" Eh em wek . "Seorang pria tua sedang batuk di pembaringan Ranjang rumah sakit VVIP
Seorang pria tua yang sebatang kara tanpa ada penerus dan hanya para bodyguard yang senantiasa menemani dihari tuanya.
Pria kaya raya. Orang terkaya di nomer dua di dunia. Melewati masa tuanya yang hanya kesendirian. Pribadi pria itu. Tak pernah dipublikasikan kepada publik. Karena ada Sesuatu masa lalu yang menyakitkan. Dimana dia yang masih menjadi pria miskin yang penuh dengan kekerasan kepada istri kecilnya hingga sang istri meninggal dunia di tangan sendiri. Karena tak sengaja dia membunuh dua nyawa yang ternya sang istri sedang mengandung bayinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sabrina chaiden ririi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Amsterdam .
Dengan terpaksa dia mengirim chat kepada putra nyonya aster yang bernama rayan. Yang terpenting jangan tuan aster.
Di tempat lain. Hari ini adalah malam hari. Siang bagi negara winda berada. Malam buat negara keluarga aster tinggal.
Sudah dua malam. Tuan aster bergonta ganti perempuan. Meskipun dia masih berpakaian lengkap. Harusnya para wanita telanjang itu bisa membuat dia terangsang. Malahan sama sekali tidak membuat juniornya berkutik sama sekali. Tetap sama malah lebih parah dari sebelumnya. Dia malah memikirkan wanita yang ada di negara lain saat ini. Wanita yang baru pertama kali menghilangkan haus dahaganya dari kelelahannya saat bekerja dan tak pernah libur ini.
"Roy, Suruh semuanya keluar. Aku tak berselera lagi dengan mereka. Kalau merasa sayang. Suruh anak buah mu memakainya sebelum menyuruh mereka pergi. Sayang sekali uang yang mereka ambil dariku secara cuma cuma. Anggap saja bonus. " Tulis tuan aster melalui ponselnya dan langsung di kirim ke nomer asistennya roy saat ini. Sat melihat pesan dari atasannya. Roy langsung mengangguk dan menghubungi bawahannya dan membawa semua wanita ke mana mereka inginkan. Sedangkan roy masih setia di samping bosnya.
" Tuan, Nona wijaya ingin menemui anda. Dan ingin membuat janji makan malam dengan anda malam ini. " Ucap roy kepada tuannya. Dan memberitahukan tuannya bahwa ini nona wijaya lo.
Saat aster belum mengatakan sesuatu. Ponselnya berbunyi notifikasi chat masuk ke ponselnya saat ini.
Ting.
Honey :
"Maaf, tuan rayan. Bisa anda jemput saya di bandara xx Nanti jam 09:00.Saya mendapatkan nomer anda dari nyonya aster. Dan jangan takut saya juga kenal kakak anda tuan aster. "
Sedangkan aster yang membaca pesan masuk dari wanita yang dia pikirkan saat ini. Merasa ingin tertawa dan menangis. Ini wanita aslinya nyadar atau tidak bahwa rayan dan dia itu satu orang yang sama. Apa wanita ini tak menyimpan nomer dia di ponsel kerjanya. Atau jangan jangan di nomer ponselnya yang hancur itu. Dan sedangkan dia memakai nomer lamanya. Apa memang semua kontak tersimpan di ponsel bukan di kartu SIM nya.
Setelah membaca pesan itu. Senyum yang tadi tersungging menghilang begitu saja. Lalu melihat roy yang masih kaget melihat atasannya tersenyum tadi.
"Anda saja yang datang. Saya akan menjemput istri saya. " Ucap atasannya yang sudah mengklaim wanita yang mengirimnya pesan sebagai istrinya. Memangnya dia mau. Tanya saja belum sudah main mengakuinya. Toh kebahagiannya hanya berada di wanita itu. Tidak bisa di lepaskan begitu saja. Apa kata dunia kelak. Saat dia tua tidak memiliki putra. Sebagai tuan muda yang akan meneruskan kekayaan yang dia kumpulkan dari usia muda. Hingga sekarang.
"Tapi tuan, Kalau saya hang datang. Nanti akan membuat nona wijaya tidak menyukainya dan akan berpengaruh pada perusahaan kecil yang baru anda dirikan. " Ucap roy yang jujur itu memang benar benar akan terjadi.
" Saya tidak peduli." Ucap tuan aster dengan langsung meraih jasnya dan memakainya. Lalu membalas chat dari wanita yang masih berada di negara lain.
"Jam berapa penerbangannya. " Balasnya dan mendapatkan tanda read yang artinya sudah dibaca. Lalu pihak lain sedang mengetik balasan.
Ting
" Jam 9:45 saya sampai di bandara itu kata sang pramugari. Karena saya sudah berada di dalam pesawat. " Itu balasan terakhir winda sebelum dia mematikan ponselnya ke mode pesawat agar tidak mempengaruhi sinyal yang menganggu sang pilot mengemudi pesawat yang dia bawa.
Tak terasa pesawat yang di tumpangi oleh winda telah mendarat ke lapangan bandara internasional di sana. Saat sampai di luar bandara dia langsung mengaktifkan ponselnya dan mengirim chat ke rayan.
"Tuan rayan, Saya sudah berada di bandara. " Kirimnya kepada rayan.
Tak perlu menunggu lama. Rayan membalasnya dan mengatakan dia berada dalam mobil hitam samping kiri parkiran bandara. Winda melihat dan melangkah ke sana. Tepatnya di sana hanya ada mobil hitam satu dan membuat dia melangkah. Sampai di depan pintu mobil tersebut. Dia mengetuk kaca pintu mobil dan langsung yang berada di dalam mengatakan masuk. Saat dia masuk.
Winda dikagetkan dengan tuan aster yang berada di depannya. Wind menanyakan dimana tuan rayan. Hanya diam dan duduk di bangku penumpang dengan santai. Dengan terpaksa winda menelpon nomer telpon tuan rayan. Dan ponsel yang berada di saku tuan aster yang berdering. Dan aster mengangkat panggilan itu.
" Sudah puas. main mainnya. " Ucap tuan aster dan langsung menutup panggilan itu. wajahnya langsung menoleh memandang wajah wanita yang dia rindukan dua hari ini.
" Rayan aster Castello. " Ucap tuan aster memperkenalkan dirinya kepada winda dengan menyebut nama panjangnya.
Baru kali ini. Winda tahu bahwa pria ini bernama rayan. Karena siapapun tak pernah tahu nama aslinya. Apalagi dia disuruh bertanya kepada william itu tidak akan pernah terjadi.
"Pak, Ke mansion utama. " Ucap aster kepada pria tua yang menjadi sopir keluarganya. Saat ini winda benar benar malu. Karena mengirim chat kepada aster terlebih dahulu. Apalagi dia masih marah dan benci kepada pria itu yang seperti tidak ada rasa bersalahnya.
" Jangan seperti anak kecil. Kau tahu kerjaan saya banyak. " Ucap aster tiba tiba membuat pak sopir merasa benar benar matahari terbit dari ujung selatan ke utara. Karena bisa mencairkan kutub utara saat ini.
Winda hanya menganggukkan kepalanya. Karena disini dia untuk membantu acara semuanya. Bukan sedang pulang ke rumah suaminya.
Saat sampai di persimpangan jalan. Tiba tiba asistennya roy menelponnya dan menyuruh tuannya untuk datang ke restoran ini. Karena nona wijaya tidak mau pulang sebelum melihat tuan aster. Setelah memutuskan sambungan telpon dengan asistennya. Aster melihat winda dan melihat pakaian dan juga cara winda berdandan. Seperti wanita seusianya saat ini. Dan membuat dia menganggukkan kepalanya. "Tolong berhenti do restoran depan sana." Ucap aster kepada sopirnya dan langsung kembali melihat winda. " Kau sebagai seorang istri cukup diam saja di sampingku. " Kata aster tiba tiba tanpa menjelaskan maksud perkataannya barusan. Hingga mereka sampai di depan restoran. Saat nona wijaya tahu itu mobil aster yang berhenti. Dia langsung merapikan make up nya dan pakaiannya. Saat melihat aster turun dari mobil dan tak langsung masuk kedalam restoran malah menunggu seseorang yang sedang bersiap keluar. Tangan winda terulur ke luar dan aster meletakan kepalanya agar tidak terbentur badan mobil. Melihat aster datang dengan wanita cantik. Membuat nona wijaya melihat asistennya aster yang berada di depannya.
" Siapa wanita yang bersama tuan muda mu. " Tanya nona wijaya kepada roy saat ini sedang menyeruput secangkir kopinya.
" Istrinya" Jawab roy langsung karena dia juga mendengar rumah utama kedatangan nyonya muda dari negara lain. Alias menantu nyonya dan tuan Castello saat ini. Siapa yang tahu maksudnya cucu menantu istri william bukan istri aster. Mungkin calon juga.
"Dia dari keluarga mana. " Tanya nona wijaya agar dia bisa membuat wanita itu pergi dari aster dengan uangnya.
" Tebak sendiri. Sepertinya uangmu tak berpengaruh dengannya. " Jawab roy yang sudah tahu akan pikiran nona wijaya yang licik. Makannya keluarga lesmana tidak menginginkan menantu seperti ini. Apalagi keluarga castello pasti tidak akan.
Sedangkan aster dan winda masuk dengan bergandengan tangan. Winda hanya diam dan mengikuti saja apa mau pria ini. Sandiwara apa yang akan dia mainkan.