NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

Acara pengajian dan doa bersama tiga hari meninggalnya Reno, telah usai dilaksanakan. Namun para jamaah dan tamu undangan yang terdiri dari keluarga, teman, dan kerabat serta para tetangga belum ada yang beranjak dari tempat duduknya. Sebab tadi sebelum acara di mulai, pihak tuan rumah meminta para tamu undangan untuk tidak membubarkan diri sebab akan ada acara selanjutnya yang akan dilaksanakan.

Bisik-bisik pelan mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan. Tatapan saling bertukar, mencoba menebak-nebak alasan tuan rumah meminta seluruh tamu tetap bertahan setelah acara tahlil malam ini selesai. Ada yang menduga akan dibacakan wasiat, ada pula yang mengira akan diumumkan persoalan keluarga. Namun semua itu hanya sebatas dugaan, karena tak seorang pun diberi penjelasan. Membuat semua orang selain keluarga, kian penasaran dan bertanya-tanya.

Derap langkah seorang ART diikuti Pradana, membuat hampir semua perhatian beralih pada langkah mereka yang tergesa menuju pintu gerbang. Namun tak lama kemudian Pradana kembali masuk bersama dua orang laki-laki.

Suasana semakin hening saat dua orang tamu tersebut melangkah masuk mengikuti Pradana. Suasana yang semula terdengar bisik-bisik seketika terputus, seluruh pasang mata beralih kepada kedua pria tersebut. Salah seorang diantaranya mengenakan pakaian dinas yang rapi, lengkap dengan peci hitam yang menambah wibawa penampilannya. Wajahnya begitu dikenal oleh sebagian warga, karena pria itu adalah seorang penghulu.

"Lho! Kok ada pak Ahmad, penghulu? Memang siapa yang mau nikah?" Bisik salah satu ibu-ibu yang mengenal pria bernama Ahmad tersebut.

"Ah kamu ini jeng! masa iya setiap ada penghulu datang kemana-mana mau menikahkan orang, kan enggak juga. Beliau ke sini pastinya mau melayat." Sahut salah satu ibu-ibu di sampingnya.

Si ibu yang pertama berbisik menggeleng. "Enggak mungkin lah, masa iya mau melayat kayak begitu penampilannya. Malam-malam pakai baju dinas, mana bawa dokumen pula." Ucapnya yakin.

"Iya juga ya..." Akhirnya si perempuan yang satunya mulai percaya dengan asumsi temannya. Dan tak hanya kedua ibu-ibu itu saja, para jamaah yang lainnya pun kembali saling berbisik.

Kehadiran penghulu di tengah suasana duka sontak memunculkan berbagai asumsi, terlebih sebagian orang sudah mengetahui kalau kecelakan yang Reno alami hingga meninggal, pria itu tengah bersama seorang perempuan.

Di tengah riuhnya bisik-bisik para tamu undangan, seorang pria paruh baya akhirnya berdiri dari tempat duduknya. Ia menghela napas panjang, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh tamu yang memenuhi ruang tamu hingga ke teras rumah. Suaranya tenang tetapi cukup lantang untuk meredam setiap bisik percakapan yang masih terdengar samar.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... Saya, atas nama perwakilan ibu Sonia dan keluarga, mengucapkan terima kasih karena bapak dan ibu telah bersedia tetap tinggal setelah pengajian dan do'a bersama ini selesai. Kami mohon kesediaannya untuk menjadi saksi dalam acara selanjutnya yaitu akad nikah yang akan segera dilangsungkan." Tuturnya panjang lebar dan tenang.

"Dan juga, kami mohon pada bapak dan ibu yang hadir untuk memberikan do'a restu kepada anak-anak kami yaitu ananda Amara, dan saudara Abimanyu." Lanjutnya menyebutkan nama yang sedari tadi menjadi pertanyaan.

"Hah! Nak Mara mau nikah sekarang? Dia kan baru lulus SMA, eh kelulusan juga belum." Ucap salah seorang ibu-ibu nampak terkejut.

"Berarti benar yang dikatakan satpam komplek kita kemarin, katanya ada beberapa orang pemuda dan bapak-bapak yang datang kesini. Mereka memergoki Amara dan pacarnya om-om tengah bermesraan di tempat umum, astagfirullah anak zaman sekarang ya." Si ibu berkerudung kuning menimpali diakhiri dengan mengucap istighfar sambil menggelengkan kepala.

"Masa sih?"

"Suttts... Iya."

Bisik-bisik kembali terdengar, semakin riuh. Ada juga beberapa orang berpandangan dengan raut wajah kebingungan, ada juga yang spontan menutup mulut karena tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Nama Amara pun mulai beredar dari mulut ke mulut. Para tetangga kompleks nyaris tak percaya, gadis yang masih belia itu mendadak akan menikah tepat ketika suasana berkabung masih begitu terasa di rumah duka, bahkan karangan bunga bela sungkawa pun masih berjajar di halaman.

"Enggak nyangka ya, padahal kelihatannya baik banget dan lugu... Ternyata diluar sana liar juga, sama om-om pula, iiihhh ngeri." Cibir seorang perempuan.

"Buah jatuh sepohon-pohonnya mbak, mungkin bu Sonia sengaja menikahkan mereka daripada anak tirinya itu nanti bun-ting dan malah bikin malu."

"Suuts! Kalian enggak boleh menggunjing, apalagi pada orang yang sudah enggak ada. Apapun kelakuannya, do'akan yang baik-baik lagipula kita cuma tahu dari 'katanya' enggak tahu cerita yang sebenarnya." Seorang ibu-ibu paruh baya akhirnya bersuara pelan, menyudahi ibu-ibu yang sedari tadi saling berbisik. Bersamaan dengan itu, pria paruh baya yang di ketahui kerabat Sonia kembali berbicara dan kali ini memanggil calon pengantin pria.

"Untuk saudara Abimanyu, calon pengantin pria silahkan maju ke depan karena akad akan segera di mulai... Dan untuk para tamu, mohon perhatiannya untuk tenang."

Seorang pria yang sedari tadi duduk di ruang tengah bersama beberapa orang kerabat dari tuan rumah seketika berdiri, Abimanyu melangkah pelan menuju ke tengah dimana pak penghulu sudah duduk bersama dua orang laki-laki yang tak lain Pradana yang bertindak sebagai wali Amara, dan seorang laki-laki yang akan menjadi saksi dari pihak perempuan.

Penghulu mengedarkan pandangan, kemudian terakhir pada Pradana dan paruh baya yang berbicara mewakili Sonia. "Gimana... Sudah bisa dimulai?" Tanya nya pada kedua pria tersebut.

Pradana mengangguk, "iya silahkan." Sahutnya sembari menghela napas berat.

Setelah mendapat persetujuan, pak penghulu membuka acara akad dengan membacakan khutbah nikah. Selang beberapa menit pembacaan khutbah pun telah selesai, lalu ia memberi arahan pada Abimanyu dan Pradana yang menjadi wali nikahnya Amara.

Pradana menarik napas panjang, tangannya sedikit bergetar saat terulur pada Abimanyu. Ini pengalaman pertamanya menjadi wali nikah, Bismillahirrahmanirrahim...

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, saudara Abimanyu Mahendra dengan keponakan saya Amara Zaliana binti almarhum Reno Prasetyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat, perhiasan emas seberat 58 gram, dan uang tunai 10 juta rupiah."

"Saya terima nikah dan kawinnya Amara Zaliana binti almarhum Reno Prasetyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Tutur Abimanyu lantang, pria matang itu menahan napas sejenak sembari memejamkan mata, hatinya berdebar menunggu penghulu mengucapkan kata sah.

"Gimana para saksi, sah?"

"SAH!"

"Alhamdulillah..." Ucap penghulu dan Pradana bersamaan sembari mengembuskan napas lega. "Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair." Acara akad ditutup doa oleh penghulu.

Abimanyu menghela napas dalam, pikirannya kosong. Entah ia harus bahagia atau marah, otaknya masih mencerna apakah benar dirinya saat ini sudah resmi menjadi seorang suami.

"Ananda Amara, ayo ke sini nak! Datangi suamimu." Suara paruh baya yang dipercaya Sonia membuka acara tadi, menyudahi racauan Abimanyu. Pria itu berdehem seraya menegakkan duduknya, ia menoleh ke samping dimana Amara tengah melangkah ke arahnya digandeng oleh Sonia dan Maya istri Pradana.

Entah kenapa tiba-tiba hatinya bergetar, dan juga dadanya terasa sesak melihat penampilan Amara yang cantik dengan polesan make up tipis. Bukan karena tertarik atau jatuh cinta, tapi lebih pada iba. Gadis remaja yang seharusnya mulai melangkah menentukan pilihan jenjang pendidikan untuk masa depan, kini harus jatuh ke tangannya. Menjadi seorang istri tanpa cinta, tanpa perasaan, di saat luka kehilangan dan kecewa masih basah di dadanya.

"Abi..." Bisikan bu Halimah bersamaan dengan sentuhan di bahunya, membangunkan raga Abimanyu.

"I-iya... Ma!" Jawab Abimanyu tergagap, dan itu semua tak luput dari perhatian semua orang termasuk pria paruh baya yang kini berperan menjadi MC dadakan.

"Wah wah... Mas Abi nya malah bengong, terpesona kayaknya melihat bidadarinya datang... Pangling ya mas?" Gurau pak MC yang disahuti riuh tawa.

"Pakaikan cincin kawinnya, habis itu cium kening Amara." Bisik Halimah di samping telinga sang putra.

Mendengar bisikan sang mama, Abimanyu memejamkan mata.

"Cepetan!"

"Hm" Abimanyu hanya menyahut pelan dengan deheman, ia meraih kotak beludru merah kemudian mengambil salah satu cincin yang berukuran lebih kecil kemudian tangannya meraih tangan Amara yang masih menumpang di pahanya. Ia sedikit menyondongkan kepalanya lalu berbisik pada Amara. "Giliran kamu, cepetan pakein sudah pegal biar cepat selesai acaranya."

"I-iya om..." Sahut Amara tak kalah pelan, tangannya sedikit bergetar meraih tangan besar Abimanyu kemudian memasukkan cincin satunya ke jari manis Abimanyu.

Suara tepuk tangan dan ucapan Hamdallah pun seketika memenuhi ruangan. Amara hanya menunduk, ia tak bergerak sedikitpun bahkan mencium tangan Abimanyu pun tidak di lakukannya. Entah lupa atau memang tidak tahu ada tradisi seperti itu setelah penyematan cincin kawin.

Di belakangnya, Sonia duduk sembari menundukkan kepala. Berulang kali perempuan empat puluh tahun itu menyeka sudut matanya.

Maafkan mama, Mara...

Mama tahu ini salah, tapi enggak ada pilihan lain. Mama kecewa sama papa, saat ini mama hanya ingin menyembuhkan luka mama tanpa melihat apapun yang berhubungan dengan papa, termasuk kamu. Mama sangat menyayangimu, tapi kecewa dan sakit hati mama lebih besar, mungkin mama egois tapi daripada mama nyakitin fisik dan mental kamu, lebih baik kamu keluar dari rumah ini ikut suami kamu. Insya Allah om Abi akan menyayangimu, dia pria baik-baik.

Bersambung dulu ya...

Alhamdulillah terimakasih banyak buat para pembaca tercintaku atas jejak cintanya lewat like, komentar, ads, gift dan Vote. Mohon selalu dukung terus karya receh ini ya, dengan selalu meninggalkan jejaknya, jangan lupa juga rate bintang 5 nya ya terimakasih banyak🙏🏼

Semoga Allah selalu membalas kebaikan readers, Aamiin🤲🏻♥️

1
Mimi Yoh
ayo...itu apa...😄😄😄
Mimi Yoh
kalau khawatir bilang aja...nggak usah banyak alasan ya 😁😁😁
Mimi Yoh
keluar diam-diam 😯😯 ..mara memangnya kalau mau keluar kamar sambil nyanyi atau teriak gitu..
Mimi Yoh
😯😯😆😆😆😆😆
Mimi Yoh
sama-sama ngegedein gengsi
Mimi Yoh
saking khusunya masak ya mara 😁😁
Mimi Yoh
hahahahah jadi mara bener-bener nggak nyadar kalau pak suami sudah pulang dan sudah jauh pindah ke alam mimpi 🤗🤗
Mimi Yoh
berasa ada yg hilang ya om 😁😁
Mimi Yoh
tahu masih punya suami...malah dibantu selingkuh...
Mimi Yoh
dasar matre
Mimi Yoh
oooh dijanjiin sesuatu kamu ya...
Mimi Yoh
sudah tahu kesalahan ada pada jenny, masih aja dibantu untuk deketin abi, tahu abi juga sudah menikah, terpaksa ataupun tidak, tetap abi sudah punya istri...kayak bukan sesama perempuan saja, dimana hatimu tya...
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
sama-sama gengsi... padahal saling mengkhawatirkan.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaa ampun demi hadiah liburan ternyata....
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Tya dimana hatimu sebagai sesama perempuan. Abi kan sekarang sudah punya istri, tapi kamu kok bisa²nya malah berusaha mendekatkan Abi dengan Jenny. Kalau posisimu sebagai seorang istri apa nggak sakit hati yaaa....
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : keknya Tya itu mkkb masa kecil kurang bahagia 😅
total 4 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh keren... begitu donk Bi, jangan mau dimanfaatkan lagi apalagi sama mantan. Semoga sikap tegasnya bisa terus dipertahankan yaa, ingat... ingat... kamu sekarang sudah bukan single lagi.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Iyaa iyaa ngerti om... tapi yaa jangan kasar² gitu donk. Seharusnya kamu lebih berpengalaman bagaimana meredakan amarah. Ini om mantan bujang lapuk beneran nggak tahu yaa caranya meluluhkan hati perempuan.
ms. yati74
🤣🤣🤣yg atu manta bujang lapuk yg atu bocah baru netes....angeeell tooo nyatu nyaa🤣🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
canggung dan sama" jaim yg bikin nagih, cukup buat ngilangin rasa kesel gegara Tya😥🤣
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
baguss kau Abi tegas begitu
Iper: Pasti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!