Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23
Di dalam ruang tengah yang mendadak dingin, Rian terus mengumpat sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Ia mencoba menghubungi Adista beberapa kali, namun panggilannya selalu dialihkan ke kotak suara. Rasa kesal membuat pria arogan itu melempar ponselnya begitu saja ke atas sofa.
"Sialan! Berani-beraninya dia mengabaikan teleponku!" gerutu Rian dengan suara lantang. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang mewah, mengagumi setiap perabotan mahal yang ada di sana. keserakahan nya bangkit. Ia merasa berhak memiliki semua kemewahan ini jika berhasil memaksa Adista kembali ke pelukannya.
Sementara itu, Bik Sumi berjalan dengan langkah gemetar dari arah teras. Air matanya sudah dihapus, namun rasa sakit di hatinya karena dihina sebagai "tua bangka" masih tersisa. Dengan keberanian yang tersisa, ia berdiri agak jauh dari sofa, takut kembali dikasari oleh Rian.
"Den... mohon maaf, lebih baik Aden tunggu di luar saja. Hawanya di sini tidak enak," kata Bik Sumi mencoba memperingatkan. Sebagai orang tua, instingnya mulai merasakan ada perubahan aneh di dalam ruangan tersebut. Hawa dingin yang tiba-tiba muncul membuat tengkuknya merinding.
Rian menoleh dan menatap Bik Sumi dengan pandangan sangat tajam. "Lo lagi, lo lagi! Gue bilang minggir ya minggir! Nggak usah sok tahu soal hawa rumah ini. Pergi sana ke dapur, bikin kan gue kopi hitam manis! Cepat, gak usah lelet!" bentak Rian semena-mena.
Bik Sumi menghela napas panjang. sadar bahwa pria ini tidak akan bisa dinasihati dengan cara halus, ia akhirnya memilih untuk menuruti perintah tersebut demi menghindari keributan yang lebih besar. Bik Sumi berbalik dan berjalan cepat menuju ke dapur, meninggalkan Rian sendirian di ruang tengah.
Begitu Bik Sumi menghilang di balik sekat dapur, kesunyian yang mencekam langsung menyelimuti ruangan. Lampu gantung di atas kepala Rian kembali berkedip-kedip, kali ini lebih lama dari sebelumnya. Suara dengungan listrik dari lampu itu terdengar seperti suara lebah yang mengganggu earphone.
BZZZ... BZZZ...
Rian mulai merasa tidak nyaman. Ia menggosok kedua lengan tangannya yang mendadak merinding karena hembusan angin dingin yang entah datang dari mana. "AC rumah ini rusak apa bagaimana sih? Dinginnya kebangetan," gumamnya kesal.
Saat itulah, aroma manis bunga mawar yang kuat tadi perlahan-lahan lenyap, berganti dengan bau anyir yang sangat menusuk hidung. Bau itu begitu menyengat, mirip seperti bau daging busuk yang sudah dibiarkan berhari-hari. Rian refleks menutup hidungnya dengan tangan, wajahnya berubah menjadi sangat masam karena menahan mual.
"Bau apa ini? Sialan, si tua bangka itu sepertinya tidak becus membersihkan rumah sebesar ini!" umpat Rian sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber bau busuk tersebut.
Pandangan mata Rian akhirnya berhenti tepat pada dinding di depannya. Di sana, tergantung sebuah lukisan besar dengan bingkai emas yang sangat mewah. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita muda yang sangat cantik dengan rambut hitam panjang terurai. Namun, yang membuat Rian terpaku adalah cairan merah kental yang kini mengalir deras dari kedua mata sosok di dalam kanvas tersebut.
Rian mengernyitkan dahi. Langkah keangkuhannya membuat ia tidak langsung merasa takut, melainkan merasa heran. Ia bangkit berdiri dari sofa dan berjalan mendekati lukisan tersebut untuk memastikan apa yang sedang ia lihat.
"Lukisan apa ini? Kok bisa mengeluarkan cairan seperti ini? Apa catnya meleleh?" tanya Rian pada diri sendiri. Ia berdiri tepat di bawah lukisan, mendongak untuk menatap wajah perempuan di dalam kanvas.
Pada detik itulah, Rian merasakan sebuah tekanan ghaib yang sangat besar menghantam dadanya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dengan irama yang tidak beraturan. Sepasang mata di dalam lukisan itu seolah-olah bergerak, mengunci tatapannya langsung ke arah mata Rian dengan pandangan penuh kebencian yang amat dalam.
Dendam kesumat dari sosok wanita yang dulu disiksa dan dihancurkan oleh lima orang laki-laki kini bangkit sepenuhnya. Energi negatif yang dibawa oleh sikap arogan, kasar, dan semena-mena dari Rian terhadap Bik Sumi seolah menjadi bahan bakar yang sangat sempurna untuk membangunkan kutukan maut yang selama sebulan ini tertidur. Makhluk di dalam lukisan itu mencium aroma kemarahan dan keserakahan dari seorang pria yang sangat kotor.
TIK... TIK...
Tetesan cairan merah kental itu jatuh dari bingkai emas, tepat mengenai ujung sepatu mahal milik Rian. Pria itu tersentak dan mundur selangkah. Saat ia melihat ke bawah, noda merah itu bukan sekadar cat, melainkan darah segar yang masih hangat dan mengeluarkan asap tipis dengan bau amis yang luar biasa kuat.
Rasa takut yang sesungguhnya kini mulai merayap masuk ke dalam hati Rian. Keangkuhannya runtuh seketika saat ia mendengar suara bisikan halus yang terdengar tepat di sebelah telinga kanannya, meskipun tidak ada orang lain di ruangan itu selain dirinya.
...Satu lagi laki-laki yang kotor... datang menyerahkan nyawanya...
Suara perempuan yang sangat dingin dan parau itu menggema langsung di dalam kepala Rian, disusul oleh suara tawa melengking yang sangat tipis namun sanggup menggetarkan isi dadanya.
Rian membelalakkan matanya, seluruh tubuhnya mendadak kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali, persis seperti apa yang dialami oleh Ronald dan Bram sebelum kematian mereka. Pria arogan itu kini tersadar bahwa ia telah masuk ke dalam sebuah jebakan maut yang sangat mengerikan, dan keputusannya menghina serta mengabaikan larangan Bik Sumi adalah awal dari akhir hidupnya di rumah terkutuk ini.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya