"Apa tidak ada cara lain Pak?, mungkin jika cacat di salah satu kaki dan tangan saya masih bisa menerimanya tapi ini tuli dan bisu, bagai mana saya bisa berkomunikasi dengannya?" ucap Frayogha yang tidak bisa mengerti dengan permintaan seorang pimpinan sebuah pondok pesantren yang memintanya menikahi putrinya yang tuli dan bisu, hanya karena dia ingin menghalalkan makanan yang telah dia makan.
Di paksa untuk menikahi seorang yang tidak dia kenal, dan katanya tuli juga bisu, rasanya jika menikahpun pernikahan mereka tidak akan lama atau mungkin sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Diah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada apa dengannya?
"Apa kamu tidak salah mengenali orang?" tanya Yogha yang kini merasa ragu tentang informasi yang telah didapat orang suruhannya, karena menurut Yogha Ainur sangat susah dikenali karena bercadar.
"Saya yakin, Bos" ucap suruhan Yogha yakin.
Yogha terdiam lalu berkata lagi "Apa matanya berwarna hitam?"
"Ya, bolamatanya berwarna hitam, tapi... ." Belum juga Orang suruhannya menyelesaikan ucapannya, Yogja sudah memotongnya dengan bertanya "Tapi apa?"
"Tapi bola matanya berubah warna saat mengajar, awalnya saya pikir salah orang, tapi saat mengikuti orang tersebut sampai sekolah, ternyata benar orang yang saya ikuti adalah wanita yang anda cari" jelas Orang tersebut agar bosnya langsung mengerti.
"Baiklah, terimakasih atas infonya" ucap Yogha dan setelah itu sambungan telpon pun berakhir.
Yogha yang yakin jika orang suruhannya tidak mungkin salah mengenali orang, kini terdiam untuk berpikir.
"Bagai mana mungkin Nurr itu Ainur sedangkan Ainur itu Bisu dan tuli dan Nurr dia bisa mendengar juga bicara" ucap Yogha kebingungan.
Lama Yogha terdiam dan akhirnya dia memikirkan sebuah rencana, dan jika rencana itu dijalankan semua pertanyaannya akan terjawab, tapi yang jadi masalahnya bagai mana cara dia melakukan semua rencana tersebut.
Jika dia melakukan hal tersebut secara paksa, takut jika Ainur dan Nurr adalah orang yang berbeda, tapi jika meminta Izin rasanya sampai kapan pun Nurr tidak akan mengijinkannya untuk melihat wajahnya.
Yogha terus berpikir sampai lupa tentang seorang yang bernama Sheryl, yang selalu menghantuinya dengan rasa bersalah, setiap kali dia memikirkan seorang wanita.
***
Pagi sudah datang dan Yogha langsung keluar kamar saat mendengar pintu kamar Ainur terbuka, dan benar Ainur baru saja keluar kamarnya, terbukti saat dia baru keluar Anur ada di depan pintu kamarnya dan kini dia sedang melihat kearahnya.
Yogha cepat-cepat menghampiri Ainur sementara Ainur yang di hampiri berkata "Tumben, jam segini sudah keluar kamar?"
Yogha yang ditanya hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Ainur, Yogha tersenyum karena bahagia dan setelah itu Yogha melewati Ainur begitu saja dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Ainur bingung dengan perubahan sikap Yogha yang biasanya ketus saat di tanya kini hanya tersenyum memperlihatkan pesonanya, sampai Ainur yang melihatnya tadi terdiam.
Sementara Yogha terus berjalan dengan senyum bahagia dan lega setelah melihat Ainur yang tidak memakai lensa mata warna coklatnya yang membuat Yogja tahu jika Nurr itu adalah Ainur.
Sementara untuk perbedaan Ainur yang bisu juga tuli, Yogha teringat sebuah kisah yang dikatakan oleh guru ngajinya.
Bahwa dulu ada kisah seorang ulama yang memungut sebuah buah yang hanyut disungai, dan dia langsung memakannya, dan baru setelah buah itu habis dia baru ingat apakah buah yang dia makan itu halal atau tidak.
Lalu ulama tersebut menyusuru sungai untuk mencari pohon buah tersebut dan akan meminta pada yang punya pohon buah tersebut untuk menghalalkan buah yang telah dia makan, tapi saat bertemu pemilik pohon buah, ulama tersebut malah di suruh untuk menikahi putrinya yang lumpuh, bisu dan tuli, jika dia ingin menghalalkan buah yang sudah dia makan.
Awalnya ulama tersebut menolak tapi karena ketakwaannya dia akhirnya mau dan setelah menikah dia sangat kaget karena wanita yang dinikahinya ternyata tidak tuli, bisu dan juga lumpuh, ulama tersebut bertanya pada wanita yang baru di nikahinya itu dan dia menjawab jika tuli, bisu dan lumpuh itu hanya sebuah kiasan untuknya yang tidak pernah mendengar, bicara bahkan melangkah untuk hal yang tidak baik di dengar, dibicarakan juga dilakukan.