Gadis cantik yang biasa di panggil Arra itu harus hidup tanpa ayah dan ibunya, ia hanya gadis biasa yang hidup bersama bibinya sejak kecil. Namun suatu hari Arra harus menghadapi masalah besar menyelamatkan restauran kecil milik bibinya tersebut dengan jaminan dirinya yang harus menikahi pria yang baru saja dikenalnya. Akankah Arra menerima tawaran tersebut? Ikuti terus cerita ini untuk mengetahui keputusannya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Begitu mendengar info dari Dika aku segera bergegas menemui Arra, kali ini ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Sesampainya di lobby apartemen aku langsung menekan angka menuju lantai Unit yang dia huni,rasanya aku tak sabar memeberikan teguran kepada sekretaris yang berani mengacuhkan pesanku.
*
POV RAINARRA
Begitu keluar dari kamar mandi aku mendengar suara bel pintu berbunyi, dengan masih memakai handuk kimono aku berjalan menuju pintu. Mungkin ada seseorang yang mencari kak Vero kemari, tak tanggung-tanggung aku langsung membuka pintu tanpa melihat dari door viewer. Begitu terkejutnya aku melihat tuan Nathan yang sudah berdiri di depan pintu sembari menatapku yang hanya mengenakan handuk, buru-buru aku menutup kembali pintu tersebuttersebut, dari luar terdengar suara teriakannya
"Arra buka pintunya"
"Tunggu sebentar tuan"
Sekitar sepuluh menit aku meminta tuan Nathan menunggu di luar, setelah itu aku keluar menemuinya
"Berani-beraninya kamu membanting pintu di hadapan saya? "
"Maaf tuan saya benar-benar terkejut"
"Sekarang kamu ikut saya"
"Kemana tuan? "
"Ada hal yang harus segera kamu selesaikan"
"Tapi tuan"
Belum juga tuan Nathan menjawab pertanyaan ku pergelangan tangan ini sudah ia tarik masuk kedalam lift, sesampainya di lobby mobil dan sopirnya telah menunggu kami.
"Tuan kita mau kemana? "
"Sudah masuk"
Terpaksa aku mengikuti kemauannya, mobil berjalan menuju tempat yang sering aku datangi. Ya ini adalah rumah milik tuan Nathan aku langsung masuk begitu tuan rumah menyuruhku setumpuk dokumen sudah tersedia di ruang tamu
"Selesaikan dokumen-dokumen itu, besok kamu harus menyerahkan semuanya pada saya"
"Tapi tuan, mana mungkin akan selesai besok? "
"Saya tidak mau tahu, itu sudah tugas kamu. Cuti satu minggu untuk liburan apakah kurang panjang? "
"Maaf tuan, saya akan menyelesaikannya"
Tuan Nathan meninggalkan aku seorang diri di ruang tamu, sesekali ada pembantu rumah tangga datang membawakan minum dan makanan ringan padaku. Tak terasa hari sudah gelap namun baru setengah dokumen yang aku kerjakan, meski di luar hujan begitu deras aku segera bergegas kembali menyelesaikan semua tugas.
Entah pukul berapa aku mulai tak sadarkan diri sehingga saat bangun aku sudah berada di atas ranjang dengan suasana ruangan yang harum semerbak lilin aromaterapi, aku mengambil ponsel yang tergeletak di nakas mengamati sudah pukul 05.00 pagi. Astaga semalam berarti aku tidur di sini, apakah ini masih di rumah tuan Nathan?
Aku turun dari ranjang dan keluar dari kamar, nampak rumah besar berlantai dua itu sepi seperti tak berpenghuni. Aku turun menuju lantai bawah dan ku dapati beberapa asisten rumah tangga sedang membersihkan seluruh ruangan yang ada.
"Mbak maaf tuan Nathan dimana ya? " tanyaku pada salah satu asisten tersebut
"Mbak ini siapa ya? kenapa ada di rumah ini? "
ia justru balik bertanya padaku
"Sa saya.... "
"Dian lanjutkan pekerjaan kamu, nona ini tamu tuan Nathan" jawab seorang asisten rumah tangga yang lebih tua dari yang barusan ku ajak bicara
"Maaf Bu, apa tuan Nathan belum bangun? "
"Tuan sedang keluar jogging non, mungkin sebentar lagi beliau pulang"
"Oh kalau begitu saya pamit pulang bu, tolong nanti sampaikan ke tuan Nathan"
"Baik non, biar saya suruh sopir mengantarkan"
"Tidak usah bu, saya pesan taksi online saja"
"Baik non"
Aku segera keluar dari rumah tuan Nathan lalu memesan taksi online dan menunggunya di sebelah pos security, tak lama kemudian taksi pesanan ku datang. Dengan mata yang masih sedikit mengantuk aku menyenderkan kepala ke jendela, beberapa pesan dari kak Vero terpampang di layar ponselku.
Setelah sampai di depan unit aku segera masuk, kak Vero yang bersiap untuk jogging menatapku dengan bingung.
"Kamu dari mana Ra? "
"Lembur kak"
"Lembur? bukannya hari ini kamu baru mulai kerja lagi? "
"Kemarin sore tuan Nathan kemari dan memintaku datang di kediamannya untuk segera menyelesaikan dokumen-dokumen yang tertunda"
"Jadi semalam kamu menginap di rumah tuan Nathan? "
"I iya, itupun aku juga tidak berniat untuk bermalam di sana kak"
Kak Vero tersenyum menatapku yang gugup untuk menjawab pertanyaannya
"Its okay, aku percaya kok kamu pasti paham situasinya"
"Kak aku beneran hanya lembur kerjaan bukan yang lain"
"Yang lain maksud kamu? jangan berfikir aku mengira kamu dan tuan Nathan ada apa-apa"
"Enggak, aku tidak bilang begitu"
"Tapi ucapan kamu barusan memang sudah membuktikannya"
"Membuktikan apa sih kak? udah ah aku mau mandi gerah nih"
"Gerah? hayo habis ngapain? "
"Kak Vero, udah sana jogging ntar kesiangan lagi"
"Iya iya, dasar anak kecil bawel"
Aku merebahkan diri sebentar di atas tempat tidur sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi dan bersiap ke kantor, setelah selesai aku dan kak Vero berangkat ke kantor bersama. Bukan maksud ingin memanfaatkan keadaan namun kak Vero memintaku untuk berangkat dan pulang bersama mengendarai mobil pribadi miliknya.
Sesampainya di kantor saat di lobby aku berpapasan dengan tuan Nathan, tumben sekali ia hari ini ke kantor biasanya hanya menyuruhku untuk datang dan mengantarkan dokumen kerumah. Semua karyawan menyapanya penuh hormat begitu pula denganku, namun langkah tuan Nathan berhenti tepat di hadapanku dan kak Vero.
"Ada yang bisa saya bantu tuan? " tanya kak Vero
"Kamu ke ruangan saya sekarang RAINARRA"
Jantungku berdegup kencang manakala tuan Nathan menyebut namaku dengan lantang di hadapan para karyawan, aku tidak tahu kesalahan apa yang telah ku perbuat sampai-sampai sepagi ini aku harus menghadap ke atasan.
"Udah sana Ra buruan" imbuh kak Vero
Aku mengantri lift di antara para karyawan, namun tidak ada yang berani memasuki lift yang di mana ada tuan Nathan disana. Sosok tangan menarik ku masuk ke lift, yang benar saja tuan Nathan menggandeng tanganku menuju lift. Para karyawan melihat kejadian itu seperti tak percaya, bahkan ketika lift tertutup pun tangan tuan Nathan masih erat menggenggam tanganku.
"Tu tuan, tangan saya"
"Kenapa? "
"Tolong lepaskan"
Perasaan canggung di sertai detak jantungku yang berpacu kencang membuat ruangan berbentuk persegi ini terasa panas, beberapa saat kemudian lift berbunyi tanda kami telah sampai di tujuan. Aku langsung menarik tanganku dan berlari keluar dari lift meninggalkan tuan Nathan yang masih berdiri disana, sungguh aku merasa sedikit sebal dengan kelakuan atasanku pagi ini. Semuanya dengan sesuka hati ia lakukan, bahkan semalam ia main memindahkan ku ke kamar tanpa membangunkan diriku terlebih dahulu. Mungkin karena memang aku yang terlalu capek perjalanan lalu harus langsung lembur pekerjaan membuatku sampai tak sadarkan diri jika sudah benar-benar lelah saat itu.
kenapa sita sejahat itu
& jgn biarkan dia ada di tengah2 Edgar & Arra
kasian Arra