NovelToon NovelToon
STEP FATHER FOR MY DAUGHTER

STEP FATHER FOR MY DAUGHTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Tamat
Popularitas:104.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rona Risa

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rona Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ABSURD

14 Desember 2014.

Riris terbangun dari tidurnya. Ia seperti mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya menangis.

Bunda...?

Kepala Riris pening. Perutnya mual. Sejenak ia bangun dengan bingung, bertanya-tanya dalam hati apa ia perlu lari ke kamar mandi untuk muntah-muntah.

Riris memandangi sekitar. Ia ketiduran di sofa ruang keluarga yang berantakan. Ada kue black forest yang hancur di atas meja. Kaleng-kaleng bir kosong. Confetti bertebaran. Bingkai foto kaca keluarganya pecah berserakan di lantai--fotonya lenyap.

Absurd.

Perlahan Riris ingat apa yang terjadi. Semalam adalah hari ulang tahunnya. Ia sendirian. Ibunya janji untuk pulang dan merayakan hari istimewa itu bersamanya, tetapi sampai larut malam, Siwi Sawitri tak kunjung datang.

Kekecewaan menghujam Riris. Kemarahannya pada ibunya membuncah.

Gue lahir ke dunia ini untuk apa? Lahir tanpa ayah, tanpa tahu siapa bokap gue! Nyokap membesarkan gue tapi tanpa betul-betul memerhatikan dan menyayangi gue! Bahkan di hari terpenting dalam hidup gue, nyokap lebih memilih mengurus syuting daripada gue!

Riris membanting kuenya di meja. Membanting foto keluarganya yang hanya berisi potret ibunya dan dirinya sepuluh tahun lalu saat ia masih polos dan Siwi Sawitri belum sesibuk sekarang, masih punya waktu untuk menemaninya jalan-jalan di taman.

Tak puas, Riris mengambil selusin kaleng bir milik ibunya di kulkas. Menenggak habis semuanya untuk pertama kalinya. Membuatnya mabuk hingga cekikikan sendiri sambil meledakkan semua confetti pesta. Serpihan kertas kecil warna-warni itu bertebaran ke seluruh ruangan.

Absurd.

Riris mabuk berat hingga ketiduran di atas sofa.

Ternyata mabuk itu nggak enak...

Kebingungan, Riris berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Namun tangisan misterius itu kembali terdengar olehnya, membuatnya merinding.

Masa sih setan...?

Riris melempar pandang, dan terkejut saat melihat rak buku di sudut ruang keluarga sedikit bergeser, ada celah bercahaya redup di baliknya.

Apa itu...?

Dengan gugup Riris mendekati rak buku itu. Menggesernya lebih lebar. Rupanya ada semacam pintu, tangga menurun, dan lorong rahasia di baliknya.

Bertahun-tahun gue hidup dan besar di sini... kenapa baru sekarang gue tahu ada ruangan rahasia begini? Untuk apa?

Riris menuruni tangga perlahan. Tangga dan lorong itu gelap seperti ruangan di bioskop. Berlapis karpet dengan lampu-lampu tanam di lantai, menyala redup dan sekadar cukup untuk menerangi langkah.

Di ujung lorong, sebuah pintu terbuka. Riris diam-diam mendekat dan mengintip.

Ruangan itu mirip ruang kerja ibunya di lantai dua--ada sebuah meja, komputer, deretan rak buku, sofa, proyektor, pemutar piringan hitam.

Siwi Sawitri entah sejak kapan sudah ada di sana, duduk dekat meja, membelakangi pintu. Ia berbicara dengan seseorang di telepon sambil menangis.

"...sampai kapan kamu memperlakukanku dan Riris seperti ini, Al? Dia putri kita!"

Riris membeku. Sukar percaya apa yang baru saja didengarnya.

Bunda bicara dengan siapa? Bunda bilang 'putri kita'? Apa itu bokap gue? Tapi kata Bunda, bokap sudah meninggal saat gue masih bayi, dalam kecelakaan mobil...!

Siapa ini Al...?

"Aku lelah hidup seperti ini, Al... setiap tahun aku harus membayar lima milyar agar Riris tetap bisa hidup dan tak dibunuh anak buahmu... kenapa kamu memperlakukan kami seperti ini? Kenapa nyawa Riris harus ditukar dengan uang? Riris anak kandungmu!"

Siwi menangis sejadinya. Riris makin tidak mengerti. Air matanya juga ikut mengalir.

"Riris berulang tahun, kamu tidak mau datang?" tiba-tiba Siwi bicara dengan lembut. "Ajak juga Nana... kita bisa kembali utuh, Al... kembali seperti dulu sebelum anak-anak kita lahir... kenapa kita tidak mesra dan bersatu saja seperti dulu?"

Apa ini maksudnya, Bunda? Jadi bokap gue sungguhan masih hidup? Anak-anak? Nana? Gue punya saudara?!

"BAIKLAH KALAU ITU MAUMU! DASAR BRENGSEK!"

Riris terlonjak. Siwi tiba-tiba membentak dan menutup telepon. Ia menyambar sebotol anggur yang sudah terbuka di atas meja dan berkurang isinya, lalu meneguk sisanya banyak-banyak seperti minum air.

"Laki-laki bodoh... penjahat busuk... perampok, pembunuh... tak pantas jadi ayah... maafin Bunda, Ris, Na... Bunda sayang kalian... hik.."

Siwi cegukan, oleng dan jatuh dari kursi, lalu tergeletak tak sadarkan diri di lantai.

"B-Bunda...!"

Riris terhuyung saat menghampiri ibunya. Tetapi kekhawatirannya percuma. Siwi baik-baik saja. Ia malah mendengkur, seperti sedang tidur.

Siwi mabuk berat dan jatuh tertidur. Persis Riris.

Enggak...! Enggak...! Dia nggak pantas jadi nyokap gue! Membiarkan gue sendiri dan membohongi gue selama ini... apa maksudnya?!

Riris tak tahan lagi. Sambil menangis, ia berlari keluar. Riris menyalakan mesin motor matic-nya dan mengebut menyusuri jalanan yang sepi dan dingin.

Hujan turun dengan deras. Riris menangis sambil terus memacu gas.

Entah karena pandangannya yang mengabur oleh hujan, atau pikirannya yang tak fokus karena sisa pengaruh alkohol dan kesedihan mendalam, Riris terlambat menyadari ia telah memasuki jalan satu arah. Dan sebuah mobil jeep hitam melaju tepat di depannya.

Pengemudi mobil itu membunyikan klakson dan membanting setirnya ke kiri untuk menghindari tabrakan.

Riris tak sempat menarik tuas rem. Pikirannya kosong. Mobil jeep yang berkelit itu menyerempetnya.

Motornya terbanting miring. Riris jatuh berguling-guling di jalanan basah dan keras.

Segalanya menjadi gelap.

***

Di mana gue...?

Riris membuka mata, bingung dan panik saat mendapati dirinya berada di ruangan asing penuh cahaya.

Apa gue udah mati...?

"Hei, tenanglah! Kamu sudah sadar?"

Seraut wajah tirus yang sangat tampan membayang jelas di netra Riris. Kulit lelaki itu seputih salju. Mata yang tajam dan jernih. Hidung lurus. Bibir tipis. Rambut hitam pendek yang dipotong rapi.

"Kamu... malaikat?" Riris tak bisa menyembunyikan ekspresi terpesona di wajahnya.

Lelaki tampan itu mengerutkan alis.

"Kamu gegar otak betulan, ya?"

Riris mengerjap. "Hah?"

"Kata dokter ada kemungkinan kamu gegar otak. Soalnya kepalamu tadi terbentur cukup keras saat jatuh. Kenapa kamu sengawur itu bawa motor? Kamu mau mati, hah?!"

Riris kembali dilanda kekecewaan. Ia ingat kecelakaan itu. Maka dari itu ia berpikir dirinya sudah mati, bertemu malaikat. Tapi ternyata, dia masih hidup. Dirawat di rumah sakit. Dimarahi laki-laki asing yang kemungkinan besar adalah pengemudi mobil sialan yang menyerempetnya itu.

"Memangnya kenapa kalau aku mau mati? Bukan urusanmu!" bentak Riris jengkel.

Laki-laki itu memandangnya dingin. "Memang bukan urusanku. Tapi kamu hampir membuatku celaka juga. Kalau mau mati, jangan seret orang lain. Mati saja sendiri."

Riris melongo. Tak menyangka akan mendapat reaksi sinis tanpa empati sama sekali dari orang yang sepenuhnya asing seperti ini.

Laki-laki di depannya ini sungguh dingin dan menjengkelkan!

"Kamu nggak kasihan sama aku?" tanya Riris, tanpa sadar air matanya mengalir.

"Kenapa harus kasihan? Aku bukan ibumu," tukas lelaki itu dingin. "Ngomong-ngomong, aku sudah menghubungi ibumu. Aku yakin dia akan segera menuju kemari begitu dia membaca pesanku. Kamu tunggu saja."

Lelaki itu memutar tubuhnya dan berjalan pergi.

"Tu-tunggu! Aduh!"

Riris tersandung tiang infus dan terjatuh ke lantai.

"Kamu ini kenapa?!" si lelaki berbalik dan membantunya berdiri sambil marah-marah. "Jangan suka bikin dirimu celaka! Menyusahkan saja!"

"Aku nggak mau ketemu ibuku!" rengek Riris sambil berurai air mata. "Bawa aku pergi dari sini!"

Lelaki itu mengerutkan alis. "Kamu kenapa?"

"Bawa aku pergi dari sini!" Riris menyedot ingus keras. "Kalau kamu nggak mau, aku akan bunuh diri sekarang juga!"

"Hei... mau ke mana?!"

Lelaki itu menyergap tubuh Riris dengan sigap saat Riris berjalan menuju jendela di sisi kamar perawatan VIP, yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi bercahaya dan seisi kota dini hari.

"Aku mau mati! Mau lompat bunuh diri! Lepaskan!"

"Jangan gila!"

"Kalau kamu nggak mau aku mati, bawa aku pergi dari sini sekarang juga!"

Lelaki dingin dan tampan itu akhirnya menyerah.

"Baiklah... akan kuturuti permintaanmu!" serunya gusar. "Kita pergi dari sini!"

***

Riris duduk dengan nyaman di sofa empuk di ruang keluarga sebuah apartemen mewah di selatan ibukota. Ia sudah berganti pakaian bersih dengan kaos hitam dan celana pendek cokelat kebesaran yang bukan miliknya, dan dengan tenang menyeruput segelas cokelat panas sambil menatap si tampan yang gusar membuka dus pizza hangat dan meletakkannya di atas meja kaca hitam berkilat di depan sofa.

"Mau sampai kapan kamu ada di sini?" gerutunya jengkel.

"Selamanya," jawab Riris seenak udelnya.

"Jangan sinting kamu!"

"Ya kalau kamu nggak mau nolong aku, aku mati aja..."

"Jangan seenaknya begitu! Kenapa kamu segila dan seegois ini? Apa perlu aku telepon rumah sakit jiwa untuk jemput dan isolasi kamu supaya kamu nggak nyusahin hidupku seperti ini, hah?!"

Riris diam saja. Namun ia tak bisa mencegah air matanya jatuh mengalir.

Lelaki itu mendesah, lalu duduk di samping Riris.

"Sebenarnya maumu apa, sih?" keluhnya pelan. "Kamu kenapa...?"

"Aku... aku nggak tahu...," Riris tersedu. "Aku bingung..."

Lelaki itu terdiam sejenak.

"Apa kamu bertengkar dengan ibumu?"

Air mata Riris menderas.

"Lebih buruk dari itu... aku mendengar ibuku bertengkar dengan ayahku di telepon... padahal ibuku selama ini bilang ayahku sudah mati... tapi kenapa...?"

Riris menekap mulutnya dan memejamkan mata, menangis sejadinya.

Lelaki itu dengan canggung mengusap punggung Riris. Riris tanpa ragu mencondongkan tubuhnya dan menangis di bahu laki-laki itu.

"Eh... hei..."

Lelaki itu salah tingkah, wajahnya memerah. Tetapi pada akhirnya dia pasrah dan membiarkan Riris menangis sepuasnya di bahunya.

"Apa kira-kira kamu tahu siapa yang bisa membantuku...?" tanya Riris setelah menegakkan punggung kembali dan menenangkan diri.

"Bantu apa...?" tanya lelaki itu pelan.

"Bantu aku mencari tahu, siapa ayah kandungku sebenarnya," gumam Riris pelan. "Kalau bisa juga... aku ingin ketemu dia dan mendapat semua jawabannya... Bunda nggak akan mau mengungkap kebenarannya padaku... tapi aku harus tahu... aku berhak tahu..."

Lelaki itu menghela napas panjang.

"Kalau aku bantu kamu, kamu janji mau pulang dan nggak akan mencoba bunuh diri lagi?"

Riris mengerjap.

"Kamu bisa bantu aku?"

Lelaki itu mengangguk. "Ya."

"Bagaimana?"

"Anggap saja ini sebagai misi latihan untukku," gumam lelaki itu. "Kelak pekerjaanku adalah mengungkap kebenaran seperti ini."

"Memangnya apa pekerjaanmu? Intel? Detektif?"

"Semacam itu."

Riris mengerjap. Apa laki-laki tampan ini serius?

Dia masih muda--terlihat seperti mahasiswa tingkat pertama. Meski dingin dan sinis, ternyata hatinya baik dan tidak tega meninggalkannya terluka dan kalut di rumah sakit seperti itu. Riris sendiri tidak menduga kenekatannya diredam laki-laki yang tak dikenalnya seperti ini.

Riris tahu dia sinting minta dibawa pergi orang asing dengan ancaman akan bunuh diri jika permintaannya tak dituruti. Lelaki itu membayar semua tagihan rumah sakitnya dan membawanya ke tempat tinggalnya yang berupa apartemen mewah di selatan ibukota. Jelas lelaki ini bukan anak orang sembarangan.

Yang lebih mengejutkan, laki-laki itu memperlakukannya sangat baik dan sopan. Meminjamkannya pakaian bersih. Membuatkannya cokelat panas. Memesankannya pizza. Mendengarkan ceritanya.

Bahkan saat Riris menangis di bahunya, lelaki itu dengan sopan tidak sembarangan menyentuhnya. Tidak cari-cari apalagi curi-curi kesempatan. Padahal kalau mau, laki-laki itu bisa saja berbuat tidak senonoh. Apalagi hanya ada mereka berdua di apartemen itu.

Dan sekarang, lelaki itu menawarkan bantuan. Mengharapkannya pulang dan tetap hidup dengan baik.

Hati Riris bergetar saat menatap wajah tampan itu--entah mengapa di matanya kini semakin tampan. Lebih tampan dari Tom Cruise, aktor laga idolanya.

"Kamu... siapa kamu sebenarnya...?" tanya Riris dengan suara bergetar.

"Namaku Raka Garuda. Aku calon Agen Rahasia Garuda."

***

"Right in front of you, I'm standing with so much joy..." 🎶

Dering ponsel Riris yang merupakan lagu duet Samudera dan Emma Heesters berjudul "My Love" menghentikan cerita Riris siang itu.

Di layar ponselnya tertera nama "My Tiger" sebagai identitas pemanggil.

"Halo, darling!" Riris menjawab ceria. "Udah di depan? Oke, aku keluar. Tunggu aku yaa."

"Rangga?" tebak Raya sementara Riris bangkit dengan ceria sambil memasukkan ponsel ke dalam tas selempangnya.

"Iya lah! Siapa lagi?" jawab Riris enteng. "Udah ya! Gue tinggal dulu! Mau kencan dulu sama suami tercinta..."

"Kapan nikahnya? Kok aku nggak diundang?" gumam Raya seraya memutar bola mata.

"Resepsinya kapan-kapan," Riris tersenyum jahil. "Tolong awasi kafe buat gue ya. Kalau ada apa-apa telepon aja gue. Cerita gue sama Rangga disambung lagi kapan-kapan."

"Eh, Ris..."

Riris menoleh.

"Ya?"

Raya ragu sejenak. Namun ia harus menanyakan ini karena bagaimanapun hal ini sangat mengganjal dan mengganggu benaknya saat mendengar Riris bercerita.

Apalagi jarak usia Riris, yang sebaya Raya, adalah delapan belas tahun dari laki-laki tampan yang nama dan sosoknya sangat familiar itu...

Jangan-jangan... tapi nggak mungkin, kan...

"Al dalam cerita kamu itu... yang disebut ibumu sebagai ayahmu di teleponnya... bukan Alam Semesta, kan?"

...***...

1
sean hayati
buat apa hidup di sangkar mas kalau gak bahagia
sean hayati
Salam kenal mbak baru mampir ini,bila ada waktu mampir ya di karyaku cinta di ujung batas usia
Hera Puspita
cerita nya bagus, dan byk menguras air mata 🥰🥰
Hera Puspita
ikut terharu 😭😭😭😭😭
Hera Puspita
😭😭😭😭😭😭
Hera Puspita
betul2 menegangkan
Hera Puspita
sedih dgn kondisi samudra 😭😭😭
Hera Puspita
terlalu besar pengorbanan mu samudera 😭😭😭
Hera Puspita
sakti kah pengkhianat nya 🤔🤔
Hera Puspita
kok curiga sama Arum ya 🤔🤔
Hera Puspita
sedih banget 😭😭😭😭😭
Hera Puspita
waw....🥰🥰
Hera Puspita
kamu berhak bahagia raya
Hera Puspita
baru mampir
Zudiyah Zudiyah
hemmm smua qo dbikin mati thor sad ending 😔😔😔
Zudiyah Zudiyah
😭😭😭😭😭😭
Zudiyah Zudiyah
Aduh Satria kenapa kamu lahir d situasi & keadaan yg lagi genting naakkkk
Zudiyah Zudiyah
aduh duh duh duh t sesuai rencana 😱
Zudiyah Zudiyah
siapakah yg akhirnya bertahan dsisi Raya? apakah Samudera yg berkorban menyelamatkan nyawa Sambara krn ia sadar hidupnya g akn lama krn penyakitnya/kah Sambada yg berkorban menyelamatkn Samudera dg mendonorkan hatinya krn dia sadar hati Raya untuk Samudera? 🤔🤔🤔🤔
Zudiyah Zudiyah
untung Sambara masih memiliki kewarasan ketika dihadapkan masalah rumit & keadaan & kejadian ya sgt menyakitkan memilukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!