Tentang cinta dan rasa, tentang pengorbanan dan perjuangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isuthy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Diulang
Vano menarik paksa Meera yang hampir masuk ke dalam mobil Adam.
" Vano ! " Meera kaget, menoleh dan menatap Vano dengan begitu lekat.
" Kita belum selesai ! " Ucap Vano, menarik kasar lengan Meera.
Meera yang saat itu mulai merasakan reaksi obat yang mulai bekerja dan menjalar di tubuhnya, hanya menurut saja kepada Vano yang menarik lengannya secara paksa dan sekuat tenaga menuju ke arah mobilnya berada.
" Vano, sakit. " Keluh Meera pada Vano yang memegangi lengannya dengan begitu kencang, sembari mengikuti langkah kaki Vano, meskipun hampir terseret-seret.
Adam yang sedari awal telah masuk lebih dulu ke kursi kemudi, bergegas turun tatkala melihat Meera tidak jadi naik ke dalam mobilnya.
" Meera, jangan pergi ! " Teriak Adam pada Meera, setengah berlari.
" Bre*gs*k !! " Umpat Adam pada Vano.
" Meera !! " Panggilnya lagi. Berharap Meera kembali padanya.
Adam mengejar Vano dan Meera yang tengah berjalan kencang kemudian naik ke mobil Vano, namun terlambat. Mobil Vano terlanjur pergi dengan kecepatan tinggi. Adam terlihat begitu emosi tatkala rencananya gagal bahkan saat baru saja dimulai.
" Sh*** !! " Dengus Adam.
Adam menendang ban mobilnya dengan cukup keras. Berniat mengejar dengan sepeda motornya, namun mobil Vano sudah berlalu cukup jauh darinya. Akan sia-sia jika memaksa untuk mengejarnya.
***
Vano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tanpa memperdulikan Meera yang sedari tadi diam saja. Tanpa menyadari sesuatu yang telah terjadi pada diri Meera yang kini tengah duduk gelisah di sampingnya.
Berkali-kali menatap pada kaca spion mobilnya untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya, akhirnya Vano memelankan laju mobilnya.
" Yess !! " Pekik Vano senang.
Vano merasa puas, sembari menyeringai. Mengalihkan pandangannya pada Meera yang saat itu terlihat gelisah tidak karuan, dengan keringat dingin yang bercucuran di pelipis wajahnya.
Menghentikan mobilnya untuk sementara di tepian jalan yang cukup sepi.
" Meera, kau tidak apa-apa ? " Vano terlihat panik, melihat kondisi Meera yang tidak seperti biasanya.
Meera terdiam, dia terlihat begitu bingung sekarang.
" Meera ! " Panggil Vano lagi, menyentuh bahu Meera dengan pelan. Membuat Meera tersadar kemudian.
" Vano ... " Nafas Meera tersengal. Wajahnya merah padam. Tubuhnya panas, dan matanya ... berkilatan.
" Meera, apa yang terjadi dengan mu ? " Vano mulai terlihat khawatir.
" Vano ... " Bibir Meera bergetar kala itu. Dia meremas dadanya dengan tangannya yang juga ikut bergetar.
" Meera, apa yang terjadi, ehm ? " Vano terlihat lebih cemas sekarang. Membelai rambut Meera dengan lembut.
Meera hanya menggelengkan kepalanya, kedua tangannya bergerak dan terkepal meremas dress yang dipakainya. Dia benar-benar terlihat gelisah saat itu.
" Meera ? !! " Vano memegang kedua bahu Meera. Menggerakkan nya beberapa kali untuk menyadarkan Meera yang mulai hilang kendali.
Meera meraba-raba tubuhnya sendiri, meremas dresnya dengan cukup kasar, hampir menyingkap ujung dressnya namun akhirnya Vano tahan.
" Meera !! " Tegur Vano.
Meera tidak perduli, tangannya bergerak lagi hendak membuka dressnya. Sehingga akhirnya Vano sedikit mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
" Meera !! Sadarlah ! Apa kau meminum sesuatu tadi ? " Tanya Vano sembari menahan kedua tangan Meera, dan menyandarkan Meera pada sandaran kursi.
" Vano ... tolong aku ... " Meera menangis. Tubuhnya menggeliat menahan sesuatu yang terus menjalar di tubuhnya. Bibirnya bahkan mengeluarkan desahan pelan kali ini, hingga akhirnya Meera terpaksa menggigit bibirnya sendiri.
" Vano, tolong aku, please ... !!! " Erang Meera sekali lagi. Dengan mata setengah terpejam, dengan sorot mata sendu di dalamnya. Sementara tubuhnya, menggeliat semakin menjadi.
****
Tanpa direncanakan dari sebelumnya, secara mendadak Lucas meninggalkan Paris untuk sementara waktu. Bermaksud menemui Meera yang dia rindukan beberapa lama ini.
Kini dia tengah duduk di dalam pesawat, sembari mengingat kejadian tempo hari yang baru saja dialaminya.
💫 Flash Back On ... 💫
Lucas akhirnya mengikuti keinginan Ny. Alice untuk melakukan pertemuan demi perjodohan keluarga yang sempat direncanakan sebelumnya.
Mengikuti acara makan malam keluarga dengan salah satu rekan bisnis Ny. Alice di Paris. Dimana dengan putri mereka lah Lucas akan menjalani pernikahan sebagai kedok ikatan bisnis mereka nanti.
Terkejut, satu kata itu yang muncul di fikirannya. Tatkala melihat gadis cantik berambut pirang yang ada di hadapannya. Gadis itu adalah ...
" Helena ... " Jawab gadis itu memperkenalkan diri. Sang gadis teman kencan Lucas di Club Malam, yang sempat Lucas tolak untuk dia tiduri malam itu.
" Senang berjumpa denganmu, Nona Helena. Perkenalkan saya, Lucas. " Walaupun kaku dan kikuk mereka mencoba menahan diri, bersikap seolah baru kenal. Mengikuti skenario yang dibuat oleh orang tua mereka sendiri.
Lucas sedikit lega, setidaknya nanti pernikahan mereka tidak terjadi antara dua orang asing yang tidak saling mengenal. Mereka adalah teman kencan walaupun hanya sebatas teman kencan di Club malam.
Lucas menatap Helena dengan begitu lekat. Kejadian tempo hari sedikit menimbulkan rasa bersalah di hatinya. Dimana Helena terlihat begitu sedih saat itu karenanya.
" Kalian, mengobrollah berdua. " Ucap Ny. Alice, disambut ceria oleh Helena. Yang terlihat cukup antusias dengan perjodohan itu. Entah karena dia sudah pasrah dengam perjodohan itu, atau karena ternyata Lucas lah sang calon suaminya.
" Baiklah ! " Jawab Lucas dengan singkat, lalu mengajak Helena ke tempat sepi. Karena saat itu mereka sedang melakukan pertemuan makan malam di restoran, saat itu Lucas mengajak Helena ke salah satu sudut restoran yang cukup sepi.
Sesampainya di sana ...
" Helena ... " Lucas memanggil Helena lirih.
" Ya ... " Jawab Helena.
" Apa kau menyukai pernikahan bisnis ini ? " To the point sekali Lucas, tidak menyadari ketar ketirnya Helena yang ditanya begitu mendadak saat itu.
Helena menelan ludahnya.
" Aku- ... , aku hanya menuruti permintaan ayahku. " Jawab Helena berbohong. Menutupi kegugupan hati yang ternyata sangat menyukai kenyataan ini.
" Baguslah. " Komentar Lucas singkat, cukup mengagetkan Helena.
" Maksudmu ? " Tanya Helena gugup.
" Jangan pernah kau ambil hati hubungan ini. Pernikahan kita nanti, hanyalah pernikahan bisnis belaka, kau harus tahu itu. Aku yakin, kau lebih mengerti. Aku tidak salah kan, Helena ? " Jelas Lucas cukup panjang dan menyakitkan Helena.
Helena mengangguk dengan bola mata yang berkaca-kaca. Namun segera dia tepis saat itu juga. Dia fikir, Lucas hanya butuh waktu, begitupun dirinya. Butuh waktu untuk menaklukkan hati Lucas.
Semakin lama, mereka semakin larut dalam obrolan. Entahlah, semakin dalam pembicaraan perjodohan itu dibicarakan, rasa bersalah dan rindu terhadap Meera tumbuh semakin menghanyutkan fikiran.
💫 Flash Back Off ... 💫
Sepertinya, Lucas butuh keyakinan. Kepastian baginya, untuk memutuskan masa depannya.
Meera, maukah kau menungguku ?
Meera maukah kau menjadi wanita dalam hidupku ? Namun, ketahuilah walaupun ada wanita lain dalam hidupku, saat ini hanya kau yang slalu ada di dalam hatiku.
Hingga akhirnya kini, Lucas terdampar di sini, di pesawat ini. Bermaksud untuk menemui Ameera, di negeri seberang.
Menatap awan putih di langit, dari balik jendela kaca. Tiada henti Lucas mengingat Meera yang slalu dirindukannya, mengisi relung hati dan jiwanya.
.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
sunguh kereeen daaah😎