Salsa mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Fariz, yang paling menyebalkan semuka bumi, dan yang anehnya kakaknya itu mempunyai asisten sekaligus bodyguard yang tidak kalah menyebalkan, namanya Ares. Laki-laki yang selalu berpakaian serba hitam, jarang bicara dan beraura dingin. Berada didekat Ares selalu membuat Salsa seperti berada ditengah-tengah pemakaman.
Ares jauh dari tipe lelaki idaman Salsa. Tapi, sayangnya atau sialnya, perintah Fariz tidak bisa diganggu gugat ketika ia memerintahkan Ares untuk menikah dengan Salsa!
Peristiwa demi peristiwa yang membahayakan nyawa Salsa justru membuat Salsa dapat melihat sisi manis Ares. Sebuah sisi yang membuat rasa aneh tumbuh diantara keduanya.
Akankah rasa itu akan terus tumbuh dan berbunga? Ataukah mati berguguran ketika rahasia dari sebuah jawaban yang selama ini Salsa cari telah terungkap?
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbeda
Ares meletakkan tubuh Salsa di atas ranjang kamar tidurnya, bukan kamar tidur Salsa. Oh tentu saja tidak, apa lagi Fariz mengawasi, dan Fo mengangkat kedua ibu jarinya seolah rekannya itu mendukung ancaman yang dilayangkan Fariz kepadanya, atau kepada Salsa lebih tepatnya. Perlahan dia menyelimuti Salsa yang langsung memiringkan tubuhnya memeluk guling. Helaian rambut menutupi sebagian wajahnya yang terlelap, Ares mengulurkan tangan, menyingkirkan helaian rambut itu dari wajah lelap Salsa yang berbaring di atas bantal tidurnya. Ditatapnya lekat dengan berbagai macam perasaan berkecamuk dalam dadanya.
Ini memang bukan lagi kali pertama mereka tidur sekamar dan seranjang, tapi kali ini Ares justru merasa lebih takut. Salsa yang telah memutuskan untuk mencoba berdamai dengan statusnya dan mulai menyingkirkan jurang permusuhan yang telah lama ada membuat Ares jauh lebih khawatir. Khawatir dirinya justru yang akan melukai wanita yang telah lama tersimpan dalam hatinya itu.
Ares menghela napas panjang, kemudian bergerak untuk meninggalkan Salsa, tapi tiba-tiba saja jari kelingkingnya digapai oleh Salsa. Ares menoleh, tapi mata Salsa masih terpejam, hanya saja bibir merah muda Salsa bergerak, suara lirih yang pelan keluar samar. Ares menunduk, untuk mendengarkan.
"Ares.... jangan... terluka... Ares...aku... takut... jangan... jangan..." Racauan suara Salsa membekukan Ares. Dia berlutut tepat di samping ranjang, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Salsa. Ada air mata yang mengalir dari sudut matanya. Jemari besar Ares terulur untuk mengusap air mata itu dari pipi Salsa. Pipi Salsa yang lembut begitu ringkih pada tangan Ares yang kasar.
"Salsa," Ares mencoba memanggil Salsa, membangunkan wanita itu dari mimpi buruknya yang membuat Salsa sampai menangis. "Salsa, bangun. Salsa!"
Salsa tersentak, matanya terbuka dengan bulu matanya yang basah, netranya menatap tepat ke dalam mata Ares. Dan untuk kali kedua, Salsa memeluk Ares tanpa peringatan lebih dahulu tanpa sempat bisa Ares perkirakan.
"Ares! Gue takut!" katanya. Kedua lengannya melingkar pada leher Ares hingga wajah Salsa kini tenggelam dalam bahu kokoh Ares. "Gue takut!" Ulangnya.
Ares mengangkat tangannya, ragu-ragu hingga akhirnya dia mampu untuk membalas pelukan Salsa, menenangkan suara Salsa yang terdengar lirik dan bergetar.
"Jangan takut. Ada saya." kata Ares singkat. Dengan harapan yang sangat besar supaya Salsa tidak merasakan jantungnya yang jumpalitan. Sepertinya sedang melakukan parkour di dalam raganya.
"Gimana kalo mereka datang lagi? Gimana kalo mereka lebih banyak? Gimana kalo mereka-"
"Saya akan melindungi kamu."
"Trus," Salsa menggeleng di atas bahu Ares. "Trus siapa yang melindungi lo?"
Belum sempat Ares menjawab karena pertanyaan itu membutuhkan waktu agak lama untuk Ares dapat menemukan jawabannya yang tepat. Sudah terlalu lama bagi Ares untuk tidak lagi memikirkan siapa yang akan melindunginya. Dia hanya mengandalkan dirinya sendiri. Keselamatannya tidak lagi menjadi prioritas utamanya dalam hidup.
"Saya..."
"Res," Fariz tiba-tiba saja membuka pintu kamar tanpa mengetukknya. "Ups sorry." Fariz buru-buru menambahkan ketika adegan berpelukan itu terjadi di depan matanya.
Salsa langsung melepaskan pelukannya dari Ares, begitu pun dengan Ares yang melepaskan diri dengan canggung. Lucu sekali, sampai membuat Fariz mengulum senyumnya.
"Boleh masuk?" tanya Fariz.
"Silahkan, Tuan." kata Ares sambil bergerak berdiri.
Fariz berdeham, sungguh Fariz dapat merasakan kecanggungan yang dialami tangan kanannya itu.
"Apa aku mengganggu?" tanya Fariz.
"Tidak Tuan."
"Iya!"
Jawab Salsa dan Ares bersamaan, tapi dengan jawaban yang berbeda dan nada yang berbeda.
"Mungkin Kakak harus belajar lagi soal etika mengetuk pintu kamar orang lain! Karena apa yang ada di dalam adalah privasi." Semprot Salsa sambil melemparkan tatapan sebalnya pada Fariz.
* * *
Semalam benar-benar hari yang panjang dan melelahkan, energinya seolah tersedot habis. Setelah Fariz dan Fo pulang, Salsa langsung menenggelamkan tubuhnya di atas ranjang, matanya bahkan sudah tak lagi kuat untuk terbuka, meski otaknya berpikir dan mengajukan pertanyaan dimana dirinya berbaring? Bahkan setelah memeluk Ares, Salsa tidak menyadari dimana dirinya berada.
Suara bising dari alat pemotong besi, suara las, bor dan alat petukangan lainnya membangunkan Salsa pada pukul sebelas siang. Dia merenggangkan otot tubuhnya kemudian mengerjapkan kedua matanya.
Ini kamar Ares...jadi semalem gue tidur di kamarnya... Batin Salsa akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan otaknya semalam. Anehnya, dia tidak lagi menemukan rasa kesal, tidak seperti kali pertama. Salsa bangkit duduk lalu turun dari ranjang dan keluar kamar.
"Selamat siang, Nona." Seorang wanita bersetelan hitam formal dengan rambut panjangnya yang diikat kuat dan rapi sampai membuat Salsa dapat mendengar suara setiap helaian rambut itu minta tolong untuk dilepaskan dari ikatan itu. Wanita itu berpostur seperti polwan, tinggi dan tidak gemulai.
"Lo siapa?" tanya Salsa.
"Saya Nuri, saya ditugaskan sebagai ART di rumah ini oleh Tuan Fariz."
"Hah?" Salsa membutuhkan waktu sejenak untuk mencerna ucapan wanita yang lebih mirip dengan musuh Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator dari pada seorang ART. "ART? Asisten Rumah Tangga?" Salsa mengulangi dan menegaskan apa yang dia pahami.
"Benar, Nona." jawab Nuri. Cara Nuri menjawab bahkan lebih cocok sebagai pasukan tentara.
Salsa menggelengkan kepalanya, dia terkadang tidak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya. Pertama, Fariz memaksa dirinya menikah dengan Ares, seorang tangan kanan kepercayaannya sekaligus bogyguard yang kakunya bukan kaleng-kaleng. Sekarang kakaknya kembali bertingkah di luar galaksi dengan mempekerjakan terminator sebagai ART di rumahnya?
"Oke, gue akan bicara dengan lo nanti lagi, tapi dimana Ares?"
"Tuan Ares ada di halaman belakang, Nona."
Lagi-lagi Salsa dibuat terkejut. "Tuan Ares?"
"Benar, Nona."
Salsa menghembuskan napas. Ah, benar juga, dia kan ART. Aneh malah kalau manggil Ares hanya dengan nama saja.
Benar saja, Ares sedang berdiri diantara pada pekerja yang sedang melakukan perbaikan pada pintu dan jendela, ditambah ada beberapa orang lain yang sedang membuat kanopi otomatis, yang dapat dibuka dan ditutup pada area halaman belakang, begitu banyak orang yang memenuhi halaman belakang, juga dengan peralatan pertukangan. Salsa yang masih belum ngumpul semua nyawanya, tidak terlalu melihat semua peralatan yang ada di sana, hingga kakinya tidak sengaja tersandung tas besar salah satu tukang, dimana tas itu bergerak dan mendorong beberapa papan kayu yang bersandar di sebelah Salsa.
"Aaak!" Pekik Salsa. Ia mengangkat tangannya sebagai refleks motorik untuk melindungi kepalanya. Tapi anehnya setelah bunyi keributan dari papan yang berjatuhan, Salsa tidak merasakan sakit sama sekali. Ia membuka matanya dan mendapati Ares tengah menahan papan-papan itu dengan punggungnya.
Beberapa tukang pun langsung cepat mengambil alih papan yang ditahan Ares dan menanyakan kondisinya. Ares hanya mengangguk singkat.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ares pada Salsa. Tatapannya sarat dengan kekhawatiran.
"G-gue nggak apa-apa. Lo? Lo nggak apa-apa?"
Ares menghela napas lega setelah memastikan tidak ada benda-benda pertukangan yang melukai Salsa. "Saya nggak apa-apa. Sebaiknya kamu jangan disini, kembali saja ke kamar atau di ruang tengah."
"Maaf." kata Salsa kemudian.
"Untuk?"
"Punggung lo."
"Saya baik-baik saja." jawab Ares. "Jangan khawatir." Dia menambahkan ketika melihat betapa menyesalnya Salsa sudah membuat Ares terluka karena keteledorannya.
"Tapi gue khawatir." ujar Salsa.
"Terima kasih. Tapi saya sungguh tidak apa-apa."
Salsa menipiskan bibir.
"Nuri!" Ares memanggil ART baru mereka.
"Ya, Tuan." Nuri datang dengan langkah tegapnya.
"Tolong siapkan makan untuk Nona."
"Baik, Tuan." Nuri mengangguk. "Mari Nona, ikut saya."
Ada sebuah rasa tak rela meninggalkan Ares, padahal mereka masih sama-sama di dalam rumah. Tapi, kini Nuri membawanya pergi menjauh dari Ares, biasanya Salsa menjauh dengan sendirinya. Tapi kini semuanya terasa berbeda.
.
.
.
Bersambung~