketiga itu pun tumbang.
Hening.
Alistair masih memegang pinggang Sloane. Ia bisa merasakan jantung gadis itu berdegup kencang karena kaget. Ia ingin menanyakan apakah Sloane terluka, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya justru:
"Prosedur sterilisasi area telah selesai. Dan Kau... aman sekarang."
Sloane menarik napas panjang. Ia menengadah, menatap rahang tegas Alistair yang sangat dekat. Bukannya berterima kasih karena nyawanya baru saja diselamatkan, Sloane justru melihat ke bawah.
Karena gerakan Alistair tadi, sepatu sang bos kini telah membuat lingkaran lumpur besar tepat di tengah tengah ruangan.
"Kau... benar-benar... penghancur lantai," bisik Sloane, matanya mulai berkaca-kaca karena kesal.mengingat betapa susah payahnya dia harus membersihkan gudang itu selama tiga jam.
Alistair menatap Sloane dengan bingung. Ia melihat keranjang peralatan Sloane yang hancur tertabrak salah satu mayat musuh. Perasaan aneh muncul di dadanya. Rasa bersalah? Alistair tidak yakin.
"Ikut aku," kata Alistair kaku.
"Ke mana?! Aku belum selesai membersihkan ini!"
"Mansion-ku," jawab Alistair, suaranya tidak menerima bantahan meskipun terdengar sangat canggung. "Di sana... banyak lantai. Kau bisa... membersihkannya. Dengan upah yang logis."
Sloane menatap Alistair dengan curiga. "Kau mau menculikku ya? Tuan Kaku, aku punya harga diri! Aku tidak akan ikut dengan pria yang tidak tahu cara menghargai lantai!"
Alistair menghela napas. "Gaji bulananmu... akan cukup untuk membeli sepuluh gudang kotor ini. Dan aku... punya gantungan jas yang sangat bagus."
Sloane diam sebentar. "Ada makanan?"
Alistair ragu. Ia tahu dapur di rumahnya megah, tapi ia jarang menggunakannya. "Ada bahan makanan. Kau bisa memasak?"
"Aku bisa membersihkan kompor sampai mengkilap!" jawab Sloane bangga.
Alistair tidak menyadari bahwa itu adalah jawaban sempurna untuk "aku tidak bisa memasak".
"Baiklah. Kesepakatan tercapai," kata Alistair. Ia kemudian melepaskan jasnya yang terkena noda darah, berniat memberikannya pada Sloane agar gadis itu tidak kedinginan. Namun, saat Alistair hendak meletakkan jas itu di atas bahu Sloane, Sloane justru berteriak lagi.
"JANGAN TARUH JAS KOTOR ITU DI BAHUKU! KAU PIKIR AKU JEMURAN?!"
Alistair Thorne membeku dengan jas di tangan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia bawah tanah London, sang pemimpin kegelapan merasa bahwa ia baru saja menjemput masalah yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar geng.
To be continued.....