Senandika Maverick Dananjaya, seorang dokter spesialis anak yang baru saja pulang dari masa pengabdiannya sebagai relawan dan memilih bekerja di salah satu rumah sakit besar yang akhirnya kembali mempertemukannya dengan Gistara Nauren Anandara, seorang perawat di ruang keperawatan anak dimana mereka berdua memiliki masa lalu yang tidak diketahui oleh semua orang. Masa lalu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan? Kenapa mereka harus merahasiakan masa lalu mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis_Baru15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Menjelang pernikahan hubungan mereka tetap ditutup rapat dari khalayak umum. Mereka hanya tidak ingin orang melihat mereka sebagai pasangan ketika sedang di tempat kerja.
"Mba Karen, aku boleh tanya?"
Karen mengalihkan pandangannya ke arah Gista. Tanpa berpikir panjang, Karen segera mengangguk.
"Ada apa?" tanyanya santai sembari memakai jaket yang baru saja dia ambil dari loker.
"Waktu aku kram perut. Mba Karen yang nyuruh dr.Dika ke IGD?" tanyanya dengan ekspresi ragu.
Karen hanya diam tetapi sepersekian detik kemudian dia menganggukkan kepala.
"Kenapa mba?" tanya Gista penasaran.
"Ya laki-laki mana yang gak pengen nyusul pacarnya saat tahu pacarnya di IGD?" ujarnya santai.
"Pacar? Mba Karen kayanya salah sangka deh, kami hanya..."
"Hanya apa? Teman?" tanya Karen sembari tersenyum. Karen mendekat ke arah Gista,
"Nggak ada teman yang berciuman di depan rumah Gis" bisiknya yang membuat mata Gista terbelalak.
Karen mundur beberapa langkah,
"Malam itu aku mau balikin kunci kamu, takutnya itu kunci penting. Begitu sampai di depan rumah eh malah ada dua anak manusia sedang ciuman. Ya aku milih pulang" jelasnya dengan ekspresi santai sedangkan Gista masih syok dengan semua penjelasan Karen.
Melihat ekspresi syok Gista, Karen justru terkekeh pelan,
"Gak usah kaget gitu, aman kok rahasianya" ucapnya sambil tersenyum. Karen menepuk pelan pundak Gista sebelum meninggalkan wanita itu sendirian di rumah ganti perawat.
"Ow iya Gis..." ucap Karen tiba-tiba sebelum membuka pintu ruang ganti perawat. Wanita itu kembali menoleh ke arah Gista yang masih diam di belakangnya,
"Selamat ya untuk pertunangannya" ucapnya singkat yang sepersekian detik kemudian sudah benar-benar keluar dari ruang ganti perawat.
Di luar ruang perawat, tampak Dika yang baru saja selesai menulis resume pasien menjadi bahan godaan untuk tim shift siang. Dika memang memposting acara lamarannya kemarin tanpa menunjukkan wajah calon mempelai wanitanya.
"Rame banget ada apa nih?" ujar Karen yang akhirnya mengurungkan niat untuk pulang saat melihat rekan-rekannya sedang menggoda Dika.
"dr.Dika habis lamaran Ren" ujar Dinda, teman satu angkatan Karen saat masuk ke rawat inap anak.
"Wah, calonnya mana nih dok? Kok gak dilihatin?" godanya sambil membuka social media milik Dika.
"Ada mba, nanti dikasih tahu kalau sudah waktunya" elaknya lembut saat menyadari Gista baru saja keluar dari ruang ganti perawat.
"Saya permisi dulu ya, mari semuanya" pamitnya yang berjalan sedikit cepat berharap bisa menyusul Gista yang sudah dekat dengan lift.
Tepat sebelum lift tertutup, Dika berhasil mencegahnya dengan menggunakan kaki.
"Hampir saja" ucapnya dengan senyum penuh arti saat memandang Gista yang juga tersenyum ke arahnya. Lelaki itu bergegas menutup pintu lift sebelum ada seseorang yang kembali menghadang pintu.
"Boleh saya ikut?" tanya Karen dengan tatapan penuh arti ke arah Gista.
"Masuk aja mba Karen" ucap Dika santai sedangkan Gista hanya menatap kikuk ke arah Karen yang terlihat menahan senyumannya.
"Dokter gak mau kenalin calon istrinya ke saya?" ucapnya sembari melirik Gista yang berdiri di sisi Dika.
"Nanti kalau sudah waktunya juga pasti dikenalin kok mba" elak Dika sehalus mungkin. Karen hanya tersenyum lalu berfokus kepada angka per angka yang berubah di layar yang ada di lift.
Tepat di lantai 7, lift berhenti tanda seseorang ingin ikut masuk ke dalam lift.
Wajah terkejut Cakra benar-benar tidak bisa dia sembunyikan walaupun hanya bertahan sepersekian detik.
"dr.Cakra kaget banget? Kaya ketemu mantan aja dok" ucap Gista sembari menatap Karen dengan senyuman penuh kemenangan seolah-olah berhasil membalas Karen dengan jeda waktu yang sangat cepat.
Merasa Gista tahu sesuatu, Karen akhirnya hanya diam. Sedangkan Cakra masuk ke dalam lift dengan kondisi cukup canggung karena dia harus berdiri di samping Karen.
"Gis kamu pulang sama siapa?" tanya Karen tiba-tiba yang entah kenapa Gista yakin benar kalau Karen akan mengajaknya pulang bersama kali ini.
"Sendiri mba" jawabnya santai sambil menahan senyum karena ekspresi canggung Karen. Sepanjang dia mengenal Karen, baru kali ini dia melihat ekspresi canggung dari wanita cantik dengan mata monolid dan garis rahang yang cukup tegas itu.
"Mau pulang bareng gak? Aku antar"
Binggo..
Gumam Gista dalam hati saat merasa tebakannya akurat. Gista menggeleng, dia mengatakan kalau dia harus pergi ke suatu tempat tetapi Karen terus memaksanya untuk pulang bersama.
"Nggak bisa mba, aku ada urusan. Lain kali saja ya." pamitnya sembari bergegas turun saat lift sudah terbuka di lantai 1 rumah sakit.
Dika yang sedari tadi hanya diam juga bergegas meninggalkan lift dengan memberi sinyal tepukan di pundak Cakra seolah-olah sedang memberi semangat kepada sahabatnya itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Dika begitu berhasil menyusul Gista.
"Pulang lah mas. Kenapa?"
"Kenapa gak bareng sama Karen?"
"Sengaja." jawabnya santai. Dika yang masih berusaha menyamakan langkahnya tiba-tiba mengernyitkan dahinya tanda dia tidak mengerti.
"Mba Karen tahu hubungan kita. Dia juga tahu kalau kita ciuman di depan rumah. Makanya tadi waktu dr.Cakra masuk aku berasa kaya dapat jackpot" ucapnya dengan senyum tipis di bibirnya.
"Tapi Karen masih gak mau balik ke Cakra" ucapnya dengan ekspresi iba.
"Kenapa?" tanya Gista yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Dika menghela nafasnya dengan tatapan sentimental ke arah Gista,
"Sama kaya alasan kamu dulu. Karen merasa kalau dia gak pantas untuk Cakra" jelasnya.
Gista hanya bisa diam, dia tidak tahu harus mengatakan apa kali ini karena Karen memang pernah bercerita kalau dia mengurusi ayahnya seorang diri sedangkan ibu dan suami barunya hanya terus menerus meminta uang untuk membayar hutang mereka.
"Kenapa?"
Gista hanya tersenyum. Wanita cantik itu menggleng pelan seolah tidak ingin memberi tahu isi kepalanya kepada Dika.
"Kita kapan mau mulai siapin pernikahan?"
"Mas Dika punya waktu senggang kapan? Kita cocokin jadwal dulu" ujarnya dengan senyum lembut yang selalu berhasil meluluhkan hati Dika.
Dika meraih tangan Gista yang tentu saja langsung ditampik oleh wanita cantik itu.
"Kita masih di depan rumah sakit mas" ucapnya memperingatkan yang berhasil membuat Dika menunjukkan ekspresi kecewanya.
"Nanti pulang kerja aku ke rumah ya. Kota cari vendor via online dulu, gimana?"
Gista mengangguk tanda setuju,
"Nggak usah bikin pesta yang terlalu besar ya mas, aku gak mau membebani kamu. Tabunganku juga gak sebanyak itu soalnya" ucapnya dengan ekspresi ragu.
"Aku anterin ke halte yuk" ucapnya sambil mempersilahkan Gista berjalan di depannya menuju ke halte.
Dika hanya diam, tidak menjawab ataupun melanjutkan pembahasan tentang vendor. Begitu sampai di halte, tidak berselang lama bis yang ditunggu Gista datang.
Dika meraih tangan Gista,
"Jangan pikirin biaya, biar aku yang tanggung semuanya. Kamu cukup bilang kamu mau yang mana. Ngerti?"
"Tapi mas..."
Dika segera meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya,
"Bis kamu sudah mau jalan. Hati-hati ya, sampai ketemu nanti malam di rumah" ucapnya manis sembari memaksa Gista agar segera naik bis.
"Pak Joko, titip calon istri saya ya" ucapnya kepada sopir bis yang entah sejak kapan Dika mengenalnya secara personal.
"Siap mas Dika" jawab lelaki berusia 45 tahunan tersebut yang cukup membuat Gista terkejut karena mereka bisa mengenal satu sama lain.
Menarik untuk d baca..
Konflik tidak terlalu berat..
bagus banget karyamu 🙏👍🌹