Pandangan pertama seorang Aditya Pratama dengan model cantik bernama Kimberly Edelina Agatha membawa Aditya ke dalam perasaan yang tak dapat dijelaskan. Ketertarikan, obsesi ingin memiliki, atau mungkin jatuh cinta yang sesungguhnya. Pesona Kimberly membuat Aditya tak mampu melepaskan pandangan darinya. Hingga akhirnya, Kimberly luluh oleh karisma, segala perhatian, dan sikap manis Aditya padanya.
Kimberly harus menerima kenyataan getir setelah hatinya telanjur terpaut. Mengetahui Aditya ternyata pria beristri dan beranak satu, Kimberly mulai dilema.
Akankah Kimberly memilih bertahan dengan statusnya sebagai selingkuhan alias orang ketiga? Siapa yang jadi prioritas Aditya dalam hidupnya? Bisakah Aditya menolak pesona sang selingkuhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viaviana97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selingkuhan Takut Diselingkuhi
Beginilah, hasrat yang sudah dipaksa puasa selama beberapa hari. Begitu ada waktunya untuk tersalurkan, tentu akan lebih liar dibanding saat-saat biasanya. Aditya tak mau melepaskan Kimy lagi. Begitupun Kimy, ia seperti enggan kehilangan sensasi ini lagi.
“Sayang...”
“Aaahhh ah Mas.”
Aditya membuat desahan Kimy makin menjadi-jadi. Pria itu pun melepas penutup terakhir yang masih menempel di tubuh Kimy, bra dan celana dalamnya.
“Ssshhh ah ah Kim, ah hah hah nikmatilah, Sayang.”
“Auwwhh ah ah Mas... emmhh Mas Ditya.”
“Hm, enak, kan, Sayang? Rasanya udah lama mas gak ngerasa senikmat ini. Kamu ... sshhh ah aahh selalu bisa buat mas bergairah.”
“Aasshhh ouhhh Mas ah hah hah cukuph Mas Ditya.”
“Mas masih mau lebih lama lagi, Sayang. Ayolah. Mas sangat rindu kamu.”
Aditya terus mencecap seluruh areal tubuh Kimy. Gerakan menggeliat tubuh Kimy yang menahan sensasi kenikmatan tiap sentuhan dan kecupan Aditya justru membuat Aditya makin tergoda untuk bermain lebih.
“Ohh Sssayang, kamu bener-bener buat mas gila. Hmmpph sshhh ah aaahhh kamu hanya milik mas, Kimy.”
“Oohh aakhh ah ah Mas.”
“Aaahh Kim...”
Mereka berguling ke kanan-kiri. Saling peluk, mendorong, meremas. Terus mengumbar desahan. Aura panas berselimut kenikmatan mengisi penuh kamar apartemen Kimy.
Percintaan yang liar, memancing Kimy melakukan pelepasan berkali-kali. Rasanya lemas. Ia sungguh dibuat melayang mabuk kepayang oleh Aditya. Sang CEO begitu hebat dalam urusan bercinta di ranjang dan memuaskan pasangan. Dan kehebatan itu hanya mau ia tunjukkan pada Kimy seorang.
“Aaaaahhh i love you, Sayang... hmmpph ah.”
Keduanya merasa cukup lelah. Walau sebenarnya Aditya pun masih kuat jika bermain lebih lama lagi, pria itu tak ingin membuat kekasihnya kewalahan dan makin tepar. Mereka saling berpelukan di atas ranjang, berada di bawah satu selimut yang sama. Setelah permainan bercinta yang liar, ini saatnya pembicaraan hangat dari hati ke hati.
“Makasih, Sayang. Mas pasti udah buat kamu sangat lelah barusan. Maaf, Kim, mas gak bisa tahan diri. Hasrat mas, udah lama menantikan kamu.”
“Em, gapapa Mas Ditya.”
Kimy meletakkan tangannya di atas dada bidang Aditya. Sesekali mengusapnya, hingga turun ke bagian perut sixpack sang pria. Sementara Aditya pun tak mau kalah. Pria itu masih setia mengusap mesra bahu dan punggung Kimy. Sesekali memainkan rambut panjangnya yang tergerai dan menciumi wajahnya.
“Mas sangat bahagia, bisa bersama kamu lagi, Kim.”
“Mas... apa aku salah kalo aku mencintai Mas?”
“Hey, itu sama sekali bukan kesalahan. Mas bahkan sangat mencintai kamu, Kim.”
“Tapi, Mas udah jadi milik wanita lain.”
“Udah mas bilang, mas sepenuhnya milik kamu.”
“Kalo semisal aku ada di posisi istri Mas, aku juga pasti akan ngerasa marah kalo ada yang rebut Mas dari aku.”
“Kimberly, Sayang. Kamu itu gak pernah rebut mas dari dia atau siapa pun. Dari awal, hati mas hanya memilih kamu. Kamu jangan terlalu khawatir, Kim. Mas mau kamu tetep hepi dan nyaman jalanin hubungan ini sama mas.”
“Andai aku ketemu Mas di saat Mas belum menikah sama wanita lain.”
“Mas juga selalu mengandaikan hal yang sama, Kim. Kalo mas lebih dulu ketemu kamu, mungkin saat ini mas akan jauh lebih bahagia.”
“Kenapa takdir bikin pertemuan kita kayak gini, Mas?”
“Entahlah. Yang jelas, mas percaya, takdir gak akan pisahin kita lagi. Jadi, kamu juga gak boleh ngelawan takdir, yah.”
“Aku nyaman kalo ada di deket Mas.”
“Hmm, mas juga, Kim. Em, Sayang, kalo kamu mau mas pisah sama Sasa, mas akan pertimbangkan, mas akan mulai pikirin dan urus itu.”
“Mas Ditya yakin?”
“Tentu, Kim. Mas juga ingin bersama kamu sepenuhnya, jadi milik kamu seutuhnya. Bahagia bersama kamu tanpa ada yang ganggu, halangin, dan usik kita lagi. Mas sayang banget sama kamu.”
“Lalu, putri Mas?”
“Biar mas yang urus itu. Intinya, mas gak mau kehilangan kamu lagi. Kamu cukup bertahan di sisi mas, dan biarkan mas yang pikirin segalanya.”
Kimy mengangguk pelan.
“I will marry you, soon. Kamu mau menikah dengan mas, kan?”
“Menikah?”
“Ya, Sayang. Jadi istri mas. Jadi Nyonya Aditya Pratama. Hm?”
“Em, aku ... aku gak mau terlalu buru-buru, Mas. Jujur, aku takut. Setelah kita menikah nanti, apa Mas bakal bosen sama aku dan pergi ke wanita lain di luar sana?”
“Oh My God! Hey, Kim. Why you ask like that? Kenapa kamu bisa mikir begitu? Apa menurut kamu mas ini sebrengsek itu?”
“No. Aku hanya ... kalo Mas bisa begitu ke istri Mas, mungkin juga itu bisa terjadi ke aku, kan? Aku juga gak terlalu paham gimana pemikiran para lelaki seusai menikah.”
“Kimy, gak ada yang kayak gitu. Konteksnya beda, Sayang, antara mas dengan Sasa dan mas dengan kamu. Kalo sama dia, mas menikah karena terpaksa. Sedangkan dengan kamu, lain, Kim. Mas sangat mencintai kamu. Mana mungkin mas selingkuh dari kamu? Mas akan jadi pria bodoh kalo mas berbuat begitu.”
“Em, baiklah. Aku paham, Mas.”
“Kamu percaya sama mas, kan? Mas gak akan buat kamu kecewa, Kim.”
Obrolan itu berakhir dengan mereka yang sama-sama terlelap. Saat hari mulai gelap, Aditya terbangun. Pria itu harus meninggalkan Kimy sebentar untuk kembali ke kantor dan pulang ke rumah, setidaknya untuk menemui putrinya sekejap. Setelah memakai setelannya kembali, Aditya mengecup mesra kening Kimy. Belum sampai Aditya pergi, Kimy malah ikut terbangun.
“Mas? Mas mau pergi?”
“Hm, iya, Sayang. Mas harus balik ke kantor dan pulang sebentar. Nanti, agak malem, mas akan ke sini lagi. Gapapa, kan?”
“Em, ya. Gapapa, Mas.”
“Oke. Mas pergi dulu, ya. Kalo ada apa-apa, kabarin mas aja, Sayang. Love you. See you!”
“See you, Mas Ditya.”
Setelah Aditya berlalu, Kimy justru mulai over thinking lagi. Benarkah keputusan yang ia ambil untuk memberi kesempatan lagi bagi jalinan cintanya dengan Aditya? Ia takut kalau hubungan ini suatu saat akan membuatnya lebih sakit lagi.