Amara menyangka pernikahannya dengan Arya adalah akhir bahagia dari cinta terpendamnya sejak kuliah. Namun, Arya justru menjadikannya tawanan dalam rumah tangga yang penuh siksaan. Saat rahasia gelap Arya terbongkar dan ia kehilangan segalanya, keadaan berbalik arah.
Di tengah kehancurannya, Arya datang kembali bersujud memohon pengampunan. Amara yang memiliki hati lembut, akhirnya luluh dan memberikan kesempatan kedua. Namun, benarkah seorang "monster" bisa berubah menjadi malaikat hanya dalam semalam? Ataukah ada duri yang lebih tajam yang sedang disiapkan Arya di balik perhatian manisnya?
Saat kebenaran pahit terungkap dan Olivia kembali muncul di antara mereka, Amara hancur untuk kedua kalinya. Dalam pelariannya mencari keadilan, ia bertemu Rendra, sahabat masa kecilnya yang telah lama hilang. Di titik terendah itu, dengan hati yang hancur berkeping-keping, Amara bertanya dengan getir, "Tak pantaskah aku dicinta?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Malia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Semu
Di dalam pabrik tua yang terbengkalai, Amara merasakan sakit didadanya. Pengkhianatan dari orang yang ia percayai ternyata lebih sakit daripada pengkhianatan yang Arya lakukan. Amara berjongkok, ia menangis.
Bayu melangkah mendekat. "Vanya," katanya lembut, mengulurkan tangan hendak menyentuh pundaknya, namun Amara dengan cepat menepisnya.
Bayu terkejut. "Maaf," ucapnya lirih.
"Kita berpisah di sini. Aku akan pergi sendiri," kata Amara, bangkit berdiri.
Bayu segera menghentikannya. "Tapi dengan apa? Di sini tidak ada kendaraan," sanggah Bayu.
"Aku akan menghubungi Rio, bawahan pribadi keluarga Wijaya, untuk menjemputku. Tapi untuk itu, aku harus cari cara untuk menghubunginya," jelas Amara.
"Aku akan mengantarmu, ayo," ajak Bayu.
"Tidak. Setelah kamu menghianati ku, kamu lebih memilih mengikuti dia yang baru kamu kenal dibanding aku yang sudah lama kamu kenal," ujar Amara, penuh kekecewaan.
"Ada alasan kenapa aku melakukan itu," kata Bayu.
"Ya, apa? Katakan apa alasannya," tuntut Amara.
"Adikku. Dia sedang sakit dan harus dioperasi. Awalnya aku tidak ingin menggunakan uang yang diberikan Tuan Arya, tapi saat itu situasinya mendesak," jelas Bayu, menunduk.
"Kamu bisa menghubungi aku. Aku bisa meminjamkannya," kata Amara, hatinya sedikit melunak oleh alasan itu, namun rasa sakit tetap ada.
"Maaf, harusnya aku tidak melakukannya," sesal Bayu.
"Tapi bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Amara, kembali pada logika.
"Saat itu aku sedang duduk di kafe dengan Pak Wisnu dan sedang mencari informasi tentang Vanguard juga. Aku bertanya padanya, tapi tiba-tiba dia muncul begitu saja di depan kami. Dia bilang dia mengetahui informasi tentang Vanguard," cerita Bayu.
"Tapi kenapa dia bisa mengetahui keberadaanmu?" tanya Amara bingung.
"Bisa saja dia menyewa seseorang dan melacak keberadaanku. Vanya, apa kamu merasa akhir-akhir ini ada yang mengikuti mu selain hari ini? Atau kamu baru mengetahuinya hari ini?" tanya Bayu.
"Aku baru mengetahuinya hari ini," jawab Amara.
"Vanya, jika dia tahu keberadaan ku, itu artinya dia sudah mengawasi sebelum nya," kata Bayu.
"Tapi kapan? Sejak kapan?" tanya Amara, mulai menganalisis.
"Saat kamu diturunkan di jalan?" tebak Bayu.
"Enggak, itu tidak mungkin. Saat dia menurunkanku di jalan, dia langsung menemui wanita simpanannya. Dia bahkan baru pulang keesokan harinya," sanggah Amara.
"Apa saat kamu mengecek hotel tempat dia menginap dengan wanita itu, Vanya? Apa terjadi sesuatu saat kamu ke hotel itu?" tanya Bayu, kembali berpikir.
"Ada. Arya dia tiba-tiba muncul di hotel itu dan dia sangat marah besar dan dia mengancam akan menghancurkan bisnis Papa," kata Amara.
"Jadi, kamu menyuruhku untuk menghentikan sementara pencarian itu karena kamu diancam?" tanya Bayu, menyimpulkan.
"Ya," jawab Amara.
"Haaa... Astaga, Vanya. Bisa saja dari situ dia mulai curiga. Vanya, dia curiga darimana kamu mendapatkan informasi tentang kamar itu," kata Bayu.
"Kamu benar. Bisa seperti itu. Makanya dia menyuruh seseorang untuk memata-matai aku dan mengawasiku," kata Amara, merangkai teka-teki.
"Dan bisa saja ponselmu sudah disadap," kata Bayu, memperingatkan.
Amara menatap Bayu, mengangguk setuju dengan analisis tersebut.
"Bayu, apa tugas yang Arya perintahkan padamu?" tanya Amara.
"Memberitahukan setiap kamu menghubungi ku, dan aku harus memberitahukan kepadanya apa yang kamu perintahkan kepadaku dan di mana kita akan bertemu," jelas Bayu, jujur.
"Apa kamu menghubungi dia hari ini?" tanya Amara.
"Tidak. Kamu kan memintaku untuk tidak menghubungi siapapun dan mematikan ponsel ku sampai kita berdua bertemu," jawab Bayu.
Amara tersenyum tipis. Keputusannya mematikan ponsel dan mengisolasi Bayu menyelamatkan mereka.
"Sekarang kita pergi dari sini. Aku yakin Arya sedang menyusul kemari. Kita harus bergerak cepat," kata Amara.
"Apa tetap melanjutkan perjalanan ke makam ibumu?" tanya Bayu.
"Tidak, tapi kita tetap melewati jalur itu. Setelah perempatan, kita berpisah. Aku kembali ke keluarga Wijaya. Kamu tetap ke makam ibuku," putus Amara. Rencana ini akan menciptakan jejak palsu.
"Baik, tapi kamu akan menggunakan apa?" tanya Bayu.
"Transportasi umum yang lewat di sana," kata Amara.
"Oke, ayo," kata Bayu, bergerak menuju pintu pabrik.
Mereka harus keluar dari tempat persembunyian ini sebelum Arya atau Rama berhasil mengendus jejak mereka.
...***...
Amara dan Bayu segera keluar dari persembunyian mereka dengan langkah yang sangat berhati-hati. Bayu menahan lengan Amara sejenak ketika mereka mencapai tepian dinding pabrik yang menghadap ke jalan setapak. Dari balik pilar beton yang retak, Bayu mengintip ke arah luar.
"Vanya, lihat itu," bisik Bayu, menunjuk ke sebuah mobil yang terparkir cukup jauh di balik kerimbunan pohon.
Amara menyipitkan matanya, mengikuti arah telunjuk Bayu. Di sana, mobil hitam milik Rama terparkir dengan mesin yang tampaknya dimatikan, namun lampu senjanya masih menyala redup. "Dia masih di sana," gumam Amara, jantungnya berdegup kencang.
"Dia sedang mengintai dan menunggu kedatangan Arya. Jika kita langsung keluar dengan mobil, dia akan langsung mengejar," kata Bayu, suaranya dipenuhi ketegangan.
Amara terdiam sejenak, otaknya bekerja cepat mencari celah. Hujan kini benar-benar sudah mereda, menyisakan bau tanah basah yang menyengat. "Kita tidak punya pilihan lain, Bayu. Kita harus masuk ke mobil secepat mungkin. Kita gunakan kecepatan mobilmu untuk memberinya jarak sebelum sampai di perempatan," instruksi Amara.
"Baik. Saat aku menghidupkan mesin, kamu langsung masuk. Jangan menoleh ke belakang," balas Bayu.
Mereka bergerak dengan cepat dan senyap menuju mobil Bayu yang tersembunyi di balik semak-semak. Begitu Bayu menyalakan mesin, suara deru mobil memecah kesunyian pabrik tua itu.
Di dalam mobil hitamnya, Rama tersentak. Ia segera menegakkan duduknya dan melihat mobil Bayu melesat keluar dari persembunyian, memutar balik dengan tajam menuju jalan raya. Rama tidak membuang waktu; ia menyalakan mesinnya dan segera menginjak gas, menghubungi Arya di saat yang bersamaan.
"Tuan Arya, mereka bergerak! Mereka keluar dari pabrik dan menuju jalur selatan!" lapor Rama sambil memutar kemudi dengan kasar.
"Tetap di belakang mereka! Saya sudah masuk ke jalur yang sama, tiga menit lagi saya akan berada di belakangmu!" teriak Arya dari seberang telepon.
Di mobil depan, Bayu melirik kaca spion. "Dia mengejar, Vanya. Jaraknya tidak terlalu jauh."
"Tetap pada rencana awal, Bayu. Fokus pada perempatan di depan," kata Amara. Ia melihat sebuah bus antar kota yang sedang berhenti di halte tidak jauh dari perempatan besar. Itu adalah keberuntungan yang ia butuhkan.
Begitu mereka mendekati perempatan, lalu lintas sedikit tersendat oleh beberapa kendaraan besar. Bayu mengambil celah sempit, membuat mobil Rama terhalang oleh sebuah truk kontainer untuk beberapa detik.
"Sekarang, Bayu! Berhenti di pojokan itu!" perintah Amara.
Bayu menginjak rem dengan mendadak di area yang agak gelap dan tertutup rimbun pohon jalanan. Sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna, Amara sudah membuka pintu.
"Ingat, kamu tetap lurus menuju makam Ibu. Biarkan mereka mengira aku masih di dalam mobil bersamamu. Setelah itu, kamu menghilanglah sementara waktu," kata Amara dengan cepat.
"Hati-hati, Vanya. Maafkan aku atas semuanya," balas Bayu dengan raut wajah penuh penyesalan.
Amara hanya mengangguk singkat, lalu keluar dari mobil dan menutup pintu dengan pelan. Ia segera berlari kecil, menyelinap di antara kerumunan orang di trotoar dan masuk ke dalam bus yang baru saja akan berangkat.
Dari dalam bus, Amara melihat mobil Bayu kembali melesat maju, diikuti beberapa detik kemudian oleh mobil Rama yang berhasil lolos dari kemacetan. Tak lama setelah itu, sebuah mobil mewah yang sangat ia kenali—mobil Arya—meluncur kencang melewati bus yang ia tumpangi, mengejar Bayu dengan kemarahan yang meluap.
Amara menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bus yang keras, menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Ia melihat sosok suaminya menghilang di kejauhan, mengejar bayangan yang salah.
"Selamat tinggal untuk hari ini, Arya," lirih Amara. Ia kemudian memejamkan matanya, bersiap untuk kembali ke kediaman Wijaya, tempat di mana ia akan menyusun rencana balasan yang sesungguhnya.
...***...
Hujan yang tersisa menyisakan aspal yang licin dan berkilauan di bawah lampu jalanan. Rama terus memacu mobilnya, menempel ketat di belakang mobil Bayu yang meliuk-liuk di antara kendaraan lain. Namun, tak lama kemudian, deru mesin yang jauh lebih bertenaga terdengar dari arah belakang. Sebuah mobil mewah meluncur kencang, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Itu adalah Arya.
Arya berhasil menyusul posisi Rama. Melalui kaca spion, Rama melihat sorot lampu depan mobil Arya yang sangat terang. Ia segera menepi sedikit, memberi jalan bagi tuannya. Saat mobil mereka sejajar untuk beberapa detik, Arya melirik tajam ke arah Rama, memberikan isyarat dingin agar Rama tetap berada di posisi belakang sebagai penghalang jika Bayu mencoba berputar balik.
Tanpa membuang waktu, Arya menginjak pedal gasnya sedalam mungkin. Raungan mesin mobilnya menggema di sepanjang jalan jalur selatan yang mulai sepi. Ia tidak lagi peduli pada keselamatan; pikirannya hanya tertuju pada satu hal: menangkap Amara dan memberi pelajaran pada Bayu.
Di dalam mobilnya, Bayu melihat melalui spion tengah. Matanya membelalak saat melihat mobil Arya kini berada tepat di belakangnya, hanya berjarak beberapa meter.
"Dia gila," desis Bayu sambil mencengkeram kemudi dengan tangan yang berkeringat. Ia terus menambah kecepatan, mencoba mencari celah untuk kabur, namun Arya adalah pengemudi yang ahli.
Arya melihat kesempatan saat jalanan sedikit melebar di depan. Dengan manuver yang sangat berbahaya, ia memacu mobilnya ke jalur kanan, sejajar dengan Bayu, lalu dengan cepat membanting setir ke kiri untuk mendahului. Suara gesekan ban yang memekik memecah kesunyian malam saat Arya memotong jalur tepat di depan mobil Bayu.
Ciiiitttt!
Bayu menginjak rem sekuat tenaga. Mobilnya tergelincir beberapa meter sebelum akhirnya berhenti dalam posisi miring, hampir menabrak pembatas jalan. Di depan, mobil Arya melintang sempurna, menutup seluruh akses jalan. Di belakang, mobil Rama berhenti dengan posisi mengunci, membuat mobil Bayu benar-benar terpojok.
Hening sejenak menyelimuti tempat itu. Hanya suara deru mesin yang masih menyala dan sisa tetesan air hujan yang jatuh ke kap mobil.
Arya keluar dari mobilnya dengan gerakan yang tenang namun penuh ancaman. Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut, wajahnya datar namun matanya memancarkan amarah yang sangat pekat. Ia berjalan perlahan menuju pintu penumpang mobil Bayu, yakin bahwa di balik kaca gelap itu, Amara sedang gemetar ketakutan.
Ia mengetuk kaca jendela mobil itu dengan keras menggunakan kepalan tangannya.
"Keluar, Amara! Keluar sekarang juga!" teriak Arya, suaranya menggelegar di tengah malam yang dingin.
Bayu, yang masih duduk di kursi pengemudi, tampak pucat pasi. Ia menatap Arya dari balik kaca, lalu perlahan-lahan membuka pintu mobilnya sendiri dan keluar dengan tangan terangkat, mencoba menunjukkan bahwa ia tidak membawa senjata.
"Tuan Arya, tolong dengarkan saya dulu," ucap Bayu dengan suara bergetar.
Arya mengabaikan Bayu. Ia langsung menyentakkan pintu penumpang depan, membukanya dengan kasar. "Keluar, Amara! Jangan bersembunyi di belakang pengkhianat ini!"
Namun, kemarahan Arya mendadak berubah menjadi kebingungan yang menyesakkan. Kursi penumpang itu kosong. Ia segera memeriksa kursi belakang, menyapu pandangannya ke seluruh sudut kabin mobil yang sempit itu.
Hanya ada keheningan di sana. Tidak ada Amara. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya selain aroma parfumnya yang masih tertinggal tipis di udara.
Arya berbalik dengan sangat cepat, mencengkeram kerah baju Bayu dan mendorongnya ke badan mobil hingga terdengar bunyi benturan keras.
"DI MANA DIA?! DI MANA AMARA, BAYU!" raung Arya, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Bayu yang ketakutan.
"Amara? Saya tidak tahu, Tuan. Saya sendiri," ucap Bayu dengan suara yang dipaksakan tenang, meski tubuhnya masih gemetar akibat guncangan adrenalin.
"Kamu!" raung Arya. "Katakan, di mana Amara!"
Cengkeraman Arya begitu kuat hingga kancing kemeja Bayu nyaris terlepas. "Katakan Amara di mana!" bentak Arya lagi, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak.
"Tuan..." lirih Bayu, mencoba mengatur napasnya yang tercekik.
"KATAKAN!" Arya tidak memberi ruang untuk penjelasan. Ia seperti binatang buas yang kehilangan mangsanya.
"Sa... ya... saya tidak tahu," jawab Bayu, terbata.
"Bohong! Jangan coba-coba membohongi saya! Katakan di mana Amara atau saya akan membunuhmu!" Arya kehilangan kendali. Ia melepaskan kerah baju Bayu hanya untuk berpindah mencengkeram leher pria itu dengan satu tangan, menekannya kuat-kuat ke badan mobil.
"Tuan, tahan! Tuan!" Rama mencoba mendekat, merasa situasi ini mulai melewati batas, namun ia berhenti saat Arya memberikan tatapan maut.
"Cepat katakan, Bayu!" Arya menekan lebih keras.
Bayu memegang tangan Arya yang melingkar di lehernya, berusaha mencari udara. Meskipun matanya mulai berkaca-kaca karena sesak, ia memaksakan sebuah senyum tipis yang memprovokasi. "Walaupun saya tahu... saya tidak akan mengatakannya," desis Bayu.
Kalimat itu menjadi pemantik ledakan terakhir Arya. "Kamu... kamu main-main dengan saya? Berengsek kamu!"
Arya menyentakkan tangannya, mendorong Bayu dengan tenaga penuh hingga pria itu tersungkur keras ke aspal. Bayu meringis kesakitan, berusaha bangkit dengan bertumpu pada sikunya. Belum sempat Bayu berdiri tegak, sebuah tinju mentah menghantam rahangnya.
Bugh!
Bayu kembali terjerembap. Ia memegang bibirnya yang mulai pecah dan mengeluarkan darah segar. Arya tidak berhenti di situ; ia kembali menghujani Bayu dengan pukulan, meluapkan seluruh rasa frustrasi atas kegagalan rencananya hari ini.
"Cepat katakan!" bentak Arya di sela-sela pukulannya.
Bayu kembali tersenyum di tengah rasa sakitnya. Darah yang mengalir dari sudut bibirnya tidak membuatnya gentar. Baginya, rasa sakit fisik ini jauh lebih ringan daripada rasa bersalah yang ia rasakan pada Amara.
"Sialan!" teriak Arya, kembali melayangkan tinju keras ke wajah Bayu hingga pria itu benar-benar tersungkur tak berdaya di tanah.
Arya mendekat, membungkuk dan menarik baju Bayu dengan kasar agar pria itu duduk tegak. "Katakan, atau aku akan menghajarmu lagi!" ancam Arya dengan napas terengah-engah.
"Heh..." Bayu terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang meremehkan.
Tiba-tiba, Bayu mencengkeram pergelangan tangan Arya yang menahan bajunya. Dengan satu gerakan sentakan yang kuat, ia melepaskan cengkeraman Arya darinya. Bayu bangkit berdiri dengan perlahan, menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan.
"Saya tidak akan mengatakannya. Anda cari tahu saja sendiri!" tantang Bayu, matanya kini menatap Arya dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Kamu! Berengsek!" Arya kembali melayangkan tinju kanannya dengan membabi buta. Namun kali ini, Bayu tidak diam saja. Ia menangkap tangan Arya di udara, menghentikan laju tinju itu dengan cengkeraman yang tak kalah kuat.
Bayu menepis tangan Arya dengan kasar. Sebelum Arya sempat bereaksi, Bayu membalas dengan sebuah pukulan telak yang menghantam pipi Arya, membuat kepala pemimpin Aldridge itu terlempar ke samping.
Pertarungan kini bukan lagi soal interogasi; ini adalah pelepasan dendam dari dua pria yang selama ini saling memanfaatkan. Di bawah guyuran sisa gerimis, keduanya kini saling berhadapan, siap untuk saling menjatuhkan.
Bersambung....
Amiin. 💪