Dia adalah gadis yang bernasab pada ibunya, satu satunya orang yang sangat mengasihinya di keluarga besar yang terhormat itu.
ia tak pernah dianggap ada, kehadirannya hanyalah aib yang memalukan bagi keluarganya.
hidupnya semakin hancur ketika satu satunya pelita dan sumber kasih sayang dalam hidupnya harus pergi selamanya.
naasnya...ia sama sekali tak di perkenankan melihat sang ibu untuk terakhir kalinya. bahkan ia tak tahu di mana sang ibu di makamkan.
dan malam dimana sang ibu tiada, di usianya yang masih menginjak remaja. ia harus menerima pelecehan dari seseorang yang seharusnya merangkulnya guna sedikit mengurangi beban kesedihan akibat kepergian sang ibu.
kakak sepupunya berniat merenggut mahkotanya sebagai seorang wanita.
ia berlari dan berlari dengan kaki berdarah pergi menjauh dari istana kelam itu.
mencoba menyelamatkan kehidupannya yang penuh dengan luka dan cemoohan.
dia....Izhayana Namira Shafeea.
seorang gadis tak bernasab
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 strata sosial ( revisi )
Di sebuah rumah mewah bergaya minimalis namun terlihat begitu exklusiv. Seorang wanita tua namun masih terlihat begitu cantik dengan tampilan sederhananya yang begitu elegant duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Ridzwan.
" bagaimana...apa dia benar benar mampu dan pantas menurutmu ?! " tanya wanita tua itu sembari membaca sebuah lembaran kertas yang berisi profil biodata seseorang.
" lebih dari yang aku bayangkan nyonya besar, anda bisa melihat sendiri dari nilai nilai yang ia raih selama ini, atau mungkin anda ingin mengujinya sendiri. Semua nilai yang ia raih begitu sempurna. Dia benar benar aset keberuntungan bagi perusahaan anda nyonya...tidak ada olimpiade yang ia wakili tidak ia menangkan " jelas Pak Ridzwan.
Wanita tua itu mengangguk anggukkan kepalanya begitu melihat rentetan nilai sempurna yang berjajar rapi di atas kertas yang tengah ia pegang.
" aku dengar tuan muda sempat mengikuti " kata wanita itu dan seketika membuat Pak Ridzwan tergagap.
" be benar nyonya...tapi itu yang terakhir, dan hanya sekali..." jelas pak Ridzwan
" baiklah..aku percaya " wanita tuan itu sedikit menjeda kata katanya.
" dokter spesialis bedah dan penyakit dalam pribadi, aku membutuhkannya. Selanjutnya....pengacara handal berstandar internasional, aku ingin dia yang kelak bisa merebut kembali hak milik putraku yang mereka ambil dengan dalih hukum " lanjut wanita tua itu dengan mata yang berkilat.
Ada kemarahan yang tertahan di sana
" nyonya..tidakkah itu terlalu berat, dokter speialis bedah dan penyakit dalam, bukankah itu membutuhkan waktu yang lama ?! " Pak Ridzwan mencoba bernego siasi.
Ia merasa tak tega. Menjadi seorang dokter spesialis bedah dan penyakit dalam harus bisa di raih dalam kurun waktu yang tidak biasa.
Belum sekolah hukum....
karena ia nantinya masih harus di tuntut menjadi seorang ahli hukum....ya Tuhan....
Sebenarnya apa yang sudah coba ia tawarkan pada gadis itu. Desah pak Ridzwan dalam hati.
Bukan ini yang dia inginkan sebenarnya.
" apa yang telah aku berikan dan yang akan aku berikan nanti kepadanya lebih dari cukup untuk bayaran atas apa yang harus ia lakukan untukku.
dia bernafas hanya karena aku..jadi wajar jika seluruh hidupnya ia abdikan kepadaku " wanita tua itu kembali berkata dengan nada tegas dan tatapan mata yang begitu tajam menghujam pria yang duduk di hadapannya itu.
Kesan arogant dan angkuh begitu nampak dan kentara begitu jelas terpampang di wajah tuanya. Ia tak ingin di debat.
Pak Ridzwan menundukkan kepalanya.
" skandal itu...apakah benar ?! "
Sekali lagi, pertanyaan wanita itu membuatnya seketika tergagap.
Mati matian ia harus menenangkan dirinya.
Memberikan jawaban setenang mungkin.
" tentu saja tidak nyonya besar, hanya kedekatan biasa...apalagi tuan muda tak akan bisa dekat dengan sembarang orang " jawab Pak Ridzwan.
Sebenarnya ia tak yakin juga jika kedekatan dua orang itu hanya kedekatan biasa.
Namun...jika mau jujur, sebenarnya keduanya adalah pasangan yang sangat ideal.
Sama sama memiliki otak yang briliant, bahkan di atas rata rata.
Dapat di pastikan, kolaborasi di antara mereka akan mampu semakin membesarkan bisnis mereke nanti.
" kau yakin ?! " pertanyaan wanita itu kembali mengejutkan pak Ridzwan yang termenung.
" ten tentu saja nyonya..." pria itu berusaha meyakinkan.
Sunyi, dua orang itu kembali terdiam.
" pastikan yang kau katakan adalah kebenaran, karena jika tidak...aku tidak akan segan segan melakukan apapun meski itu adalah dia.." terdengar bagai sebuah ancaman.
" baik nyonya..." jawab Pak Ridzwan. Hatinya berdesir ngilu.
Wanita tua itu nampak berdiri dari duduknya.
" besok acaranya...?! "
" ya nyonya...."
" hmmm....." usai hanya berdehem, wanita tua itu berlalu dari tempat itu.
Sepeninggal wanita tua yang ia panggil nyonya besar itu. Pak Ridzwan menghela nafas.
Matanya menatap nanar jauh kedepan.
" Shafeea...apa aku sudah salah dengan membawamu ke sini ?! " desisnya pelan.
" jangan khawatir, aku yakin dia pasti mampu dan bisa...kita hanya perlu membimbingnya saja.." seorang wanita cantik tiba tiba telah berada di belakangnya dan mengusap lembut bahunya.
Pak Ridzwan mendongak menatap wanita itu yang tak lain adalah istrinya.
Ia mengangguk sembari turut mengusap punggung tangan sang istri yang berada di bahunya.
" ya semoga saja..." jawab pak Ridzwan lirih.
" tidakkah menurutmu dia mengingatkan kita akan seseorang ?! " tanya istri pak Ridzwan
" maksud mu ?! " tanya pak Ridzwan
" entahlah sayang...terkadang aku merasa tak asing dengan wajah Nameera " wanita cantik itu menghela nafas.
💦
Pagi yang cerah, meski wajah Shafeea tak terlihat menyunggingkan senyum. Namun...mendung itu seolah sedikit memudar.
Semalam ia seakan mendapat support dan pencerahan dari seorang Axel.
Tak pernah ia duga...pemuda itu seolah mampu menghiburnya. Membuatnya lupa barang sejenak dengan beban yang menghimpit jiwanya.
" pagi...!! " sapa Qonita ketika mereka berkumpul di meja makan.
" hmmm...." jawab Shafeea sembari duduk di kursinya
" cobalah untuk bahagia dan tersenyum Shafeea, kau sangat cantik saat melakukannya..aku yakin itu " Shesa salah satu penghuni asrama mencoba menyemangatinya dengan tak lupa memberikan senyuman.
Shafeea hanya diam, namun ia melipat bibirnya yang tipis seolah tengah menyembunyikan sebuah senyum di bibir tipisnya
Qonita dan Shesa yang melihat itu tertawa di buatnya.
Matahari sedikit di atas kepala ketika Shafeea memasuki kelasnya dan Luna segera menyambutnya.
" congratulation my friend, you are the best..." Luna menghambur memeluk Shafeea.
Tadi di papan pengumuman ia membaca, Shafeea adalah siswa dengan nilai kelulusan tertinggi.
" terima kasih.."
Kedua gadis cantik berbeda penampilan itu melangkah menuju aula di mana acara penyerahan hadiah sebagai apresiasi atas kerja keras siswa akan di adakan.
Aula telah di hias dengan begitu rapi.
begitu juga pentas yang juga nampak sudah di tata dengan begitu indah.
kursi kursi para tamu undangan pun telah tersedia.
Di bagian paling depang berjajar kursi kursi kehormatan.
Shafeea dan Luna mengambil tempat di antara banyaknya siswa yang ada di sana, namun tak lama seserang memanggil Shafeea dan membawanya ke belakang gedung.
Satu jam lebih telah berlalu sejak acara di mulai.
Luna tak melihat Shafeea sama sekali.
Hingga acara berada pada puncaknya.
Pak Anton sang guru bk sekaligus pembawa acara kali ini menyebut sebuah nama yang di minta segera naik ke atas pentas.
" Izhayana Nameera Shafeea....kami persilahkan..." sebutnya pada Shafeea, seketika tempat itu menjadi riuh.
Nama Shafeea memang cukup populer di kalangan siswa apalagi siswa laki laki karena selain keen.ceran otaknya ia juga terkenal dengan kecantikannya.
Shafeea maju ke tengah tengah pentas, wajahnya terlihat begitu tegang. Tak ada senyum lebar di sana
hanya senyum tipis.
" selamat Shafeea..kau berhasil meraih juara dengan nilai tertinggi. Kau berhak mendapatkan hadiahnya.." kata pak Toni kepada Shafeea.
" terimakasih pak Toni.." jawab Shafeea sembari menangkup kedua tangannya di depan dadanya
" baiklah...tuan muda pemilik yayasan sekaligus sekolah ini akan memberikan hadiahnya secara langsung kepadamu. Ini suatu kehormatan untuk kamu Shafeea...sekali lagi selamat " kata paka Toni lagi.
Shafeea mengangguk hormat.
Tak lama...seorang pria tampan berdarah asing dengan stelan pakaian formal nampak naik keatas pentas setelah di persilahkan oleh sang pembawa acara.
Pria itu terlihat begitu tampan dan berwibawa dengan kemeja warna hijau toska muda di padukan dengan stelan jaz dan kain bahan warna grey.
Sungguh pantas ia kenakan.
" selamat untuk anda nona...nilai yang telah anda raih begitu tinggi dan gemilang " ucap pria itu yang kini berdiri di hadapan Shafeea.
Jarak keduanya begitu dekat hingga Shafeea mampu mencium aroma wangi pria itu.
Namun..bukan rasa bahagia yang Shafeea rasakan ketika ia mencium aroma wangi itu.
Justru ia merasakan tubuhnya mulai menggigil.
Shafeea menggigit kuat kuat bibirnya ketika pria itu mulai mengulurkan tangannya kepadanya.
Apa yang harus ia lakukan...
kasihan bayimu klo tanpa nasab😊