Mutiara, gadis yang menjadi korban keegoisan kedua orang tua berjuang untuk terus melanjutkan hidup dengan baik dengan bantuan sang eyang.
Namun saat orang terakhir yang menjadi alasan untuk hidup telah pergi untuk selamanya membuat Mutiara semakin terpuruk.
Namun hidup tidak lah seburuk itu.
Karena takdir memberikannya seseorang yang akan kembali menjadi alasan dirinya bisa kembali tersenyum pada kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Kematian seseorang memang hal yang pasti, namun kepergian secara mendadak bukanlah hal yang mudah di terima oleh hati. Ketidaksiapan pasti meninggalkan luka yang tidak akan mudah disembuhkan apalagi bagi seorang Mutiara. Apalagi sebelumnya Mutiara memiki riwayat mental yang tidak begitu bagus.
Eyang Murti merupakan orang yang sangat memiliki peran dalam hidup Mutiara setelah kepergian bunda Tiana. Eyang murti lah yang menjadi alasan Mutiara untuk tetap bertahan selama ini.
"Mut" Salana memegang pundak kanan Mutiara yang berjongkok disamping tumpukan tanah yang basah dengan taburan kelopak bunga berwarna. cantik namun sangat menyedihkan.
"Kita pulang, Eyang....." Salana tidak bisa meneruskan ucapannya. Ia terisak lirih menunduk, Ia juga merasa terluka. Rasanya lebih menyesakkan saat sang nenek pergi meninggalkannya. Mungkin karena saat itu masih ada Eyang Murti yang jadi pelipur laranya.
Kini, Ia seperti berdiri sendiri. Ia juga harus bisa menjadi sandaran bagi Mutiara jangan sampai gadis itu kembali jatuh pada luka lamanya. Mutiara membutuhkan teman agar tidak merasa sendiri dan tidak dibutuhkan.
Salana benar-benar merasa takut pada semua hal yang akan terjadi nanti. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menghapus buliran-buliran bening yang sedari tadi tak berhenti mengalir di pipinya. Ia harus kuat tapi dalam hati Ia juga berharap banyak pada Mulya dan Dwi untuk lebih memperhatikan Mutiara.
Ia hanya bisa menemani dan memberi support. Ia hanyalah orang lain bagi Mutiara. Selama ini Eyanglah yang menjadi jembatan bagi mereka berdua dan Salana sadar akan hal itu.
Selama ini Mutiara tidak pernah terlalu terbuka padanya. Ia hanya bersikap layaknya teman dan Ia hanya akan menjawab jika Salana bertanya.
Salana sudah terbiasa karena memang dari awal Ia hanya ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi Mutiara.
Apa yang ditunjukkan Salana di pemakaman Eyang Murti berbeda dengan Mutiara. Tidak ada air mata yang terjatuh dari kedua netranya. Raut wajahnya datar, hanya menampilkan sedikit lengkungan dibibirnya saat seseorang datang padanya untuk menyatakan bela sungkawa. Tapi itulah yang menjadi ketakutan bagi orang-orang yang mengetahui masa lalunya.
Mutiara menoleh ke arah Salana, seketika Salana mendongakkan wajahnya melihat dalam netra gadis itu yang memegang tangannya sembil tersenyum teduh.
"Sal, Ayo Kita pulang" Salana mengernyitkan keningnya. Ada yang berbeda dari senyum Mutiara namun Ia sendiri tidak mengetahuinya.
Namun Salana tetap menghembuskan nafas lega karena Mutiara masih mau mendengar dan meresponnya. Mutiara berdiri di ikuti Salana, Ia berpamitan dengan memegang nisan kayu serta berpamitan dan sedikit berbisik pelan hingga tak ada seorang pun yang mendengarnya.
Rayden hanya bisa mengawasi, Ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa setelah penolakan yang dilakukan Mutiara. Bukan hanya dia bahkan Dwi sebagai Ayah Mutiara juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Mutiara meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Eyang Murti dengan tangan dituntun oleh Salana.
Mereka masuk ke dalam mobil Eyang yang biasa di sopiri paman Gio. Namun khusus hari ini yang duduk didepan kemudi bukan lagi paman Gio tapi Rayden.
Perjalanan mereka dihiasi keheningan. Mobil yang dikendarai oleh Rayden melaju pelan menuju rumah mendiang Eyang Murti, sesekali netranya melihat ke belakangan melalui spion untuk melihat Mutiara yang terus melihat ke arah jendela.
Setibanya dirumah, Mutiara minta izin untuk beristirahat pada Salana. Ia masuk ke kamar mendiang Eyang Murti. Ia butuh ketenangan agar tetap bisa bertahan . Jadi Salana yang mengurus semuanya dibantu para asisten rumah tangga.
Sedari awal saat keluarga dan pelayat datang, Mutiara lebih banyak menunduk. Ia tidak menyukai saat melihat berbagai isi pikiran orang lain yang membuatnya semakin tertekan.
Dalam keadaan seperti ini Ia merasa apa yang dimilikinya seperti sebuah kutukan yang mengerikan. Ia bisa melihat rasa Iba dan kasihan yang sangat ia benci.
Mutiara merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya saat ada seseorang yang ingin menyentuhnya hingga Ia menolak bersentuhan dam bertatapan langsung dengan siapapun bahkan dengan Dwi dan Rayden bahkan dengan adik sang bunda, Mulya Dewi. Hanya dengan Salana itu pun Ia tidak jarang menjaga jarak.
Sekarang Ia hanya ingin tidur dan menganggap semua ini hanya se batas mimpi dan ketika terbangun Ia masih bisa melihat Eyang yang tersenyum dan membelai rambutnya serta bisa menatap wajah teduh penuh kasih sayang.
Mutiara membuka matanya,Ia tidak tahu sudah berapa lama tertidur. Ia berjalan keluar kamar tak mendapati satu orang pun. Keadaan sunyi sudah menyelimuti rumah. Ia melihat sekeliling tapi tak didapatkannya seorang pun bahkan semua kamar kosong tak berpenghuni.
Mutiara melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dan kembali berjalan. Ia mengernyitkan keningnya heran tidak ada penjaga dirumah itu sedangkan pintu gerbang dalam keadaan terbuka. Langkah kaki gadis itu berhenti dan menoleh ke belakang, Kosong.
Mutiara mulai merasa ada ketakutan dalam dirinya. Ia tidak mungkin kembali ke dalam rumah, disana tidak ada seorang pun bahkan mobil eyang dan motor Salana pun tak terlihat.
"Mereka semua telah pergi" gumamnya pada dirinya sendiri.
"Rayden" satu nama terbersit dalam pikirannya dan terucap oleh bibirnya. Ia kembali melangkahkan kakinya bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Ia ingin bertemu dengan pria itu, bukankah pria itu ingin bersamanya atau pria itu juga ingin pergi meninggalkannya. Ada keraguan dalam hatinya namun hanya pria itulah yang ada dalam pikirannya.
Langkah kakinya kembali terhenti saat berada dipersimpangan jalan. Rasa takut mulai menguasainya bahkan Ia merasakan sesak dalam dadanya. Langit mulai gelap dan tak ada seorang pun bisa ia lihat di jalan itu. Ia tidak mungkin berlarian seorang diri menuju rumah Rayden. Itu jarak yang sangat jauh.
Mutiara menundukkan wajahnya ingin menangis tapi tak sebulir pun air mata mampu dikeluarkannya. ada rasa sakit dan perih memenuhi dadanya, nafasnya kian sesak. Tidak ada siapapun yang bisa menolongnya, Ia sendiri.
"Mutiara" Ia tersentak saat mendengar suara dan telapak tangannya tiba-tiba digenggam. Ia menoleh perlahan menatap asal suara. Seorang wanita cantik tersenyum sendu ke arahnya. Tatapan mata itu terasa hangat, Ia selalu menyukainya dan akan terus mengingatnya.
Genggaman tangannya dingin tapi terasa nyaman. Mutiara membalas senyuman wanita itu. Ia menatap dalam netra wanita itu ingin tahu namun tak ada yang bisa ia lihat. Pikiran wanita itu kosong.
"Ikutlah" Mutiara hanya menganggukan kepalanya patuh secara perlahan. Ia seperti tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah wanita itu. Ia membutuhkan seseorang untuk menemani kesendiriannya. Ia takut jika harus berjalan sendirian.
Baru saja ingin melangkahkan kakinya, Ia kembali tersentak saat tangan lainnya kembali dicekal. "Mutiara"
(Ω Д Ω)
babai hadir disini untuk memberi semangat kaka author yang kecteh.. /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/