Mayra memilih meredam sendiri perasaan cintanya pada seorang pemuda tampan yang merupakan teman satu sekolahnya, sekaligus putra bungsu dari sebuah keluarga baik hati yang sudah begitu banyak membantunya.
Mayra sadar, perasaannya tidak mungkin berhasil, terlebih pemuda tersebut telah memiliki seorang gadis sebagai tambatan hatinya.
Lalu, apakah cinta Mayra benar-benar tidak akan mungkin terwujud?
Yuk, ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Mayra berjalan gontai menyusuri koridor kelas. Sejak semalam, semangat Mayra seolah luntur. Beruntung pagi ini, Sekolah masih sepi, sehingga tubuh lunglainya tidak tersenggol murid lain yang berlalu lalang di koridor.
"Mayra... " panggil Ridho. Pemuda tampan itu merasa aneh saat melihat Mayra yang melintas di hadapannya, berjalan gontai tak bertenaga. Gadis itu bahkan tidak menyapa padahal sempat melewatinya.
Mayra yang memang sedang tidak fokus, tidak mendengar panggilan Ridho. Ia tetap berjalan gontai sambil menunduk menuju kelas.
Ridho bergegas mengejar Mayra. Kaki panjangnya begitu dapat diandalkan. Sehingga dengan cepat, ia berhasil menyusul Mayra.
"Mayra...," panggil Ridho lagi. Kali ini Ridho memberanikan diri meraih lengan Mayra agar gadis itu berhenti melangkah.
Mayra terkejut saat tangan kanannya dipegang seseorang. Ia menghentikan langkah, lantas menatap lesu wajah seseorang yang sudah berani menyentuhnya. "Ridho, kamu ...?"
Tatapan lesu Mayra membuat Ridho segera melepas tangannya dari lengan Mayra, khawatir gadis itu merasa tidak nyaman karenanya. "Sorry, May... Tadi aku udah coba panggil kamu, tapi kamu ga denger," papar Ridho. Mencoba menjelaskan agar gadis itu tidak salah paham.
Mayra mengangguk lesu. "Iya!" jawabnya singkat. Gadis itu kembali menunduk.
Jawaban irit Mayra, membuat dahi Ridho berkerut. Gadis di hadapannya tidak terlihat seperti Mayra yang biasanya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Ridho penasaran.
Mayra menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa! Aku hanya sedang tidak bersemangat hari ini," jawab Mayra malas. Gadis itu lantas kembali melangkah lesu meninggalkan Ridho yang dahinya semakin berkerut.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Ridho penasaran, menatap punggung Mayra yang semakin menjauh.
Begitu sampai di dalam kelas. Mayra melepas tas yang di gendongnya, meletakkan tas itu di atas meja. Selanjutnya menghempaskan tubuh di atas bangku dengan posisi kepala telungkup di atas meja, sedangkan kedua tangannya ia satukan sebagai bantalan wajahnya yang tertunduk. Sementara kedua matanya mulai terpejam.
Beberapa menit setelah Mayra sampai di Kelas. Rere dengan baterai full nya. Masuk ke dalam kelas. "Mayra Calista.. Masih pagi udah meleyot aja!" ujar Rere. Gadis cantik itu Menggelengkan kepala sambil berkacak pinggang melihat tingkah konyol Sahabatnya.
Rere melepas lebih dulu tas gendong bermerk yang dipakainya, sebelum beraksi konyol untuk menyadarkan sahabatnya.
"May... Bangun, May! Lo mau Sekolah apa mau nge'galau?" ujarnya sambil menggoyang-goyang tubuh Mayra.
Meski Rere berusaha menggoyang-goyang tubuh Mayra cukup keras, gadis itu tetap pada posisinya, seolah tidak terganggu dengan perlakuan Rere. Hingga Rere pun merasa kesal sendiri karena tak kunjung mendapat respon Mayra.
"Nih bocah, lagi galau apa molor sih? anteng banget perasaan!" Rere berkata di dalam hati. Hingga sebuah ide terlintas di kepalanya. Gadis usil itu tersenyum miring.
"Agam... Lo udah balik!" teriak Rere tepat di telinga Mayra.
Mendengar nama Agam disebut. Mayra langsung membuka kedua mata, mendongakkan kepala dengan tubuh yang spontan berdiri menghadap pintu masuk kelas. "Agam... Di mana Agam?" ucapnya sambil celingukan mencari sosok pemuda yang dirindukannya.
"Pfffttt...." Rere yang berdiri di samping Mayra berusaha menahan tawa. Namun melihat ekspresi polos dan tingkah konyol sahabatnya yang sibuk celingukan mencari sosok Agam, tentu saja membuat Rere tidak bisa lagi menahan tawa.
"Hahaha...." Tawa nyaring Rere meledak. Membuat beberapa siswi yang tengah berada di dalam kelas menoleh ke arahnya.
Mayra yang melihat Rere tertawa terbahak sambil memegang perut, langsung paham dengan situasinya. "Lo... Ngerjain gue, Re?" Mayra menatap kesal wajah Rere yang masih tertawa terbahak.
Masih dengan sisa tawanya, Rere mengangguk. Membenarkan tuduhan Mayra padanya.
Mayra kembali menghempaskan tubuh di atas bangku. "Ngga lucu, Re!" ujarnya dengan wajah tertekuk.
Rere menghentikan tawa. Gadis usil itu ikut duduk di bangku samping Mayra duduk. "Lagian, masih pagi udah molor aja! Atau nge'galau lebih tepatnya," ledek Rere sambil menatap wajah cemberut Mayra.
Mayra menatap Rere sekilas, wajahnya tampak semakin merengut. Terlihat jelas, Mayra kesal dengan ucapan Rere yang memang benar adanya.
"Udah dehhhh... Ngapain mikirin cowo modelan kulkas 9 pintu kaya gitu! Cowo mah banyak kali, May!" celoteh Rere yang jelas tahu penyebab lunturnya semangat Mayra pagi ini.
Tepat setelah Rere berucap. Ridho berjalan santai melewati keduanya. Rambut gondrong Ridho tampak terlihat sedikit acak-acakan. Tapi bagi Rere, Ridho justru semakin terlihat tampan.
"Ahhh... Tampannya...." Rere bergumam sambil cengar cengir saat melihat Ridho lewat di depannya. Sementara Mayra hanya memutar mata. Jengah melihat ekspresi centil sahabatnya itu.
"Inget Kevin, Re... Kevin!" bisik Mayra tepat di telinga Rere.
Rere mendelik. "Kevin kan lagi ga ada di sini! Ganggu gue lagi seneng aja, Lo!" tukas Rere.
Mayra tidak lagi meladeni Rere. Ia memilih untuk membongkar isi tas. Mengeluarkan peralatan tulis dan tentu saja buku tugas yang harus ia kumpulkan hari ini.
"Tugas gue udah selesai semua, Lo bisa salin dari buku ini!" ujar Rere sambil menyodorkan buku tugas bersampul pink miliknya pada Mayra.
Mayra tersenyum tipis, gadis itu mendorong lembut buku tugas yang Rere sodorkan padanya. "Ngga perlu, Re! Gue udah ngerjain tugas gue sendiri," jawab Mayra dengan penuh percaya diri.
Rere melotot, terkejut dengan penolakan yang amat sangat tidak mungkin itu. "Lo, beneran udah ngerjain tugas? Serius? Tapi kan Agam lagi ga ada! Lo dapet contekan dari mana? Apa, Lo sengaja kirim tugas ke Agam terus Agam yang ngerjain? Atau .... "
"Re, kalau nanya tuh satu-satu. Jangan rombongan kaya gitu!" potong Mayra yang sudah hafal betul, salah satu tabiat Rere yang tidak akan berhenti bertanya, jika tidak segera dipotong.
Rere melipat bibirnya, gadis itu sama sekali tidak merasa kesal. Ia sadar betul dengan kebiasaan kurang baiknya itu.
Mayra menghela nafas. "Gue yang ngerjain sendiri semua tugas! Ga ada campur tangan Agam dalam tugas ini!" jawab Mayra penuh percaya diri. Meski pada kenyataanya, ada beberapa soal yang ia kerjakan bersama Ridho kemarin. Tapi selebihnya, Mayra sendiri yang mengerjakannya.
Rere mengangguk. Meski tidak sepenuhnya percaya. Tapi ia juga senang, karna sahabatnya itu tidak lagi mengandalkan Agam atau dirinya untuk mengerjakan tugas.
Obrolan keduanya terhenti, karena bel masuk berbunyi. Tak lama Pak guru yang mengajar jam pertama pun memasuki kelas.
*****
Selama pelajaran berlangsung, semua murid tampak begitu antusias. Begitu juga Mayra yang tampak antusias menyerap pelajaran. Semalam ia sudah bertekad untuk berjuang sendiri. Tidak lagi bergantung pada siapapun termasuk. Agam.
Jam istirahat, Mayra pergunakan untuk kembali membuka buku catatan khusus yang Ridho berikan padanya kemarin. Sementara Rere, buru-buru meluncur menuju kantin begitu bel istirahat berbunyi.
"Makan dulu!" ucap Ridho yang tiba-tiba berdiri di depan meja Mayra. Pemuda berambut sedikit gondrong itu meletakkan satu kresek berisi makanan dan air mineral yang sengaja ia beli di Kantin untuk Mayra makan.
Mayra Mendongakkan kepala hingga full ke atas untuk menatap wajah Ridho.
"Aku ga lapar!" tolaknya. Kemudian kembali menunduk.
"Pasti lapar! Kamu juga melewatkan sarapanmu, bukan?" Ridho kembali berucap.
Mayra menghela nafas, lantas menutup buku yang sedang dipelajarinya. "Ridho... Tolong duduklah! Leherku pegal jika harus berbicara sambil mendongak," ucapnya tanpa menatap wajah Ridho.
Ridho tersenyum. Ia terkadang lupa, tentang perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh. Hal itu tentu saja membuat Mayra bisa mendapat sakit leher, jika harus terus mendongak saat tengah berbicara dengannya. Maka Ridho pun menggeser kursi Rere sedikit jauh, agar tidak terlalu mepet pada Mayra saat ia duduki.
"Aku sudah duduk. Jadi... Makanlah dulu!" bujuk Ridho.
Mayra menoleh, menatap wajah tampan pemuda yang sudah beberapa hari ini menjadi guru belajarnya ketika berada di rumah. "Hari ini, aku izin untuk tidak belajar dulu di rumahmu!" pintanya dengan tatapan serius.
"Baiklah! Hari ini kita libur," jawab Ridho santai. Pemuda itu tampak tak keberatan dengan permintaan Mayra.
"Boleh?" tanya Mayra. Ekspresi wajah Mayra tampak ragu-ragu. Tidak menyangka Ridho akan semudah itu menyetujui permintaannya.
Ridho tersenyum. "Boleh!" jawabnya begitu meyakinkan.
Jawaban Boleh yang dimaksud Ridho ternyata tidak seperti yang Mayra pikirkan. Nyatanya, begitu bel pulang berbunyi. Ridho segera melesat ke area Parkir untuk membawa motornya lantas menunggu Mayra di halte depan Sekolah, berniat membawa gadis itu berpetualang.
"Pegangan yang kenceng, May!" teriak Ridho. Pemuda itu memaksa Mayra untuk ikut bersamanya ke sebuah Bukit yang sering Ridho kunjungi. Ridho sengaja membawa Mayra ke sana, untuk menghibur hati gadisnya yang pasti sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Semalam, Agam memposting kemesraannya bersama Nabila di akun media sosial miliknya. Ribuan like dan kolom komentar memenuhi postingan itu, apalagi Agam memang memiliki banyak pengikut. Selama berada di Sekolah pun, postingan Agam yang tengah berpegangan tangan bersama Nabila menjadi buah bibir di kalangan para murid. Mereka mempertanyakan tentang gadis cantik yang telah berhasil menaklukan hati sang idola Sekolah yang terkenal dingin dan misterius itu.
Agam Mahardika
Ridho Mahendra
anggp aja itu harga dibagi dua 😜
,, aku berasa mengalami lompat waktu, menilik masa lalu si cassanova arogan 😌
pelan2 mayra udah bisa nerima ridho. tapi ya gitu sih. kalo dipikir2 hidup mayra udah enak sebetulnya
serbuk apa tuh yg ditaburin ridho ke mayra? obat nganu kah?
mungkin ridho kayak gitu karna ridho berpikir mayra masih blm bisa berpaling dari agam
arsene di beberapa part ini dapet porsi yg cukup banyak
gimana ya agam kalo tau mayra udah nikah?
nana hyun jadi inget kekoreaan
agam juga tipe yg setia sih walau begitu anaknya
saya kalo di posisinya ridho kalo ngelakuin itu udah dibentak2 habis, mungkin bisa aja dicoret dari kartu keluarga. beruntung banget jadi ridho. mayra juga beruntung, tapi biasanya yg kayak ini ujungnya bikin galau terus
felicya sepertinya perempuan ga bener sampe jadiin kevin temen ranjangnya.
agam ini dia betul2 cinta sama mayra. sejauh yg saya baca (walau lupa2 inget karna udah lama banget ga baca lagi) agam cuma bersikeras sama mayra. cewe lain ga diperlakuin sespesial itu sama agam, kayaknya agam ini ga buaya2 banget deh, perlakuan dia ke cewe lain sama ke mayra rasanya cukup berbeda