NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ausilir Rahmi

Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.

Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Seperti ini kan bi? Kenapa kalian bengong? Apa ada cara yang salah aku lakukan?" ucap Maureen memastikan seraya menatap wajah ketiga para pelayan dan chef khusus di sana.

Suara tepuk tangan penuh kegembiraan para pelayan itu membuat Maureen sedikit terkejut.

"Wah, nyonya hebat sekali bisa membuat dalam satu kali lihat. Bibi dulu belajar menghabiskan waktu beberapa hari, sungguh beruntung tuan mendapatkan istri seperti nyonya Maureen," Puji bi Siti dengan seloroh nya.

"Benar, nyonya sangat hebat. Tuan pasti senang di buatkan kopi rasa cinta dari istri cantiknya," Sambung Amel. Tak kalah senang.

Maureen menggelengkan kepala nya, dia mengatakan pada mereka jika tidak perlu memuji terlalu berlebihan pada nya. Karena bagi nya membuat kopi sudah menjadi hal biasa saat di rumah untuk ayah nya.

Ketika suasana di dapur terasa hangat dan akrab, tiba-tiba saja menjadi hening saat mendengar suara mesin mobil yang baru saja memasuki gerbang. Pertanda jika tuan rumah telah pulang.

"Nyonya, seperti nya tuan sudah pulang. Sekarang lebih baik nyonya sambut beliau dengan memberikan kopi nya." ucap Bi Siti.

Jantung Maureen berdegup sangat kencang, saat mendengar jika suami nya sudah pulang. Entah bagaimana ia mempraktekkan sebuah tips dari sebuah artikel, jika membuatkan minuman atau makanan kesukaan akan mudah mengambil hati seorang pria.

"Semoga saja dengan cara ini, mas Arik bisa menerima maaf dari aku." Tegas Maureen dalam hati berusaha menyakinkan diri. Seraya menatap segelas kopi panas di tangan yang baru saja di buat oleh nya untuk sang suami.

"Selamat datang tuan," Sapa para pengawal yang berdiri berjejer di depan pintu sembari membungkukkan badan penuh hormat, mereka menyambut kedatangan sang tuan rumah.

Arik berjalan dengan wajah datar dan dingin. Maureen yang baru selesai membuat secangkir kopi pun berusaha memberanikan diri menghampiri.

"Mas sudah pulang? Aku buat secangkir kopi ayo di coba," ucap Maureen menawarkan seraya memancarkan senyum di wajah polos dan manis nya.

Seketika langkah lebar Arik terhenti sejenak, ia mendengus kesal. Lalu menatap tajam Maureen yang menyodorkan segelas kopi pada nya.

Namun bukan nya Maureen mendapatkan respon baik, malah sebalik nya. Arik diam membisu tanpa bicara sepatah kata pun, jangankan ingin mencicipi kopi buatan Maureen melirik nya saja seolah tidak minat.

Setiap kali Arik melihat Maureen, dia sangat sakit hati atas sikap Maura dan keluarga nya yang sudah menipu diri nya

Air mata Maureen menetes begitu saja, sungguh ia tidak menyangka jika niat baik yang penuh ketulusan dari nya. Malah tidak di terima oleh suami nya.

Hati nya sangat sakit dan perih saat diri nya seperti tidak di anggap keberadaan nya, sikap dingin dan cuek bahkan mampu menghilangkan rasa percaya diri nya karena merasa di abaikan.

Namun mengingat semua itu salah kedua orang tua nya yang sudah menipu Arik, membuat Maureen berusaha tetap bertahan sebagai seorang istri.

Semua pelayan dan pengawal di sana menatap iba, mereka merasa sangat kasihan pada nyonya rumah nya. Padahal nyonya mereka sudah begitu semangat menyambut kepulangan tuan mereka.

Bi Siti yang dari tadi juga tidak sengaja melihat, dia segera menghampiri Maureen dan berusaha untuk menghibur gadis itu.

"Nyonya jangan sedih dan jangan diambil hati, seperti nya tuan sedang berada dalam suasana hati yang tidak baik mungkin ada pekerjaan yang membuat mood nya berubah," Imbuh bi Siti, sembari mengelus bahu majikkan wanita itu.

"Iya bi, aku tidak apa-apa." Maureen berusaha menyembunyikan kesedihan nya, seraya mengusap air mata. Tak ingin semua orang semakin kasihan pada nya.

Kini Maureen segera pamit dengan dalih menyiapkan beberapa keperluan suami nya. Bi Siti pun hanya mengangguk dan mempersilahkan.

Baru saja Maureen berjalan beberapa langkah menaiki anak tangga, Harris yang baru saja mengeluarkan tas dan beberapa dokumen penting.

Saat berpapasan dengan Maureen, Haris juga tak lupa menyampaikan perintah sang bos. "Nyonya kebetulan saya bertemu dengan Anda, tuan berpesan agar segera bertemu beliau ke kamar nya," Ujar Haris memberitahukan.

Maureen tersipu, sejenak ia mengerutkan dahi nya saat melihat wajah Haris yang tampak begitu serius.

"Baiklah, aku tahu." ucap Maureen kembali melanjutkan langkah nya dengan perasaan yang sangat gugup karena entah apa secara tiba-tiba.

"Baiklah Nyonya kalau begitu saya mundur diri," ucap Haris pamit.

Maureen hanya mengangguk, lalu dia tampak sangat gugup saat mendekati pintu kamar yang tinggal beberapa langkah lagi.

"Sebenar nya ada apa ya? Kenapa mas Arik berpesan seperti itu pada Haris? Padahal kita tadi ketemu di bawah," Batin Maureen bertanya-tanya.

Meskipun sikap Arik begitu membekas sakit nya, tapi Maureen berusaha tetap patuh mengingat gelar nya sebagai seorang istri. Yang harus patuh pada perintah suami nya.

Setelah berjalan beberapa langkah, kini Maureen menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan nya pelan. Dengan tangan yang gemetar ia mulai meraih gagang pintu dan membuka nya.

Klek

Pintu terbuka, Arik yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan kimono handuk nya mendelik tajam. Saat melihat Maureen masuk. Beruntung topeng untuk menutup mata sebelah kiri telah terpasang kembali.

"Masuk tanpa mengetuk pintu, apakah kau tidak punya etika?" ucap Maureen tersentak kaget, saat mendengar pertanyaan bernada sindiran Arik di lontarkan pada nya.

"Ma-maafkan aku mas, aku salah." Sesal Maureen wajah manis nya tertunduk.

Arik rasa nya muak saat mendengar Maureen yang terus mengatakan kata maaf, karena selalu mengingatkan penghinaan kedua mertua nya.

Meskipun ragu, Maureen menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan pelan dan mengatakan beberapa hal meskipun penuh keraguan.

"Aku tahu, mas sangat membenci ku, sebenar nya aku bekerja di sebuah perusahaan besok ada meeting penting, boleh aku pergi bekerja?" Tanya Maureen meminta ijin.

Arik merespon dengan senyum sinis nya, ketika Maureen sengaja meminta ijin dan minta pendapat nya.

"Aku tidak peduli, satu hal yang harus kau lakukan. Tanda tangani kontrak Pernikahan itu," Titah Arik sembari melayangkan map coklat. Yang mendarat tepat ke arah wajah Maureen.

Maureen kaget, perlahan ia berjongkok lalu meraih dan memunguti beberapa kertas putih yang berisi beberapa tulisan terketik dan terlihat sangat penting.

"Apa ini mas?" tanya Maureen, perlahan ia menatap dan membaca nya dengan serius.

Terlihat jelas di sana tertulis sebuah kontrak nikah dalam kurun waktu satu tahun dan beberapa point penting yang harus di patuhi oleh nya.

\*

Bersambung.................

1
Ariany Sudjana
bodoh kamu Maureen, jangan diam saja dong, lawan suami yang ga tahu diri itu
Reni Anjarwani
mending sama jevan aja mauren yg benar2 cinta , buar arik bucin sama maureen thor
Ariany Sudjana
ga kebayang gimana reaksi Oma Eva kalau tahu Arik dan Maureen hanya menikah pura-pura, dan status Maureen hanya pengganti Maura
Ariany Sudjana
Brian saja tahu kalau mereka nikah pura-pura, entah gimana reaksi Oma pas tahu kejadian yang sebenarnya
Ariany Sudjana
jangan-jangan nanti calon istrinya Brian tergoda sama Arik lagi 😂😂🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!